Bab 48. Shera 28

1108 Words
Shera Fuji Lesmana Aku dan Axel ikut berbaris menunggu jatah bansos. Ha-ha-ha tidak, maksudku aku dan Axel kini sedang mengantri untuk bersalaman dengan pengantin baru. Cie ... Cie mereka berdua pasti sedang berbahagia sekarang. Bahagia di atas penderitaanku dan Axel. Aku tidak tahu hatiku sedang menangis atau tertawa, menangisi kisah cintaku yang kacau, atau kebodohanku yang tak berujung karena telah berani-beraninya datang kesini sendirian. Kata banyak orang, waktu akan menyembuhkan luka. Namun tidak berarti menghapus seluruh jejaknya, kita tidak akan pernah bisa membohongi ingatan. Apalagi ketika ingatan itu masih baru. Sambil mengapit lengan Axel, aku terus mulai berjalan maju. Tujuanku semakin dekat, dan luka itu semakin terbuka lebar. Jangan ditanya lagi, bagaimana deg-degannya jantung ini. Pokoknya semua yang kurasakan hari ini tuh, beneran sedap banget! Sampai tiba pada waktunya, aku dan Axel mendapat giliran. Langkah kecil yang lambat saat menaiki tangga, mengantarkanku dan Axel pada sebuah kenyataan. Nyatanya bukan kita yang berdiri disana tapi mereka. Aku dan Axel menyalami keluarga dari kedua mempelai terlebih dahulu, yang kini berada di samping kiri. Senyum yang amat berat kupaksakan, begitu tanganku menyentuh kulit seseorang yang biasa ku panggil Tante. Ia memelukku dengan erat secara tiba-tiba. Tentu saja aku jadi terkejut. Wanita paruh baya itu, lantas membisikan sesuatu di telingaku. "Makasih ya. Kamu udah mau dateng. Maafin Tama yang udah nyakitin kamu. Tante juga pernah berharap kalau seharusnya kamu yang ada disini. Tapi bagaimana lagi, kalian ternyata bukan jodoh." Sumpah! Aku sudah benar-benar ingin menangis sekarang. Tante, alias ibunya Tama ini curhat di waktu yang sangat tidak tepat. Aku tidak bisa memberi tanggapan, apalagi mencoba untuk marah. Ada terlalu banyak orang disini. Aku dan Axel akhirnya sampai pada tujuan akhir kami. Tama dan Mawar. Aku berdiri tepat di hadapan Mawar, sementara Axel, berdiri tepat di hadapan Tama. Ini pertama kalinya aku melihat gadis bernama Mawar ini. Bagaimana aku bisa tidak insecure, ternyata dia adalah orang yang sangat cantik. Jauh sekali berbeda denganku. Aku menyunggingkan senyum, walau dalam hati ada begitu banyak pertanyaan pada gadis ini. Pertanyaan yang selalu ku pendam, karena waktu tak kunjung mempertemukan kami. "Aku ini perempuan, dan kamu juga perempuan." "Kok bisa sih kamu kaya gitu?" "Kok bisa sih kamu setega itu?" "Dari sekian banyak cowok single, kenapa kamu harus pilih Tama yang jelas jelas sudah punya pacar." Kenapa, apa dan bagaimana, jika dikumpulkan mungkin pertanyaanku bisa melibihi wartawan soal kasus terkait. Tapi untunglah, saat ini aku masih di berikan kesempatan untuk menahan emosi. "Selamet ya. Semoga pernikahan kalian bahagia, langgeng juga. Semoga cepat di kasih momongan ya," ucapku pada Mawar berduri itu. Tolong di garis bawahi untuk soal momongannya. Karena mereka ternyata sudah lebih dulu punya bahkan tanpa direncanakan. "Makasih ya udah dateng. Semoga kamu juga cepet dapet jodoh," balasnya. Raut wajahnya berubah. Tapi aku tidak peduli. Axel juga sepertinya membisikan sesuatu pada Tama. Tapi sayang sekali, aku sedang fokus pada wanita ini jadi, tidak terlalu menggubris apalagi menyimak apa yang mereka bicarakan. Dan sekarang adalah giliranku, berhadapan dengan cinta pertamaku meskipun dia bukanlah pacar pertama. Aku ingin melesak ke dalam pelukannya. Mengatakan kalau aku sama sekali tidak baik-baik saja. Dia telah membuat hidupku hancur dan itu menyakitkan. Aku memejamkan mata sejenak, kemudian tersenyum, sembari mengucapkan ... "Selamet ya. Istrimu cantik banget. Semoga kalian bahagia, oke." "Shera ... Aku ..." Aku melotot pada Tama, karena kurasa dia akan memulai drama yang lain lagi. Bahaya, disini ada begitu banyak orang. Tentu saja aku yang akan disalahkan jika terjadi sesuatu. Syukurlah dia mengerti dan akhirnya diam. "Makasih, udah dateng dan doain aku juga, Sher. Semoga kamu juga bisa dapet kebahagiaan." Tentu saja, aku pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Dan pastinya tidak akan berasal darimu. Semua tugasku sudah selesai, begitu pula dengan Axel. Pria itu meraih tanganku dan menggenggamnya lagi. Aku sempat melirik pada Tama yang terus saja melihat ke arah kaitan tangan kami. Cemburukah dia? Jika iya, itu akan lebih bagus. Dia membantuku untuk turun dari anak tangga dengan perlahan lahan. Kami melangkah beriringan tanpa menoleh lagi ke belakang. Tanpa tahu eskpresi apa dan mungkin sumpah serapah apa yang diutarakan pasangan itu di dalam hati. Tapi yang jelas, tujuan kami sudah tercapai. Terlepas apakah mereka memandang kami sebagai orang yang menyedihkan atau bukan, setidaknya kami berhasil untuk berada di tempat ini. Aku dan Axel berjalan menuju sudut ruangan, tempat dimana Axel maupun Mawar tidak bisa melihat kami. Kami mengambil nafas sebanyak-banyaknya dengan rakus, seperti orang yang haus akan udara. Perasaanku memang agak tenang, karena akhirnya aku berhasil melewati ini semua. Aku tidak akan merasa penasaran lagi, karena aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri saat orang yang kucintai akhirnya bersanding dengan orang lain. Tapi hatiku sakit sekali. Jantungnya seperti tertusuk panah berkali-kali. Tubuhku melemas. Ku pikir aku sekuat itu. Dari kejauhan, kekuatanku terkumpul. Tapi saat ada di depannnya, saat ia menjadi nyata di dalam bayangan mataku semua pertahanan itu jatuh dan runtuh begitu saja. Ternyata rasa cintaku untuknya begitu besar hingga aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk lari dari kenyataan. Aku tidak bisa menahannya lagi. Air mataku menetes begitu saja, tanpa diminta juga tanpa bisa dibendung. "Shera. Kenapa lo malah nangis. Hey, harusnya lo seneng. Ini tujuan kita. Ingat? Kita udah berhasil sampai disini! Lo jangan nangis lagi. Buat apa lo nangisin suami orang sekarang?" Aku bisa merasakan tangan Axel yang kini sedang mengusap air mata dipipiku. Aku juga tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi. Perasaan ini hadir begitu saja. Tanpa bisa ku kendalikan. Aku terlalu mencintainya. Ku pikir setelah melepaskannya hatiku akan tenang. Ku pikir saat aku menjauh, maka semua masalahnya akan selesai. Tapi ternyata, aku begitu lemah. "Aku ... Aku nggak tahu kenapa semua ini harus terjadi sama aku Xel. Maksudku, aku tahu ... Aku bukan orang baik. Tapi kenapa ... Kenapa harus jadi kaya gini. Aku cinta dia. Ku pikir setelah ini, aku akan tenang dan bisa nerima kenyataan, tapi ternyata aku nggak bisa bohongin diri sendiri. Liat dia akhirnya menikah sama orang lain, hatiku hancur lebur nggak berbentuk lagi. Aku harus gimana, Xel. Aku harus gimana?" Emosiku mendadak tak terkontrol lagi. Aku ingin berteriak, tapi sudah tak mungkin. Tiba-tiba saja, kurasakanbada sesuatu yang menarik tubuhku dengan cepat. Dalam sekali gerakan, ternyata aku sudah berada dalam pelukan Axel. Tangan pria itu mengusap punggungku dengan lembut. Bukannya tenang, tapi aku malah merasa lebih ingin menangis lagi. "Kita pulang sekarang ya. Jangan dipaksain lagi. Udah ... Udah. Kita lanjut nangisnya di jalan aja ya!" bisiknya, aku mengangguk, mengiyakan usulnya. Mungkin memang itu yang kuperlukan pergi sejauh mungkin. Atau semua orang akan tahu, kalau aku ada hubungan dengan mempelai laki laki. Axel memampahku untuk pergi keluar, ia menutupi sedikit area wajahku ketika berjalan. Ternyata hal sekecil itupun bisa ia perhatikan. Axel tidak ingin ada orang lain yang melihat tangisanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD