"Apa yang kau lakukan pada mobil ku?" Sebuah suara bariton nan seksi mengagetkan Clarissa yang sedang fokus bercermin.
Clarissa pun berbalik, ia terkejut melihat seorang pria berwajah Eropa namun sangat fasih berbahasa Indonesia. Wajah itu terasa familiar, dan terlihat sedang emosi. Mata tajam nya membulat, memandang tangan Clarissa yang mengusap usap bodi mobil. Menghapus jejak cabai yang baru saja ia torehkan.
"Ma... Maaf.... Saya nggak sengaja" Clarissa membungkukkan badan nya. Menutupi rona merah di pipinya. Ia malu setengah mati, ketahuan mengotori mobil mewah itu, dengan sisa cabai dari giginya.
Clarissa lalu buru buru pergi dari hadapan pria bule bertubuh gagah nan athletis itu. Sebelum ia di telan bulat bulat pria itu.
"Mau pergi kemana? Singkirkan dulu motor jelek mu itu, kalau nggak mau kena tabrak" Kembali suara itu mengagetkan Clarissa.
"Maaf" Lagi lagi itu yang keluar dari bibir ranum Clarissa. Sebuah kata khas milik orang yang tak berdaya, macam Clarissa.
Tanpa menunggu perintah yang ke dua, Clarissa lalu menghampiri motornya. Menepikan motornya, memberi jalan untuk ke dua mobil mewah itu.
"Apa yang kau lihat? Bersihkan sisa wanita itu, dengan desinfektan" Ucap pria itu pada salah satu anak buah nya, yang berjumlah lima orang. Mereka bertubuh tegap, dan berotot. Mata mereka tertutup sebuah kaca mata hitam.
Lagi lagi suara bariton itu menyita perhatian Clarissa. Bukan hanya Clarissa, tapi juga ibu ibu yang sejak tadi bergerombol di depan gerbang.
Rupanya dari tadi, ibu ibu itu sedang menatap wajah pria bule itu. Selain mempunyai wajah yang super tampan, bule itu juga mempunyai tubuh athletis. d**a nya bidang dan kokoh. Lengan kekarnya tak bisa ia sembunyikan di balik jas hitam elegan nya. Tubuh nya yang tinggi menjulang, menambah kesan seksi si bule. Pria itu sukses membuat ibu ibu klepek klepek, dan terbang melayang.
"Baik, tuan Calvin " Ucap salah satu pria berkaca mata hitam. Ia mengambil tisu basah yang mengandung Desinfektan yang telah tersedia di dalam mobil. Dengan cekatan, pria itu membersihkan bagian bagian mobil, yang tadi di jamah oleh Clarissa.
Wajah Clarissa merah karena malu. perasaan nya pun tersinggung. Calvin membuat Clarissa bagaikan seekor anjing yang mengandung najis.
'Nggak segitu nya juga kali. Masa hanya gara gara kena kotoran gigiku, mobilnya bisa bau? Dari awal, mobilnya emang sudah bau. Bau uang..... Huh dasar pria lebay!' Batin Clarissa.
Calvin kemudian masuk mobil. Di ikuti asisten nya yang menjadi supir pribadinya. Sedangkan anak buah nya yang lain, Mereka masuk ke mobil yang satunya.
Brum.....
Mobil Calvin dan anak buahnya, meninggalkan sekolah. Setelah kepergian Calvin, bahu Clarissa yang sedari tadi tegang, kini melorot karena lega.
Clarissa bertanya tanya, apa yang sedang di lakukan si pria bule itu di sekolahnya. Apa dia berinvestasi? Atau dia menyumbangkan sesuatu? Untuk mencari tahu jawabannya, Clarissa harus masuk ke kantor dulu. ia lalu menuntun motornya, masuk ke halaman sekolah.
Di sekolahnya, yang merupakan sekolah untuk orang elit. Sudah biasa kedatangan orang orang bermobil mewah. Namun baru kali ini perhatian nya tersita. Selain karena membawa anak buah yang banyak. Wajah bule tampan nya menyita perhatian semua orang.
Clarissa lalu masuk kantor. Wajah nya melihat sosok pria kecil tengah duduk di sofa tamu. Wajah itu terasa tidak asing, tapi Clarissa lupa, di mana pernah melihat wajah imutnya. Di samping nya duduk seorang pria yang tengah main ponsel.
