Bab 12. Shera 7

1011 Words
Shera Fuji Lesmana Aku berlari menyusul Leana dan Mira, setelah sempat bercakap-cakap dengan Adrian di depan kelas. Si kunyuk itu menunggu hanya agar bisa mengantarku pulang. Tidak salah sih, aku hanya ngeri pada tatapan Nadia tadi pagi, saat Adrian membukakan helm yang ku kenakan. Adrian tidak akan mengerti kegundahan kami para cewek, saat pasangannya memberikan perhatian lebih pada orang lain. Dia itu terlalu sibuk menebar perhatian pada semua orang, lalu mematahkan hati mereka. "Ihhh tega banget gue malah ditinggal!" gerutuku dengan kesal begitu berhasil menyusul Leana dan Mira. "Ckk, kan tadi lo sendiri yang pamitan, udah ditungguin si Rian. Gimana sih?" decak Leana. "Iya ... tadinya gue mau pulang bareng dia sih. Tapi katanya habis nganterin gue balik, dia ada janji sama si Nadia itu." Kami bertiga jalan beriringan menuju gerbang kampus. Tampak dari kejauhan, jemputan mereka berdua sudah menunggu. Leana di jemput oleh seunit mobil mewah, dengan seorang supir ganteng yang kini tengah bersandar pada badan mobil. Leana adalah anak salah satu petinggi kota yang sama sekali nggak sombong. Dan herannya ... malah mau berteman denganku yang cuma anak kampung. Sedangkan Mira ... Aku sudah hafal dengan mobil bahkan plat nomor milik kekasihnya yang hampir setiap hari menunggu di kampus. Kadang aku agak heran juga, saat dia selalu mengeluh-eluhkan nama Adrian di sela-sela obrolan kami. Padahal dia sudah memiliki sosok perfect di dalam hidupnya. Ganteng, kaya, romantis, dan pintar. Lantas ... apa lagi yang kurang. Biasanya, jika tidak bersama Adrian. Aku juga akan menunggu Tama. Atau sebaliknya, Tama yang menungguku. Tapi ternyata, aku tidak bisa terus menerus bergantung pada siapapun. "Lo mau bareng sama gue Sher?" tawar Leana. "Atau lo juga bisa bareng sama gue kok, Sher." Lalu selanjutnya Mira yang menawarkan. Lumayan sih, tumpangan gratis. Tapi arah rumah Leana berlawanan dengan tempat tinggalku, dan lumayan jauh juga dari tempat tinggalnya sendiri. Sedangkan Mira ... aku tidak sanggup! Gaya pacaran Mira dan laki-laki itu lumayan ... tidak-tidak. Maksudku, sangat vulgar. Aku yang saat ini baru saja mengidap status jomblo ini, tidak akan cocok menyaksikan keuwuan mereka. Bahkan bisa malu sendiri. "Nggak deh! Gue mau langsung ke hotel Ada kerjaan," kilahku. Padahal aku baru akan bekerja nanti malam. "Ya udah deh kalau gitu. Kita duluan ya!" Setelah berpamitan, aku berjalan menuju gerbang Kampus dan menyaksikan satu persatu mobil dari kawanku itu lewat. Haaah ... kapan aku bisa memiliki benda itu. Ibu dan Ayah pasti akan sangat bangga, saat aku pulang menggunakan mobil dengan kepemilikan atas namaku sendiri. Semua tetangga tidak akan meremehkanku lagi. Anak seorang buruh serabutan juga asisten rumah tangga di kampung, bisa sukses setelah bergelut melawan kejamnya Ibu Kota. Kemudian, pemikiran kolot bahwa seorang perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan yang tinggi, akan hilang dengan sendirinya. Sembari bersandar pada dinding dan melipat kedua tangan di depan d**a, aku menunggu angkutan umum yang lewat. Lalu tak berapa lama kemudian, seorang pengendara bermotor mendekati dan berhenti tepat di depanku. Jenis kendaraan dan warna bahkan modelnya, membuatku teringat dalam keraguan beberapa saat. Barulah, setelah helm si pengendara dilepas, keraguan itu hilang diterpa angin. Seorang pria dengan rambut gondrong diikat, yang malam itu mengantarku pulang. Senyumnya yang kecil, tipis, tapi menggoda itu bak artis-artis Korea. Jangan-jangan dia memang memiliki darah Korea. Karena itu aku merasa insecure. "Sher ... fiuuhh untung aja lo udah ada disini. Tadinya gue bakal langsung ke dalam, ngubek-ngubek isi kampus buat nyariin!" Aku mengernyit heran. Axel berdiri di hadapanku sembari berkacak pinggang. "Kok lo, malah keliatan bingung gitu Sher?" Aku mengerjap beberapa saat dalam rasa bingung. Ni anak ngomong apa sih? "Lo sengaja dateng kesini?" tanyaku. Dan kini justru dia yang menyipitkan mata. Ah bagaimana aku bisa lupa. Sepasang matanya pastilah sudah sipit sejak lahir. Axel menepuk jidatnya. Ini pasti ada sesuatu yang terlewat. "Gue tadi telpon, mau kesini. Tapi nggak lo angkat. Gue pikir, mungkin lo lagi ada kelas, makanya nggak angkat. Jadi gue kirim chat. Emangnya lo nggak baca?" Buru-buru ku rogoh saku celana dan meraih ponsel. Untuk memastikan apa yang terjadi. Setelah ku lihat, ternyata memang ada beberapa pesan masuk yang belum k*****a. Ini pasti karena aku sedang fokus tadi. "He-he-he iya. Sorry banget ya!" "Its'ok. Untung pas nyampe sini lo belum pulang. Emang dasar jodoh banget. Ya udah yuk!" ajaknya begitu saja. Axel mengambil tanganku, kemudian menariknya untuk menaiki motor. Tapi karena aku tidak tahu kemana maksud dan tujuannya, sepasang kaki ini malah lengket menapaki tempat berpijak. "Tapi kita mau kemana?" Aku harus memastikan tujuan. Karena dalam beberapa jam lagi adalah jadwal pergantian shift. "Gue mau nganterin lo pulang. Apa lagi?" Astaga, sungguh mengecewakan. Jauh-jauh si Axel datang, hanya untuk mengantarku pulang. Pantas saja si Mawar berduri itu lebih memilih untuk menjadi duri di dalam hubunganku dan Tama. Ahh ... akhirnya aku jadi ingat lagi pada laki-laki sialan itu. "Ya ... sekalian jalan juga. Sebenernya gue lagi suntuk sih di Cafe. Iseng buka-buka hp, inget ada nomer lo. Jadi ... ya gitu lah." Benar-benar tipe laki-laki yang jujur, tapi menjengkelkan. Bisa-bisanya dia suntuk dan malah menjadikan aku sebagai pelarian. Dengan ajang iseng-iseng berhadiah pula. Tapi mubazir nggak sih kalau ditolak. Kenapa Leana dan Mira sudah pergi lebih dulu. Kedua sahabatku itu, pasti akan syok saat tahu Axel yang dikira editan foto itu, lebih keren jika dilihat langsung, apalagi dalam jarak dekat. Ini kalau si Adrian sampai melihatku bersama Axel, dia pasti akan berceramah. Mengingatkanku pada kesalahan dimasa lalu. Seolah dia tidak pernah melakukan kesalahan. "Ya udah deh ayok!" Agaknya, menerima ajakan Axel juga bukan hal yang buruk. Dia mungkin galau karena pacarnya akan menikah. Begitu pula denganku. Mungkin ... kami bisa sama-sama melepaskan penat dengan ya ... jalan bareng. Tanpa banyak bicara lagi, aku menjadi penumpang Axel dengan susah payah. Kenapa laki-laki suka sekali untuk menyusahkan diri. Lebih tepatnya, menyusahkan aku. Baik Axel dan Adrian sama-sama menggunakan motor besar dan tinggi yang membuatku kesulitan untuk naik. Aku tidak tahu milik siapa yang lebih bagus, apalagi lebih mahal. Pokoknya, tekadku untuk memiliki mobil pribadi, akan semakin bulat agar tidak kesulitan lagi. "Udah Sher?" tanya Axel padaku, melalui kaca spion. Aku mengangguk cepat. Motorpun mulai melaju dengan kecepatan rendah, hingga perlahan-lahan melesat di jalanan yang mulai renggang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD