Wish pun naik ke dalam kapal. Sebelumnya ia sudah memasang luggage tag untuk tasnya dan menitipkan ke bagian bag drop agar diantar ke dalam kamar masing-masing. Pelayan pintu masuk meminta kartu undangan dan menggantinya dengan kartu tanda pelajar dengan keterangan bahwa penumpang tersebut adalah pelajar Gifted International School. Di kartu penumpang juga tertulis stateroom yang menjadi tempat mereka nantinya.
"Dek 12 cabin 98," baca Wish sambil berjalan menuju lorong kapal.
"Kamu nomor berapa Dy?" Tanya Wish seraya berjalan di depan. "13, cabin 70" jawab Ardy dan berpikir betapa jauhnya itu jika ditempuh tanpa lift.
Kapal laut ini sangatlah mewah. Di bagian dek bawah merupakan tempat untuk berkumpulnya para penumpang. Ruangan ini menyediakan kursi-kursi berkelompok untuk sekadar bersantai atau berkumpul bersama keluarga. Di dek ke empat, tersedia rumah sakit bagi para penumpang untuk mereka yang memiliki masalah kesehatan. Dek di atasnya adalah tempat berbelanja, beberapa toko emas, baju, sepatu, barang elektronik dan merchandise tetapi, kali ini toko-toko di lantai ini tidak ada yang buka - itu dikarenakan kapal ini khusus menjemput murid-murid interview. Di dek ke enam merupakan tempat restoran dan arena bermain. Sedangkan di lantai tujuh ada bioskop dan hall yang cukup besar. Di dek ke dua belas ada restoran yang lebih mewah, meski menu makanannya sama dengan yang di lantai ke enam. Beberapa kamar juga terdapat di dalamnya. Perbedaan restoran di lantai enam dan dua belas hanyalah suasana yang lebih mewah dan dilengkapi dengan virtual reality. Jadi semua orang yang makan di restoran itu akan memakai kaca mata 3D virtual reality. Sedangkan di dek selanjutnya adalah kamar-kamar penumpang. Di dek bagian paling atas terdapat fasilitas olahraga dan tempat untuk melihat keindahan langit saat suset ataupun malam.
"Kita akan berjalan cukup jauh untuk sampai ke kamar kita." Ucap Ardy seraya masuk ke dalam lift dan merapikan rambutnya di pantulan dinding lift. Wish menekan lantai ke dua belas menuju kamarnya.
Ardy berkata, "Bagaimana jika kita mencari tempatmu terlebih dahulu lalu temani aku mencari room-ku?" Lalu, ia melihat dinding lift lagi dan melakukan hal yang sama dengan rambutnya.
"Kau benar, dek mu lebih jauh dibanding milikku." Balas Wish melihat ke atas. "Akan lebih menyenangkan jika kita satu ruangan." Tambah Wish.
"Benar sekali." Saut Ardy, tetapi kenyataannya tidak mungkin karena semua sudah ditentukan oleh kartu pelajar mereka. Sesampainya di lantai 12, mereka berjalan melewati lorong-lorong ruangan. Cukup jauh mereka berjalan ke ruangan 98. Setiap pintu bertuliskan ringkasan sepuluh nomor.
"Ujung itu." Tunjuk Ardy. Mereka berjalan dan menemukan ruangan Wish.
"Tempat ini terlalu sudut. Sangat kecil." Ucap Ardy kemudian, padahal ia sebenarnya belum melihat besarnya ruangan.
"Tidak masalah." Ucap Wish dan tersenyum mengikuti Ardy. Mereka masuk ke pintu yang bertuliskan 90-100. Setelah menemukan ruangannya, ia meletakkan card unlock yang diberikan oleh pelayan tadi untuk membuka.
"Cukup besar." Ucap Wish yang melihat ruangan itu melebihi expektasinya. Ia tergoda dengan ranjang yang putih bersih ingin merebahkan tubuhnya untuk merasakan lembutnya ranjang sedangkan Ardy melihat keluar balkon dan hanya menemukan kegelapan yang ditemani hembusan angin kencang.
"Mari kita mencari kamarmu." Ucap Wish yang sudah selesai mengecheck keempukan ranjang kamarnya. Mereka menutup pintu kamar dan kembali menaiki lift satu lantai ke atas.
"Disana," tunjuk Ardy ke sebuah ruangan. Mereka berjalan dan melihat wanita sedang berbicara di depan pintu kamar dengan salah-satu pria pemilik ruangan. Ada juga wanita yang berdiri tepat di sebelah pria itu yang hanya diam tak berkata apapun.
"Hi ito, bisakah aku bertukar ruangan denganmu?" Ucap seorang wanita kepada pemilik salah satu kamar. (Ito adalah sebutan bagi pria maupun wanita kepada lawan jenis dalam bahasa batak yang berarti 'Abang') Ia berkata kepada si pemilik kamar.
"Kau tahu kan, dia tidak memiliki teman?" Lanjutnya mengarahkan wajahnya ke sisi lain. Tetapi pria itu hanya diam saja tanpa respon. Yang ia maksud bahwa teman wanitanya tidak memiliki teman jadi ia mau menukar ruangannya dengan pria itu agar bisa berdekatan dengan teman wanitanya.
