Shera Fuji Lesmana
"Udah selesai makannya?" tanya Axel. Matanya melirik pada piring rotanku yang kini sudah bersih. Oke ralat, masih ada sisa tulang belulang yang tidak bisa ikut kuhabiskan. Karena aku tidak memiliki kekuatan super. Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya, kemudian meminum sisa teh tawar yang saat ini sudah mulai dingin.
"Ya udah, tunggu sebentar. Biar gue bayar dulu!" ujarnya sembari hendak berdiri.
"Loh jangan! Gue ngajak lo makan kesini, bukan mau minta di bayarin kok!" kilahku.
"Nggak apa-apa. Biar sekalian. Kan gue juga ikut makan," katanya dengan santai, kemudian berdiri dan menghampiri gerobak penjual tadi.
Sebenarnya aku tidak keberatan, bahkan malah bagus. Tadinya aku berniat sok-sok'an menjadi pahlawan dan membayar miliknya juga. Tapi aku lupa kalau yang di depanku ini orang tajir melintir. Mengeluarkan uang beberapa rupiah hanya untuk membayar nasi pecel ayam, nggak akan membuatnya miskin.
Setelah beberapa saat, Axel kembali. Di tangannya ada dua buah kantung kresek hitam. Aku mengernyit heran, apa yang dia bawa? Perasaan sebelum kesini, tangannya kosong.
"Itu apaan?" tanyaku.
"Oh ... ini. Ini nasi pecel ayam."
"Buat lo?"
"Ya bukan lah. Ini buat lo. Siapa tahu, entar malem lo laper, terus butuh makan. Ya ... meskipun kalau entar malem bakalan dingin sih!" jelasnya sembari menggaruk-garuk belakang telinga. Yang pastinya tidak gatal.
"Aduh ngerepotin banget deh gue," ujarku seraya ikut bangun lalu berdiri di sampingnya. Nggak enak juga jadinya. Aku dan Axel kan baru saling kenal. Rasanya agak aneh nggak sih? Kalau jaman dulu, orang pacaran itu wajib dibawakan martabak. Tapi sekarang, aku malah di bungkusin nasi pecel ayam.
"Oohh ngerepotin? Ya udah biar gue buang aja!"
"Eh ... jangan! Lo gimana sih, katanya beliin buat gue. Gue bilang ngerepotin kan cuma buat basa-basi."
Pria itu kemudian tersenyum dan mengulurkan tangannya, mengacak rambutku dengan lembut. Aku yang tidak seberapa tinggi ini, jadi seperti bocah bersanding dengannya.
"Gue juga bercanda kok Sher. Tapi ya ... kok ada, orang lagi basa-basi malah ngaku?" sahutnya, sembari menahan tawa.
"Haisshh ... udah deh. Kayanya semua hal tentang gue itu, di mata lo aneh banget ya."
Aku melirik dengan jutek padanya. Yang dilirik malah meraih tanganku dan menariknya menuju tempat motornya terparkir.
"Kita mau kemana sekarang?" tanya Axel.
Jam ditanganku sudah menunjukan waktu menjelang petang. Aku harus pulang dan beristirahat beberapa saat, sebelum bekerja nanti malam. Tidak ada waktu lagi untuk pergi kemana-mana. Hah ... lagipula aku sudah kenyang di ajak berkeliling dan makan angin bersama orang ini.
"Gue pulang ya. Nanti malem gue harus kerja. Kalau sekarang nggak istirahat dulu, nanti ngantuk," jelasku.
"Oke, gue anterin lo pulang," ujarnya. Axel menyerahkan kantong hitam yang dibawanya padaku, kemudian menyalakan motor. Tanpa diminta, aku berusaha untuk naik, dengan menginjak step, dan dia menopang berat tubuhku menggunakan kakinya. Ya ampun ... gue semakin benci sama motor gede yang kaya begini. Benar-benar menyusahkan.
Tidak ada obrolan yang terjadi begitu ia melajukan motor dengan kecepatan standar, tidak ngebut, tidak juga pelan-pelan. Axel sudah tahu kemana arah kosan tempatku tinggal. Jadi aku tidak perlu repot-repot menunjukan arah.
Rasanya agak aneh. Ini pertama kalinya aku kembali berboncengan dengan kawan pria selain Tama dan Adrian. Mungkin dimasa sebelumnya, aku terlalu tertutup pada hal-hal baru. Sejak pertama kali aku duduk pada jok motornya di kampus tadi, ada aroma parfum yang sulit untuk ku gambarkan. Wanginya berbeda ... seger banget. Kaya orang habis mandi. Ya ... mirip-mirip dengan parfum milik Adrian dan Tama. Tapi agak berbeda. Yang ini lebih baik.
Apa orang-orang kaya, memiliki selera yang sama ya, atau hampir serupa. Hah ... nggak sangka juga, aku yang anak seorang asisten rumah tangga dari Desa ini, dikelilingi orang-orang berada yang baik. Takdir memberikanku keburuntungan untuk belajar menjadi orang berada, lewat kawan-kawanku. Agar saat sukses nanti, aku tidak kaget, sudah terbiasa dan nggak malu-maluin. Ya ... aku harus yakin kalau suatu saat nanti, aku akan sukses. Bukankah, segala sesuatu berawal dari sebuah niat dan keyakinan.
Axel menghentikan kendaraannya di depan gerbang tempat tinggalku. Jam segini, para penghuni kos sudah mulai keluar dan akan bersiap untuk kerja. Rata-rata penghuni kamar sini adalah pekerja dunia malam. Saat pagi atau siang hari, mereka akan tetap stay didalam kamar untuk istirahat.
"Thanks buat semuanya ya Xel. Lain kali kalau ngajak anak orang jalan, jangan bener-bener cuma jalan ya. Jangan lupa di kasih makan," ucapku saat berhasil turun dari motornya dengan setitik senyuman jail.
"Issshh gue jadi malu. Lo mau gue anterin kerja nanti?" tawarnya.
"Eh ... jangan-jangan nggak usah!"
"Kenapa?"
"Ya nggak usah aja. Pokoknya jangan!" tolakku mentah-mentah. Hemm ... kenapa ya? Padahal kan lumayan, aku bisa hemat ongkos. Biasanya Adrian yang akan mengantarku. Tapi dia kan sudah bilang hari ini harus menghabiskan waktu dengan Nadia, dan setelah itu ada latihan Band juga dengan Tio dan Ricky. Aku tidak bisa terus-terusan menjadi lemah dan mengandalkan keberadaannya.
"Ffiiuuhhh, ya udahlah kalau gitu. Gue balik dulu ...!"
"Oke deh kalau gitu."
Aku melambaikan tangan, membuat gerakan kecil, sebagai salam perpisahan. Dan Axel juga sudah menyalakan mesin motornya, tapi kemudian dia mematikannya kembali. Didada dan wajahnya, tampak hembusan nafas berat, yang seolah-olah tak rela untuk meningggalkanku disini. Eh ... tunggu dulu, kenapa asumsiku jadi seperti itu, kenapa aku malah jadi seperti orang yang kepede'an?
"Kenapa dimatiin lagi Xel?" selidikku.
"Huufftt Sher. Apa lo nggak berniat untuk pindah dari sini? Maksudnya gue bisa kok, nyariin tempat tinggal yang lebih baik. Gue juga ada banyak temen yang punya kossan di tempat yang ... lo ngerti kan maksud gue?" jelasnya.
"Jujur aja. Gue nggak ngerti!" tegasku.
"Sher, lingkungan itu mempengaruhi nama baik seseorang. Gue bukan mau ngecap lo sama kaya cewek lain. Gue tahu, lo disini cuma numpang tinggal dan nggak kaya penghuni lain. Tapi kan, lingkungan dimana kita tinggal bisa mempengaruhi pola pikir kita," jelasnya lagi panjang lebar.
Wow ... aku nggak tahu kalau Axel malah akan membahas hal yang aneh seperti ini. Apa yang baru saja ia utarakan, benar-benar membuat rasa simpatiku hilang. Kenapa orang-orang selalu dengan mudah memberikan cap buruk pada tempat tinggalku.
"Dengar ya Axel. Pertama ... kita nggak sedekat itu, sampai lo bisa menentukan dimana gue harus tinggal. Kita baru kenal, dan baru ketemu dua kali."
"Maksud gue bukan gitu Sher!"
"Dan yang kedua. Gue akan tetep tinggal disini. Orang-orang disini baik, mereka care sama gue. Mereka nggak sombong, dan bukan kemauan mereka untuk membuat tempat ini di cap buruk. Sekarang gue harus istirahat. Lo silahkan pulang. By the way, makasih buat nasi pecelnya ya!"
Aku berbalik melangkahkan kaki melewati gerbang, Axel memanggil-manggil namaku. Dia pasti menyesal dan ingin mengatakan aku salah paham. But no ... dia yang sudah salah paham dengan tempat ini.