Malam pun tiba. Wish mengeluarkan tas-tasnya yang akan dibawa ke lantai bawah agar lebih mudah untuk memasukkannya ke dalam mobil nantinya. Mereka sedang menunggu Tn. Pratja yang belum pulang kerja. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sepertinya Tn. Pratja sebentar lagi akan sampai.
Ny. Pratja unjuk gigi dengan masakannya yang disiapkan tadi dan berkata, "Ini bekalnya Wish. Jika kamu lapar, makan ini. Masakan Meksiko, Capucino, Enako, Italiano." Ucap Ny. Pratja bercanda. Jika dilihat dari tawanya tidak bisa dikatakan ia sedih sekarang.
"Apaan sih Bu." Wish merasa aneh dengan ibunya itu. Ia hanya tertawa sambil memasukkan sikat gigi yang lupa ia masukkan ke dalam tas.
Tn. Pratja pun akhirnya datang, ia langsung bergegas mandi karena sebelum tengah malam mereka harus sampai di pelabuhan.
“Cepat Yah,” teriak Ny. Pratja.
Dengan cepat Tn. Pratja yang sudah selesai mandi, menyiapkan mobil dan memasukkan barang-barang Wish ke dalam bagasi mobil. Tn. Pratja masuk ke dalam mobil bersiap untuk pergi.
"Bu.. kok nangis sih?" Ucap Wish melihat baju Ny. Pratja dipenuhi tetesan air mata.
"Gak apa-apa kok." Ny. Pratja mengusap air matanya. Ny. Pratja memakai jaketnya dan berkata, " Ayo, masuk ke mobil Wish."
Mereka pun berangkat.
Tn. Pratja memasang radio mobil sebagai penghiburan selama dalam perjalanan.
"Berita terkini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis potensi cuaca ekstrem di sejumlah daerah. Di beberapa pelabuhan kapal-kapal diberhentikan keberangkatanya dikarenakan gelombang tinggi air laut. Kapal malam yang besar diperbolehkan perusahaan untuk diberangkatkan, tetapi untuk kapal cepat tidak diperbolehkan sama sekali. Pak Gusmir, selaku CEO, mengatakan, 'Jika ternyata gelombang bisa mencapai empat meter seluruh kapal keberangkatan malam akan ditunda esok pagi.' Banyak para awak terlihat..."
"Bu, dengar." Ucap Tn. Pratja mengarahkan pandangannya ke arah Ny. Pratja.
Ny. Pratja sudah mendengar berita itu tadi pagi dan rasa cemasnya bertambah, bukannya berkurang. Jantung kedua orang tua itu berdetak kencang. Apa yang akan terjadi dengan anak mereka jika BMKG benar? Bagaimana jika keberangkatannya malam ini bisa membuatnya dalam bahaya?
"Iya Yah. Ini berita buruk. Ibu jadi takut." Ucap Ny. Pratja dan mereka berdua melihat wajah Wish.
"Bu.. Mereka itu berpengalaman. Gak mungkin ada kesalahan." Ucap Wish dengan nada tegas tanpa wajah ketakutan mencoba menenangkan pikiran mereka.
Ny. Pratja berbalik dan melihat ke depan.
"Wish benar." Ucap Tn. Pratja lalu memegang tangan Ny. Pratja membantu istrinya untuk tetap tenang. Ia melepaskan tangan Ny. Pratja dan mobil pun jalan.
"Terlihat juga para awak kapal cepat, berada di dalam kapal.." sepenggal kutipan berita dari radio.
"Sebaiknya kita mengganti siarannya. " ucap Tn. Pratja lalu mengganti siaran.
"Baiklah pendengar gelora FM, ini dia lagu untuk malam ini, request dari Ny. Puala. 'Biarlah Bulan Bicara.' " Ucap penyiar radio.
"Kesukaan kita, Yah." Suara nyinyir Ny. Pratja.
"Iya Bu."
Wish melihat Ayah Ibunya dan tersenyum melihat tingkah mereka. Kekhawatiran mereka sedikit teralihkan membuat Wish sedikit lelah.
Awal bait lagu yang mereka nyanyikan dengan suara keras menggemparkan jalanan malam. Dalam hati Wish itu tidak masalah karena tidak ada yang akan mendengar suara mereka malam-malam begini.
"Bulan sabit yang jatuh di pelataran. Bintang redup tanpa cahaya gemintang... Biarlah bulan bicara sendiri. Biarlah bintang 'kan menjadi saksi'. Biarlah bintang 'kan menjadi saksi' yang mereka nyanyikan." Sepenggal bait yang mereka nyanyikan dengan sepenuh hati.
Wish tersenyum melihat mereka lagi karena bernyanyi dengan saling bersaut-sautan. Ia tahu bahwa lagu dapat menyimpan kenangan dan membantu kita balik ke masa lalu.
Setelah musik berhenti Ny. Pratja bertanya kepada Tn. Pratja, " Berapa lama kita sampai di pelabuhan, Yah?"
"Sekitar satu jam lagi Bu." Balas Tn. Pratja. Ia sangat berkonsentrasi dalam menyetir. Kanan kiri mulai gelap tanpa penerang jalan. Mereka hanya mengandalkan lampu sorot mobil. Mereka mulai memasuki hutan dengan pepohonan yang tinggi dan angin kencang membuat benturan terasa di dalam mobil. Seharusnya angin terhalang oleh pohon-pohon yang tinggi. Tetapi, pepohonan tidak dapat menahan angin yang kencang berhembus.
"Baiklah," ucap Ny. Pratja lalu teringat sesuatu, ia berkata, "Wish sudah bawa kartu Debit yang dikasih Ayah tadi kah?"
"Sudah Bu." Balas Wish yang duduk di belakang mobil. Ia lebih sering melihat keluar kaca dibanding ke depan.
"Ayah ada Joke Bu." Tn. Pratja memulai ceritanya. Ini adalah bagian yang ditunggu Ny. Pratja dari suaminya. Ia sangat suka sewaktu suaminya bercerita sesuatu yang lucu. Tapi bagi Wish itu bukanlah hal yang bisa dianggap lucu. Sudah beberapa kali ia mencoba hal yang sama pada Wish tetapi sekalipun ia tidak pernah tertawa.
"Joke? Baiklah. Ceritain Yah." Tanggapan Ny Pratja.
"Tadi kami lagi ngumpul dan teman Ayah bercerita. Ibu tahu kan Pak Doni."
"Oh tahu. Kenapa Yah?"
"Orang tuanya kan lagi di sini. Jadi Pak Doni sedang memeriksa file laptopnya. Ia berkata, 'Aduh, rusak pula keyboard ini.' Maksudnya adalah keyboard laptopnya. Ada beberapa huruf yang tidak bisa ditekan." Sepintas ucap Tn. Pratja berhenti sejenak menyusun kata-kata.
Wish melihat Ibunya yang begitu serius mendengarkan Tn. Pratja. Ia menggeleng kepala dan yakin bahwa itu tidak lucu.
"Orang tua Pak Doni sudah berumur 70-an tahun. Ia langsung berkata, 'keyboard yang ada suara-suara itu?' Kami langsung tertawa keras." Suara Tn. Pratja sangat keras dan ia tertawa disambung dengan tawa Ny. Pratja.
Padahal, situasi sebenarnya adalah hanya Tn. Pratja yang tertawa menganggap cerita Pak Doni sangat lucu. Bahkan Pak Doni sendiri tidak tertawa menceritakannya. Ia menunjukkan kekesalan saat bercerita tentang orang tuanya. Tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa ia sedang menceritakan lelucon kepada teman sekerjanya itu.
"HAHA" Tawa mereka, Wish tak menghiraukan mereka. Ia hanya melihat ke jendela menikmati kegelapan malam.
"Lucunya, Yah." Ucap Ny. Pratja. Ia beberapa kali menepuk pundak Tn. Pratja.
"Ibu juga ada teka-teki lucu." Ucap Ny. Pratja membuat suasana lebih tegang.
"Oke. Ayah pasti bisa menjawabnya." Tn. Pratja yakin ia bisa menjawab. Ia sedikit yakin mungkin teka-teki itu pernah di ceritakan padanya karena itu sering terjadi. Ia tertawa geli dalam hati karena mungkin bisa menebak dan Ny. Pratja merasa kecewa.
"Binatang apa yang selalu bahagia?"
"Binatang yang selalu bahagia?" Ucap Tn. Pratja sekali lagi
Wish melihat mereka berdua lagi. Ia memerhatikan Tn. Pratja berbelok ke kiri ke arah jalan yang semakin sempit. Beberapa lampu jalan mati dan ada yang redup. Tn. Pratja seharusnya lebih berhati-hati saat ini.
Wish lalu melihat keluar jendela. Ia membuka jendela sedikit ingin merasakan angin malam dan mencium aroma malam yang sedap.
"Beruang?" Tebak Tn. Pratja melirik sedikit ke wajah Ny. Pratja.
"Kok beruang?"
"Ber-uang kan buat bahagia." jelas Tn. Pratja membuat tekanan di jawabannya.
"Standar amat jawabannya. Bukan Yah, SALAH…!" Ucap Ny. Pratja. Ia melihat ke depan dan merasa Tn. Pratja tidak akan bisa menebaknya.
"Ikan Asin." Tebaknya lagi.
"Apaaan..mmm!?"
"Makan pakai ikan asin." Jelas Tn. Pratja
"BUKANNNN.." nada keras dari Ny. Pratja.
“Kan orang yang makan ikan asin kasihan.” Tn. Pratja memberikan alasan.
“Apa urusannya juga. Jadi diketawain, gtu?” ucap Ny. Pratja
“Iya dong. Diketawain ikan-ikan yang lain. Hahaha,” sambung Tn. Pratja dan diakhiri dengan tawanya.
“Salah LHOO,” ucapan kesal Ny. Pratja
"Nyerah deh Ayah. Apa dong jawabannya?" Kata Tn. Pratja.
"Bebek." Jawab Ny. Pratja. Bukannya tertawa, mereka malah terkejut.
Wish yang melihat keluar jendela, memperhatikan sebuah gubuk kecil dengan wanita berdiri di sampingnya. Lalu motor sedan merah menabrak wanita beserta gubuk kecil itu. Wish teriak, "Aaaaa.."