Bab 13 - Check In

1141 Words
"Kamu benar, sekolah ini tidak seperti itu. Itu bagus bukan? Kamu bisa.." ucapan Ardy berhenti melihat ke sisi kanannya dan sadar ia berbicara sendiri tadi. Ia yang berada di belakang Wish mendengar suara kedebuk cukup keras. Ia melihat Wish tergeletak di tanah dengan mata terbuka dan tatapan kosong. Awalnya ia mengira Wish pingsan. Tetapi tidak, karena matanya terbuka. "Apakah dia kesurupan?" Ucap Ardy. Ia bingung, apa yang harus dilakukan untuk membantu Wish. Apakah ia membutuhkan obat, apakah itu hanya pingsan biasa, apakah harus melakukan napas buatan, atau mungkin harus memanggil ambulance, atau yang menurut Ardy paling masuk akal adalah karena kesurupan. Ia tidak tahu cara orang pintar melakukan penyembuhan. Sempat terpikirnya untuk mengambil air di kantung tasnya dan menyemburkannya ke wajah Wish. Tetapi, sebelum itu ia mendekat untuk memastikan kemungkinan penyebab Wish pingsan. "Kamu kenapa Wish? Hei.. hei.." menepuk-nepuk pipi Wish. Keringatnya mulai bertumpahan dan mengenai baju Wish. Bulu romanya menjalar di seluruh tubuh. Ia melihat sekelilingnya mencari seseorang yang bisa membantu. Ia sedikit yakin bahwa ada kemungkinan seseorang kerasukan di dermaga yang gelap ini. Cukup seram untuk mengakui adanya kemungkinan itu. Wish dengan wajah datar langsung berdiri dan diam seperti orang kebingungan. 'Apa dia sedang bercanda? Atau dia sudah sadar?' Pikir Ardy dalam hati. Ia melihat Wish dengan serius memperhatikan tingkahnya. "Apa yang terjadi?" Suara Ardy bergetar. Wish tidak menjawab apapun. Wish menggoyangkan kepalanya lalu melihat ka arah kapal itu. Mata nya ia kucek-kucek. Ia menarik napas dan mengatakan kepada pikirannya bahwa ia baik-baik saja. Lalu, ia menyanggah kepalanya dengan kedua tangan yang di kepal. "Kapal itu baik-baik saja." Ucapnya memutar-mutar kepalanya. Ardy melihat ke arah kapal juga. "Itu baik-baik saja. Kamu kenapa?" Ucap Ardy memaksudkan kapal yang dilihat Wish. Tingkah Wish sangat aneh membuatnya menjadi sangat takut. Beberapa kali ia komat kamit meminta agar Wish dijauhkan dari setan. Keringatnya mulai bercucuran lagi. Wish melihat Ardy yang sudah berpikir terlalu jauh. "Bukan apa-apa. Aku hanya pusing." Ucap Wish. Ia membersihkan bajunya dari tanah dan berjalan ke arah kapal. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia berjalan dengan ringan badan meninggalkan Ardy. Ardy mengambil koper miliknya yang ia tinggalkan tadi dan menyusul Wish. "Kamu yakin?" Tanya Ardy lagi tak mau salah perkiraan. Tentu ia merasa khawatir. "Kamu tidak ada riwayat Epilepsi kan?" Tanya Ardy lagi. Ia juga harus berhati-hati jika benar Wish menderita penyakit menular itu. "Tidak, aku tidak punya penyakit apapun. Sebelum kemari-kan ada surat keterangan sehat dari dokter." Jelas Wish mencoba menyakinkan dengan menatap mata Ardy. "Aku tidak apa-apa. Sepanjang perjalanan kemari, aku melihat yang aneh-aneh." Ucap Wish melanjutkan. "Yang aneh-aneh? Misalnya?" Tanya Ardy. "Lupakanlah. Itu hanya pikiranku saja." Wish tidak ingin membicarakannya. 'Fix! Dia pasti kerasukan.' Ucap Ardy dalam hati. Mereka berjalan ke pintu masuk kapal dan terpukau dengan keindahan kapal. Sejenak Wish melupakan penglihatannya tadi. Ini sudah yang kedua kali terjadi hari ini. Seraya berjalan, dua orang pelayan memakai baju seperti yang ia lihat saat pengantaran kartu identitas. Mereka sedang berdiri di sisi kanan dan kiri pintu masuk check in. Bajunya seperti baju tentara Inggris dan celana tentara Prancis. Wish dan Ardy menatap ke arah pelayan. "Lihat mereka, para Pelayan disini sangat sempurna. Mereka semua seperti boneka. Bukankah Wish?" Ucap Ardy yang sambil berjalan. "Benar sekali. Aku baru tahu bahwa ada manusia sempurna di bumi ini. Dari mana mereka berasal?" Ucap Wish merasa heran. Terlintas di pikirannya bahwa pelayan itu mungkin bukan manusia. Mendengar itu Ardy tertawa. Lalu ia mengingat bahwa kakinya sudah kelelahan berjalan lagi. Ia mencoba mengalihkan rasa kelelahannya dengan melihat Wish. "Kamu yakin gak papa kan?" Tanya Ardy lagi. Ia benar-benar khawatir. Lalu Wish menjawab dengan menganggukan kepalanya. "Semoga tidak Ayan." Ucap Ardy pelan.  Wish masih bisa mendengarnya, ia berkata, "Bukan Ayan lho. Aku baik-baik saja. Tidak kejang-kejang juga. Kamu berlebihan!" "Maaf Wish. Hanya khawatir saja." Ucap Ardy disertai isyarat tangan. Kapal yang semakin dekat membuat mereka bisa melihat ukiran di ujung kapal. "Wow.. lihat patung di muncung kapal?" Tunjuk Ardy. "Lihatlah! Besar sekali." Ucap Ardy lagi. "Hebat. Gurita berbadan manusia." Ucap Wish. "Ukiran itu seperti hidup. Sangat detail." Puji Ardy. "Kau benar. Aku baru tahu ada kapal seindah ini di Bumi. Mereka pun masuk ke ruangan check in dan sekaligus tempat bag drop. Tidak ada orang yang terlihat. Hanya tiga pria kembar yang berjalan dari arah berbeda dan terlihat oleh Wish dan Ardy. Pria-pria itu sudah lebih dekat dengan pelayan dibanding mereka berdua. Sekitar berjarak lima meter mereka dapat melihat gerak-gerik dari tingkah mereka yang lebih seperti anak brandal. Mereka berbicara keras dan membentak. Tentu Wish dan Ardy bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Pria kembar tiga itu tertawa terbahak-bahak dan berjalan dengan tegas. Pria yang di barisan tengah berkata keras, "Mana! Cepatlah!" Lalu kedua pria - tak tahu apakah itu yang lebih muda atau sebaliknya, juga berkata yang sama, mencampakkan koper dan ransel mereka dengan keras. Pria kembar tiga yang berada di tengah, berkata dengan kasar lagi dan beberapa kali merendahkan pelayan itu dengan raut wajah mengejek. Pelayan itu hanya berkata, "Ini Tuan." Ia memberikan boarding pass. "Sombong sekali. Apa yang ada di otaknya?" Ucap Wish dengan geram. "Mereka memperlakukan pelayan itu dengan kasar." Ucapnya lagi sambil mengepal tangannya dengan kuat. Ardy berkata, "Ssstt.. diamlah Wish. Biarkan saja. Lagian pelayan itu biasa-biasa saja. Lihatlah wajahnya." Mereka yang sedikit jauh dari pria-pria itu tidak bisa berbuat apa-apa. Wish ingin sekali menceramahi ketiga pria itu agar bersikap lebih sopan. "Mereka memang pembuat masalah." Ucap Ardy. "Kau kenal mereka?" Tanya Wish, bisa jadi apa yang Ardy tahu bisa membantunya untuk membalas. Ardy mengangguk karena ia hanya asal menebak. "Mengapa pelayan itu tidak membentak balik saja?" Ucap Wish pelan. "Itu sudah tugas mereka. Mereka tidak bisa membantah. Kita membayar mahal untuk berada di sekolah ini Wish." Ucap Ardy menjelaskan sambil berjalan menuju bag drop. Wish mengingat pelayan yang datang ke rumahnya. Ketika ia mengatakan untuk tidak memanggil dengan sebutan Tuan, pelayan itu tidak mau. Ia semakin mengerti bahwa pelayan-pelayan sekolah ini tidak boleh bersikap kasar kepada murid. "Tetap saja. Itu tidak manusiawi. Rakyat Atas selalu sewena-wena." Ucap Wish setelah berpikir panjang. Ia juga memikirkan keluarga Ardy sewaktu di gerbang dermaga. Mereka juga tidak sabaran dan meng-klakson beberapa kali tanpa segan. Padahal jelas-jelas terlihat keluarga Wish masih berbicara dengan satpam. Seharusnya mereka bisa lebih sabar. Ardy merasa risih mendengar perkataan Wish. Ia berkata," Aku Rakyat Atas Wish." Ardy tentu merasa bersalah juga karena kebanyakan dari mereka menyalahgunakan wewenang. "Maaf, maksudku bukan begitu." Wish tersenyum dengan rasa bersalah. "Aku rasa kamu tidak seperti mereka." Jelas Wish lagi. "Tentu. Aku tidak pernah sewenang-wenang dengan orang lain. Kau akan tahu itu nanti." Nada Ardy begitu percaya diri mengatakannya. Mereka berjalan setelah ketiga murid itu sudah naik ke atas kapal terlebih dahulu. Wish mulai merasakan terpaan angin yang kuat saat berada di puncak tangga. "Wow." Kata Wish "Angin begitu kencang. Akankah ada badai?" Tanya Ardy. "Berita mengatakan kapal kecil tidak diperbolehkan berlayar." Ucap Wish. "Ini kapal besar. Kita tidak perlu takut." Terang Ardy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD