Adrian Maulana
Ricky, Tio dan aku khususnya, masih memperhatikan Shera yang saat ini tengah mengobrol dengan pria gondrong itu. Anehnya, kami jadi seperti sekelompok penguntit, atau emak-emak komplek yang haus akan gosip.
Gerakan bibir baik dari Shera maupun pria yang kini ada dihadapannya itu, tak bisa terbaca sedikitpun. Jika saja kami bisa mendekat setidaknya beberapa meter dengan tempat Shera berdiri, pasti ini akan jauh lebih mudah.
"Eh ... eh ... eh si Shera naek tuh, Yan!" Ricky memberikan peringatan.
"Ya terus kenapa? Suka-suka dialah!" jawab Tio.
"Iya ... kenapa malah jadi kita yang kepo. Eh ... nggak-nggak. Maksudnya kenapa malah jadi lo sih, yang kepo?"
Menjadikan Ricky sebagai tumbal kesalahan adalah jalan ninja agar keingintahuanku tidak terlalu nampak kentara. Aku juga ingin sekali tahu, apa yang dibicarakan Shera. Tapi juga tidak ingin Ricky atau Tio menjadikanku bulan-bulanan.
Mereka pasti akan dengan senang hati, menyangkut pautkan segalanya dengan perasaanku yang jelas-jelas hanya sebagai seorang sahabat.
"Heeuuhhh rese lu pada." Ricky menggerutu sembari mulai memetik senar gitar. Menyanyikan salah satu lagu melow, seolah ia tengah patah hati.
Sementara mataku, masih menatap kepergian Shera yang mulai menjauh, dan akhirnya hilang. Dengan siapapun Shera sekarang, aku hanya berharap dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
***
Jika dalam 10 menit lagi Nadia tidak juga muncul. Aku bersumpah akan meninggalkannya. Ini sama sekali tidak berlebihan. Aku juga tidak mau bertingkah seperti anak kecil. Menurut jadwal, seharusnya dia sudah keluar kelas sejak satu jam yang lalu. Beberapa Mahasiswi yang satu kelas dengannya juga sudah keluar sejak tadi. Lalu dimana pacarku ini berada.
Sudah ku coba untuk mengirimkan pesan melalui aplikasi si hijau. Dan hasilnya hanya centang satu. Tidak mungkinkan, seorang Nadia kehabisan kuota.
Baik ... sudah lima menit berlalu. Tio dan Ricky juga sudah pergi. Aku sendirian di kantin seperti orang bo*doh dengan dua gelas kosong, sisa jus yang ku pesan.
Beberapa detik terakhir, akan ku hitung mundur. Sepuluh ... sembilan ... delapan ... tujuh ... enam ... limmm
"Sayang ...!"
Baik, hitunganku berhenti tepat diangka lima. Ahhh ... beruntung sekali Nadia ini. Lewat 4 setengah detik saja, maka dia akan berada di alam lain. Maksudku bukan mati. Hanya mungkin, dia tidak akan lagi menjadi bagian dalam hidupku.
"Wow, selamat sayang. Kamu berhasil membuatku menjadi orang aneh selama hampir satu jam!" gerutuku tanpa menoleh. Nadia memeluk leherku dari belakang. Dan dengan sengaja menghembuskan nafasnya disana. Aku tidak keberatan. Tapi ini di kampus. Apa dia sudah nggak waras!
"Nad ... jangan mulai deh!"
Gadis itu melepaskan pelukannya. Ia menarik kursi, lalu duduk di sampingku dengan wajah memelas. Aku tidak akan menebak apa yang terjadi. Sungguh! Karena dugaanku selanjutnya, gadis ini hanya akan berkata ...
"Maaf ... maaf ya sayang! Tadi dosen minta aku buat bantuin cek tugas anak-anak dulu. Sorry ... please!"
Matanya yang berkaca-kaca membuat pertahananku luluh. Bagaimanapun juga Nadia ini adalah rekor wanita yang paling lama berhubungan denganku selama di Kampus. Ya ... meskipun paling lama disini, artinya hanya beberapa hari.
"Huufffttt ... ya udah. Sekarang kita mau kemana?" tanyaku dengan malas sebetulnya. Tapi jika Shera tahu, aku memperlakukan wanita dengan sembarangan lagi. Dia mungkin akan membunuhku.
"Kita ke Mall sebentar ya. Cari kado buat Vina. Nanti baru nyusul ke cafe."
"Ehmm, berapa lama kira-kira kamu bakal milih kado buat Vina?"
"Ya ... sebentar lah. Aku kan udah tahu apa yang dia mau, dan gimana selera dia, jadi nggak akan sulit."
Ucapannya memang terdengar penuh dengan keyakinan. Tapi hatiku sama sekali nggak yakin. Kata "sebentar" dalam kamus cewek itu, artinya bisa sangat ambigu. Apalagi untuk cewek-cewek seperti Nadia.
"Dan ... bakalan jadi lama kalau kita nggak segera berangkat sekarang juga. Jadi ayo sayang. Tunggu apa lagi?"
Nikmatilah Adrian. Akan selalu ada pengorbanan di setiap kesempatan. Punya pacar yang cantik, juga harus memiliki timbal balik. Yang penting masalah hari ini cepat selesai. Nadia mengapit lenganku menuju parkiran.
Sesampainya disana, dia langsung menggenakan helm yang kusodorkan. Sementara aku sedang memanaskan motor. Dalam waktu singkat, kami berdua meninggalkan area kampus.
Sesampainya di mall, dugaanku akhirnya kembali terbukti. Ahhh apa yang tadi Nadia katakan, coba ku ingat-ingat lagi!
"Ya ... sebentar lah. Aku kan udah tahu apa yang dia mau, dan gimana selera dia, jadi nggak akan sulit."
Memang benar! Nadia memilihkan kado untuk Vina dengan cepat. Kami bahkan bisa langsung mendapatkannya setelah hanya memasuki satu toko. Tapi sisanya ... siapa yang harus ku salahkan. Namanya juga perempuan, mau masuk mall atau pasar, mana bisa tahan jika tidak melihat-lihat semua isinya terlebih dahulu.
Aku berkaca pada kebiasaan Ibuku sendiri di Semarang yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di pasar hanya untuk memilih baju. Misalnya, di toko A harganya 150ribu ... di toko B harganya 155ribu. Meskipun jaraknya jauh, Ibu akan kembali ke tempat semula. Padahal harganya cuma beda goceng bro! Daripada muter-muter lagi, kan capek!
Dan si Nadia ini? Astaga! Kurang perhatian apa lagi coba aku ini. Kami keluar masuk toko dan entah apa yang dia cari, hingga harus membuatku mendesah berkali - kali.
Saat ini aku dan Nadia sedang berada di salah satu toko baju, dan dia sedang mencoba beberapa pasang pakaian, di bantu oleh pelayan toko. Sembari menunggu, aku memainkan ponsel, membuka beberapa akses sosial media, mencari-cari siapa tahu ada berita yang menarik selain banyaknya tawaran gadis-gadis sekitar yang sedang open BO.
"Sayang ...!" panggil Nadia. Padahal aku belum puas untuk berselancar di dunia media sosial. Tapi dia sudah kembali memanggil. Setelah berbalik pada sumber suara, aku mendapati Nadia yang sudah berdiri dengan 2 gantungan baju di sisi kiri dan kanan.
"Menurut kamu bagusan yang mana?"
Semoga ini bukan pertanyaan yang menjebak. Bukan apa-apa, aku agak trauma perihal pertanyaan seputar pendapat yang dilontarkan oleh wanita.
"Yang warna ijo bagus," jawabku asal sembari mengerdikan bahu.
"Ihhh tapi ini warnanya ijo terang, sayang. Nanti kalau malem-malem aku pake ini bakalan bersinar banget kaya lampu!" keluhnya dengan nada agak kecewa. Firasatku mulai buruk nih.
"Kalau gitu yang warna putih aja. Bagus juga kok," ujarku.
"Iya sih bagus. Tapi nggak ah ... cepet kotor!" ucapnya lagi.
"Kalau kamu nggak suka sama dua-duanya, ya ngapain kamu bawa Nad?"
"Siapa bilang aku nggak suka? Aku suka kok. Makanya aku minta pendapat kamu ini?"
Dia kembali menyodorkan kedua baju di tangannya dengan raut wajah menunggu jawaban. Hah ... ya ampun. Pada siapa aku seharusnya mengeluh?
"Ya udah kalau gitu yang Ijo aja!"
"Kan tadi udah ku bilang, jelek di pake malem-malem!" jawabnya dengan ketus. Dan aku tidak akan merekomendasikan pakaian satunya lagi. Karena jawabannya pasti akan sangat menyebalkan.
"Ehmm, Mbak. Saya nggak jadi ambil ini deh. Tolong bungkusin yang warna item aja ya!"
Sungguh? Benarkah apa yang baru saja aku dengar ini? Pelayan toko mulai bergerak sesuai arahan dari Nadia. Aku reflek menarik lengannya untuk sedikit agak menjauh. Mencoba menyuarakan sebuah protes karena dia baru saja membuatku seperti orang ...
"Gila!" sentakku.
"Ihh kamu kenapa sih yang?"
"Kamu tadi ngasih pilihan baju warna ijo sama putih ke aku, dan yang di bungkus malah yang warna item? Sebentar-sebentar. Nad, kayanya otakmu ada yang koslet!" gerutuku masih tak habis pikir.
"Aku nggak koslet sayang. Aku mau bungkus yang warna item, ya karena suka aja!" jawabnya santai.
Dan pastinya, jika aku bertanya kenapa dia masih menanyakan pendapatku, setelah dia memiliki pilihannya sendiri? Maka jawabannya akan sama. Aku hanya bisa menggelengkan kepala, menahan rasa kesal yang ingin meledak.
Ada banyak cctv dimana-mana. Tidak bagus jika namaku menjadi viral hanya gara-gara kekerasan pada seorang perempuan. Anggap saja ini sebuah pelajaran. Jika lain kali ada yang bertanya pendapat soal hal serupa dengan yang dilakukan Nadia, maka aku akan menjawab.
"Stress!"