Bab 24. Shera 15

1034 Words
Shera Fuji Lesmana Tunggu, tunggu, aku yang sedang galau dan dilanda kecemasan berat ini sontak saja bingung tak karuan. Apa yang dikemukakan sahabatku ini terasa ngawur nggak sih? Apa hatiku yang koslet, mempengaruhi tanggapanku juga? Aku mengernyit dengan heran, sembari menyipitkan mata. Tanggung jawab? Memang apa yang terjadi, apa yang Adrian lakukan padaku? Bukannya dia baru datang. Apa Adrian sedang bercanda? Ini jelaslah bukan waktu yang tepat. Tapi nada bicaranya sangat meyakinkan. "Maksud Lo apa sih?" tanyaku agak heran. "Aku tahu Sher. Ini pasti berat buat kamu. Kita memang nggak memiliki perasaan satu sama lain. Tapi seiring berjalannya waktu, asal kita sama-sama kasih kesempatan pada hati kita untuk saling terbuka, aku yakin! Lama kelamaan, perasaan itu akan muncul," jelas Adrian. Dan penjelasannya berhasil membuatku yang sedang dilanda gabut ini semakin gabut. Aku melongo, ketika si pemain cinta ini malah membicarakan soal kesungguhan cinta. Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Tapi aku tida tahu salah paham jenis apa yang ia maksud. Tapi yang paling memungkinkan adalah ... Wah, apakah Adrian mengira aku? "Gue nggak hamil, kampret. Kamu ini mikir apa sih?" kataku, sembari menepis tangannya. "Kamu emang nggak hamil sekarang. Tapi akan, Sher. Dan aku mau tanggung jawab. Memangnya kamu mau anak itu tumbuh sendirian tanpa seorang ayah?" Lagi-lagi Adrian membuat asumsi sendiri. Aku mengusap wajahku sendiri dengan gemas. Aku tahu dia anak orang kaya yang manja. Tapi aku tidak tahu kalau dia bodoh. "Adrian, aku nggak tahu ya kamu ini kenapa. Tapi kan ku perjelas sesuatu disini. Yang pertama, aku nggak hamil. Yang kedua, aku nggak akan hamil, karena aku nggak melakukan apapun yang akan membuat aku hamil. Dan yang ketiga, kalaupun aku memang melakukan sesuatu yang bisa membuat hamil. Apa kamu pikir, aku bakal hamil hanya dalam satu kali percobaan hah?" kelasku panjang lebar. Adrian tampak berpikir dan terdiam untuk beberapa saat. Aku harus segera menyelesaikan asumsi pranuga yang tidak jelas ini. Jangan sampai si Adrian ini menyebarkan cerita macam-macam pada keluargaku juga pada teman-temannya, atau aku akan menjadi viral seketika. "Nggak, gini deh! Sekarang coba kamu bilang deh. Apa yang bikin kamu berpikir kalau aku bisa hamil dan ya ... melakukan yang iya iya versi Adrian itu?" ucapku dengan geram. "Oh ... Ayolah, Sher. Kamu tadi nelpon sambil nangis-nangis nggak jelas, lalu matiin telponnya gitu aja. Dan saat aku sampai disini, lihat keadaan mu yang semerawut itu, gimana aku nggak kepikiran yang iya-iya. Dan juga ... Ehrrmm ya, itu. Bajumu yang berantakan ... Ahh sial! Gimana sih cara jelasinnya. Kamu nggak mungkin nggak ngertikan?" Ah ... Jadi ini alasannya. Imajinasi Adrian sudah mulai lebih berkembang dari anak TK rupanya. Hatiku yang mulanya tengah dilanda gundah ini, seolah menemukan sesuatu yang baru. Entah aku harus menangis atau justru tertawa dengan kelakuan Adrian ini. "Dan satu lagi. Tadi di kampus, aku liat kamu. Di jemput laki-laki. Dan aku sama sekali nggak kenal sama orang itu oke. Jadi ... gimana caranya aku nggak akan berpikir yang aneh aneh. Aku pikir kamu melakukan sesuatu yang bodoh itu lagi Sher. Aku benar-benar takut, kamu di apa-apain sama laki-laki itu," keluh Adrian. Aisshh ... Jadi dia sempat melihatku dan Axel saat di kampus tadi. Ya ... Aku tidak menyalahkannya. Keadaanku yang awalnya berantaka ini pastilah membuatnya salah paham. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk maju, tanganku terangkat dan melingkar di pinggangnya, membenamkan wajahku pada d**a bidang seseorang yang saat ini ada dalam pelukku. Jujur saja aku ingin menangis. Tapi aku nggak mau terlihat lemah di hadapannya. Sudah terlalu banyak titik kelemahanku yang dia ketahui. Tapi aku senang! Aku senang karena Adrian memperhatikanku. Aku senang karena dia bahkan sempat berpikir untuk, bertanggung jawab meskipun sebenarnya ku akui dia sangat bodoh. Maksudku kalaupun memang amit-amit aku ini hamil oleh orang lain, bagaimana bisa dia malah mau menjadi ayahnya. Diantara keheninga kami yang tiba-tiba ini, mendadak ada sesuatu yang berbunyi. Kkkrruuyyuuukkk ... Perutku demo minta diisi. Untungnya Adrian sudah terbiasa mendengar nyanyian perutku. Aku melepaskan tubuhnya, kemudian memamerkan senyum isyarat. Pria itu mendesah dalam-dalam, dan pastinya tahu apa maksudku. "Iya-iya. Gue pesenin!" katanya sambil mengeluarkan hp dari kantung celana. "Aku belom ngomong apa-apa loh. Beneran!" "Iya tahu. Ya udah sekarang ngomong pengen apa?" Kalau saja tadi nasi pecel ayamnya nggak kuberikan pada Wina. Aku dan Adrian bisa maka disini. Kan lumayan, ada dua porsi. Tapi semua diluar dugaan ku. Aku tidak tahu kalau hari ini akan mengalami hal buruk yang membuatku tidak bisa pergi bekerja. Jatah makanku di Hotel akhirnya mubazir. "Nasi goreng aja. Yang pedes, kerupuknya banyakin. Minumnya teh tarik." Adrian tampak mengetikan seuatu di ponselnya. Lalu sesaat kemudian ... "Selesai. Pesanan akan diantar dalam waktu setengah jam. Anda puakan tuan putri. Jadi sekarang, sambil kita nunggu nasi gorengnya dateng, bisakan kamu jelaskan apa yang terjadi. Sampai kamu nangis-nangis dengan baju terbuka kaya tadi?" Tubuhku meremang dalam ingatan saat Tama ada disini. Apa aku harus menjelaskan pada Adrian tentang apa yang kami lakukan tadi. Adrian pasti akan sangat marah jika dia tahu kalau tadi ada Tama disini. Dan aku dengan senang hati telah membiarkannya masuk lagi. "Shera, aku nanya sama kamu ini ya. Jangan ada yang di tutup tutupin. Karena cepat atau lambat, aku bakal tahu. Siap-siap aja aku bakal laporan sama Ayah dan Ibu kamu di Semarang!" ancamnya. "Ih jangan!" cegahku. Gila aja ni anak. Kalau Ibu dan Ayah tahu tentang apa yang terjadi disini, mereka bisa kena serangan jantung dadakan. "Awas aja kalau kamu ngadu yang macem-macem. Hidupmu juga nggak bakal aman. Kita ancur bareng-bareng!" ancamku balik. "Sure, aku udah biasa sih dapet pengaduan. Lagian mereka juga udah tahu kalau aku ini anak nakal. Ya ... Nggak akan bikin heboh juga. Tapi seorang Shera kan beda?" Selamat Shera, kamu berhasil kalah lagi dari pria ini. Tapi yang di katakan Adrian ini memang benar. Semua orang di kampung mengenal Shera, karena dia berhasil kuliah di Ibu Kota. Reputasiku akan menjadi buruk nantinya. "TadiadaTamadisini!" ucapku tanpa jeda. Duh ... Kenapa aku jadi seperti tersangka yang baru saja kepergok selingkuh oleh pacarnya. Ini membuat aku gugup. "Kamu kalau ngomong yang bener. Jangan kaya orang kumur-kumur gitu," protesnya. "Tadi ada Tama disini," jelasku sekali lagi. Kali ini Adrian pasti bisa mendengarnya dengan jelaskan? Pria ini menatapku dengan tajam. Aku menganggukkan kepala perlahan-lahan untuk meyakinkannya. Haisshh ... Dia pasti bakal ngamuk - ngamuk nih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD