Bab 15 - Mimpi yang adalah Nyata

1720 Words
Wish dan Ardy kembali ke kamar mereka. Seraya kembali mereka bisa melihat murid-murid yang lain sudah mulai banyak berdatangan. Meski baru saja bertemu mereka sudah bisa merasakan ikatan batin satu sama lain. Mereka banyak berbicara seperti sudah lama kenal. "Apakah kau yakin bahwa seluruh kapal ini berisi seluruh murid-murid yang mendaftar tahun ajaran baru?" Tanya Wish seraya berjalan. "Kau benar. Apa sebanyak ini murid-murid yang bersekolah di sini?" Ucap Ardy. Ia berpikir lama karena tidak mungkin seluruh kapal ini hanya mengangkut mereka. "AWW.." ucap Wish yang menabrak seseorang. Ia tersimpangkan karena melihat wajah Ardy saat diam memikirkan jawaban. Pria yang ia tabrak sedikit lebih tinggi dari mereka berdua. Pria itu menoleh mencoba tenang saat melihat Wish. "Maaf." Kata Wish dengan cepat. "Hei. Hati-hati." Refleks yang diucapkan pria yang ditabrak Wish. Ia tampak sangat marah. "Maaf." Ucap Wish lagi. "Hei Bocil. Kamu murid interview-kan?" Tanyanya dengan mulut yang menyipit tajam menyimpan kemarahan. Wish terdiam. Ia tidak ingin terlibat masalah sepele yang dibesar-besarkan seperti ini. Karena melihat Wish yang diam saja, Ia berkata, "Saya Will. Kenalkan!" Katanya menyodorkan tangan, "Kamu?"  Wajah Will tidak lagi seseram di awal. Ia melipat kejahatan di senyumannya. Wish melihat ke belakang Will. Ia melihat teman-temannya yang melotot kepada mereka berdua.  Mendengar pernyataan Will, Ardy langsung bertanya tanpa segan. "Kalian senior kami?" "Ya, benar." "Bukankah kalian harusnya berada di sekolah? Kalian…" Ardy tidak ingin melanjutkan tuduhannya karena ia ingin kata-kata selanjutnya diteruskan oleh mereka sendiri. "Oops.. No. We are good students." Ucapnya memainkan tangan yang tadinya ia sodorkan. Ia tidak sadar kalau tangan kosongnya diabaikan Wish dan Ardy. "Kami kemarin liburan akhir semester. Semua sudah diatur sekolah kapan kami balik dan liburan. Hari ini kami akan kembali ke sekolah sesuai dengan yang diatur sekolah. Kami bukan cabut, Buddy." Jelas Will melanjutkan pada Ardy. Nada terakhir Will begitu ditekankan. "Oh.. okay. Maafkan teman saya." Ucap Ardy cepat agar mereka bisa pergi. Lalu Wish dan Ardy pergi dari situ. Mereka tidak menyambut tangan Will yang menyodorkan tangannya tadi. Wish dan Ardy berjalan cepat sambil berbisik-bisik. Mereka sedang sial. "Mereka senior kita. Berarti tidak semua siswa yang interview menaiki kapal ini." Kata Ardy di perjalanan menuju kamar. "Itu masuk akal. Karena kapal ini sangat besar. Tidak mungkin hanya mengangkut kita saja." Tanggapan Wish dan melihat pintu kamarnya sudah dekat. "Ya," kata Ardy dan berdiri di pintu kamar di sebelah Wish. "Aku mau letakkan ranselku dulu. Nanti aku ke kamarmu." Kata Ardy. "Baiklah." Dan Ardy masuk ke kamar begitupun Wish. *** Ardy mendatangi kamar Wish dengan segudang snack di tangannya. Ketika keluar dari kamar ia melihat Wish berbicara dengan pelayan. Wish mengucapkan terima kasih kepada pelayan dan pelayan itu pergi dengan senyuman di wajah. Ardy melihat Wish membawa tasnya yang lebih besar ke dalam ruangan dan ia pun ikut masuk. "Banyak sekali kau bawa makanan itu Dy." Ucap Wish melihat snack yang di bawa Ardy. Ardy tersenyum. "Kita bisa berbagi bersama." Ucap Ardy meletakkannya sebagian di kasur. "Tas wanita itu sudah di antar?" Tanya Wish yang kesulitan membawa tasnya dan melihat Ardy duduk di kasurnya.  "Ya. Tasnya sangat berat. Biasalah wanita, begitu banyak barang bawaan." Jawabnya dan melihat ke arah balkon. "Sudah di kamar ku letakkan." Lanjut Ardy dan pergi ke balkon. Ardy menatap langit yang ditemani angin malam. Angin yang berhembus masih tetap sama, begitu dingin. Langit malam memang gelap dan karena tanpa bintang menjadi tampak tak bermakna. Ardy membayangkan bahwa ia akan melihat burung laut di pagi hari dan tidak sabar menunggu esok. Ardy meletakkan beberapa snacknya di meja balkon dan duduk di kursi. "Ini hebat." Ucap Wish mendatangi Ardy di balkon karena melihat pemandang yang indah untuk yang ke sekian kali. "Ya, kau benar." Suara Ardy sedang mengunyah sesuatu. "Kapan kapal ini akan berangkat?" Tanya Wish yang tak sabar melihat keberangkatan kapalnya. "Ini masih jam 1 malam. Sebentar lagi juga berangkat!" Terang Ardy dan memasukkan chips ke mulutnya. Wish mengingat sesuatu ketika mengambil bontot yang disiapkan ibunya. "Apa kau tidak mendengar alasan mengapa sekolah Gifted tidak menerima murid tahun lalu?" Tanya Wish memulai percakapannya. Ia memegang tempat makannya yang ia ambil dari tasnya dan duduk di kursi sebelah Ardy. Kemudian ia berkata lagi sambil membuka tempat makannya, " Kau tahu kan aku seperti hampir pingsan tadi. Sebaiknya aku makan bekal yang disiapkan ibu." Dan ia tersenyum. Ardy tersenyum tanpa tanggapan. Baginya itu hanyalah sebuah blurb dalam novel yang tidak perlu diberikan komentar. "Tidak ada yang tahu tentang itu. Mungkin ada sesuatu yang mereka rahasiakan." Jawab Ardy dan mengambil keripik kentangnya lagi. Ia melihat ke arah kotak makanan Wish dan penasaran dengan yang ia makan. "Makanan apa itu?" Tanya Ardy melihat makanan Wish yang berlendir. "Prawn Ceviche," jawabnya. Ia bangga kalau itu adalah buatan ibunya. "Ow, ya," Ardy tampak tidak pernah mendengar itu. "Mari kita berbagi." Wish memberikan sendok untuk Ardy. "Cobalah." Ucap Wish lagi menyodorkan tempat makannya. "Ini sangat lezat." Ucap Ardy setelah mencicipnya. Matanya melotot karena masakkan itu ternyata enak. "Ibuku baru saja belajar memasak ini. Ia melihatnya dari Youtube. Ini resep dari chef Renata." Jelas Wish dan memasukkan se-suap ke dalam mulutnya. "Benarkah? Ini sangat lezat. Ibumu pandai sekali memasak. Padahal ini baru pertama kali coba." Ucap Ardy. Wish tersenyum. "Itu biasa. Di awal mencoba biasa berhasil, yang kedua kali baru gagal. Hahaha.. " ucap Wish diakhiri tawa. "Ada benarnya juga." Ucap Ardy lalu tertawa juga. "Semoga kau tidak menjadi aneh seperti tadi." Ucap Ardy. Wish berkonsentrasi pada makanannya. Ia menggelengkan kepala dan berharap yang sama dalam hati. "Ketakutan yang berlebih bisa membuat kita pingsan juga." Ucap Ardy sambil mengunyah. "Tapi aku tidak merasa takut tadi." Bantah Wish. "Kita tidak tahu. Kadang pikiran bisa menipu. Lagian, kau terlihat takut tadi. Matamu melotot seperti melihat sesuatu yang menyeramkan." Jelas Ardy. "Ya, tapi itu sulit dijelaskan. Lebih tepatnya aku bingung, bukan takut." Jelas Wish. Makanannya sisa sedikit. "Kita akan cari tahu lagi nanti." Ucap Ardy yang sedang mengumpulkan sampah makanannya. Selesai makan, Wish terlihat menguap. "Ngantuk." Ucap Wish menepuk nepuk mulutnya dengan tangan. "Belum jalan ya." Kata Ardy yang berdiri di balkon memegang handphone sambil melihat sekelilingnya. Wish meletakkan tempat makannya dan tertidur di kursi. "Yah, dia tidur. Pantesan dia gak nyaut apapun." Ucap Ardy. Ia melanjutkan melihat pemandangan. *** (Wish 4 tahun) Kekek melihat sekelilingnya. Ia tampak takut karena Wish mengatakan bahwa ada yang memperhatikan mereka sekarang di tengah lapangan. Dalam hati kakek berpikir apakah Wish memiliki kesanggupan melihat hantu. Ia sedikit merasa kesal karena ini membuatnya takut. Suasana pohon-pohon yang tinggi menambah gelapnya malam dan suara-suara kehidupan malam membuat Kakek ingin bergerak cepat. Ia berpikir dalam hati mengapa Wish tidak sedikitpun takut sendirian di halaman panti. "Ayo.." kata Kakek yang tidak sabaran dari tadi. "Sudah? Ayo.." Kata kakek lagi dan menarik tangan Wish. "Kakek gak mau tahu siapa yang mengikuti kita?" Tanya Wish dengan suara sangat lembut. Dari wajah Wish menunjukkan ia tidak ada maksud untuk menakuti. Wajah polosnya benar-benar ingin mengatakan apa yang ia pikirkan. "Wish.. ayoo cepat tidur. Ayo kita masuk ke kamar saja." Kata Kakek mengalihkan topik dan berjalan selangkah demi selangkah. Wish tak bisa menahan mulutnya untuk berbicara. "Lihatlah ke atas." Ucapnya. Kakek berhenti bergerak. "Kenapa?" Tanya Kakek. Siapa tahu di atasnya ada hantu yang melayang-layang, kakek menggerakkan kepalanya sedikit demi sedikit ke atas. "Gak ada." Ucap Kakek yang sekarang melihat ke arah Wish. "Bulan. Itu." Tunjuk Wish ke arah langit untuk menyakinkan bahwa ia tidak main-main. "Kakek tahu? Bulan mengikuti kita kemanapun kita berjalan. Ia memperhatikan kita." Jelas Wish. Dalam hati Kakek teringat akan kebohongan yang pernah ia katakan kepada Wish. Ia mengatakan kepada Wish sebelumnya kalau Ayahnya sudah menjadi Bulan dan ia bisa berbicara kepada Ayahnya yang sudah meninggal. Kebohongannya menjadi tameng sekarang. 'Apakah aku membuat anak ini meng-khayal hal-hal aneh?' Pikir kakek. Tetapi ia sedikit lega karena yang dimaksud Wish bukanlah hantu. "Aku tadi sudah coba, ia memang mengikutiku." Kata Wish yang masih kecil itu. Ia melepas genggaman Kakek dan berjalan selangkah lalu melihat ke atas dan beberapa kali ia mengulang tindakan itu. "Benarkan? Kakek bisa coba?" Ucap Wish yang sudah selesai memberikan contoh. "Kamu tahu kemana bulan tidak dapat mengikuti kita?" Tanya kakek membuat Wish penasaran. "Kemana kek?" Ia balik bertanya mendekati Kakek. "Bersembunyilah di dalam rumah. Ia tidak dapat mengikutimu hingga ke dalam." Jelas Kakek. "Sudah, ayo!" Kata Kakek lagi dan memegang tangan Wish masuk ke dalam Panti. Wish memikirkan perkataan kakek. Untuk kedua kalinya kakek membentuk imajinasi anak itu semakin liar. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memberikan jawaban yang tidak masuk akal agar Wish mau kembali ke kamarnya. "Wish harus segera tidur ya. Kakek mau tidur juga. Sudah ngantuk. Dan jangan keluar lagi jika kakek tinggalkan Wish di kamar. Oke?" ucap kakek sembari berjalan ke kamar. Akhirnya karena Wish yang berlambat-lambat sewaktu berjalan, ia menggendong Wish hingga sampai ke dalam kamar. "Awww... Haha.. " Wish tertawa geli karena di gendong Kakek. "Ssst.. nanti ada yang bangun." Perintah Kakek. "Hehe.. oh iya. Sttt..." ulang Wish mengecilkan tawanya. Ia mencoba menahan suara tawanya meski mulutnya terbuka lebar. *** Wish tiba-tiba terbangun. Ia melihat Ardy di depannya dan sadar bahwa ia sedang bermimpi. Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi dengannya. 'Kenapa mimpi yang terjadi sama dengan kejadian yang sebenarnya tanpa perbedaan di kehidupan nyata. Apakah ini efek dari Syndrome Hyperthmensia?' Pikir Wish. Ia berpikir begitu karena ingat bahwa ada sesuatu yang bermasalah dengan ingatannya yang kuat sewaktu kecil. Ardy menatap tajam Wish menunggu apa yang terjadi kali ini. "Kamu tidur sambil tertawa, aneh sekali." Ucap Ardy dan menjauh dari Wish. "Benarkah?" Wish tentu tidak sadar itu. Ardy mengangguk dan mengambilkan tissue kepada Wish karena wajahnya dipenuhi dengan keringat. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Ardy. Wish melihat ke jendela dan berkata, "Apakah mimpi bisa bersambung seperti series televisi?" Wish tampak linglung. "Apakah itu candaan?" tanya Ardy, "Apa yang terjadi kali ini?" ucap Ardy lagi dengan seribu pertanyaan di kepalanya. Ia memikirkan bahwa sudah cukup ia melihat kejadian aneh yang terjadi pada Wish. "Maksudku, ya.. bisa dibilang begitu. Tapi, itu juga pertanyaan." Ucap Wish yang hanya asal mengucap. "Baiklah, itu tidak mungkin. Pasti bukan sambungan dari mimpi sebelumnya. Kalau kita memimpikan objek yang sama, biasanya kejadiannya berbeda." Menurut Ardy. "Benar juga apa yang kamu katakan Dy. Mungkin itu hanya kebetulan." Ucap Wish dan ia menghela napas. ____________♡____________ *Mimpi ini adalah lanjutan potongan mimpi yang ada di Bab 2. Ia mimpi dan itu bersambung saat Wish naik kapal. Itu yang membuat Wish heran, bagaimana mimpi bisa seperti soap opera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD