Bab 17 - Seorang Pelayan Menjentikkan Jari

1646 Words
Ardy dan Wish yang sudah selesai makan berencana langsung pergi ke kamar mereka masing-masing. Mereka sudah terlihat lelah karena jam sudah menunjuk pukul 3 subuh. Mereka menuju lift dan turun di lantai 12. Mereka tak berbicara sedikitpun karena sudah cukup banyak topik yang mereka bicarakan saat berada di restoran. Mereka pun sampai di depan pintu kamar masing-masing. Ardy mencari kunci di kantong celananya sedangkan Wish yang juga berada di samping pintu kamarnya yang sudah terbuka berkata, "Sangat melelahkan."  Suara kletek pintu Ardy terdengar. "Apakah kamu akan tidur lagi?" Tanya Ardy sebelum masuk. "Sepertinya begitu." Jawab Wish dengan mata sempoyongan masuk ke dalam kamar. Ia seperti orang mabuk. "Bye." Kata Ardy masuk ke kamarnya. Ardy merebahkan tubuhnya di kasur lalu mencampakkan sweater yang ia kenakan. Dia merasa sweaternya akan menyulitkannya untuk tidur dengan nyaman sehingga mencampakkannya dengan asal dan terjatuh di lantai. "Ya, besok perlu banyak waktu untuk dilakukan." Ucap Ardy sambil menutup mata, ia langsung lelap sebelum sedetik berlalu. Ketika Ardy sudah terlelap, sesuatu terjadi. Kapal laut mulai berguncang kuat hingga Ardy hampir jatuh dari kasurnya. Semakin lama semakin kuat goncangan yang dirasakan. Ia berdiri dan berpikir bahwa ia sedang bermimpi. Tetapi, ketika lemari kecil yang ada di samping tempat tidurnya tercampak, baru ia sadar bahwa ini adalah nyata. Cepat-cepat ia berlari ke luar kamar. Ardy langsung keluar dari kamar dengan ketakutan mengetuk pintu Wish karena ia merasa kapal sedang menghadapi badai yang besar. Ia berharap Wish cepat membuka pintu. Tetapi, nyatanya ia harus menunggu hingga lima menit. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana Wish bisa tidak terbangun dengan situasi seperti ini.  "Wish!" Teriak Ardy sambil mengetuk pintunya kuat. Tetapi, belum mendapat jawaban. Ia masih berupaya membangunkan Wish. Dari belakangnya, orang-orang berlari kencang menyusuri lorong untuk menyelamatkan diri. Sudah ada tiga kali ia tersenggol karena penumpang yang berlari serabutan. Ardy ingin menanyakan apa yang terjadi. Ia menghentikan salah satu murid yang berlari dari hadapannya dan bertanya apa yang terjadi dengan kapal. Ia menjawab, "Kapal akan tenggelam. Segera ke sekoci penyelamat." Lalu ia berlari tanpa pamit. Informasi yang berguna bagi Ardy.  Ardy kembali mengetuk pintu Wish, tetapi ia belum juga keluar dari ruangan. Akhirnya, Wish terbangun juga dan kesulitan mengambil kunci yang mondar-mandir bergerak karena goncangan kapal. "Apa yang terjadi?" Kata Wish membuka pintu kamarnya. Ia melihat Ardy menunggunya untuk pergi menyelamatkan diri. "Ayo! Kapal akan tenggelam." Menarik tangan Wish. Ia masih memiliki harapan untuk selamat dari bencana ini. Maka, mereka bergegas keluar dari lorong menuju buritan kapal ingin melihat apa yang terjadi di luar. Kerumunan orang yang berlari membuat mereka harus mengikuti arus dan terseret-seret. Ketika sampai di buritan kapal, mereka melihat ombak yang sangat tinggi menerpa kapal membuat guncangan kuat. Gulungan air menabrak kapal yang membuat beberapa terjatuh ke dalam laut dan yang lainnya tercampak jauh. Ini semua terjadi karena kencangnya angin dan derasnya hujan. Semua pelayan tampak sangat tenang seperti hal yang biasa bagi mereka untuk melalui ini.  "Apakah kita di tengah lautan yang angker?" Ucap Ardy yang mencoba membayangkan kemungkinan terjadi, meski itu tampak tidak bisa dipercaya.  Wish melihat Ardy tajam. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu. Ia sangat kecewa bahwa kecerdasan Ardy tidak menjadi jaminan bahwa ia tahu segala sesuatu.  Wish dan Ardy berdiri memperhatikan orang-orang yang seperti cacing kepanasan karena takutnya. Mereka terdorong lagi ke tengah buritan kapal dan basah kuyup karena hujan yang deras. Mereka berdua kebingungan, apa yang harus mereka lakukan di situasi seperti itu. Mereka melihat kekacauan di area sekoci. Di kanan dan kiri mereka yang ada hanya teriakan dan komplain tentang apa yang terjadi. Mereka juga melihat orang-orang yang luka-luka karena goyangan badai yang terjadi.  “Aw” Ucap Wish lalu terjatuh karena orang-orang mengejar sekoci. Ia menyeka wajahnya karena air hujan yang sudah membasahi tubuh mereka. Dalam hati Wish berpikir, apa yang mereka lakukan di buritan itu. Bukannya mencoba menyelamatkan diri, mereka hanya memandangi sekeliling seperti sedang menonton telenovela.  "Ayo kita ke sekoci!" Pikir Wish yang ingin berlari menerobos gerombolan orang. Ia memutuskan bahwa waktunya sudah tepat untuk bersaing memperebutkan sekoci. "Wait. Bagaimana kita mau ke sana. Lihatlah! Sekoci tidak akan membuat kita selamat juga. Badainya bisa membuat sekoci itu ikut hanyut." Ucap Ardy yang mencoba menghentikan Wish. Wish dan Ardy saling menatap. “Lalu? Apa yang bisa kita lakukan?” Tanyanya. Semua murid-murid yang mereka lewati berteriak sekeras-kerasnya melebihi suara badai. Tentu, mereka tidak bisa mengerti apa yang harus dilakukan. Wish melihat sekelilingnya sedang mengamati apa yang bisa menyelamatkan mereka. "KRAK" "Dy, sepertinya kapal ini menabrak sesuatu." Teriak Wish.  Kapal semakin bergoyang keras tidak menentu. Petir menyambar keras hingga mengenai kapal dan listrik pun padam. Semua orang sangat ketakutan dan beberapa membentak ingin menaiki sekoci. Tiga anak laki-laki yang tidak sopan saat pertama kali mereka lihat di dermaga berkata kepada pelayan, "Apa yang terjadi? Selamatkan kami cepat! Kita harus keluar dari kapal ini. CEPAT!" "YA BENAR." "SELAMATKAN KAMI." "BAGAIMANA INI?" "Baik Tuan." Ucap pelayan. Ia bergegas menuju ruangan pengendali. Meski tampaknya masih baik-baik saja, tetap saja, penumpang tidak tenang. Beberapa terlihat kembali ke kamar mereka untuk mengambil tas ataupun barang-barang penting.  "Aaaaaaa.." teriak seseorang yang berlari memecah belah kerumunan orang. Pria gendut dengan cheetos di tangannya. Tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia menghantam bahu Wish sewaktu berlari. "Dia sangat terburu-buru sepertinya. Ia juga sempat-sempatnya makan. Tetapi, lebih jelas ia lebih cepat makan daripada berlari." Ucap Ardy santai melihat pria gendut itu dengan sinis. Akhirnya pria gendut itu berhenti dikarenakan kerumunan orang yang terbentuk yang menghalangi jalannya. Melihat sikap pria itu, beberapa merasa kesal, dan tangan kanan pun menyapa tubuhnya. Ia menjerit kesakitan karena pukulan anak-anak yang lain yang merasa terganggu. "Ada apa dengannya?" Ucap Wish lalu ia melihat Ardy, "Kamu tidak berteriak seperti yang lain?" Tanyanya canda Wish. "Capek! Aku mulai berpikir untuk pergi ke restoran lagi. Mungkin kita bisa mendapat makanan gratis di restoran." Ucap Ardy. Ia sebenarnya tidak kuat makan, tetapi baginya makanan adalah hal yang penting dan harus dinikmati.Makanan membuatnya lebih rileks dan bahagia. Ia tidak pernah menyisakan makanan yang ia dapat, dan selera makanannya pun tinggi. Ia sering mencoba untuk membuat makanan sendiri - meski baru pertama sekali, selalu berhasil. Ardy memang punya bakat untuk memasak. Tetapi, ia hanya tidak mengasahnya saja. "Makanan di Restoran bukannya gratis dari awal?" Kata Wish yang berdiri santai masih seperti menonton kerumunan orang yang sedang memberikan pertunjukan silat. "Baiklah, itu hanya candaan." Ucap Ardy menyeringai.  "Come on." Ardy menarik tangan Wish lalu mengambil senter yang terjatuh di lantai sebagai penerang mereka saat di dalam kapal. "Kita mau kemana? Hei, kita seharusnya tidak masuk ke dalam kapal lagi," Kata Wish yang terseret Ardy karena genggaman tangannya yang kuat. Lampu yang mati tiba-tiba kembali hidup. Mereka berlari ke dalam kapal menuju restoran yang ada di lantai 6.  "Apa yang terjadi?" Mereka berjalan sambil bergerutu. "Kenapa cuaca bisa tiba-tiba seperti ini?" Tanya Ardy sambil berjalan cepat bersama Wish. "Semoga pas di lift lampu kapal gak mati!" Ucap Wish yang memikirkan apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya. Wish teringat sesuatu, ia berkata dalam hati, 'Yang kulihat sebelum naik ke kapal ini benar-benar menjadi kenyataan. Apakah sekarang aku bisa melihat penglihatan?' "Aaaaaaaa," teriak Ardy, yang membuat Wish tersadar bahwa sekarang bukan saatnya untuk memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Mereka berdiri tepat di depan sebuah pintu ruangan. "Kau kenapa?" Tanya Wish yang begitu kesal karena Ardy tiba-tiba diam. "Lihatlah kita berada di gudang makanan!" Kata Ardy. Ini tentu tingkah yang aneh. Seharusnya mereka ketakutan, dan bukannya menikmati hidup. "Ardy? Apakah kau merasa aneh? Kita mau mati sekarang!" Ucap Wish. "Tak ada yang bisa kita lakukan. Nikmati saja karena waktu kita tinggal sedikit." Wish mengerutkan bibir. "Apa yang ada di dalam pikiranmu?" Ucap Wish sangat kesal. “Kau benar, kita pasti akan mati.”Lanjutnya. Ia berpikir ada baiknya menikmati menit-menit kehidupan mereka karena jika dilihat situasinya, mereka tidak akan selamat. Sesekali suara teriakan masih terdengar dari ruangan restoran dari beberapa orang yang ketinggalan informasi. Ardy berjalan menyusuri gudang makanan dan tak melihat seorangpun disana.  "Kita seharusnya tidak disini. Kapal ini seperti akan tenggelam." Wish memberi peringatan. "Aku lapar." Ucap Ardy masih menarik-narik Wish ke dalam dapur. Ardy yakin tidak ada orang yang berada di restoran. "Kita bisa mati jika disini Ardy," Ucap Wish. Mereka sekarang berada di kulkas dapur. Melihat ke kanan dan kiri mencari sesuatu untuk dimakan. "Ini sangat aneh." Ucap Ardy. "Apanya?" Kata Ardy berjalan memasuki pintu pembatas yang terbuat dari plastik tebal agar ruangan terjaga dari hawa panas. "Tidak ada daging?" Tanya Ardy.  Wish keheranan dengan perkataan Ardy. Ia berpikir, apakah ia benar-benar manusia pintar di generasi ketiga ini. "Di Menu tadi tidak ada daging Ardy." kata Wish. Seharusnya Ardy sudah jelas-jelas tahu bahwa menu makanan mereka tadi semuanya hanya terbuat dari sayuran dan juga ikan. Bagaimana ia bisa melupakan hal yang jelas-jelas baru sebentar mereka lakukan. "Aku tahu Wish, cuma bingung aja. Seharusnya ada sedikit daging yang mereka simpan untuk dimakan. Entah itu untuk para bangsawan disini. Bagaimana mereka bisa hidup tanpa daging!" pernyataan Ardy dengan tekanan di mana-mana. "Baiklah sudah cukup, kita bisa mati jika tetap disini.  Mungkin mereka sudah turunkan lebih banyak sekoci sekarang, ayo..!!" Tarik Wish yang melihat Ardy semakin lama semakin masuk ke dalam ruangan. "Tung..." ucapan Ardy terhenti dikarenakan seseorang. "Haaaa.." teriak mereka berdua. Ardy terdorong ke belakang hampir terjatuh. "Kamu tidak akan mati. Kamu kan rajanya. Raja tidak akan mati."  Ucap seseorang berpakaian pelayan. Ia berada tepat di depan Wish. Wish dan Ardy ketakutan mendengar seseorang tiba-tiba berbicara. "Kamu siapa?" Tanya Wish.  "Aku pelayan." Jawabnya santai. Tapi, cara berbicaranya aneh sekali. Itu yang membuat mereka menjadi sangat ketakutan. "Mungkin dia akan melakukan sesuatu seperti di film-film Wish." Ucap Ardy yang sedang semakin mundur seraya pria itu maju ke arah mereka. Ardy berimajinasi bahwa ia akan menodongkan senjata, menculik, atau membuat mereka tidak sadarkan diri dengan semprotan yang membuat tidur. "Apa?? Apa maksudmu?" Balas Wish yang berjalan mundur perlahan.  "Ia ingin membunuh.. mung..kin!" Jawab Ardy dengan gemetaran. "Tidak mungkin, ada-ada saja." Ucap Wish. Pria itu lalu menjentikkan jarinya dan ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD