Bab 23. Adrian 9

1047 Words
Adrian maulana "Astaga Shera ... kamu ada di kamar atau nggak sih?" keluhku setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Shera. Tapi tak juga ada jawaban. Aku ingin berteriak-teriak kalau perlu mendobrak pintu ini sekalian, tapi itu tidak mungkin. Karena semua itu bisa menimbulkan keributan. Tapi kecemasan berlebih ini, sudah benar-benar membutakan hati dan pikiranku. Bayangkan saja ... tadi saat ditelpon, dia sedang menangis tersedu-sedu. Aku yang berusaha dengan secepat kilat ini datang, tapi dia malah mengunci pintu kamarnya. Bagaimana kalau Shera nggak ada? Bagaimana kalau gadis itu sedang tidak berada di tempat, karena itu dia tidak menggubris suara panggilan dan ketukan pintu yang ku buat? Tentu saja tidak. Dia pasti ada di dalam. Karena sejak aku menelponnya tadi, ada suara dering ponsel samar-samar yang bisa ku dengar. Shera itu tidak bisa melepaskan ponsel. Kemanapun dia pergi, maka dia akan membawa ponsel itu bersamanya. Jadi kemungkinannya hanya ada dua. Opsi pertama, dia tertidur atau ketiduran. Dan opsi kedua, dia sedang kesal dan tidak ingin di ganggu siapapun, atau dia mungkin sedang kesal padaku. Ah ... tentu saja, pasti kedua-duanya. Dia kesal padaku sampai ketiduran, karena mendengar suara Nadia tadi. Gadis itu memang sialan! Bisa-bisanya dia memakiku seenak jidat. Untunglah aku sudah memutuskan hubungan dengannya jika tidak, sepertinya aku nggak akan sanggup lagi menghadapinya. Untuk yang kesekian kalinya. Aku mengetuk pintu sembari menyerukan namanya. Bagaimanapun juga, aku sudah berdiri selama hampir satu jam disini, juga sudah terjebak kemacetan saat akan menuju kesini. Jadi kakiku mungkin sudah merasakan lelah juga gemetar. Tok ... tok ... tok "Sher ... Shera buka pintunya. Shera buka pintunya Sher. Shera ..." Tok ... tok ... tok Aku sudah menurunkan tangan dan mulai putus asa. Tapi beberaoa saat kemudian, terdengar suara kunci pintu yang di putar. Lalu ... ceklek ... gagang pintu bergerak, beserta dia pintu yang perlahan terbuka. Aku mendapati seorang gadis yang sekarang keadaannya lebih payah dari sebelumnya. Oke Shera ... aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Mata yang sembab dan bengkak, kulit wajah kemerahan, rambut acak-acakan, pandangan yang sayu dan penuh dengan keputus asaan. Pakaian yang kenakan sudah tak jelas arah. Asataga Shera? Apalagi yang sudah terjadi sama anak ini. "Rian ... kamu ... kok bisa ada disini?" tanyanya dengan bodoh. Bukankah aku sudah bilang saat di telpon tadi. Kalau aku akan segera datang. "Pertanyaan yang bego banget sumpah! Aku kan sudah bilang, kalau aku akan datang! Kamu pikir gimana perasaanku, waktu kamu tiba-tiba telpon sambil nangis, bikin geger seluruh otak dan hatiku. Kamu ini kenapa Sher? Ada apa?" Aku hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya tentang apa yang dia alami. Bahkan untuk sekedar menunggu sang pemilik kamar masuk. Mendengarnya sempat terisak lagi, hatiku terasa begitu sakit. Melihatnya yang malah diam, membuatku jadi emosi. Aku menorobos masuk lalu menutup pintu begitu saja. Tak ada penolakan, tapi dia memalingkan wajah, seperti enggan melihat ke arahku. Tunggu hingga aku mencerna semua ini baik-baik. Tadi siang, bukankah tidak ada hal buruk yang terjadi. Semuanya normal, aku pergi bersama Nadia dan dia juga pergi dengan pria. Pria yang aku tidak tahu siapa. Melihat keadaan Shera yang seperti ini, apakah telah terjadi sesuatu? Apakah ada hal buruk yang terjadi. Sebagian kancing baju kemeja Shera terbuka. Meski tak terlalu jelas, ada bagian dimana bagian yang seharusnya tak ku lihat, justru mengintip dengan malu-malu. Dan sialnya, itu indah banget! Aku hampir ingin mimisan. Kenapa pemandangan ini seolah aneh. Sejak kapan milik Shera jadi sebesar itu sih. Atau sebenarnya memang sudah besar sejak lama, tapi aku nggak menyadarinya. Mungkin Shera dan aku tumbuh dengan cepat. Shera besar di bagian sana. Dan aku tumbuh besar di bagian lain. Tapi Shera selalu menggunakan baju kebesaran yang menutupi lekuk tubuhnya. Ah ... kenapa juga aku jadi berpikiran yang iya-iya. Bukan itu masalahnya. Tapi melihat unsur-unsur yang sebelumnya telah terjadi. Mungkingkah ... mungkinkah Shera sebenarnya ... astaga bagaimana caraku untuk menanyakan ini tanpa menyakiti perasaannya. Mungkinkah Shera sebenarnya telah ... dilecehkan. Ohhh .... tidak! Aku seharusnya tahu. Shera ini terlalu bodoh dan polos dalam mengenal laki-laki. Sekarang lihat kan akibatnya, lagi-lagi terjebak dalam bujuk rayu manis lagi. Aku menarik nafas sepanjang mungkin, lalu mendekat ke arah Shera. Kami berdiri saling berhadapan. Tanganku reflek saja meraih bajunya, atau lebih tepatnya meraih kancing kemejanya. Wajahnya yang semula berpaling kini menoleh, membalas tatapanku. Dengan hati-hati, aku mengancingkan kembali kemeja yang seharusnya tak terbuka itu. Kemudian ... glek ... aku menelan ludah, merasa ada yang aneh. Disaat aku biasa membuka kancing pakaian wanita lain. Sekarang aku justru menutup kancing kemeja milik Shera. Aku masih normal kan? "Sher ... kamu jangan khawatir. Kamu nggak perlu mikirin apapun. Aku tahu pasti marah, kamu pasti kecewa. Tapi kamu bisa bilang sama aku. Siapa yang udah nyakitin kamu kaya gini? Aku akan kejar orang itu, aku akan hajar dia. Aku janji!" ujarku. "Aku nggak apa-apa kok, Yan. Kamu jangan khawatir," jawabnya dengan lirih. Bagian mananya yang membuatku harus tidak khawatir. Sahabat terbaik yang selalu kujaga, justrh harus mengalami hal sepahit itu sendirian. Shera pasti terpukul. Tidak seharusnya aku meninggalkan Shera. Ini semua salahku. Setelah semuanya selesai, aku mengajal Shera untuk duduk dibibir ranjang bersampingan dengannya. Ini lebih baik. Tak benda mengintip yang memancingku untuk bergumul. Tanganku kini berada di kepalanya. Merapihkan sisa sisa kekacuan dirambutnya yang halus. Sesaat kemudian, tanganku kini reflek menggenggam tangannya yang berkeringat. Kuberikan tatapan yang begitu dalam pada Shera. Ini adalah sebuah keputusan yang amat besar. Sembari merapihkan keadaan Shera aku terus saja berpikir. Mungkin ini jalan yang terbaik. "Adrian ... padahal kamu nggak perlu kaya gini. Kamu nggak perlu maksa buat kesini kalau lagi sama Nadia ... dia pasti marah bangetkan. Gawat ... besok aku pasti bakal kena labrak lagi. Gimana do ..." "Sssuutt ...!" selahku. "Kamu nggak perlu mikirin soal itu. Semuanya udah berlalu, nggak penting lagi buat di bahas. Sekarang udah saatnya buat bahas soal kita," tambahku lagi. "Kita?" kata Shera dengan heran. Keningnya mengernyit dengan tatapan bertanya-tanya. Dia pasti akan merasa aneh dan heran dengan apa yang aku ucapkan. Tapi biarlah. Sudah tidak ada pilihan lain lagi. Aku harus menyelamatkan, harkat martabat juga nama baik Shera nantinya. "Kamu jangan khawatir lagi ya Sher. Aku yakin kita bisa lewatin ini semua. Terutama kamu. Kamu tenang, pokoknya aku bakal tanggung jawab," ujarku penuh keyakinan. Kerutan diwajah Shera bertambah, bersamaan dengan kedua bola matanya yang menyipit dengan tajam. "Maksud lo apa sih?" tanya Shera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD