Axel Yudhistira Aku melambaikan tangan, sebelum kembali mengemudi setelah menurunkan Shera beberapa meter dari tempat tinggalnya. Melalui kaca spion, kulihat ia masih berdiri di sana. Mungkin dia sedang menungguku hingga benar-benar pergi dan berlalu. Apa dia marah padaku? Ahhh semoga saja tidak. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatnya marah apalagi jengkel. Semua perkataannya yang ku bantah dan ku alihkan tadi, semata-mata hanya agar aku tidak perlu mendengar jawabannya yang menyakitkan. Aku belum siap, mendengarkan serangkaian kalimat penolakan dari gadis itu. Perihal keinginanku untuk bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius, atau soal Papa yang bilang akan pergi ke Semarang. Dia pikir Papa bercanda? Tidak sama sekali. Bahkan sebelum Mama meninggal, aku sudah beberapa kali

