Di ruangan monitor kapal terdengar dua orang sedang berdebat.
Captain : "Bagaimana bisa kamu melakukan kesalahan fatal seperti ini. Apakah dia orangnya? Anak itu yang menyelamatkan kita?"
Awak kapal : "Ya captain. Dia anak itu."
Captain : "Tolong rahasiakan ini dari Chairman. Jangan sampai ada yang tahu. Bagaimana kamu membujuknya semalam?"
Awak kapal : " Aku tidak membujuknya. Itu terjadi begitu saja. Aku tidak melakukan apapun."
Captain : " Lalu bagaimana kamu tahu bahwa anak itu adalah, kau tahu Ramalan. Kau tahu maksudku bukan?"
Awak kapal : "Aku tidak sengaja melihat profil kertas siswanya. Ia Hyperthymesia."
Captain : "Benarkah? Apa dia akan dijadikan... kasihan sekali. Baiklah, kau bisa pergi. Yang pasti anak itu menyelamatkan kita."
***
Ruang Chairman. Pelayan mengetuk pintu untuk memberikan laporan.
Pelayan : "Pak, murid-murid sudah sampai."
Chairman : "Baiklah, bawa mereka semua ke ruang Aula. Saya akan menyapa mereka disana."
Pelayan : "Baik Pak."
Chairman : "Berapa murid yang diterima?"
Pelayan : "400 orang"
Chairman : "Baiklah, cukup banyak. Saya hanya butuh salah satu dari mereka. Itu sudah cukup. Segera perintahkan mereka masuk ke ruang Aula secepatnya dan jangan ada satupun yang terlambat."
Pelayan : "Baik Pak."
***
Baru pertama sekali Wish menaiki kapal kecil seperti ini. Ia sedikit khawatir kalau-kalau ia jatuh ke laut. Angin bertiup sangat keras membuat rambut mereka bagaikan rambut Bart Simpson. Beberapa ada yang berteriak dan menangis ketakutan terutama untuk anak perempuan. Jika dilihat secara menyeluruh, tidak ada yang perlu ditakutkan. Tak ada yang bisa membuat mereka jatuh ke dalam laut. Kapal itu kokoh dan kencangnya angin juga tak akan membuat kapal terbalik.
Kursi-kursi berjejer sepanjang kapal. Beberapa ada di dalam ruangan sedangkan kursi yang lain berada di muncung kapal. Bagi yang ingin melihat pemandangan sangat cocok untuk duduk di bagian luar. Wish dan Ardy memutuskan untuk duduk di luar ruangan.
"Kau kenapa diam?" Tanya Ardy.
"Apakah kursinya jorok?" Tanya Ardy lagi, dan Wish masih diam juga. "Kau tampak tidak nyaman." Tanggap Ardy yang sudah tahu kalau Wish merasa tidak nyaman karena menaiki kapal.
"Oh ya? Tidak ada apa-apa." Wish menandaskan nya dengan gerakkan tangan. Ia mencoba untuk tidak terlihat ketakutan.
"Lihatlah, dia tak berhenti menangis." Ardy menunjuk ke ruang dalam kapal. Seorang siswi menangis tersedu-sedu karena takutnya.
"Hanya lima menit sampai ke sana, mengapa dia berteriak histeris begitu?" Ardy menggelengkan kepalanya.
2 menit mereka duduk, balon udara terlihat melintas di atas mereka. Begitu banyak. Langit menjadi sangat indah karena banyaknya balon udara di angkasa.
"Lihat!" Teriak Wish.
"Hebat bukan?" Ardy terlihat biasa. "Inilah dia kejutannya." Ucap Ardy.
"Wow. Di sini ada tempat rekreasi untuk menaiki balon udara?" Tanya Wish kepada Ardy. Ia mulai berbicara sekarang dan tidak memikirkan ketakutannya lagi.
"No.. No.. No.. Kita akan naik itu." Jawab Ardy.
"Benarkah?" Wish terkejut dan sangat senang.
"Dari mana balon udara itu?" Gumam Wish sendiri.
"Untuk mengangkut ratusan murid tentu butuh banyak balon udara." Cetus Ardy.
"Penggunaan balon udara seperti ini sangat beresiko." Kata Wish sambil membentuk barisan mengantri menuju balon udara.
"Benarkah?"
"Bukankah begitu?" Pertanyaan penandasan dari Wish.
"Kita di kehidupan berbeda. " Ucap Ardy lalu menunjuk ke balon udara. "Itu pasti lebih canggih dari yang kita bayangkan." Lanjutnya dan kembali duduk dengan posisi semula menghadap depan.
"Benar juga."
Semakin mereka ke pantai, warna kebiruan laut berubah menjadi hijau. Rumput laut yang menjulang ke atas dan ikan-ikan kecil bisa terlihat sedang bermain dengan mata telanjang. Air yang bertambah bening membuat kita bisa memprediksikan tingkat kedalaman.
Kapal kecil pun menepi di garis pantai, murid-murid langsung berlarian turun untuk melihat balon udara yang sudah mendarat.
Mereka pun turun dari kapal. Pasir putih menyambut mereka.
"Ini sangat hebat." Kata Wish yang setelah turun dari kapal langsung memegang pasir putih dan membuangnya dari sela-sela jarinya.
"Kau seperti bebas dari penjara yang tidak pernah bepergian." Celoteh Ardy yang berdiri di belakangnya.
"Itu benar." Ucap Wish membuat Ardy tak percaya ia mengatakannya dengan jujur. Ia memang jarang keluar dari rumah. Selain karena anjuran dokter yang mengharuskannya tidak terlalu banyak aktivitas, dari dirinya sendiri saja, ia lebih suka berdiam diri di kamar mengerjakan ide gilanya.
Wish mendekati Ardy dan menceritakan kisahnya.
"Ya, selama tiga tahun aku homeschooling bahkan hari minggu. Tidak ada waktu untuk keluar rumah." Jelas Wish lalu tersenyum bangga.
"Benarkah? Kau mengikuti Homeschooling ternyata." Ucap Ardy. Mereka berhenti berjalan, menunggu giliran untuk masuk ke balon udara.
"Ya, benar. Kau tahu kehidupan rakyat Pembantu. Kami tidak memiliki fasilitas sehebat kalian. Tidak ada mall sebesar mall kalian, tidak ada tempat rekreasi indah yang bisa kami kunjungi. Taman di halaman rumah yang dihias indah adalah salah satu tempat rekreasi. Kau tahu ibuku? Ia lebih banyak menonton acara travel ataupun documentary dibanding sinetron. Katanya itu membuat ibu bisa menikmati hidup. Haha." Jelas Wish, dan ia tertawa sejenak membayangkan ibunya, Ny. Pratja. Nada yang ia keluarkan adalah nada positif seolah-olah itu bukan hal yang memalukan.
'Apa yang sedang dilakukan Ibu?" Pikir Wish.
"Wow, itu keren juga." Ardy tak tahu harus menanggapinya seperti apa.
Wish tertawa melihat reaksi Ardy yang kebingungan.
"Kau tidak homeschooling?"
"Aku dari undangan."
"Owh. Pasti kau sangat pintar." Puji Wish. Ardy menggelengkan kepalanya. Ia berupaya untuk rendah hati.
"Itu semua hanya karena ide gila saja." Celetuk Ardy pelan.
"Cek..cek.." suara dari horn speaker public terdengar. Itu adalah suara kapten kapal.
"Ayo, maju Dy" Ucap Wish berjalan maju ke barisan.
"Kepada murid-murid. Silahkan mengantri dengan tertib di garis yang di tandai dan tolong menunggu dengan sabar sewaktu menaiki balon udara. Beberapa peraturan selama berada di balon udara, bagi yang memiliki alergi terhadap cuaca wajib memakai jaket, masker dan pakaian tebal. Tidak membuang sampah dari atas, tidak membawa benda yang mudah terbakar, tidak memiliki riwayat penyakit jantung dan phobia ketinggian. Untuk pihak kami, kami tidak berkaitan dengan sekolah Gifted jadi kami akan memulangkan kalian jika tidak mengikuti peraturan. Jika benar-benar tidak ingin dipulangkan silahkan melalui hutan untuk sampai ke sekolah. Terima kasih." Akhir dari pengumuman.
Kapten kapal berbicara lagi, "Bagi yang memiliki riwayat jantung, silahkan naik ke dalam mobil. Kalian memiliki jalur akses yang berbeda."
Murid-murid yang mendengar langsung diam. Mereka memastikan diri untuk tidak membuat ulah.
"Syarat yang mencengangkan." Kata Wish sambil meregangkan kakinya yang sudah lama berdiri.
Giliran mereka pun tiba. Ardy dan Wish masuk ke dalam kantung balon udara dengan perlahan beserta tiga orang lain dan seorang pengemudi. Mereka memasangkan alat pengaman kepada penumpang balon udara, lalu perlahan suara gas api mulai terdengar kuat. Pemandangan mulai menyapa mereka. Di bagian dalam balon udara, terdapat tali yang menghubungkan titik awal mereka dengan kastil sehingga balon udara tidak terbawa angin laut lebih jauh. Wish yang sedang menggerakkan matanya sedang menghitung cepat berapa banyak balon udara yang sedang beroperasi. Angin mulai berhembus keras menerpa mereka. Mesin yang kadang hidup dan mati membuat perjalanan sedikit menegangkan. Kini mereka berada di ketinggian 8000 kaki dari bumi.
“Lihatlah! Hutannya sepertinya tidak pernah terjamah oleh manusia.” ucap Ardy keheranan.
“Oh ya?” Wish melihat ke arah hutan karena perkatan Ardy.
“Pasti hutan itu berbahaya. Kau tidak deg-degan Wish?” tanya Ardy.
“Sedikit,” tetapi Wish bisa melihat kakinya gemetaran. Bagaimana bisa ia hanya sedikit ketakutan jika kakinya gemetaran.
“Apakah kupu-kupu bisa terbang tinggi?” Tanya Wish keheranan dengan yang ia lihat.
“Bisa. Ia bisa terbang setinggi 6000 kaki. Hebat bukan?” Jelas Ardy
“Bisakah kau melihat itu?”
“Apa?”
“Itu kupu-kupu bukan?”
“Tidak ada. Aku gak lihat apapun.”
Wish mengucek matanya dan mencoba melihat lagi.
“Eh, gak ada. Udah gak ada nih.” Wish tersenyum dan merasa bersalah karena membuat Ardy kelihatan bodoh.
“Maaf,” ucap Wish lagi.
Balon udara itu mulai turun sedikit demi sedikit. Tak perlu waktu lama menuju ke halaman sekolah.