Adrian Maulana
Baiklah tunggu sebentar. Tahan dulu Adrian ... Tolong tahanlah sebentar. Tarik nafas ... Buang. Tarik nafas ... Buang lagi ... Tarik nafas ...
"Astaga Shera! Apa yang sudah kamu lakukan. Jadi dia kesini? Dia masuk kesini ke kamarmu? Bagaimana bisa? Apa kamu ngga punya otak? Kamu nggak waras ya?" bentakku pada Shera.
Aku sudah berusaha untuk tetap tenang, tapi ternyata mendengarnya menyebutkan nama pria b******k itu, jangankan bisa tenang. Kemarahanku segera tersulut dengan mudahnya. Hatiku jadi panas sendiri. Maksudku, setelah apa yang dia alami beberapa waktu belakangan ini, kenapa dia masih bisa mengizinkan pria itu masuk ke kamarnya.
Shera menggigit bibir bawahnya. Sepasang matanya yang sayu tampak berkaca-kaca meski tak menatapku. Aku menghela nafas dengan pasrah. Baiklah, mungkin aku keterluan. Dia pasti kaget karena ku bentak tadi.
"Sorry, aku cuma nggak habis pikir aja. Kok bisa dia ada disini. Jadi apa yang sudah kalian lakukan disini? Coba kamu jelasin, biar aku ini nggak salah paham lagi," tanyaku. Kali ini dengan nada yang agak merendah. Jika tidak demikian, bisa-bisa Shera nangis lagi.
"Jadi ... Pas aku pulang tadi, Tama udah ada di depan pintu kamar. Aku nggak ngapa-ngapain, Yan. Sure! kami cuma ngobrol."
Mataku menyipit, memandangnya dengan tajam. Tidak mungkin sepasang kekasih yang meski sudah berpisah, tidak melakukan apapun saat berada di dalam satu kamar dan hanya berdua. Apalagi mengingat keadaan Shera yang agak terbuka. Bagaimana mungkin pikiran ku tidak melayang-layang.
"Siapa yang lagi kamu coba bohongin Sher?" Aku melipat kedua tangan di depan d**a. Melihat gelagatnya yang gugup, juga pandangannya yang mulai berputar, keyakinan ku bertambah seratus persen.
"Ya ... Oke. Bukan hanya sekedar ngobrol. Tapi tetep aja nggak ada hal berbahaya yang harus membuat kamu bertanggung jawab," jelasnya.
"Iyakah?" tatapku penuh selidik.
"Aku masih cukup waras ya. Nggak kaya kamu."
Shera tampaknya puas karena berhasil membandingkan kelakuannya denganku. Aku tidak memungkiri. Kami jelas berbeda. Dari gender saja, kami sudah berbeda. Aku laki-laki dan dia ... Mungkin setengah laki-laki.
Tapi mendengarnya masih dalam keadaan utuh dan tidak sampai melakukan yang iya-iya dengan pria itu, membuat hatiku lega. Setidaknya Shera masih bisa menjaga diri meski aku tidak di sampingnya. Aku memang tidak bisa terus menerus menjaganya. Suatu saat nanti kami akan berpisah. Aku punya kehidupan ku sendiri begitupun dengannya. Tentu saja, kecuali jika kami ...
"Yan, hp mu bunyi?"
Aku mengerjap beberapa saat, kemudian menyadari ponselku memang berbunyi. Rupanya pesananku dan Shera sudah datang. Bahkan lebih cepat dari dugaan. Aku beranjak kemudian membuka pintu. Tampak seorang pemuda sudah berdiri di depan sana. Abang ojol dengan jaket si hijau yang sepertinya sebaya denganku dan Shera.
"Pesanannya, Mas,"katanya seraya menyerahkan bungkusan yang ku yakini berisi makanan.
"Kok cepet, Mas?" tanyaku sekedar basa-basi, sambil merogoh dompet di saku belakang celana.
"Kebetulan dekat, Mas," jawabnya.
Semuanya tampak normal. Aku juga tidak menaruh curiga apapun. Hanya saja, setelah sempat menunduk untuk mengambil uang dari dompet, ketika mengangkat kepala, aku mendapati Abang Ojol ini tengah celingukan. Tingkahnya seperti orang yang sedang mencari sesuatu di dalam kamar ini, yang sayangnya tidak bisa dia masuki.
"Ssuutt, Bang. Ngapain!" tegurku seraya menyerahkan uang pada Abang Ojol tersebut.
"Nggak apa-apa Mas. Saya penasaran aja tadi. Ehm ... Kalau boleh tahu, yang ini sejamnya berapa, Mas?"
Astaga ... Pertanyaan macam apa yang baru saja di lontarkannya. Apakah si kampret ini tengah menanyatakan tarif yang dihabiskan olehku dan Shera?
"Abang mau saya kasih bintang satu, plus koment negatif di aplikasi?" ancamku, tapi tidak dengan emosi.
Raut wajahnya berubah tidak menyenangkan. Sial! Mungkin dia berpikir aku adalah salah satu langganan dari tempat ini.
"Eh ... Jangan Mas jangan! Maaf ya Mas. Maaf!"
"Lain kali jangan suka usil sama kegiatan orang. Nggak semua orang yang tinggal disini itu nggak bener. Yang di dalem itu temen gue. Dan nggak disewain. Paham!" tegasku.
Pria itu beranjak, sebenernya aku agak kesal. Ralat, sangat kesal. Bisa-bisanya orang itu mengira kalau Shera adalah salah satu dari penjual tubuh disini. Kenapa juga dia harus bertanya?
Aku juga bukan orang baik-baik. Tapi aku masih cukup tahu diri untuk tidak penasaran dengan urusan orang lain. Apalagi jika aku tidak mengenalnya.
Aku berbalik dan mendapati Shera masih duduk di bibir ranjang seperti tadi juga tidak berubah sama sekali. Hanya saja, pandangannya terlihat kosong. Ia menatap lurus ke depan.
Aku senang, ku harap dia dia tidak mendengar apa yang dikatakan tukang ojeg tadi. Jika tidak, dia pasti akan sangat merasa tersinggung. Bahkan seharusnya, dia akan membentak dan ngamuk-ngamuk.
Tapi rupanya, dia sedang sibuk bengong. Pantas saja, tak ada tanggapan bahkan setelah aku menegur Bang Ojol itu. Tapi melihatnya yang tidak ceria seperti biasanya, hatiku ikut melemah. Aku sudah terlalu terbiasa mengikuti senyumnya, juga diganggu olehnya. Jadi saat melihat Shera berubah, seolah ada sesuatu yang berubah juga dalam hidupku.
Aku tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi. Tinggal di tempat yang memiliki sebuah nama buruk, tentulah ada resikonya. Aku sudah pernah bilang pada Shera untuk mencari tempat tinggal lain. Tapi dia bersikeras, hanya karena harga sewa yang lebih murah. Padahal sudah kukatakan, ini bukan soal uang. Tapi tetap saja, Shera berhasil untuk tinggal selama kurang lebih 2,5 tahun di tempat ini.
"Shera ... Sher?" Aku menepuk bahu dan membuatnya terhenyak sesaat.
"Eh ... Iya Yan? Sorry. Aku agak ngelamun tadi."
Tanpa disebutkan pun aku sudah tahu kalau dia ini sedang bengong. Kalau tidak, bagaimana mana mungkin tukang ojeg itu masih bisa pergi dengan selamat.
"Ayo makan. Makanannya udah dateng," ajakku.
"Ehm ... oke. Aku ambil piring dulu."
Setelah semuanya siap, aku dan Shera makan bersama. Aneh ... perutku sebenarnya tidak terlalu lapar juga. Di Cafe tadi makanan yang disajikan lumayan enak juga. Tapi suasananya sungguh berbeda.
Makan berdua, hanya dengan menu nasi goreng biasa, di dalam kamar sempit yang jujur saja tidak terlalu rapi ini, malah terasa lebih nyaman. Bahkan jika dibandingkan dengan Cafe tadi, yang jelas-jelas tempatnya sangat bagus.
Makanan biasa ini, seolah jadi luar biasa. Apa yang berbeda? Mungkin karena orang yang menemaniku makan ini berbeda. Orang yang kini sedang makan di hadapanku ini, membawa pengaruh suasana hati yang baik.
"Terus ... itu pacarmu gimana? Kamu tinggal-tinggal gitu aja. Tadi aku dengar, dia sempet marah-marah kan?"
Sedang makan begini saja, masih sempat-sempatnya Shera menanyakan pacarku. Kenapa dia tidak fokus saja dengan masalahnya.
"Nggak kenapa-kenapa, biasa aja sih."
"Masa sih? Kok aku nggak percaya?"
"Aku udah putus kok sama Nadia."
Treng ...
Terdengar suara sendok beradu dengan piring yang berasal dari Shera. Bikin kaget aja ni anak!
"Apa? Putus lagi?"
Ah ... aku harusnya membawa penyumbat telinga sebelum mengatakan ini. Shera pasti akan ceramah lagi. Dan telingaku akan semakin menjadi panas.