Bab 26. Shera 16

1072 Words
Shera Fuji Lesmana  "Aku udah putus kok sama Nadia," jawab Adrian dengan santai. Treng ... dengan reflek sendok yang sedang kugunakan untuk makan jatuh begitu saja atas piring. Atau lebih tepatnya lagi, sengaja ku benturkan pada piring dengan agak beremosi. "Apa? Putus lagi?" tanyaku. Adrian melirik sekilas sebelum mengangguk pelan. Sebagai isyarat jawaban iya. Ya ampun bagaimana bisa ini terjadi lagi. "Jangan bilang kalau putusnya kali ini, gara-gara aku lagi!" gertakku. Tapi yang digertak seperinya biasa - biasa saja. Dan malah asyik melanjutkan acara makannya. "Nggak usah terlalu serius gitu deh, Sher. Ini bukan pertama kalinya juga kan?" Ya ... Tentu saja, itu benar. Ini bukan pertama kalinya Adrian putus mengatas namakan diriku. Bagaimana aku bisa yakin? Ya karena saat di telpon tadi, sudah sangat jelas Adrian bertengkar dengan Nadia karena menghubungiku. Trending topik yang seharusnya tidak aneh lagi. Adrian belum pernah merasakan rasanya dipermalukan, atau di labrak oleh orang lain. Apalagi perihal perebutan seorang kekasih. Nadia itu, salah satu cewek populer dengan ribuan antek-antek netizen yang menjadi follower setia di Instagramnya. Namaku pasti akan dijadikan harum. Berbeda denganku. Karena aku adalah tipe cewek setia, pacarku nggak pernah ganti. Jadi ... jelaslah Adrian tidak akan mendapatkan masalah. "Kamu nggak usah geer. Aku putus ya memang cuma karena nggak jodoh. Nadia itu ribet, Sher. Aku merasa, udah nggak ada lagi hal yang bisa kutunggu. Apa yang kujadikan alasan untuk menyukainya, sudah nggak bisa lagi mengimbangi ketidaksukaanku sekarang," jelasnya lagi. Apapun alasan sebenarnya, toh mereka tidak akan percaya juga. Sekarang aku hanya harus menata diri dan hati dari omongan orang lain besok. Nasi goreng yang kumakan sekarang jadi ya terasa lebih enak, maksudnya, lebih enak lagi kalau nggak ku makan. Aku jadi merindukan pecel ayam yang tadi ku makan bersama dengan Axel. "Oiya ... Kamu belum jelasin cowok yang ada di kampus tadi. So ... Siapa dia? Pacar baru? Gebetan baru?" "Teman baru. Paham? Jangan terlalu kepo lah sama urusan orang lain," gerutuku. "Lalu, apa bedanya dengan kamu yang selalu ceramah kalau aku habis berantem sama pacar?" "Ya karena, berantemnya kamu itu selalu melibatkan aku, Yan. Sumpah ya ... Kamu itu belum dapet karma. Nanti kalau kamu udah bener-bener jatuh cinta sama cewek. Dan cewek itu nggak bisa kamu dapetin. Atau kamu udah cinta sama tu cewek, dan cewek itu mutusin kamu seenaknya. Baru kamu bakalan tahu, gimana rasanya patah hati," tegasku panjang lebar. Atau lebih tepatnya, kutukan. Pria-pria macam Adrian ini, perlu diberikan pelajaran. Cletak ... "Adduhh ... sakit, Yan. Apaan sih!" protesku begitu jarinya menyentil tepat di atas keningku yang lebar. "Lo lagi nyumpahin gue?" "Ngingetin! Bukan nyumpahin. Kalau sumpah tuh bunyinya begini ... Gue sumpahin lu, Yan. Lu bakal sakit hati gara-gara cewek." "Hush, sembarangan. Udah jangan ngomong mulu. Buruan makannnya, cuci muka, gosok gigi, cuci kaki juga. Baru tidur lagi!" "Terus Lo ngapain?" "Aku?" tunjuknya pada diri sendiri. Apa selain playboy, Adrian ini juga kurang pintar? Pada siapa lagi aku harus bertanya? Di dalam kamar yang sempit ini hanya ada kami berdua. "Aku nunggu kamu disini. Udah malem juga. Ngantuk banget. Udah nggak bisa bawa motor," jawabya santai, kemudian membaringkan tubuh di atas ranjang. Sementara aku, merapikan piring bekas kami pakai tadi. Ini bukan pertama kali Adrian menginap. Toh selama ini memang tidak ada hal buruk yang terjadi. Tapi mengingat apa yang terjadi padaku dan Tama tadi sore, kenapa aku jadi takut ya. Tama yang mulanya bahkan tidak pernah menyentuhku berlebihanpun, bisa hampir saja lepas kendali. Lalu bagaimana dengan dia. Dengan pria berbahaya yang namanya sudah sangat jelas di eluh eluhkan. Mungkin untuk malam ini, aku harus menjaga jarak dengannya. "Udah ku bilang nggak usah geer. Ngapain kamu jaga jarak segala hah? Nggak usah ngadi-ngadi aku udah pernah liat bagian lain, dan nggak menemukan ketertarikan didalamnya. Kamu harus punya buah apel sama semangka di aset depan sama belakang." "Loh ... Aku nggak bilang apa-apa kok!" "Nggak bilang apa-apa gimana? Orang jelas banget begitu. Udahlah sana ke kamar mandi!" Astaga sialnya! Lagi-lagi aku mengatakan hal yang seharusnya tidak ku katakan. Kenapa aku harus memiliki kutukan ini. Hal sepele seperti itu saja, mulutku tidak bisa di ajak kompromi. Tapi ... Tunggu dulu. Apa yang di katakan Adrian tadi? Buah apel, buah semangka. Cakep ...! Aku sedang tidak ingin berpantun. Maksudku, aset depan dan belakang? Hey ... Aku tida sekurus itu. Adrian hanya belum lihat saja bentuk tubuhku yang asli. Ya ... Mungkin pernah sedikit. Mengingat kedekatan kami berdua yang terlalu absurd ini, pastilah ada saat-saat dimana aku dan dia jadi lupa diri. Tapi kali ini ... Adrian benar-benar menghinaku. Lihat saja, sampai berapa lama pria itu akan bertahan. Selesai membenahi diri dan mengganti pakaian, aku keluar dari dalam kamar mandi. Piyama berbahan satin dengan celana tanggung selutut sudah siap mengantar ku untuk tidur. Aku menambah kecepatan baling-baling kipas angin yang sebenarnya hampir tidak pernah ku matikan setiap harinya. Jakarta panas bro. Jika tidak mampu membeli AC, minimal belilah kipas angin. Selain fungsinya yang memang untuk menghasilkan angin, benda ini juga bisa menyamarkan bau tak sedap dari angin lain yang tidak sengaja harus keluar. Saat melirik, pandanganku akhirnya menemukan Adrian yang sudah meringkuk dengan mata tertutup. Hah ... Apa yang baru saja kupikirkan? Bisa-bisanya mencurigai sahabat bahkan sampai mengutuknya pula. Bagaimanapun juga, aku ini seorang perempuan. Kewaspadaan pada orang terdekat sekalipun, harus tetap terjalin. Namun agaknya. Aku sudah terlalu berlebihan. Adrian tidak akan pernah menyakiti ku, meskipun dia bisa. Aku mengambil posisi, kemudian merebah di sampingnya. Kami sering tidur bersama. Tidur yang dalam artian memejamkan mata. Hanya itu ... Dan malam inipun sama. Kami hanya memejamkan mata, untuk sama-sama meraih mimpi. Hal pertama yang selalu ku lihat saat kami tidur bersebelahan adalah, kening pria itu sangat sering mengkerut. Jelaslah ini bukan karena faktor usia. Adrian ini seperti memiliki beban yang berat. Padahal menurut penglihatanku, dia memiliki kehidupan yang sempurna. Wajah yang sangat cocok untuk dikatakan tampan, terlahir dari keluarga yang kaya, dan selalu memanjakannya, dikelilingi wanita pemuja yang pastinya sudah siap lahir dan batin untuk menjadi istrinya. Jadi ... Apa pula yang membuat benda ini terlihat mengkerut setiap saat. Hal konyol, dan caranya menggoda ku setiap hari, mungkin adalah bagian dimana ia harus menutupi segala kegundahan hati. Baiklah ... Aku tidak masalah dengan itu. Setiap manusia memiliki rahasiakan? Yang terpenting sekarang adalah, aku harus mengurangi sedikit dari beban itu. Aku mengusap ngusap keningnya dengan perlahan sembari mulai mengendalikan rasa kantuk. Entah kapan? Aku juga tidak tahu bagaimana persisnya. Tapi pada akhirnya, aku ikut terlelap untuk kesekian kalinya di samping Adrian. Sahabatku selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD