Bab 47. Axel 2

1669 Words
Axel Yudhistira "Pergi ... tidak ... pergi ... tidak ... per ... gi." Sial! hitungan kancing kemejaku akhirnya berhenti di kata pergi. Sejak pagi, aku benar-benar berada di ambang keraguan. Hari yang menjadi mimpi buruk bagiku, akhirnya tiba juga. Sesuai dengan tanggal pada undangan yang tertera. Hari ini, kekasihku akan menikah. Ralat ... maksudku adalah mantan kekasihku alias Mawar. Sejak tadi pagi, aku juga sudah menghubungi Shera. Pada awalnya nomer ponselnya aktif dan aku berpikir, mungkin dia hanya sedang tidak bisa mengangkat telpon. Tapi akhirnya, saat ku hubungi kembali, nomornya berubah tak aktif. Aku sangat yakin dia sedang menghindariku, karena aku terus saja memaksanya untuk pergi bersama. Namun dia juga tidak bosan untuk menolak. Padahal, awalnya aku berharap bisa pergi bersama Shera. Ya ... Shera adalah diriku yang lain dalam versi wanita. Aku mengenalnya, karena dia adalah pacar dari salah satu kawanku, yang pada akhirnya kini menjadi musuhku. Aku kehilangan Mawar sebagai kekasih, dan dia juga kehilangan Tama sebagai calon pendamping hidup. Meski pernah dikenalkan, aku baru pertama kali bisa bicara dengan gadis itu melalui sebuah kebetulan. Pada saat yang bersamaan, atau lebih tepatnya di malam hari hujan yang amat deras mengguyur kota Jakarta. Malam itu aku berteduh di sebuah ruko yang kebetulan sekali, menjadi tempat berteduh bagi Shera juga. Dia sempat ketakutan dan mengira aku adalah orang jahat. Cukup gila sih, orang seganteng diriku malah dikira penculik. Singkatnya sejak malam itu, barulah kami berkenalan secara resmi. Tidak ada hal yang berarti pernah terjadi diantara kami. Awalnya aku hanya merasa penasaran. Karena kami memiliki luka dan disebabkan oleh sumber yang sama. Awalnya aku hanya iseng mengajaknya ngobrol. Lalu kemudian, aku mulai memberanikan diri untuk menjemputnya dari kampus. Aku mulai berani mengantarnya ke tempat kerja, sampai terakhir kali, aku akhirnya berkunjung ke kamarnya. Pertama kali aku tahu dia tinggal di kawasan yang cukup terkenal, kesan pertamaku sangat buruk. Maksudku adalah tempat tinggal Shera ini terkenal karena kebanyakan penghuninya adalah pengguna jasa BO atau istilah kasarnya, wanita bayaran. Aku tahu bukan karena pernah mencicipi. Tapi jaringan pertemanan yang luas, memang bisa membuat informasi ajaib menyebar dengan cepat. Saat itu aku pikir mungkin Shera tidak ada bedanya dengan wanita-wanita itu. Karena Tama berhasil menyentuh Mawar, itu pasti karena dia sudah terbiasa melakukannya dengan Shera. Tapi setelah mengenalnya lebih jauh, rupanya aku salah besar. Shera itu berbeda. Dia anak baik-baik yang kebetulan tak punya pilihan lain. Sejak ada Shera, aku juga seolah memiliki tujuan. Tujuan untuk menjemputnya, tujuan untuk ngobrol, dan tujuan lainnya adalah datang bersama dengannya, ke acara pernikahan mantan pacar kami. Sayang sekali, dia malah tidak memberikan jawaban yang pasti sampai saat ini. Baiklah, karena perhitunga kacing kemeja ini sudah jelas. Maka aku akan pergi. Pergi ke medan perang. Sendirian, tanpa ada yang menemani. Sudahlah, jangan terlalu sedih, orang ganteng sepertiku kalau masih butuh teman, nanti bisa langsung nyomot di jalan. Hadehhh, sampah kali. Maen comot-comot aja. Biasanya aku bepergian menggunakan motor. Alasannya, ya karena motor itu cepat dan mudah untuk dibawa menerjang kemacetan. Tapi kali ini, aku akan membawa mobil. Jaga-jaga kalau disana ada Shera. Jadi ... Aku ini agak kasihan kalau melihat Shera naik dan turun dari motorku yang lumayan tinggi. Sedangnya tumbuh kembangnya masih berada di tingkat yang agak sulit dijelaskan. Padahal nomor Shera masih mati. Aku juga tidak tahu apakah dia benar-benar ada disana. Tapi perasaanku dengan yakin mengatakan kalau Shera pasti akan datang. Baiklah kita lihat saja nanti. *** Aku memarkirkan mobil, kemudian menuju ruangan di dalam gedung, tempat acara pernikahan dilangsungkan. Nama Tama dan Mawar terpampang jelas. Jika ini bukan negara hukum, mungkin sudah ku acak-acak janur kuning itu, membuatku mual saja. Kau hanya terlalu beruntung Tama. Aku belum sempat membuat perhitungan denganmu. Seharusnya namaku dan Mawar yang ada disana. Harusnya aku yang menyebarkan undangan pernikahan dengan bahagia dan terhormat. Bukan karena buru-buru hanya takut orang-orang tahu bahwa kau sudah menghamili anak orang. Tapi emosiku tidak boleh terpancing sekarang. Bukan itu tujuanku berkunjung kesini. Akan sangat memalukan jika aku harus menangis, apalagi sampai memohon untuk mengganti namaku disana. Biarkan semua berjalan apa adanya. Aku tidak heran dengan tamu-tamu kelas menengah ke atas yang datang. Baik Tama maupun Mawar, sama-sama memiliki latar belakang keluarga yang berpengaruh. Sebenarnya, orang tuaku juga di undang. Tapi aku tidak tahu, dan tidak berniat untuk tahu apakah mereka datang atau tidak. Lagipula, mereka juga tidak akan tahu kalau Mawar itu mantan pacarku. Aku sudah berencana untuk mengenalkan Mawar pada keluargaku di tahun ini. Tapi rencana hanya tinggal rencana, bukan kita yang bisa menentukan apakah hal itu akan terjadi, atau tidak. Tapi fakta mengatakan, jangankan mengenalkan, aku sendiripun bahkan hampir tak ingin mengenalnya. Setelah menyerahkan undangan yang ku bawa sebagai izin masuk, aku lantas membaur di antara orang-orang yang saat ini tengah berdiri dengan kepalsuan. Lihatlah gaya mereka yang mirip dengan pejabat sosialita. Padahal dalam sekali lihat saja, aku tahu kalau barang-barang yang mereka gunakan itu hanya kw atau imitasi. Tapi tunggu? Kenapa sekarang gue kaya emak-emak. Segala mikirin barang kw sama imitasi. Padahal itu urusan mereka. Makanan yang disediakan sepertinya enak. Sangat sekali aku bahkan tidak memiliki nafsu makan saat ini. Karena tatapanku kini sedang fokus tertuju padanya. Pada seorang pria dan wanita yang tengah berdiri tepat di atas panggung. Si wanita tampak cantik dan anggun. Sementara yang laki-laki juga tak kalah keren dan tampak tegas. Ahh sial! Kupikir semua akan baik-baik saja. Perasaan ini harusnya juga sudah hilang, seiring dengan berjalannya waktu. Tapi hatiku malah semakin sakit. Orang tua, juga keluarga dari Mawar ada disana. Mendamping sepasang mempelai yang kini tengah tersenyum. Aku bahkan nggak yakin, apa mereka ingat pada serpihan luka yang telah mereka torehkan. Haruskah aku pergi kesana, bersalaman di atas panggung, memberikan selamat dihadapan semua orang. Sendirian, tanpa pasangan. Wah ... Bro! Kau menyedihkan sekali. Aku harus mencari alternatif lain. Seperti teman untuk naik kesana misalnya. Tapi siapa, mereka semua adalah teman-teman Tama. Sedangkan Mawar juga jarang sekali sekali memperkenalkan ku pada kawan-kawannya. Pandanganku berkeliling mencari peluang,. Aku berputar-putar dengan bingung. Hingga saat akhirnya saat aku sedang mengambil sirup ... "Shera!" Samar-samar ku dengar ada seseorang memanggil nama gadis itu. Sepertinya telingaku ini masih bagus, dan nggak pernah punya masalah yang serius. Jadi aku pasti benarkan. Orang itu memanggil Shera, yang artinya dia ada disini. Saat aku menoleh, penglihatanku menangkap sosok wanita cantik dari samping, yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengernyit tajam memastikan kalau penglihatan ini tidaklah salah. Dan ternyata itu memang benar. Gadis cantik berkebaya putih itu adalah Shera. Jadi dugaan ku benar. Dia menghindariku tapi datang kesini sendirian. Melihatnya ada disana, semangatku kembali muncul. Shera bagaikan sumber mata air di gurun pasir yang tiba-tiba saja muncul dan menyejukkan. Aku menunggu hingga orang yang ada dihadapannya itu pergi. Akan sangat memalukan untuk membahas soal mantan pacar kami yang kini saling berjejer di depan orang lain. Setelah menunggu agak lama, akhirnya gadis itu pergi juga. Shera tampak sedang celingukan sendiri, padahal pengantinnya ada di depan sana. Atau jangan-jangan dia berniat untuk pergi. Tidak bisa, semua ini bahkan belum dimulai. Aku bergegas pergi dan menghampiri Shera. Tempatku berdiri kini persis tepat berada di hadapan Shera. Gadis itu melihatku dengan heran dan kaget. Apa dia pikir aku tidak jadi datang hanya karena nggak punya pasangan? Baiklah mari kita cari pasangan disini. Tapi Shera hari ini berbeda sekali. Dia tampak cantik dan segar. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? "Akhirnya, gue bisa ketemu lo juga," ujarku pada Shera. "Ngapain lo nyariin gue. Nggak punya temen lo ya?" ejeknya. Dia ini tidak sadar diri atau bagaimana? Dia kesini juga sendiri. "Ya ... Habis gimana lagi? Tadi gue nelponin cewek nggak diangkat-angkat. Giliran nyambung, malah sengaja nggak diaktifin," balasku asal. Yang dimaksud rupanya agak tersindir karenaku. Dia memasang wajah cemberut yang membuatku gemas. Memandang wajahnya kali ini, seperti memberikan sesuatu yang berbeda. Aku tidak tahan untuk tidak menyentuhnya. Tangaku bergerak begitu saja, membelai pipinya dengan tiba-tiba, tapi tetap lembut. "Hari kamu beda ya? Lebih cantik," ujarku dan berhasil membuat gadis itu agak salah tingkah rupanya. Jadi kuturunkan tangan yang semula bersarang di pipinya itu. "Ehm ... Lo udah ke panggung? Salaman sama Tama dan juga ... Ehm sama mantan pacar gue," tanyaku. Aku tidak mau berlama-lama lagi. Jika aku kesana dengan Shera, maka ini akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan bukan? Baik untukku, atau juga untuk pasangan penghianat itu. "Aku nggak akan berani, bahkan tadinya, sebelum ada lo datang, gue udah mau pulang," tambahnya lagi. Aku bisa menangkap rasa keingintahuannya yang tapi juga malu untuk bertindak. Lantas ku genggam saja tangannya saat ini. Berharap kalau ada energi positif yang bisa diambil. Setiap orang itu harus memiliki dorongan untuk dapat meraih sukses. "Ayo kita kesana. Selesaikan apa yang sudah kita rencanakan. Kamu ingin kasih tahu sama mereka, kalau kita sudah move on kan?" Tanyaku. Shera tampak ragu-ragu. Dan tugasku adalah terus membujuknya sampai mau. Lagipula, bukannya langsung menjawab tapi dia malah melamun. Agak lama ku bujuk gadis itu, hingga sampai pada akhirnya Shera setuju. "Ayo ... Kita temui bintang utamanya," ajaknya padaku. Aku tidak tahu ini akan bertahan berapa lama? Tapi paling tidak, sekarang kami memiliki semangat baru. Jadi ... Sudah saatnya bagi kami untuk segera menuju ke atas pelaminan dan membuat terobosan. Aku berjalan perlahan, sambil terus menggenggam tangannya. Jangan dikira kami baik-baik saja. Aku yakin, dia sama takutnya dengan ku. Setelah mulai dekat, kami ikut mengantri seperti lain. Lumayan agak padat karena tamunya banyak. Genggaman tangan Shera terlepas. Ku pikir dia berubah pikiran dan berniat untuk pergi. Tapi rupanya, tangan gadis itu justri beralih mengapit lenganku dengan erat. "Kenapa?" tanyaku agak khawatir. Dia menggelengkan kepalanya. Sepertinya aku terlalu memaksa hingga akhirnya dia semangat untuk sesaat dan kembali down. "Kamu nggak sanggup kah? Atau kita nggak usah jadi ke panggung, dan pulang aja ya," tawarku. "Nggak, itu nggak mungkin. Udah sejauh ini kita nggak boleh balik lagi. Lanjut aja ya, minimal supaya rasa penasaran ini hilang," tegasnya. Ah ... Dia benar juga. Semakin lama Shera jadi semakin pintar. Dia juga semakin mengerti dan memiliki pemikiran yang sama denganku. Ini lebih baik, aku tersenyum lalu mengacak rambut sekilas. Karena jika terlalu lama, hasil karyanya untuk datang ke acara ini, bisa rusak sia-sia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD