Mencari Penyebar Rumor

1272 Words
Ada yang mengatakan bahwa mulut manusia lebih panjang dari rel kereta api. Maksudnya, apa yang mereka katakan — terutama tentang kabar yang mengundang kontroversi — akan dengan sangat cepat menyebar, hanya dari mulut ke mulut. Apalagi di daerah pedesaan. Di mana rumah para penduduknya saling berdekatan, dan yang paling penting, mereka masih seringkali bersua. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang lebih dingin, dikarenakan kesibukan masing - masing. Seperti di desa Rembang. Desa di mana Leandra tinggal. Belakangan ini tersebar rumor yang benar - benar membuat hati miris. Sesak rasanya d**a Leandra memikirkan semuanya. Orang - orang terdekat bisa mengatakan bahwa Leandra tak perlu mendengar kata orang. Karena ia hidup bukan untuk mereka. Leandra mengiyakannya. Berusaha untuk tak terlalu memikirkan semua. Namun semua terlalu sulit. Sekeras apa pun Leandra berusaha menahan, ia tetap saja berpikir, meratap, dan berakhir dengan menangis. Leandra kembali bersimpuh dalam sujudnya. Rumor seperti ini bukan pertama kali untuknya. Ia kerap dituding menjadi perawan tua karena dipagari oleh seseorang yang dulu pernah ditolaknya. Ada juga yang mengatakan Leandra menanggung dosa yang pernah dilakukan nenek moyang. Leandra selalu berusaha bersabar. Sayang, sepertinya kali ini adalah kasus yang berbeda. Rumor sudah tersebar begitu santer. Warga terbagi menjadi dua kubu. Mereka yang membela Leandra. Dan mereka yang menghujat, mendukung rumor yang jahat. Hal itu menandakan, bahwa rumor yang beredar adalah lebih dari satu. Ada dua lebih tepatnya. Pertama, kabar bahwa Leandra menjadi perawan tua karena ditaksir oleh salah satu Genderuwo. Kedua, kabar bahwa Leandra akan segera menikah dengan seseorang yang tinggal di rumah almarhum kakeknya, Abimanyu. Warga yang menghujat, percaya dengan rumor yang pertama. Dan warga yang membela, percaya dengan rumor yang kedua. Leandra beserta keluarga, benar - benar tak tahu harus bagaimana. Mengingat dua rumor tersebut sama sekali tidak benar. Penyebar rumor pertama ... entah lah. Yang jelas, Banyu - lah yang paling geram karenanya. Ketika warga mulai membicarakan hal ini, pikirannya segera menuju pada Ki Langen. Mengingat orang yang pertama kali membicarakan hal ini adalah kakeknya itu. Malam itu setelah ulang tahun Langit — setelah kejadian Dimas diculik oleh Genderuwo Wanita — Ki Langen membicarakan masalah ini berdua saja dengannya. Dengan Leandra yang mendengar secara diam - diam. Membuat Banyu khawatir setengah mati dengan perasaan wanita itu. Ditambah lagi berita tiba - tiba tentang Maryati yang katanya dihamili Genderuwo. Banyu berpikir keras untuk mencari jalan keluar atas semuanya. Ia tak mau Ki Langen menyebar rumor tentang Leandra yang ditaksir Genderuwo. Juga tidak mau jika sahabatnya ternyata benar - benar dusukai oleh seorang makhluk yang berbeda dunia. Selain itu, Banyu juga tak ingin warga dengan serta merta percaya tentang Maryati yang hamil karena Genderuwo. Untuk itu lah Banyu menghubungi Abimanyu untuk mencari pertolongan. Mengingat Abimanyu adalah orang yang mengerti, namun ia tidak menyimpang dari ajaran agama. Tapi sekarang rumor tentang Leandra yang ditaksir Genderuwo sudah tersebar dengan begitu luasnya. Banyu tak bisa menuduh orang lain, selain kakeknya sendiri. Banyu benar - benar menyesal sudah meminta pertolongan Ki Langen saat Dimas diculik Genderuwo. Banyu tak bisa berpikir jernih saat itu, karena desakan yang dilakukan oleh ibu - ibu di rumahnya, yang diprovokasi oleh Ibu Una. Ia terlalu panik. Seandainya saja Banyu tidak meminta pertolongan Ki Langen, maka Ki Langen tak akan datang ke rumahnya. Seandainya saja Ki Langen tidak datang ke rumahnya, ia juga tak akan bertemu Leandra. Seandainya ia tak bertemu Leandra, ia juga tak akan membuat hipotesa — oh, bukan hipotesa. Maksudnya Ki Langen tidak akan percaya pada mereka yang berbisik padanya, apalagi sampai mengungkapkan secara terang - terangan — bahwa Leandra menjadi perawan tua karena disukai oleh Genderuwo. Dan ujung - ujungnya, Ki Langen juga tak akan menyebar kontroversi ini pada warga. Sejauh ini Banyu berusaha mengalihkan rumor itu. Ya, Banyu - lah yang menyebar rumor bahwa Abimanyu adalah calon suami Leandra. Toh Banyu tidak berbohong. Niat lainnya membawa Abimanyu ke sini, selain untuk membantu mengatasi masalah Genderuwo, juga untuk memperkenalkan lelaki itu pada sahabatnya. Siapa tahu saja mereka berjodoh. Beruntung, sebagian masyarakat percaya, dan mulai menganggap bahwa Abimanyu benar - benar calon suami dari Leandra. Sayangnya, rumor tentang Genderuwo yang menyukai Leandra masih begitu santer. Itu lah sebabnya Banyu mendatangi rumah Ki Langen sekarang. "Mbah kung, udah Banyu bilang, jangan pernah menyebar rumor itu! Apa Mbah kung nggak kasihan sama Leandra? Dia belum ketemu jodohnya karena memang belum dipertemukan sama Allah. Itu semua sudah tertulis dalam garis takdirnya. Kenapa Mbah kung tega banget?" Banyu segera mengungkapkan segala isi hati. Ki Langen masih tetap berada dalam posisi bersila di atas sebuah bangku permanen yang dibuat dari susunan batu - bata dan semen cor. Matanya terpejam, sambil sesekali komat - kamit membaca mantra, entah apa. "Bukan Mbah yang menyebar rumor itu." "Kalau bukan Mbah kung yang menyebar, lalu siapa?" geram Banyu. "Mbah kung pasti marah dan merasa terancam karena Banyu membawa Abi ke sini, kan? Karena Mbah kung nggak mau masyarakat terlepas dari kepercayaan kejawen, dan lebih memutuskan berhijrah setelah bertemu Abi, kan?" Ki Langen menyeringai. "Untuk apa Mbah marah dan merasa terancam karena kamu membawa Abi ke sini? Mbah nggak akan melarang masyarakat untuk hijrah sepenuhnya. Itu hak dan pilihan mereka. Toh kepercayaan masyarakat terhadap hal klenik nggak akan hilang begitu saja dengan mudahnya. Karena sudah terlalu mendarah daging. Kalau pun nanti ada yang berhijrah, pasti hanya sebagian kecil." "Lalu kenapa Mbah kung tega menyebar rumornya?" "Sudah Mbah kung bilang, bukan Mbah kung yang menyebarnya." "Lalu siapa, Mbah kung? Banyu nggak mau tahu. Mbah kung harus kembali membersihkan nama Leandra. Banyu nggak mau rumor itu semakin berkembang dan meluas. Banyu ng - ...." "Yang menyebar rumor, adalah para Genderuwo itu sendiri." Ki Langen menyela ucapan cucunya karena sudah lelah mendengar ceramah panjang. Banyu terdiam dalam segenap rasa terkejut, juga merasa tak habis pikir. "Mbah kung nggak usah mengada - ada. Gimana bisa para Genderuwo yang menyebar rumor?" "Kamu jangan berlagak nggak ngeh! Meskipun kamu nggak mewarisi ilmu bapakmu, tapi kamu hidup dengannya sejak bayi sampai dewasa. Sedikit banyak pasti kamu tahu, bahwa barang seperti itu, bisa mengubah diri menyerupai manusia, saat ilmunya sudah tinggi! "Para Genderuwo di sini sudah memiliki kemampuan itu. Mungkin mereka merasa dunianya tak lagi tenang semenjak si Genderuwo yang menyukai temanmu mulai melakukan pergerakan. Mereka ingin menghentikan usahanya. Buktinya Maryati dihamili Genderuwo. Bukti lain adalah, Genderuwo Wanita yang tinggal di pohon asem depan rumahmu, kemarin sampai berulah lagi seperti itu. Padahal sudah lama sekali mereka nggak berulah, kan?". Banyu menggeleng tak mengerti. Bukan tak mengerti tentang bukti - bukti yang dikatakan Ki Langen. Ia justru terfokus pada pernyataan sebelumnya. "Apa maksud Mbah kung dengan Genderuwo yang menyukai Leandra mulai melakukan pergerakan?" Ki Langen akhirnya membuka kedua matanya yang sedari tadi senantiasa terpejam. "Maksudnya Genderuwo itu mulai melakukan pergerakan adalah, dia mulai memperdalam ilmunya. Dia ingin berinteraksi lebih dengan temanmu. Dia ingin ... menikahi temanmu. Bahkan dia sudah melamarnya." "M - melamar?" "Ya. Kalau nggak percaya, tanya saja sama orangnya langsung! Si Leandra itu. Dia dilamar sama seorang laki - laki apa enggak akhir - akhir ini." Banyu mengemam bibir. Berusaha tak mempercayai kakeknya. Namun di lain sisi juga begitu penasaran. Leandra sudah dilamar oleh Genderuwo itu? Kapan? Kenapa Leandra tak memberitahunya? Dan ... apa Leandra tidak takut saat si Genderuwo melakukannya? Atau jangan - jangan, si Genderuwo mengubah wujud sedemikian rupa, hingga Leandra menganggapnya sebagai manusia? Astaga ... makhluk itu benar - benar meresahkan. Banyu tidak boleh tinggal diam saja. Ia harus segera bertindak. Tanpa berpamitan, Banyu segera melenggang pergi. Ia harus bergegas menemui Leandra untuk menanyakan masalah ini. Ia harus segera memastikan semuanya, sehingga bisa segera dicari solusinya bersama - sama. Lagi - lagi Banyu merasa tertolong karena sudah membawa Abimanyu ke sini. Jadi, laki - laki itu bisa membantu mengatasi ini semua. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD