Adrian Maulana
Petang menjelang malam aku dan Nadia sampai di salah satu Cafe yang cukup Hitz di Jakarta. Dengan Live Musik yang oke punya. Agak sedikit gelap disini. Entah karena mereka menyongsong tema warung remang-remang? Atau hanya agar terkesan lebih misterius? Namun jawaban pastinya adalah ternyata ...
"Sayang ... kamu nggak mau buka kacamatanya?" ujar Nadia. Pantas saja, saat aku protes dengan keadaan lampu yang kurang terang ini Nadia malah senyum-senyum sendiri.
"Heeeuuhh bukannya bilang sih dari tadi!" sahutku sembari melepaskan benda itu, lalu mengaitkannya pada kantung kemeja bagian d**a. Masuk beberapa langkah, kehadiran kami mendapat sambutan dengan beberapa lambaian tangan dari teman-teman Nadia. Aku mengenal beberapa diantaranya, seperti Vina mungkin. Karena dia juga satu kampus dengan kami. Selebihnya, entahlah. Mungkin masih satu kampus juga. Tapi aku malas memperhatikan.
Sembari mengapit lenganku dengan protektif, kami berjalan mendekati meja. Tidak perduli bagaimana sulitnya aku berjalan, Nadia tetap saja nempel. Hingga kami sampai, dan si pemilik acara yang sedang berulang tahun berdiri. Barulah setelah itu, Nadia melepaskan lenganku dan beralih dengan memeluk kawannya. Yang jika saja Nadia tahu bagaimana kelakuan aslinya, dia tidak mungkin hadir disini.
Percaya nggak? Jika Vina pernah menjelek-jelekan Nadia, hanya agar kami putus, lalu dia bisa jadian denganku?
Apa ... tidak? Ya ... aku juga hampir tak percaya. Tapi itulah kenyataan. Tidak, tidak, ini bukan salah mereka. Salahku, karena terlahir begitu menarik, hingga semua orang ingin mendapatkan hatiku. Benarkan?
"Happy Birthday Vina sayang!" ucap Nadia sembari memeluk kawannya.
"Makasih Nad ... udah mau dateng. Astaga, lo lama banget sih! Gue udah pengen banget tiup lilin dari tadi ini. Kalian dari mana dulu sih? Kan gue udah bilang jangan sampe telat!" cecar Vina. Matanya melirik ke arahku. Seolah ingin mengintimidasi. Atau menyalahkan kehadiran Nadia yang terlambat karena ulahku.
"What?" tanyaku semberi mengerdikan bahu, tapi seluruh pemirsa yang beranggotakan kawan dari pacarku ini, memang benar-benar bermaksud menyalahkan rupanya.
"Ohh s**t! Jangan bilang lo semua mau nyalahin gue. Temen kalian yang namanya Nadia ini, sampe hampir pingsan cuma karena bingung nyariin kado. Takut yang punya acara nggak suka sama bawaannya!" jelasku.
Nah ... kurang baik apalagi aku sebagai pacar. Nadia menemukan hadiah Vina tak kurang dari 10 menit di dalam toko. Tapi dia sudah menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk menentukan warna baju hijau dan putih, kemudian membungkus yang hitam.
Nadia tersenyum menggelikan padaku, juga pada Vina terlebih pada semua orang. Benar-benar to*lol orang-orang ini. Mau saja ditipu oleh Nadia
Tidak ada yang special dalam acara ini. Vina hanya mengundang kami untuk makan dalam rangka menghabiskan isi dompetnya. Aku bukannya tidak bisa menjadi mesin ATM untuk mereka. Tapi sesekali menjadi pihak yang dimanjakan, sepertinya menyenangkan juga.
Kecuali jika bersama Shera. Setiap kali gajihan, atau saat dia mendapatkan bayaran lebih karena berhasil mengerjakan tugas dari kawan-kawannya, dia akan mencariku. Dia tidak mengajakku makan di Restaurant mewah, atau Cafe-Cafe asyik seperti ini.
Dia akan mentraktirku makan eskrim di taman, makan di warteg pinggir jalan, atau sekedar membeli batagor dan bakso di kantin. Receh memang ... tapi dari situpun aku bisa tahu. Jika Shera menjadi orang kaya nantinya, dia tidak akan melupakanku.
Namun aku selalu merasa sungkan. Aku tak enak hati dan merasa serba salah. Gajinya yang nggak seberapa itu, malah ia gunakan untuk menyenangkan hatiku. Tapi jika ku tolak, Shera akan marah, dan mengira aku tidak menghargainya. Atau dia akan merasa dikucilkan karena traktirannya bahkan sama sekali tak sebanding dengan sewa kamar miliknya yang ku bayarkan setiap bulan. Baiklah, tidak selalu tiap bulan. Hanya terkadang saja. Karena Shera lebih banyak menolaknya dari pada menerima.
Sementara yang lain sibuk ngobrol, aku mengajak salah satu pacar dari kawan Nadia, untuk duduk di meja lain. Selesai makan, rasanya ada yang kurang jika tidak menghisap asap rokok. Seperti ada zat asam yang membuat bibir dan lidah ini kelu.
Awalnya aku hanya duduk berdua saja dengan kekasih dari Vina, tapi kemudian pria lain ikut menghampiri kami. Ya ... sepertinya pemikiran mereka sama denganku. Terlalu lama menghabiskan waktu bersama gerombolan perempuan, bisa membuat hati dan jantung stress berkepanjangan. Apalagi jika mereka sudah meminta hal yang aneh-aneh.
Kadang aku juga heran. Baik menurutku, atau bahkan menurut laki-laki lain, cewek adalah makhluk paling ribet yang susah ditebak. Otak mereka penuh dengan keajaiban yang bahkan kadang di luar nalar. Tapi kami tetap tidak bisa meninggalkan mereka. Bahkan kami kesulitan untuk menolak apapun permintaan mereka, yang selagi masih mampu pastinya, meskipun kadang tak masuk akal.
Kami disini menikmati alunan suara gitar akustik dengan nyanyian yang lumayan memanjakan pendengeran. Vokalis Band yang saat ini sedang berada di atas panggung, rupanya memiliki suara yang merdu juga. Aku, Tio dan Ricky, harusnya juga seperti itu.
Aku ingin bisa bernyanyi di depan banyak orang. Memiliki konser kecil pribadi sebagai sebuah awal yang baik. Tapi kesibukan sebagai anak kuliah, akan membuat kami kesulitan dalam membagi waktu.
Obrolan basi seputar kuliah dimana, pekerjaan, hobi dan lain-lain menemani aku dan para pria di meja ini untuk menghabiskan waktu. Sementara para cewek sedang asyik berceloteh dan sibuk mengambil gambar.
Aku mulai lelah, dan ingin segera enyah dari sini. Bagaimanapun juga, ini bukan wilayahku. Maksudnya aku tidak terlalu mengenal orang-orang disini. Bukannya ingin sombong ... tapi terlalu lama bersama dengan orang-orang yang tidak sefrekuensi denganmu, akan membuat semuanya terasa jenuh.
Tapi aku juga tidak tahu harus pergi kemana? Jadwal latihan band sudah terlanjur dimundurkan menjadi malam. Baik Tio maupun Ricky belum ada yang memberiku kabar, apakah mereka sudah sampai di studio atau belum.
Sedangkan Shera ... entah dia sudah di Hotel? Atau masih dengan pria itu. Ah ... aku bahkan nggak tahu siapa namanya. Apa mereka ini cuma teman, atau ada hubungan lebih lagi? Entahlah ... aku juga tidak ingin di pusingkan dengan itu.
Lalu bagaimana, apa aku pulang saja. Tapi dikamar, aku mungkin hanya akan tidur. Dan jika sudah tidur, pasti akan kebablasan. Jika sudah kebablasan, Ricky dan lebih parah lagi Tio, pasti akan ngamuk karena aku mangkir dari jadwal latihan.
Sepertinya, aku juga harus menciptakan kesenanganku sendiri disini. Jadi ... setelah mematikan rokok dan membuang pintungnya di asbak, aku melangkah perlahan menuju panggung kecil tepat di depan meja. Setelah sampai di atas panggung, aku menunggu hingga lagu yang dinyanyikan selesai.
Lirikan Nadia dan kawan-kawannya, tampak jelas dari sini. Pacarku sedang berbisik-bisik dengan kawannya. Kemudian wajahnya berubah memerah. Aku tahu yang mereka pikirkan. Salah satunya, pasti mengira aku akan bernyanyi untuk Nadia. Hah ... sayang sekali. Aku berdiri disini, hanya untuk menghilangkan rasa jenuh.
Setelah lagu selesai, aku bicara pada salah satu dari mereka dan mengutarakan niatku. Semuanya lancar, mereka tidak menghalangi, bahkan memberikanku tempat dengan senang hati.
Aku duduk di atas kursi sembari memegang gitar. Melihat lurus ke depan. Disini tidak terlalu ramai. Saat aku dan kawan-kawan tampil di acara kampus nanti, suasanya pasti akan berbeda dan lebih meriah.
Aku memejamkan mata, memikirkan lagu apa yang harus ku nyanyakikan. Lagu dari Band Zigas dengan judul Kenanglah, tiba-tiba saja terlintas dalam otakku. Saat petikan demi petikan senar gitar mulai terdengar maka dengan senang hati aku mulai melantunkan bait demi bait lirik lagu melow yang rapuh.
Ku terlelap dalam rasa
Dalamnya apapun kian terasa
Air mata dan kepedihan hati
Mengisi hari-hariku tanpamu
Cinta yang ku puja entah kemana
Ku harus relakan
Dan bila cintamu tlah menghilang kenanglah aku ...
Sial, kenapa ini lagu malah berasa bikin baper!