Tanggapan pria itu tidaklah ramah. Ia tentu tidak mau repot-repot dengan permintaan seorang wanita yang tidak ia kenal. Dengan wajah datarnya ia melihat wanita itu dan bisa merasakan tatapan penuh emosinya.
"Hei.. na nengel do ho..." (Hei, yang tungkik-nya kau?) Teriaknya tiba-tiba membuat Wish dan Ardy juga ikut terkejut. Pria itu diam saja tanpa berkata apapun. Ia melihat wanita itu dengan tatapan berani. Ardy dan Wish memperhatikan mereka berbicara karena mereka menghalangi jalan masuk ke dalam kamar.
"Ehe, begu.. begu.. dang dibege sibegu latuk on au mangkatai." (Eh setan, gak di dengar si setan ini aku ngomongon) Lanjut wanita itu kesal karena lelaki itu tidak menuruti keinginannya.
Ardy memotong percakapan mereka, "Berapa nomornya?" Tanya Ardy yang sudah melihat terlebih dahulu nomor yang ia pegang. Nomor milik wanita itu tepat berada di sebelah kamar Wish. Jadi Ardy memanfaatkan situasi tersebut untuk bertukar dengannya. Melihat Ardy yang memiliki wajah tampan membuat wanita itu salah tingkah.
Dengan wajah manis dan terlihat dibuat-buat, ia berkata "12-99," lalu tersenyum dan mencoba menggoda. Ia terpesona dengan ketampanan kedua pria itu.
"Itu untuk kalangan kumuh." Jawab pria yang diminta bertukar ruangan kamar tiba-tiba karena melihat Ardy yang menghentika percakapan mereka. pria jahat itu ingin agar Wish dan Ardy mengurungkan niat untuk bertukar kamar. karena kamar wanita itu tidaklah bagus seperti miliknya saat ini. Tanggapan pria itu membuat semua yang ada di situ menjadi kesal.
"Weee.. amang tahe." (Ya ampun bapak) Ucap wanita garang itu dengan kesal.
Pria itu tersenyum sinis dengan hembusan napas dari hidungnya lalu menutup pintu dengan keras hingga yang lain terkejut. Tak lama kemudian suara pintu di kunci menyusul.
"Dah gila ku rasa ni orang!" Ucap wanita garang itu. Temannya hanya diam tak melakukan apapun untuk membantu temannya.
Ardy yang ruangannya adalah ruangan yang diinginkan wanita itu meminta untuk bertukar kamar. Ini kebetulan yang sangat jarang terjadi.
"Ruanganku nomor 70. Kita bisa bertukar tempat." Ucap Ardy. Wanita cantik itu tersenyum bahagia karena mereka tidak terkontaminasi dengan pernyataan pria tadi.
"Bagaimana?" Ucap Wish yang tidak sabaran menunggu wanita itu selesai tersenyum menatap mereka.
"Kita bisa bertukar. Ini jarang terjadi." Ucap Ardy mencoba menyakinkan lagi.
"Oh ya? Ketepatan sekali." Ucap sang wanita dengan sangat manis dengan dialek batak. Ia sangat senang karena bisa bertukar sekaligus bertemu dengan dua cowok ganteng.
"Saya Chery Nattyel. Kamu?" Ucapnya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Pertama-tama ia menatap Ardy lalu Wish. Chery adalah gadis batak dengan kulit yang sangat putih, manis, berambut panjang hitam dan lurus dan memiliki tahi lalat di hidungnya. Ia begitu cantik di antara gadis manapun di kapal itu. Yang aneh hanyalah temperamen-nya dan dialek kental batak.
"Ardy!" Lalu berjabat tangan. Wish tersenyum dan Ardy berkata, "Dan ini teman saya Wish." Ucap Ardy mengenalkan diri. Wanita yang disebelah Chery hanya diam dan tidak berani menatap. Karena melihat teman Chery malu, mereka tidak berupaya ramah.
"Untuk barang-barang yang diantar, bisa diletakkan di kamar kamu saja." Terang Ardy lalu menukar card unlock ruangan. Mereka hanya satu malam saja menginap di kapal. Jadi akan lebih praktis jika koper mereka ditukar keesokan harinya saja.
"Baiklah. Terima kasih." Ucap Chery. Ia menoleh ke pintu kamar pria tadi dan mengucapkan sumpah serapah.
"Asal ma sehat ho." (Asal-lah sehat kau) ucap Chery. Sebenarnya dalam hati yang ia maksud agar pemilik kamar itu mendapat balasan yang sama.
Ardy dan Wish pun pergi. Mereka kembali ke lantai 12.
"Aku tidak merasa ruanganku itu kumuh." Ucap Wish yang berjalan di lorong.
"Kau mengingat kata-kata pria itu?" Tanya Ardy.
"Yah, begitu."
"Memang kamarmu lebih kumuh dibanding kamar yang tadi." Jelas Ardy terus terang. Wish menatap tajam Ardy.
"Mungkin karena ketepatan saja. Mereka hanya mengacak saat memberikan kamar." Ardy menyeringai. Ia melihat wajah Wish dengan rasa bersalah.