Shera Fuji Lesmana Pintu kamar Leana sudah terbuka, bahkan sejak sebelum aku datang. Dari ambang pintu, gadis itu tampak sedang duduk bersandar. Aku berjalan mendekat, ke tempatnya. Ia menoleh dan sepasang tatapan kami saling bertemu. Wajahnya agak pucat, matanya memang tidak bengkak, tapi terlihat sembab. Dia pasti habis menangis. "Duduk Sher," kata Leana sembari menepuk-nepuk bagian tepi ranjang di sisinya yang kosong. Aku menurut saja, lalu duduk sesuai arahannya. Leana itu cewek feminim yang stylish. Ia tidak akan membiarkan ada orang lain yang melihat sisi semerawutnya. Tapi sekarang, aku lihat dia begitu kusut. Kurasa, ini adalah piyama tidur yang sejak tadi malam belum digantinya. "Lo apa kabar, Lea?" tanyaku. Tidak, ini bukan sekedar basa-basi. Aku memang hanya ingin tahu baga

