Adrian Maulana
Aku memejamkan mata, tatkala melantunkan kata demi kata yang tersirat dalam bait lagu ini. Nama Shera muncul berikut dengan wajahnya di dalam benakku. Bukan tanpa sebab, namanya tiba-tiba saja muncul.
Kala itu ... belum ada Band yang terbentuk dariku, Tio dan Ricky. Tapi aku cukup sering menghabiskan waktu sendirian di studio. Sekedar bernyanyi-nyanyi sendiri sembari memainkan gitar. Lagu ini ku kunyanyikan begitu Shera akhirnya menjalin hubungan dengan Tama.
Aku tidak merasa cemburu, aku juga tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaan Shera saat itu. Tapi hari-hariku yang sudah terlalu terbiasa bersamanya tiba-tiba saja digantikan oleh orang lain. Rasanya sedikit agak hampa. Dan itu bertahan dalam beberapa tahun ini, karena Shera sudah dibutakan oleh cinta.
Dan saat ini, mendengar dirinya telah berpisah. Ada rasa sedih sekaligus senang di dalam hatiku. Setidaknya, kini kedua matanya terbuka. Dan beruntunglah, pria itu malah menjadikan wanita lain sebagai korbannya. Bukannya Shera.
Jiwa yang amat berduka
Terderai tetes air mata
Mencoba tuk mengenang cintamu
Sampai kapan pun kan selalu ...
Cinta ...
Cinta? Benarkah? Kurasa tidak. Ku tegaskan sekali lagi. Aku tidak mencintai dan tidak akan pernah mencintai Shera. Mungkin untuk selamanya, kami hanya akan bisa menjadi sepasang sahabat. Hingga dia menemukan jodohnya, dan begitu pula denganku.
Suara tepuk tangan menyertai langkahku yang baru saja selesai bernyanyi, dan turun panggung. Nadia langsung berlari dan membaur begitu saja dalam pelukanku.
"Kamu keren banget sih sayang!" ujarnya. Kemana saja dia? Apa baru sadar kalau pacarnya ini memang keren.
"Aku nggak nyangka banget. Kamu malah bikin kejutan buat aku di hari ulang tahunnya Vina. Anak-anak pasti ngiri banget karena mereka nggak punya pacar yang se sweat dan sekeren kamu," bisiknya panjang lebar di telingaku dan hampir tanpa jeda.
Tapi anehnya aku malah sama sekali tidak merasa senang. Its oke, dia bangga padaku, its oke, di matanya aku keren. Dan mungkin hanya sebatas itu. Seolah jika aku tidak berdiri sebagai Adrian, dan jika aku kehilangan segalanya, maka Nadia tidak akan mau menerima kenyataan. Aku seperti sebuah barang yang ia pamerkan, dan hanya akan ia pertontonkan saat yang lain tidak memilikinya. Ini bukan hubungan timbal balik yang ku inginkan.
"Thanks, sayang." Nadia tampak tersenyum bahagia. Atau lebih tepatnya tersenyum dengan kepala besar dihadapan kawan-kawannya. Kami kembali ke meja dan berkumpul. Semua orang pasti mengira aku bernyanyi untuk gadis itu. Padahal kan ...
"Sayang ... hpmu bunyi tuh ..."
"Hah .. apa?"
"Hp kamu bunyi ..."
Aku merogoh saku celana dan merasakan getaran pada ponsel juga suara nada dering. Bisa-bisanya di tengah keramaian ini, aku tidak sadar. Tapi justru itu masalahnya. Karena ramai, aku jadi tidak sadar saat ponsel ini berbunyi.
Nama Shera muncul pada layar, membuatku agak heran. Tumben dia menelpon di jam kerja seperti ini. Ya ... seharusnya dia sudah mulai bekerja sekarang. Baru saja aku akan mengangkat telponnya, Nadia tiba-tiba saja merebut ponselku.
"Nadia ....!" sentakku. Ia memasukkan ponselku ke dalam bra yang menutupi buah dadanya.
Sial! Aku tidak akan bisa dengan mudah mengambil ponsel itu. Aku bukannya belum pernah menyentuh apalagi menikmati tubuhnya yang indah. Tapi disini! Saat ini! Diantara orang-orang juga kawan-kawannya, jika ku paksa untuk masuk dan merogoh benda kenyal itu hanya untuk mengambil ponsel, maka tamatlah sudah. Semua orang akan membuatku seperti pelaku pelecehan seksual.
"Nih ... ambil kalau kamu mau ..."
Nadia membusungkan dadanya dan benar benar menantangku. Sial sekali!
"Kamu keterlaluan Nad ... mau kamu itu apa sih?" keluhku.
Aku mungkin bukan orang baik, aku juga pemain wanita. Tapi aku tidak akan pernah mengumbar pertengkaran di hadapan orang lain. Jadi sebisa mungkin, selalu ku tekan nada bicaraku agar tidak menarik perhatian.
"Simple ... ini acara kita. Soo ... aku nggak mau kamu memperhatikan orang lain, selain aku."
"Kamu jangan kekanak-kanakan Nad. Gimana bisa aku nggak merhatiin kamu. Disini yang ku kenal hanya kamu, dan pacar aku itu ya kamu. Nggak mungkin aku malah merhatiin Vina."
"Kamu tahu jelas apa maksudku Ian. Sekarang berhenti bikin malu. Bersikap sewajarnya. Setelah ini, baru aku kasih hpnya ke kamu."
Dengan secepat kilat, wajah seriusnya kini kembali ceria. Ia bergabung lagi dalam obrolan semua orang. Sementara aku masih sibuk memikirkan, kenapa Shera menelponku. Apa ada yang penting? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Ini tidak benar! Otak dan hatiku tidak akan menemukan ketenangan disini, jika tidak ada kepastian dari Shera.
"Ikut aku sekarang!" bisikku pada Nadia sembari menarik tangannya. Aku tidak perduli lagi dengan tatapan semua orang. Yang jelas, kami harus menjauh terlebih dahulu dari kerumunan orang-orang ini.
Jadi ku bawa Nadia ke depan toilet yang untungnya saja sangat bersih dan nyaman. Raut wajah Nadia sudah jelas menandakan kemarahan. Sedangkan aku? Masa bodoh! Aku hanya perlu ponsel itu. Salahnya sendiri karena telah merebut privasi bahkan sebelum aku menjawab panggilan dari Shera. Aku mengasongkan tangan terbuka, memberikan isyarat, agar dia mengembalikan ponselku.
"No ..." jawabnya sembari memalingkan wajah.
"Jangan nguji kesabaranku Nad. Apa ini pantas? Aku cuma mau jawab telpon dari Shera ...
"Shera, Shera, Shera, Shera ... Sheraaaaaaa terus. Adrian! Pacar kamu itu Shera atau aku sih. Aku udah bosen ya, kamu selalu lebih mentingin cewek itu daripada aku. Pacar kamu sendiri!"
Akhirnya, hal ini terjadi lagi. Sudah kuduga ini akan terjadi.
"Nad ... aku sudah bilang kan. Saat kamu memutuskan untuk mau jadi pacarku, itu artinya ... kamu juga harus menerima keberadaan Shera. Dia itu sahabatku! Dan selamanya akan begitu!"
"Nggak ada sahabat seperti yang kamu dan Shera sebutkan itu, Yan!"
Pertengkaran ini nggak akan ada habisnya, dan ponselku juga tidak akan kembali dengan cara seperti ini. Saat emosi, bertemu dengan emosi, maka hasilnya pasti akan buruk. Lebih baik aku mengalah dulu. Untuk saat ini saja.
Aku bisa saja meninggalkan ponselku, lalu meninggalkan Nadia disini dan pergi mencari Shera. Hanya kehilangan satu ponsel tak akan masalah. Tapi aku tidak tahu Shera ada dimana? Masalahnya adalah aku harus memastikan dulu keberadaan Shera.
"Oke ... aku minta maaf. Aku nggak bermaksud buat nyakitin kamu. Tapi aku cuma perlu hubungin dia sebentar aja. Kamu tahu kan? Aku dan Shera berasal dari tempat yang sama. Aku takut ada hal yang penting. Aku juga udah pernah cerita kan sama kamu, kalau orang tuaku selalu titip pesan melalui Shera."
Aku berusaha selembut mungkin, memberikan penjelasan pada Nadia. Tatapannya yang semula berapi-api, kini juga mulai meredup.
"Aku janji nggak akan kemana-mana. Aku cuma butuh hp-ku. Aku akan telpon Shera di depan kamu juga, supaya kamu nggak perlu salah paham. Gimana? Adil kan?"
Nadia melirik dalam nada keraguan. Dalam hati, aku ingin memberontak. Menghantamkan kepalanya ke dinding, agar semua cepat selesai. Tapi sayang sekali. Aku mencintai kebebasan dan penjara bukanlah tempat yang bagus untuk berbagi cinta dengan kebebasan.
"Ya udah," katanya, sembari merogoh baju dan mengeluarkan ponselku. Syukurlah, benda itu tidak retak, meski telah diapit oleh dua buah gunung.
"Tapi janji ya ... kamu telpon disini di depan aku. Aku mau tahu, apa yang kalian omongin!" ingatnya lagi.
Aku mengangguk cepat, dan menemukan ada tiga panggilan tak terjawab darinya. Ku coba untuk menghubunginya lagi, tapi tak juga diangkat. Ini semakin membuatku bingung. Sebenarnya Shera kenapa sih?