Kotoran gigi

1072 Words
Pagi datang menjelang. Burung burung bernyanyi dengan riang di sebuah dahan pohon. Menemani Clarissa yang tengah sibuk memasukkan baju baju kotor, ke dalam mesin cuci nya, yang sudah berkerak. Mesin cuci yang sering, keluar dan masuk rumah pak Paidi, si tukang servis. Setelah selesai urusan cuci mencuci. Clarissa segera berlari ke kamar mandi. Ia harus bergegas, karena hari ini, ia harus lebih cepat sampai di sekolah. "Kak Rissa.... Jangan kelamaan di dalam! Aku juga buru buru nih. Hari ini aku ada kunjungan ke rumah salah satu narasumber seminar, di kampus!" "Siapa-" Tanya Clarissa. Suaranya aneh, karena ia sedang bicara, sambil menggosok giginya. "Dia Bu Anggi" "-Tanya????" Ucap Clarissa, menyambung ucapan nya yang sengaja ia putus. "Ih.... Mulai deh jahil nya. Kak, jangan pakai sabun ku, tinggal sedikit!" Keluh Jasmin, Ia gemas dan jengkel pada kakak satu satunya. Berulang kali ia beli sabun mahalnya. Dan kakak nya dengan se enak jidat, ikut memakai sabun mahalnya. Beberapa menit kemudian, Clarissa sudah keluar dari kamar mandi. Dengan hanya melilitkan sebuah handuk mandi pada tubuh indahnya. Clarissa berlari lari kecil, menuju kamar tidurnya. Tidak butuh waktu lama bagi Clarissa untuk berdandan. Wajah cantik dan halusnya, membuat Clarissa tidak membutuhkan banyak make up. Ia hanya memakai serum di malam hari. Di pagi hari, Clarissa hanya memakai pelembab, foundation, dan bedak padat untuk merias wajah cantiknya. Lipstik warna pink natural menghiasi bibir seksinya. Terakhir, Clarissa menyisir rambut lurus nya yang panjang dan lembut. Clarisaa sesaat terkejut, ia kebingungan mencari parfum favoritnya, yang kini tidak ada di tempatnya. Dan Clarissa tahu, kemana pergi parfum favoritnya itu. Clarissa lalu menuju kamar Jasmin. Benar dugaan nya, seperti biasa, adik nya itu suka memakai barang barang pribadi milik nya, tanpa seizin Clarissa. Ya, mereka memang suka berbagi apa saja yang di miliki. Umur dan ukuran tubuh yang tidak jauh berbeda, membuat mereka cocok saling berbagi. Baik itu sabun, baju, make up, sepatu, dan semua hal yang di rasa cocok, maka mereka akan saling tukar menukar dan pinjam meminjam. Walaupun sebenarnya, semua barang milik Jasmin, di beli dengan uang Clarissa. "Rissa, sarapan dulu nak" Ucap bu Rosita, menghentikan langkah kaki Clarissa yang terburu buru, ia Ibunya Clarissa dan Jasmin. Clarissa yang hendak mengambil sepatu. Mendadak menghentikan langkahnya. Setelah mencuci tangan, Ia lalu duduk di kursi dapur, yang menyatu dengan ruang keluarga. Tanpa pikir panjang, Clarissa lalu menyendok sedikit nasi, dan menaruh telur goreng beserta sambal bawang di atas piringnya. "Maafin Rissa Bu, hari ini, Rissa gak bisa bantu ibu masak. Kata kepala sekolah, Hari ini, Rissa harus cepet cepet datang ke sekolah. Katanya, mau ada murid baru di kelasku, jadi, aku sendiri yang harus menyambutnya" "Iya, nggak pa pa sayang. Ibu faham, kerjaan mu memang banyak, apalagi Jasmin masih suka minta uang jajan dari kamu. Kamu tahu sendiri kan? Gaji kerja Jasmin, hanya cukup untuk bayar kuliahnya" Ucap Bu Rosita sambil mencuci perkakas dapur yang kotor. "Iya ibu, aku nggak pa pa kok" Ucap Clarissa, nasi nya telah habis ia lahap. Clarissa lalu minum air yang telah tersedia di meja. Ketika Jasmin hendak berangkat ke kampus, Ia di hentikan Clarissa, agar ia juga sarapan. Dan Jika Jasmin tidak mau sarapan, Clarissa mengancam, besok, ia tidak akan memberi Jasmin uang jajan. Dengan bibir cemberut, Jasmin mau duduk di samping Clarissa. Sebenarnya Jasmin tak mempunyai selera untuk sarapan. Apalagi ia harus buru buru, karena teman teman nya sedang menunggu. "Sarapan dulu kenapa Jas, kasihan ibu, udah capek capek nyiapin makanan. tapi kamu nggak mau menyentuhnya, iya kan bu?" Clarissa menceramahi Jasmin, yang kurang penurut. Dan Bu Rosita menanggapi pertanyaan Clarissa dengan sebuah senyuman. "Iya iya, ini aku sarapan" Bibir Jasmin mengerucut, tanda ia tak ikhlas untuk sarapan. Dan Clarissa tidak peduli. Ia lebih peduli dengan perasaan ibunya. ****** 20 menit kemudian, dengan mengendarai motor maticnya, yang masih Clarissa cicil. Clarissa telah sampai di sekolah TK, tempat ia mengajar. Sekolah yang biasanya terlihat banyak anak yang berlarian di pagi hari. Saling kejar kejaran dengan bebas di halaman sekolah. Bercanda dan tertawa di atas perosotan, bermain di ayunan ayunan warna warni. Kini mendadak sepi. Anak anak memilih bermain di teras kelas, ataupun di dalam kelas. Halaman sekolah yang tidak luas. Di kuasai Lima orang pria berjas hitam, bertubuh tegap dan gagah. Dan sebuah kaca mata hitam bertengger di atas hidung mereka. Wajah mereka yang kaku dan tanpa ekspresi, membuat anak anak takut dan enggan mendekat ke halaman. Ibu ibu yang mengantar putra putri mereka, tidak jadi pulang. Mereka sedang berdiri berjubel di gerbang sekolah. Sesekali, mereka tertawa dan berbisik bisik. Seolah sedang mengagumi seseorang. Tapi Clarissa tidak tahu, siapa yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Clarissa pun tidak bisa membawa motornya masuk ke halaman. Selain karena pintu gerbang yang di tutupi ibu ibu. Ada juga, 2 mobil mewah yang terparkir sembarangan di depan gerbang, membuat Motor Clarissa kesulitan lewat. Salah satu mobil itu, berwarna merah, mempunyai model lebih wah, lebih mewah. Dan merupakan keluaran terbaru. Clarissa hingga tak bisa memalingkan wajah nya karena rasa kagum. Selama ini, ia hanya bisa melihat mobil super mewah seperti itu di TV, atau internet saja. Tanpa sadar, Tubuh Clarissa telah mendekati mobil merah itu. Mobil itu kinclong dan elegan, membuat tangan Clarissa gatal, ingin menyentuh nya. Perlahan, Clarissa berjalan, sambil Mengelus bodi mobil merah itu. Clarissa pun kepo, ingin tahu, seperti apakah interior mobil mewah itu. Clarissa lega, ketika ia menempel kan wajahnya di kaca mobil itu. Ia tidak melihat penghuni nya. Dan benar saja, interior mobil mewah itu sangat berkelas dan berbeda dengan mobil yang sering ia lihat. Kursi kursi dan dinding mobil, berlapis kain merah dan hitam. Desain nya pun sangat berkelas dan luxury. Clarissa benar benar takjub di buatnya. Ternyata, keseluruhan mobil itu, semua nya mewah. Bahkan kaca spion luarnya pun tampak artistik. Melihat kaca spion itu, membuat Clarissa teringat dengan giginya. Karena terburu buru berangkat ke sekolah. Clarissa jadi tak sempat mengecek giginya. Apakah masih bersih, atau ada sisa cabe yang menyangkut di gigi nya. Clarissa teringat, dulu, setelah ia sarapan. ia pernah tidak memeriksa giginya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Dan tanpa sepengetahuan Clarissa. Ada sayur kangkung yang menyangkut di giginya. Sehingga Clarissa pun jadi bahan tertawaan para muridnya. Di depan Spion, Clarissa membuka mulutnya, memamerkan gigi putih dan ratanya. Ternyata feeling Clarissa benar. Ada sisa cabe menempel di giginya. Clarissa lalu membersihkan nya, dan tanpa sadar, ia mengusapkan sisa cabe di giginya, ke bodi mobil mewah itu. "Apa yang kau lakukan pada mobil ku?" Sebuah suara bariton nan seksi mengagetkan Clarissa, yang sedang fokus bercermin. Bersambung.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD