Shera Fuji Lesmana
Beberapa saat sudah berlalu. Kulitku pasti telah menggosong sekarang. Teriknya matahari yang tak terhalang apapun, langsung menerpa tubuh. Entah sudah berapa lama Axel melajukan kendaraan. Mengitari Kota dari ujung ke ujung. Awalnya aku santai saja. Membiarkan angin berhembus di sekitar, meski suara bising dari kendaraan lain, memekakan telinga dari sisi kanan dan kiri.
Namun jika terlalu lama seperti ... sebenarnya apa sih yang sedang Axel cari? Aku baru tersadar setelah pria yang memboncengku ini kembali mengitari tempat yang sudah kami lewati. Maksudnya untuk mengajakku "jalan" hari ini adalah benar-benar jalan. Yup ... itulah kenapa sampai saat ini kami masih tetap ada di jalanan.
Astaga kok bisa-bisanya cowok yang mirip oppa oppa Korea ini mengecewakan. Padahal di Drama Korea yang biasa kulihat, pria-pria Korea itu manis, romantis, dan memiliki kharisma tersendiri. Ya ... namanya juga Oppa gadungan.
Agaknya, sekarang aku harus menghentikan Axel, sebelum aku mati kelaparan. Dia mengajakku jalan, tapi lupa memberi makan. Atau sekalian saja ku ajarkan agar dia menjadi pria yang nggak membosankan lagi. Aku menepuk-nepuk bahu pria dihadapanku, lalu memintanya untuk minggir.
Setelah mesin motornya mati, lagi-lagi dengan susah payah aku berusaha turun. Astaga ... entah kenapa aku selalu dikenalkan pada pria-pria bermotor tinggi yang menyusahkan. Kapan aku bisa memiliki helikopter sendiri.
"Axel ... ini gue udah capek. Sebenernya kita mau kemana. Gue perhatiin, kayanya kita cuma muterin jalan aja ya!" gerutuku.
"Ya kan tadi gue udah bilang. Gue mau ngajak lo jalan. Ya ini, kita jalan," jawabnya dengan santai. Jadi dugaanku benar, yang dia maksud dengan jalan itu, benar-benar berkeliling.
"Ini namanya bukan jalan Xel. Ini namanya ngabisin bensin. Kalau jalan itu ya jalan ... kaki digerakin!" kataku dengan kesal.
"Ohhh ... lo pengen jalan kaki. Ya udah, kita ke Cafe dulu aja kalau gitu. Taro motor, terus jalan kaki!"
Tanganku reflek saja menepuk dahi dengan keras. Ini dia tidak serius kan? Dia tidak benar-benar sebodoh ini kan?
"Bentar deh ... apa lo dulu juga kaya gini sama si Mawar-mawar itu?" selidikku. Dan Axel mengangguk.
Bagaimana ini, semua terdengar konyol. Aku merasa kesal tapi ingin tertawa secara bersamaan. Dia ini owner Cafe loh. Apa dia tidak pernah melihat orang pacaran di Cafenya. Jadi apa aku harus mengajari si Axel ini cara memperlakukan cewek dengan benar. Atau setidaknya, mengingatkan kalau nyawa yang dia ajak jalan ini, butuh asupan energi juga? Tapi aku memang benar-benar lapar sekarang.
Setelah menghela nafas dengan berat, aku memperhatikan keadaan sekitar. Tak jauh dari tempatku berdiri ada warung pecel ayam kaki lima. Perut ini sudah tidak bisa di kondisikan lagi. Terlalu banyak makan angin bukannya membuat kenyang, justru semakin lapar.
"Oke, oke. Kita lupain dulu semua ini. Paling nggak, lo ini manusia normal kan. Lo pasti laper juga kan? Kita makan dulu disana!" tunjukku pada warung pecel lele pinggir jalan.
"Mau makan disana? Yakin nggak mau ke tempat lain. Kita makan di Cafe gue aja ya!" pintanya.
"Bukannya nggak mau. Tapi kelamaan. Gue keburu laper parah ini!"
"Ya udah ayo naek lagi kita kesana."
"Ngapain? Deket gitu kok. Gue jalan aja, lo ngikutin oke!"
Entah apa yang dikatakan oleh Axel kemudian. Karena aku bergegas jalan tanpa peduli protesnya. Hanya beberapa meter saja, terhalang sekitar 3buah bangunan. Dan aku masih harus kesulitan untuk menaiki motornya yang tinggi. Ah ... tidak, lebih aman jalan kaki. Sehat, sekalian olahraga juga. Membuang 10 persen lemak, lalu menambah lemak lagi begitu sampai di Warung Pecel Ayam yang dituju.
Padahal dia bisa saja sampai lebih cepat menggunakan motornya. Tapi Axel lebih memilih mengikutiku, yang jalannya lambat bagaikan kura-kura. Bahkan sengaja ku pelan-pelankan langkah kaki ini hanya untuk melihat reaksinya. Dan dia benar-benar tidak berani mendahului langkahku.
Setelah memarkirkan motornya, Axel menghampiriku yang sedang berdiri di dekat abang penjual makanan, atau lebih tepatnya gerobag pecel ayam. Auranya bener-bener berbeda saat dia datang. Kehadirannya yang bak wisatawan luar negeri ini sangat mencolok.
"Lo mau pesen apa? Gue udah pesen nasi pecel ayam. Kalau lo?"
"Emang ada apa aja?"
"Banyak! Pecel Ayam, Pecel Lele, Nasi Goreng, Mie Goreng, Bihun Goreng, Seafood, Sam ..."
"Samain aja lah. Ribet!"
Aku susah payah menjelaskan dan dia malah meminta menu yang sama. Setelah selesai memesan menu kami memilih untuk duduk lesehan pada tikar pinggir jalan. Hari sudah lumayan sore. Dan kampretnya, beberapa jam waktu yang seharusnya kugunakan untuk istirahat, terbuang percuma hanya karena si pangeran ini mengajakku makan angin. Ironis sekali.
Axel tampak mengelilingkan pandangannya ke segala arah. Ya ampun, jangan bilang kalau dia bahkan nggak pernah makan dipinggir jalan. Itu mustahil! Kenapa si Axel ini berbeda sekali dengan Axel yang malam itu ku kenal.
"Lo kenapa sih? Aneh gitu. Jangan bilang kalau lo belom pernah makan dipinggir jalan kaya gini!" tegasku.
"Hah ... maksud lo?"
Aku menatapnya tajam sembari melipat kedua tangan diatas meja.
"Lo nggak usah gaya-gayaan alergi sama makanan pinggir jalan, kalau belom bisa bawa mobil sport sekelas artist kaya Raffi Ahmad. Atau minimal ... kaya pejabat-pejabat anggota DPR itu lah ..." ujarku seraya menaik turunkan alis.
"Pffttt, jadi lo maunya di jemput mobil?" ledek Axel.
"Ya ... siapa juga yang mau nolak? Hidup mah realistis aja. Tapi ... seriusan! Lo belom pernah makan dipinggir jalan kaya gini. Wah ... anak sultan dari mana lo?"
Axel tampak terkekeh kecil sembari menutupi mulutnya. Benar-benar cara tertawa yang kemayu dan sopan. Tidak sepertiku yang akan nyablak sepuasnya, saat ada sesuatu yang lucu.
"Gue nggak separah itu juga kali Sher!"
"Terus ..."
"Ya ... gue bukannya nggak pernah, cuma udah lama aja nggak makan di tempat kaya gini. Hubungan sama Mawar itu, seleranya lumayan agak susah ditebak. Dia mana mau gue ajak makan di tempat kaya gini. Jadi ... berasa aneh aja."
Sialan ... apa secara tidak langsung aku ini sedang merendahkan diri karena selera makanku dan si Mawar itu berbeda. Tapi mungkin disitulah salah satu letak kecocokannya dengan Tama. Mawar mungkin butuh sosok romantis yang bisa memanjakannya baik secara batin, fisik, juga materi.
Tama adalah sosok yang akan memanjakan wanitanya. Aku tahu itu, karena dia juga memanjakanku. Hatiku sakit mengingat semua tentangnya. Tapi sekarang aku sudah bisa meredam emosi. Bahkan tak ada keinginan untuk menangis lagi. Padahal, baru tadi malam lagi-lagi aku larut dalam kesedihan.
Apa karena dia? Apa karena ada laki-laki aneh yang saat ini berada didalam posisi yang sama denganku?