Bab 17. Adrian 8

1097 Words
Adrian Maulana Kenapa lama sekali tak ada jawaban? Apa Shera marah padaku karena terlalu lama mendiamkan telponnya. Tapi bagaimana jika masih ada alasan lain. Bagaimana kalau dia bukan marah. Kalau hanya marah, aku masih bisa menyogoknya dengan hal lain. Namun jika gadis itu berada dalam bahaya, apa yang akan aku katakan pada Ibu dan Ayahnya nanti di Semarang. "Sayang ... udah belom? Lama banget sih!" Nadia mulai menggerutu. Aku ingin menyumpal mulutnya. Mengingatkan padanya kalau semua ini terjadi karena dia. Jika saja dia tidak dengan semena-mena mengambil ponselku, maka aku tidak akan sepanik ini. "Sayang ... ihhh kamu kok cuek lagi!" keluhnya lagi dengan manja. "Bentar donk Nad. Ini semua kan juga gara-gara kamu. Coba aja tadi kamu nggak ambil hp sembarangan. Semua nggak akan jadi kaya gini." Kali ini gadis itu diam. Mungkin dia sadar akan kesalahannya. Dan untuk terakhir kalinya, aku kembali menelpon nomor Shera. Setelah beberapa detik ada suara yang terdengar. Awalnya aku lega, karena akhirnya Shera mengangkat telpon. Tapi ... kenapa seperti ada yang berbeda. "Sher ... Shera? Kamu baik-baik aja Sher?" "A ... Adri ... Adrian ... hiks ... hiks." Tunggu sebentar. Apa aku tidak salah dengar? Baru saja, itu terdengar seperti suara Shera, suara Shera yang sedang menangis. "Sher ... Shera kamu nangis Sher? Kamu kenapa hah? Dimana kamu sekarang? Cepet jawab aku! Kamu dimana?" sentakku. Tapi Shera membuatku semakin gemas, karena dia malah diam dan tidak buru buru menjawab. Kini yang terdengar hanya suara isak tangisnya yang memuakkan. "Aku ... aku sekarang ada di kamar. Aku ... ada di kosant." "Kamu jangan kemana-mana. Tunggu aku disitu. Aku bakal dateng kesana sekarang!" tegasku. "Apa! Adrian kamu bercanda kan?" ujar Nadia begitu saja. Haisshh ... aku hampir saja lupa kalau disampingku masih ada gadis itu. "Yan, apa kamu lagi sama Nadia?" tanya Shera. Baiklah, dia pasti sudah mendengar suara pacarku. Lagipula, apa yang bisa di sembunyikan? "Iya Sher," jawabku. "Yan ... kamu nggak bisa ninggalin aku gitu aja cuma buat Shera!" sentak Nadia. "Ehm ... Ya ... Yan ... maaf. Aku ngehubungin kamu di saat yang nggak tepat. Nanti ku telpon lagi!" "Loh ... Sher ... Shera." Aku menghela nafas panjang, begitu menyadari, kalau teriakanku sudah tak berguna dan Shera sudah menutup telponnya. Shera pasti telah mengalami sesuatu dan ingin menceritakannya padaku pada awalnya. Tapi mendengar suara Nadia, terlebih lagi, sentakannya, pastilah juga membuatnya merasa tak enak hati. Hati dan pikiranku justru semakin tidak tenang setelah menghubungi Shera. "Adrian ...! Kamu dengerin aku ngomong nggak sih dari tadi?" Kepalaku sudah pusing karena Nadia dan Shera bicara bersamaan tadi. Di tambah lagi gadis ini sekarang. Tapi Nadia tidak akan melepasku, sebelum mendapatkan penjelasan. "Sorry Nad. Aku harus pergi. Shera butuh aku sekarang," ujarku. "Terus kamu pikir, aku nggak butuh kamu? Kamu nggak boleh pergi gitu aja, Yan. Semua temen-temenku pasti bakal ngejek dan ..." "Karena itulah Nad. Karena itu aku nggak bisa ada disini. Shera butuh aku, dan ini bukan tempatku. Mereka itu teman-temanmu, dan bukan teman-temanku. Aku ada disini, hanya karena kamu Nad. Tapi kamu sekarang berbeda," tegasku sekali lagi. Ya ... Nadia memang berbeda. Semua hal yang dulunya membuatku jatuh cinta padanya, kini sudah tak bisa lagi ku temukan. Aku mulai tak nyaman dengan semua ini. Terlebih lagi, saat ia ternyata lebih mementingkan perasaan teman-temannya. Well aku memang egois. Saat ini, aku juga sedang berusaha untuk mementingkan kepentingan Shera.Tapi ini berbeda, sepertinya aku juga tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini. Aku sudah tak bisa lagi mengimbangi kenyataan kalau aku tidak mencintainya. Bukankah sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Juga ... akan tidak adil baginya, jika tetap bertahan dengan keegoisan yang ku miliki. "Kita buat ini jadi simple, Yan. Sekarang kamu tinggal pilih aja. Kamu pilih Shera? Atau aku," tuturnya. Baiklah, pertanyaan dari Nadia ini benar-benar membuka jalan. Memudahkanku untuk mengambil langkah selanjutnya. "Serius kamu nanya kaya gitu!" "Iya. Aku serius. Sangat-sangat serius. Aku minta sekarang kamu pilih. Kamu pilih aku atau Shera. Kalau kamu milih Shera, silahkan kamu pergi. Dan bawa juga hubungan kita. Yang artinya ... kamu akan kehilangan aku, Yan." Sungguh, Nadia memberikan sebuah pilihan yang sangat bagus. Tentu saja aku akan lebih memilih Shera. Nadia itu hanya orang baru di dalam hidupku. Kehadirannya yang meski berstatus pacar, tak akan bisa sebanding dengan Shera yang telah mengenalku bertahun-tahun. Aku bisa langsung saja memutuskan hubungan ini, agar tidak terselip drama memilukan di dalamnya. Akan tetapi, aku juga tidak ingin membuatnya seolah seperti permen karet sudah tak manis lagi, lalu di buang. Aku tidak mau, membuat seolah-olah dia adalah wanita tak berharga. Semua wanita yang pernah berhubungan dengan Adrian Maulana, pastilah istimewa. "Nggak bisakah kamu membuat pilihan lain? Ku pikir hubungan kita ini special Nad!" "Kamu pilih aku ... atau Shera?" ulangnya lagi. Sudah tidak ada waktu lagi. Shera pasti menungguku. Perdebatan ini hanya akan membuat segalanya jadi rumit. "Hubungan kita, harus berakhir disini Nad. Maafin aku," seruku. Kedua mata Nadia membulat dengan sempurna. Aku bisa melihat ekspresi keterkejutannya. Tapi mau bagaimana lagi? "Yan ... kamu bercanda kan?" tanya Nadia. "Maaf. Aku memang bukan laki-laki yang baik buat kamu Nad. Aku yakin, akan ada orang lain yang lebih baik. Yang bisa mengerti kamu. Lebih daripada aku. Dan maaf juga ... aku harus buru-buru!" Aku sudah membuat langkah pertama, tapi kedua tangan Nadia mencengkram lenganku. Otomatis saja, aku berhenti. "Yan ... jangan kaya gitu donk Yan. Maksud aku bukan gini!" Gawat, semakin lama aku disini, apalagi jika Nadia sampai menangis, maka akan semakin mengundang perhatian orang lain. "Nggak. Ini aturan mainnya. Aku sudah bilang kan dari awal. Kalau kamu mau jadi pacarku, kalau kamu bisa menerimaku, maka kamu juga harus bisa menerima Shera. Tapi sekarang terbuktikan? Kita nggak akan bisa hidup berdampingan kalau nggak sepaham. Maaf ... dan sekali lagi maaf," jelasku panjang lebar. Aku melepaskan cengkraman tangannya yang mulai melemah, kemudian pergi tanpa mendengarkan seruannya yang memanggil namaku. Tidak ada kesedihan, tapi bagaimanapun juga, kami pernah melewati saat-saat yang indah bersama. Jadi, hatiku sedikit merasa teriris. Hanya saja Shera lebih membuat pikiranku jadi berantakan. Dia menelponku sambil menangis. Padahal tadi siang, ku lihat wajah dan binar mata kebahagiaannya terpancar saat bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang bahkan aku nggak tahu siapa namanya. Tapi tunggu dulu. Shera pergi bersama laki-laki, sampai-sampai dia tidak pergi bekerja. Padahal gadis itu sangat rajin. Kemudian dia pulang dalam keadaan tertekan hingga menangis. Bukankah ini jadi tak masuk akal. Jangan-jangan, pria itu sudah menyakiti Shera? Ya ampun, apa Shera tidak bisa menjadi lebih menyebalkan lagi dan membuatku pingsan saja sekalian. Aku harus memastikan keadaannya sekarang. Dan dia harus dalam keadaan baik-baik saja. Jika tidak, aku sendiri yang akan membuat perhitungan pada pria yang telah membuatnya menangis lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD