Bab 16 - Will's Gang

2819 Words
Kini sudah jam satu subuh. Dek mereka sudah dipenuhi murid-murid Gifted yang akan mengikuti wawancara dan juga para senior yang sudah habis masa liburannya dan akan kembali ke sekolah lagi. Kapal mulai mengeluarkan ngauman keras tanda keberangkatan. Kapal kecil menarik perlahan kapal memutar dan angin yang sudah berhembus kuat menaikkan levelnya.  Wish dan Ardy keluar dari kamar ingin melihat bagaimana kapal berlayar dari tingkat atas. Mereka naik ke lantai paling atas dan semakin ke atas hingga ke lantai terakhir yang paling tinggi. "WAHH.. Tinggi sekali." Ucap Ardy. "Dingin!" Ucap Wish memeluk erat dirinya sendiri. "Ini sejuk Wish." Canda Ardy lalu tertawa. Ardy melihat ke bawah yang seperti jurang yang sangat tinggi, lalu ke arah dermaga yang semakin jauh. Tak ada satu orangpun di sana yang melambaikan tangan kepada mereka. "Orang tua kita gak ada yang melihat keberangkatan kita." Ucap Wish pelan dengan sedih. Ia mengingat kejadian di pintu gerbang bahwa satpam tidak memperbolehkan keluarga masuk ke dalam dermaga. "Hei, gak usah sedih begitu. Kita pergi ke sekolah terbaik di Dunia. Wuhuuuu." Hibur Ardy dan berteriak keras membentangkan kedua tangannya. Wish yang menahan air matanya terbantu dengan ucapan Ardy. Ia melihat Ardy dengan tersenyum. Mereka pun turun dari puncak dek karena kapal sudah berjalan menjauhi daratan. Tak ada lagi yang bisa mereka lihat selain gelapnya laut dan gelapnya langit. Kapal itu cukup cepat melajunya. Mereka turun untuk pergi ke bagian tengah kapal di dek 6 - tempat restoran dan arena bermain disediakan gratis untuk penumpang. Suara musik terdengar keras, beberapa berdansa dan tertawa dengan minuman berwarna merah di tangan mereka. Wish melihat beberapa permainan di kanannya. "Ada permainan Maximum Tune. Mau main?"  Ucapnya melihat empat orang bertanding balap mobil. Ardy mengelengkan kepalanya tanda tidak tertarik. "Ini hebat, restoran dan arena permainannya sangat mewah." Kata Ardy begitu kagum dan melihat ke arah restoran. Ia lebih tertarik mencicipi masakan restoran dibanding bermain game. Untuk sampai ke restoran, mereka harus melewati arena bermain setelah itu restoran. Wish berjalan melewati murid-murid lain yang sedang bermain Hockey Meja. Mereka tertawa terbahak-bahak karena salah satu kawan mereka kalah dan harus mendapat hukuman. "Itu tadi senior yang gak sengaja ketemu - Will." Ucap Ardy berbisik, ia tidak ingin mendapat momen mata yang saling bertatap dengan seniornya itu. "Kau benar. Lebih baik kita menyingkir dari para senior." Usul Wish lalu bergerak perlahan. Meski tidak mengatakan apapun, mereka memiliki pandangan yang sama. Ini biasa bagi murid baru yang diterima di sebuah sekolah. Will melihat ke arah Wish yang pura-pura tidak mengenal.  "Hei." Panggil Will keras mengalahkan kebisingan arena permainan. Wish dan Ardy pura-pura tidak mendengar, 'Aduh, dia lihat pula.' Pikir Wish. Lalu mereka melangkah lagi dan Will tetap memanggil mereka. Tak ada alasan lagi untuk bisa mengelak ketika Will berdiri di belakang mereka. Wish berbalik, "Hi," dengan senyum paksa. Ardy yang belum berbalik mengerutkan wajahnya dan tersenyum ceria saat berbalik menatap teman se-geng Will yang lain. "Hai Kak." Ucap Ardy menyapa dengan lambaian tangan. "Kita bertemu lagi. Mari kita bermain permainan ini." Ajaknya seraya ia mendekat. "Bagaimana?" Lanjutnya. Matanya penuh dengan desakan. "Wow, baiklah. Itu menyenangkan." Ucap Wish. Teman-teman Will yang ada tujuh orang lagi melihat Ardy dan Wish dengan sinis. Mereka sesekali tertawa melihat keluguan anak baru itu. "Bagus.. sini." Wajah Will tampak merencanakan sesuatu. "Kamu," menunjuk Wish dengan jarinya. "Jika kalah, kamu harus masuk ke toilet perempuan. Okay!" Ucap Will dan teman-temannya tertawa. Will langsung berjabat tangan dengan Wish tanpa persetujuan darinya. Teman-teman Will tersenyum sinis. Mereka berpikir bahwa Will mendapat mangsa lain untuk ia kibulin. Ia mungkin sudah bosan dengan teman-teman gengnya yang selalu kalah bermain Hoki dengannya. Dari awal permainan ia sudah mengalahkan banyak temannya dan memberi hukuman mulai dari mencium ketek temannya, memakai baju terbalik hingga jam 12 siang di keesokan harinya, memasukkan katak ke dalam celana - entah apa yang dipikirkannya sewaktu membawa katak sebagai salah satu hukuman bagi yang kalah, minum 5 gelas minuman merah - minuman yang disediakan di kapal, memukul kepala, bertingkah seperti monyet, menggendong bolak-balik di sekitar arena permainan, dan berteriak sekeras-keras-nya di tengah-tengah restoran - ketika ini terjadi, seorang murid sampai-sampai terkejut dan menumpahkan segelas air di bajunya. Ia tak dapat berkata apa-apa karena perbuatan seniornya.  Tawa yang ditimbulkan tentu sangat menghidupkan hari-hari dimana ini adalah hari terakhir mereka bisa merasakan bebasnya hidup. Jika sudah sampai di sekolah, mereka tidak akan sempat tidur apalagi tertawa. Will melangkah... Wish berada dalam masalah kali ini. Ia pasti kalah karena tidak pernah memainkannya. "Kamu pernah memainkan ini?" Menarik baju Ardy. "Bagaimana caranya?" Bisik Wish kepada Ardy yang ada di sebelahnya. Wajahnya tampak pucat karena ketakutan. Mereka berdiri sejajar seperti patung anjing yang berada di dashboard mobil, yang hanya kepalanya yang bergoyang. "Cara bermainnya tidak terlalu sulit. Kalian beradu memukul balok merah masuk ke gawang lawan… dan itu saja, hanya memasukkan balok. Tidak sulit, kamu pasti bisa!" Ucap Ardy santai dengan nada bersemangat seraya memantau Will yang semakin dekat. Meski semua yang ia katakan dipenuhi ketidakpercayaan kalau Wish bisa melakukannya.  Wish mencoba menolak dengan sopan. "Saya tidak tahu cara bermainnya Kak." Jelas Wish dengan lembut kepada Will yang berada tepat di depannya. "Ayolah, ini sebagai salam perkenalan kita." Bujuk Will yang mendekat dan merangkul pundak Wish, mengantarkan-nya ke sisi sebaliknya dari meja. Wish tidak berani menolak lagi. Mereka pun bermain. Ronde pertama. "Ow.. canteknya tembakan itu"  "Yeay, 1 poin." "Belum sampe sedetik udah kebobolan."  "Beuh, bodo amat! Gitu aja gak bisa." "Kasian tuh anak." "Idup di mana nih anak. Gak bisa mukul aja." Ronde kedua, "Will akan kembali menang lagi." "Siap-siap dipermalukan. Haha" "Ha..ha.. dia kalah lagi." "Bodoh, kebanyakan nganga mulutnya." Ardy mendekati Wish yang sudah kalah telak. Prediksinya tepat bahwa Wish pasti kalah. Ia mencoba menghibur. Sebenarnya, permainan ini tidaklah sulit. Tetapi, apa daya, Wish hanya melihat permainan ini sekali dan itu pun hanya sedetik di televisi yang pernah ia tonton. "Itu hanya sebuah permainan." Kata Ardy lagi.  Karena Wish kalah dari Will , sebagai hukuman Wish harus dihukum dengan masuk ke kamar mandi wanita. "Yeay!" Teriak Will dan kawan-kawannya. Teman-temannya bersorak seperti sedang kor dengan nada sumbang. Will menunjuk kamar mandi wanita yang tak jauh dari arena bermain. Ia memperagakan cara pelayan sekolah melayani seorang murid. Sudut senyumnya meruncing dan mata menatap tajam ke arah Wish. "Apa? Bagaimana ini. Aku gak mau." Kata Wish kepada Ardy yang tidak bisa berbuat apa-apa. "Sesuai perjanjian, Buddy. Silahkan masuk." Kata Will lagi dengan tekanan nada yang dalam. Wish berjalan ke arah kamar mandi dan melambatkan diri berharap ada yang menghentikannya.  "Cepat masuk!" Teriak Will. Mendengar keributan di sekitar blok permainan, banyak orang mengelilingi mereka untuk melihat Wish yang akan masuk ke kamar mandi wanita. Sorakan beberapa murid-murid terdengar kuat lagi. Kali ini sorakan mereka lebih mirip kepada suporter sepak bola dan dicampur tawa. Dua wanita keluar dari kamar mandi dan melihat Wish dengan sinis, mereka bingung dengan keributan yang terjadi lalu pergi menjauh. "Ayooo.. masuk." Kata Will dan sorak-sorak kawannya. Lalu seorang wanita keluar dari kamar mandi dan saling menatap dengan Wish. Ia melihat ke arah wanita itu dengan cemas dan hanya diam membatuk. Wanita itu mendengar teriakan dan perintah dari Will lalu berteriak keras.  "Hei." Teriaknya dengan aksen batak. Suaranya yang aneh membuat semua orang tertawa geli. Mereka tidak menyangka kalau Chery yang memiliki paras cantik bisa berbicara dengan dialeg yang jarang mereka dengar. "Kau bully dia?" Lanjutnya dan disambut plototan Will yang tajam. Wanita itu tak terlihat takut sedikitpun. Ia kembali melotot dan jika diukur dengan jangka sorong, pasti sudah sampai batas maksimum.  Wanita itu adalah Chery Nattyel. Mereka bertemu dengannya saat hendak mengantar Ardy ke kamar sebelumnya. Will tak tahan melihat cantiknya wanita itu. Ia begitu terpesona dan jantungnya berdetak kencang. Dia hanya diam karena tak ingin ketahuan bahwa ia sedang grogi. Lalu ia tarik napas dan membentak pikirannya agar tidak berpikir macam-macam. "Kau siapa?" Nada Will berupaya garang tetapi, lebih nampak seperti tersendat-sendat. "Wait.. Hahaha…" tawa Wanita itu yang tertawa seperti ratunya para penyihir, "Chery Nattyel," ucapnya menyodorkan tangannya. Ketika Will ingin menyambut, tangan Chery menepuk pundak Will. "Tertawa pula dia." Ucap salah satu teman segengnya, dan mereka tertawa kuat. Chery berhenti tertawa dan melihat mereka kesal karena tawanya ditelan kuatnya suara mereka. Will menolak Chery. Ia ingin menyingkirkannya dari pandangannya untuk melihat Wish masuk ke dalam kamar mandi wanita dengan segera. "Cepat, tunggu apalagi?" ucap Will. Dalam hitungan detik, Chery bangun dan memijak kaki Will sangat kuat dengan sepatu haknya yang runcing.  "AWWW" teriak Will kesakitan, urat di lehernya bisa terlihat jelas. Chery tidak melepas pijakan kakinya yang kuat dan berkata,  "Kau mau aku lapor kepada kepala sekolah? Kau bisa langsung dikeluarkan. Mengerti!" Bisik Chery kepada Will yang menunduk di depannya. Ia memutar-mutar pijakan kakinya yang membuat Will kembali mengerang kesakitan. Will ingin menolak cewek itu. Tetapi, ia tidak sanggup menyentuh karena mulusnya kulit Chery. Ia tidak ingin dianggap m***m oleh teman-temannya juga. Meski dalam hatinya, harga dirinya sudah diinjak-injak seorang wanita. "Jangan, maaf.. maaf.." ucap Will yang tak tahan lagi dengan keberadaan Chery, ia menyerah. Pesonanya begitu memikat Will. Anggota gengnya melihat Chery dan ingin membantu Will, tetapi, melihat tatapan Chery - dan lagi pula ia wanita, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. "Maaf, lepaskan. Aku sudah minta maaf." Ucap Will lagi dan Chery melotot lalu melepas pijakannya.  Chery menghampiri Wish dan menariknya dari kerumunan. Sambil berjalan keluar dari sempitnya kerumunan, ia berteriak, "BUBARRRRR… Geser!" "Na so adong do karejo ni si lapet-lapet on sada-sada!" (Yang gak adanya kerjaan si lapet-lapet ini satu-satu) Ucapnya tak terlalu keras sambil berjalan. Tetapi Wish bisa mendengar ucapannya itu. (Lapet adalah makanan tradisional orang batak yang terbuat dari tepung beras dan diisi gula lalu di bungkus dengan daun pisang. Bentuknya di buat seperti kerucut.) Suara pelan terdengar dari Will, "Bagaimana ada cewek yang sekuat itu?" Ia menatap kaki Chery yang mungil seraya ia berjalan menjauh dengan Wish, dan takjub karena kaki mungil itu bisa mengeluarkan kekuatan Hulk. Ardy mengikuti mereka dan melihat Chery hingga matanya hampir keluar. Ia sangat malu karena tidak bisa membela Wish. Tetapi, ia lebih mengkhawatirkan Chery yang berlaku tidak sopan kepada senior. Wish melihat wanita itu dari belakang yang kebingungan karena ia menarik tangannya keluar dari arena bermain dan berhenti di restoran. Ia membawanya ke sebelah meja tempat Chery duduk. "Makasih," ucap Wish. "Tidak masalah. Kamu bisa duduk disini. Aku di sebelah meja kalian." jelas Chery dan tersenyum manis. "Makasih Chery." Kata Wish lagi dan kemudian duduk. "Wah, kau ingat namaku." Kata Chery yang tidak jadi ke tempat duduknya karena penasaran. Wish kembali berdiri. "Ya, aku juga ingat pakaian kamu sebelumnya. Saat pertama kita jumpa." Kata Wish memamerkan kekuatan yang sesungguhnya. "Benarkah?" Chery terlihat ingin mendengar apa yang Wish ingat. "Baju putih tanpa lengan dengan tas kecil. Baju yang memiliki kera hingga ke leher. Sebenarnya aku tidak tahu jenis model baju itu." Wish menyeringai, "Lalu, memakai celana abu-abu dengan banyak kantong, dan sepatu putih sketch yang tinggi." Ucap Wish cepat. Chery tak menyangka ia bisa mengingatnya. Ia bertanya ingin memastikan ingatan Wish, "Tasnya berwarna apa?"  "Hijau pucat." Jawab Wish. Chery menggeleng-gelengkan kepalanya. "Okay. Kau benar. Baiklah, aku duduk disana." Ia puas membuktikan bahwa Wish tidak berbohong.  Ardy yang menyusul mereka melihat Chery ingin pergi ke tempat duduknya. "Makasih." "Hi." Chery menyapa Ardy dengan centil. "Tidak masalah." Ucap Chery dan pergi tak jauh dari mereka dengan malu-malu. Ia berjalan dengan membusungkan d**a. Setelah Chery pergi, Ardy berkata, "Wow, dia hebat." "Benar sekali." Wish memegang dadanya lalu duduk. "Kita jangan jauh-jauh dari dia. Siapa tahu kakak kelas itu macam-macam dengan kita." Ucap Wish kepada Ardy yang sudah duduk di hadapannya. "Ya, baiklah." Jawab Ardy melihat kerumunan orang sudah mulai bubar. Seorang pelayan mendatangi mereka dan memberikan minuman berwarna merah di meja padahal tidak ada memesan. "Apakah ini alkohol? Kita belum pesan." Ucap Wish. "Tidak mungkin mereka menyediakan Alkohol untuk anak di bawah umur. Kamu ada-ada saja! Mereka memang begitu. Yang akan makan di resto ini akan langsung diberikan minuman." Ucap Ardy dengan mata tajam. "Kalau bukan alkohol, jadi apa?" Ucap Wish, lalu ia mencium aromanya. " Wangi strawberry." Ucap Wish. "Itu Fanta. Kan bersoda Wish! Kamu seperti Alien yang baru mengetahui dunia manusia." Ucap Ardy. Wish terdiam karena ia  mencoba mempercayai apa yang dikatakan Ardy. Tentu saja ia berpikir minuman itu mengandung Alkohol.  Seorang pelayan lain mendekati mereka dan memberikan penjelasan cara memesan. "Aplikasi pemesanan ada di meja. Tuan bisa tulis pesana di layar elektronik itu. Terima kasih."  Lalu ia pergi. Kapal ini terlihat sangat canggih. Segala sesuatu dilakukan dengan mudah berkat bantuan teknologi. "Ini sangat modern. Mengapa ini tidak diterapkan di kapal-kapal yang biasa kita naiki?" Ucap Wish sambil memegang pena elektronik. Ardy menaikkan pundaknya. "Mungkin mereka belum boleh mempublish atau ini masih uji coba." Beberapa anak terdengar berbicara. "Kamu projeknya apa? Udah tahu?" Suara itu berasal dari meja di belakang Wish. "Kita pakai seragam apa ya?" "Berapa hari kita disana?" Wish yang mendengar itu, bertanya kepada Ardy, "Proyek apa maksudnya?" "Projek! Kamu tidak tahu? Maksudnya, karya ilmiah yang akan kita presentasikan kepada mereka." Jelas Ardy dan memikirkan mau menceritakannya dari mana. "Kamu sudah pikirkan Proyek yang akan kamu presentasikan?" Tanya Ardy. "Belum. Haha. Maksudnya apa?" Wish benar-benar tidak tahu. "Wajibkah?" Ucap Wish lagi sambil mencoba minuman yang di depannya. "Wajib. Tahun awal adalah perencanaan proyek. Biasanya per orang per proyek." Kata Ardy dan menuliskan pesanannya di layar. "Kemarin kamu gimana?" Tanya wish lagi. Ia merasa khawatir tidak lolos karena proyek ini. "Tahun lalu aku usulkan untuk membangun mesin waktu." Jawab Ardy. "Wah hebat." Puji Wish. "Ya, begitulah. Mungkin itu yang membuat mereka menerima ku." Jelas Ardy. "Bagaimana kamu tidak tahu apa proyek yang akan kamu presentasikan. Sebentar lagi kita tiba di sekolah. Pagi ini kamu akan mendapat masalah." Kata Ardy begitu khawatir. "Apakah itu perlu bukti atau seperti sesuatu yang membuat mereka yakin. Atau hanya ya, kau tahu, seperti bohong-bohongan," tanya Wish memainkan tangan. "B..iiisaaa." Ardy terdengar ragu-ragu," tapi, kamu tidak akan lulus jika tidak ada perkembangan. Dan biasanya mereka akan mengeluarkan kamu dari sekolah. Memang, ada yang berbohong tentang itu, tapi kebanyakan tidak. Kamu tahu, ini bukan sekolah biasa. Semua yang bersekolah disini adalah anak-anak yang memiliki IQ tinggi." Kata Ardy yang menggeser letak duduknya mencari posisi nyaman. "Seperti Will, dia menggunakan IQ-nya untuk membuat orang kesal!" kata Wish dengan kesal atas perlakuan seniornya itu. "Sudahlah. Itu hanya kebetulan saja. Ia tidak akan berani melakukannya disekolah nanti." Jelas Ardy. "Bagaimana dengan yang sama sekali tidak tahu projek yang ingin ia kembangkan?" Ucap Wish menatap Ardy serius. Ia terlihat cemas karena tidak mempersiapkannya. "Biasanya mereka akan memilih kelompok elit untuk bergabung secara sukarela untuk proyek yang menguntungkan dan sudah mendapat progres tetapi belum selesai karena siswa tersebut sudah tamat." Jelas Ardy lagi. "Baiklah, sebenarnya aku juga ingin masuk sekolah ini untuk menyelesaikan teka-teki. Ya.. begitu. " Wish terpikir dengan buku Moon-nya. "Teka-teki apa?" "Yah, teka-teki. Apa kamu bisa aku percaya?" "Sure. Kenapa tidak. Kita teman Wish. We are bro!" Lalu mereka berdua tertawa.  "Sebelum itu, apakah sudah kirim pesanannya?" Ucap Ardy. "Sudah," ucap Ardy, lalu mengecek ke layar pesanan, "Salmon, Nasi Wortel, Sup Brokoli, Indomie Bayam.. " "Okay!" "Apakah minuman disini hanya satu jenis saja?" Tanya Wish yang tidak melihat minuman apapun di menu. "Bukankah kau sudah tahu? Hanya satu minuman di kapal ini. Yaitttuu.., tunjuknya, "Yang ada di depanmu..." Kata Ardy.  "Yang Merah ini saja?" "Yups." Lalu Ardy tersenyum. "Okay, sekarang kamu bisa jelaskan." Ardy sudah tidak sabar. "Sewaktu kecil, kakek bilang padaku bahwa aku bisa berbicara dengan Ayah ku yang sudah meninggal." Terang Wish "Apa? Bagaimana bisa?" Ardy kebingungan. Ia baru pertama kali mendengar itu. "Ia mengatakan, bahwa Ayah sudah menjadi Bulan." Lanjut Wish. "Baiklah.. baiklah.. aku mencoba mengerti. Bukankah Ayahmu masih hidup? Dia mengantarmu tadi di dermaga, ingat bukan? Dia bukan Ayahmu?" "Dia bukan Ayah dan Ibu kandungku. Mereka orang tua asuhku. Mereka mengadopsiku dari panti saat aku berumur 4 tahun." Terang Wish. "Sorry." "It's okay. Gak masalah kok." "Dan siapa yang kamu maksud Kakek?" Tanya Ardy  "Kakek penjaga panti tempat aku tinggal." Jawab Wish. "Baiklah, sungguh masuk akal. Tapi bagaimana  bisa kamu berbicara dengan orang yang sudah mati?" Selidik Ardy lagi. Ia tentu sangat penasaran. Dan kalaupun itu benar-benar bisa, pasti penemuan ini bisa menggemparkan manusia. "Ayah meninggalkan buku yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Nama bukunya Moon Call. Buku itu tulisan ayah." Jelas Wish. "Sangat tidak mungkin. Tetapi, kamu bisa mengatakannya di pertemuan besok karena kamu sudah punya dasarnya." Ardy mengangguk.  "Kamu mau membantuku?" Tanya Wish. "Itu tampak tidak masuk akal. Lagian tugas itu dikerjakan perorangan. Aku akan membantumu sebisaku. Okay." Janji Ardy dengan sangat yakin. "Baiklah itu lebih dari cukup." Pesanan mereka datang. Jika dilihat dari bentuknya makanan itu tampak sangat lezat. Asap keluar deras dari piring mengeluarkan aroma. Mereka mengambil sendok dan mencicipinya. "Iuh, ini tidak enak.." ucap Ardy. "Ini seperti kotoran. Ada bau busuknya. Bagaimana aku bisa memakan ini. Ini seperti makan sayuran mentah!" Ardy mengerutu dalam sedetik.  "Apakah seburuk itu?" Wish mengambil secuil makanan Ardy dan memuntahkannya. "Baiklah, ini bukan makanan. Kita berbagi salmonku saja." ucap Wish dan memotong sebagian salmonnya dan meletakkannya di piring Ardy. (Chery yang berada di seberang meja, mendengarkan percakapan mereka)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD