Shera Fuji Lesmana
Aku tidak mengerti kemana arah tujuan obrolan kami. Tapi yang jelas, tak lama kemudian pesanan ku dan Axel datang juga. Lebih cepat dari perkiraan, karena yang makan, juga tidak terlalu ramai hari ini. Nasi Pecel Ayam dan teh tawar panas. Air liurku hampir menetes saking laparnya. Setelah mencelupkan tangan pada air cuci tangan didalam mangkuk kecil. Tanganku sudah bersiap untuk meraih Makanan didepan mata. Akan tetapi, Axel dengan tidak berperikemanusiaannya malah menarik piring yang terbuat dari rotan di hadapanku.
Sontak saja aku terkejut dan kesal secara bersamaan. Apa-apaan orang ini?
"Eh ... lo ngapain sih? Balikin itu piring gue!"
"Ini kenapa punya lo ayamnya tiga? Kok gue cuma satu?"
"Ya lo kan pesennya cuma satu Xel. Kalau gue mana cukup makan satu!" ujarku jujur.
Itu adalah kebiasaan yang tidak akan bisa dihilangkan. Aku biasa memesan satu porsi nasi dengan lebih dari satu lauk untuk menemaninya. Rasanya ... kaya kurang puas aja jika hanya menghabiskan satu, apalagi kalau perut sudah kenyang, tapi mulut masih ingin mengunyah.
Khusus untuk tempat ini, harga makanan yang dijual memang murah meriah banget. Porsi nasinya juga lumayan besar, tapi lauknya kecil. Jadi sengaja ku pesan tiga sekalian. Kenapa aku tahu? Ya ... anak perantauan yang uang bulanannya pas-pasan wajib tahu tempat-tempat makan seperti ini.
"Ihh nggak mau ah. Ya udah, gue ambil satu. Biar sama! Adil kan ...?"
Dengan teganya Axel tersenyum puas. Mengambil sepotong Ayam Goreng dari piring rotan milikku. Lalu mengembalikan sisanya yang tinggal 2 potong. Aku menatapnya sinis dengan penuh dendam sementara Axel kini mulai makan dan dalam jarak waktu yang tidak lama, pasti bakalan lahap banget. Sialan!
"Jangan bengong gitu. Mau gue ambil lagi ayamnya yang lain? Biar cuma nyisa satu?"
Aku buru-buru menarik piringku untuk menjauh, sebelum ayam-ayamku menghilang, kemudian makan tanpa memberi komentar lain lagi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aku sibuk makan sembari sesekali melirik pada Axel yang makan lebih lahap dari ku. Sebentar! Ini yang lapar sebenernya aku apa dia sih?Kenapa dia jadi seperti orang aneh yang sudah nggak makan selama tiga hari. Dengan penampilannya yang seperti ini, ku pikir cara makanku akan lebih bringas. Secara dia owner Cafe ganteng, yang pastinya makan-makanan enak setiap hari. Memang ya ... kita tidak bisa menilai sesuatu dari hanya penampilan semata.
Sadar dengan perhatian yang sangat jelas tertuju padanya, Axel berhenti makan dan membalas tatapanku.
"Ini mau makan atau mau adu tatap-tatapan mata? Kalau iya, gue ngaku kalah deh," ucapanya sambil mengangkat tangan. Layaknya seorang buronan yang mengaku kalah. Jelas dia akan kalah, wong matanya sipit begitu. Ku tiup sedikit pasti langsung merem. Tapi bukan itu tujuanku. Aku tak menjawab kemudian kembali makan. Sembari mengerdikan bahu terlebih dahulu. Ku pikir Axel akan kembali bicara. Akan tetapi, dia agaknya tidak mau ambil pusing. Kemudian makan lagi dengan lahap.
Sudahlah, aku juga harus fokus mengisi perut. Tapi, lagi-lagi sesuatu pada dirinya, membuatku tercengang. Jadi ... dipinggir piringnya, ada sisa kulit ayam goreng yang terpisah dari dagingnya. Aku sebagai penggemar berat dunia berlemak dan kulit ayam, tentu saja tergoda dan penasaran.
"Eh ... itu kenapa kulit ayamnya lo pisahin, kaya gitu?"
"Oh ini. Gue nggak suka kulit ayam. Ya ... jadi gue pisahin!"
What ... kok bisa? Kenapa bisa ada orang yang nggak suka sama kulit ayam. Apalagi yang digoreng kering dan berbumbu. Itu enak banget, sepertinya masa kecil Axel ini kurang bahagia ya? Aku dan Adrian adalah penggemar kulit ayam. Apalagi kulit ayam goreng yang crispy dan garing. Kadang kami berdua sampai ribut hanya karena salah satu dari kami tidak ada yang mau mengalah perihal kulit ayam.
"Terus abis dipisahin niatnya mau apa?"
"Namanya orang nggak suka, ya dibuang. Masa dimakan?"
"Ish jangan!" Tidak ... aku tidak rela makanan selezat itu akhirnya harus gugur di medan perang. Axel menatapku heran.
"Ini buat gue aja!" ujarku sembari memajukan tangan, berniat untuk segera menyelamatkan kulit ayam goreng itu. Tapi tanganku kalah cepat. Axel menggeser piringnya.
"Apaan sih! Kan udah gue bilang, ini mau dibuang!"
"Jangan ihhh. Mubazir sini buat gue aja!"
"Nggak boleh! Mau gue buang."
"Jangan!"
"Buang!"
"Jangan!"
"Jangan"
"Buang! Eh ...!" Aku terjebak dalam pancingannya. Aahh ... sudahlah. Aku baru tahu kalau ada orang kaya yang begitu pelit, hanya karena kulit ayam. Axel mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban atas kekalahan.
"Aaahhh ... ya udah ya udah. Buang aja!" gerutuku. Ku pikir dia akan merasa menang. Tapi kemudian terdengar suara tawa melengking, yang membuat semua orang yang berada di sekitar kami menoleh.
"Ha-ha-ha astaga Sher ... Sher. Ha-ha-ha!"
Ada apa dengan Axel? Apa sekarang dia jadi gila. Namun kemudian, Axel memberikan kulit ayam bahan rebutan kami, lengkap bersama sepotong ayam goreng yang telah ia curi. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Antara aneh, senang dan juga kenapa ya?
"Kenapa? Bukannya tadi lo ngeributin ini. Sekarang giliran gue kasih malah bengong. Heran gue!" tanggap Axel kemudian.
"Ya lo nya yang aneh!"
Axel mencuci tangannya pada air di dalam mangkuk kecil. Kemudian meminum teh tawar panas yang kini sudah tak panas lagi, hingga tandas. Sembari mengeringkan tangan menggunakan tisue, pria cantik ini berkata ...
"Udah lama banget gue nggak makan dengan perasaan yang ya ... seseneng ini," sahutnya.
"Makan itu tujuannya buat bikin kenyang!" sahutku. Kemudian kembali makan.
"Lo tahu nggak? Gue kalau makan sama Mawar itu, lebih banyak diem. Atau kadang, kita bakal sama-sama sibuk maen hp. Tapi sama lo! Kulit ayam aja jadi masalah. Ha-ha-ha. Udah deh, jangan dengerin gue. Sekarang buruan abisin makannya. Dan ... kulit ayamnya juga sebelum gue buang. Itu sekalian gue balikin ayamnya. Nggak niat-niat banget gue makan sih itu ayam. Gue cuma lagi ngegodain lo aja!" jelas Axel.
Ya ... apapun yang dia katakan barusan, lebih terdengar seperti pidato panjang lebar. Tak begitu kutanggapi, tapi ada sedikit hal yang bisa ku tangkap dari sana. Hubungan Axel ini dingin! Tapi dia adalah tipe laki-laki setia yang sepertinya meskipun tidak cinta, dia akan tetap mempertahankan hubungannya.
Bisakah aku sedikit memberikan rasa kagum pada orang ini. Heh ... aneh juga. Sepertinya, saat bersama dengan Tama, aku tidak pernah membuka pikiran untuk orang lain. Atau hanya karena ruang lingkupku yang terlalu sempit. Aku merasa sudah mendapatkan sesuatu yang sempurna, hingga lupa, bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Dan dengan segala cerita juga hal yang ku alami hari ini, aku bisa melihat sebuah fakta baru.
Mawar itu, mungkin pacar pertamanya!