Axel Yudhistira Setelah melewati perkebunan yang berhektar-hektar luasnya. Aku baru mulai menemukan rumah warga. Berbeda dengan kota Jakarta yang padat. Jarak rumah satu dengan rumah lainnya agak renggang di sini. Kebanyakan masih terbuat dari kayu dan bilik bambu. Meski kulihat, ada juga beberapa rumah dengan gaya modern walaupun tak banyak. Orang-orang di sini tampaknya ramah dan jauh dari masalah. Sepertinya, memiliki satu saja rumah di sini, akan membuat hati damai dan tentram. "Itu, Xel. Belok kanan di pohon mangga yang lagi berbuah itu ya!" pinta Shera sembari menunjuk dengan girang. "Itu rumah kamu, Sher?" tanyaku memastikan. Shera mengangguk dengan cepat. "Huummm. Itu rumahku," jawabnya singkat. Aku membelokkan mobil, memasuki pekarangan rumah yang cukup luas, tanpa ada pagar