"Rissa, kemana aja kamu? Dari tadi aku menunggu mu" Bu Desi, sang kepala sekolah, menghampiri Clarissa yang baru saja menaruh tas, di meja kerja nya.
"Saya sudah datang dari tadi Bu, tapi saya dari tadi di luar gerbang, saya tidak bisa masuk"
"Ya sudah, tolong urus anak itu, dia baru saja daftar ke sekolah kita, dan dia ku masukkan ke kelasmu, walaupun agak terlambat daftar sekolah, tapi dia sudah pintar. Katanya, di rumah, dia sudah les privat" Clarissa hanya menganggukkan kepalanya, memahami ucapan Bu Desi.
Clarissa lalu menghampiri anak itu, dia duduk di sofa. Di tatap nya wajah tampan anak itu. Wajah tampan, khas anak Indonesia, namun terlihat sangat rupawan.
Anak itu memakai celana dan jas kecil. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, tangan kecilnya menyilang di d**a, menunjukkan betapa percaya dirinya pria kecil itu. Dan Anak itu, melihat kedatangan Clarissa dengan tatapan tak suka.
"Apa lihat lihat Tante?"
Ucap anak itu, nada nya percaya diri dan sombong, mirip seperti tukang perintah, mirip pria di depan gerbang.
"Aku bukan Tante sayang, aku adalah Bu guru. Panggil aku Bu guru Rissa, sayang"
Clarissa berusaha ramah, senyum cantik tak lepas dari bibirnya. Ia heran, baru kali ini ia lihat, ada anak kecil bersikap se percaya diri ini.
"Maaf kan sikap kasarnya Vino. Memang seperti ini lah, sikap Vino setiap hari di rumah. Perkenalkan saya Faris, pengasuhnya dia" Faris mengulur kan tangannya pada Rissa untuk berjabat tangan. Dan Rissa menjabat tangan Faris.
Faris memakai kemeja warna biru muda, dan bawahnya, ia masuk kan ke dalam celana. Clarissa heran, biasanya pengasuh kan seorang wanita. tapi ini, malah seorang lelaki muda. Sepertinya usia Faris tak jauh beda dengan Jasmin, yang berusia 20 tahun.
"Aku nggak bodoh Faris! Aku ingat betul siapa wanita ini, dia Tante penjual balon" Ucap Vino keras keras, berusaha meyakinkan pengasuhnya, yang tidak peduli dengan ucapan nya.
Faris tersenyum kecut pada Clarissa, merasa tidak enak pada Clarissa. Ia terlihat seperti merasa berdosa, karena sudah gagal mengajarkan sikap sopan santun pada Vino.
Dan Clarissa kini, bisa mengingat wajah Vino, pantas ia merasa tidak asing dengan Vino dan pria bule di depan. Rupanya mereka adalah bapak dan anak yang pernah ia temui di taman seminggu yang lalu. Mereka memang terlihat dari keluarga konglomerat. Tapi sayang, mereka tidak punya akhlak sama sekali. Sopan santun mereka, nol.
"Saya sebagai pengasuh Vino, minta Maaf ya Bu. Jangan di ambil hati sikap sombongnya. Vino, ayo salim sama Bu guru Rissa" Perintah pria itu, tapi Vino bergeming. Sepertinya ia tidak mau bersalaman pada Rissa. Dan Rissa hanya bisa tersenyum kecut.
Teeettt.....
Bel tanda masuk sekolah berbunyi. Rissa lalu berdiri, menghampiri Vino. Dan Vino mau berdiri karena pria di sebelahnya mengangkat pinggang Vino agar ia berdiri.
Clarrissa lalu menghampiri Vino. Ia akan mengajak nya berjalan berdampingan menuju kelas mereka. Tapi yang terjadi benar benar di luar dugaan Rissa. Ketika Clarissa mendekat, Vino malah menjauhkan tubuhnya dari Rissa, seakan Rissa sebuah Virus yang harus di jauhi. Pipi Rissa pun merona malu, baru kali ini, ada anak yang tidak suka dia sentuh dan sepertinya, Vino jijik di sentuh Rissa. Tapi kenapa?