Aku di Sini dan akan selalu Ada Untukmu

1251 Words
Evan menelan salivanya dia sebenarnya ingin mengucapkan sesuatu yang romantis kepada gadis yang baru saja dia ambil kesuciannya itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia cuma berkata, "kalau begitu selamat malam." Dia menganggukkan kepalanya. Hanya itu yang didapat Vallen. Apa yang dia inginkan tidak menjadi kenyataan tapi dia harus puas dengan itu. Setidaknya untuk saat ini. Vallen mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Setelah itu, Evan segera mengendarai mobilnya menjauhi Valen yang masih berdiri di depan rumah kost-nya. Valen cuma bisa menghela nafas. Entah kenapa, tapi dia sangat berat saat melihat pria itu meninggalkannya. Walaupun mungkin besok akan ada pertemuan kembali, tapi dia ingin ada kata-kata indah atau kata-kata manis dari pria itu untuknya. "Dia punya istri dan dia sangat mencintai keluarganya. Apa yang bisa aku harapkan?" batin Vallen sambil dengan lunglai membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah kostnya. Pagi harinya Valen bangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat motornya sudah berada di depan rumahnya. "Apa yang terjadi?" tanya Valen pada dirinya sendiri. Valen kemudian mengingat percakapannya dengan Evan malam sebelumnya. Evan mungkin telah menyuruh pembantunya untuk membawa motor Valen ke rumahnya. Valen tersenyum. Ia senang bahwa Evan masih memikirkannya. Valen bersiap-siap untuk pergi sekolah. ** Saat di sekolah, saat mengajar murid-muridnya, mata Valen kerap kali menatap ke arah Karly Selama ini, dia memang selalu menaruh perhatian kepada Karly, lebih daripada murid-muridnya yang lain. Tetapi setelah semalam, maka tatapannya kepada Karly jadi lebih mesra. Seperti tatapan seorang ibu kepada anaknya. Saat Break Time, Valen mendekati Karly, melihat Karly yang seperti biasanya agak malas makan, maka dia datang untuk menyuapi Karly. Melihat itu, anak-anak yang lain pada cemburu. "Miss, aku juga ingin disuapin, dong." Vallen tertawa. "Kamu juga mau, Kaitlin? Akhirnya dia mengambil kotak makanan anak bernama Caitlin itu dan dia menyuapi Caitlin. Tapi setelah itu, dia kembali kepada Karly dan kembali menyuapi Karly. "Miss akan datang ke rumahku sebentar sore, kan?" tanya Karly dengan matanya membulat dan terlihat lucu itu. "Tentu saja aku pasti datang. Tentu saja." Vallen ingin sekali datang ke rumahnya Karly. Bahkan dia sudah tidak sabaran menunggu saat itu. Dia ingin ke rumahnya Karly bukan untuk memenuhi kewajibannya sebagai guru private bagi Karly tapi lebih karena kerinduannya kepada sosok seorang bapak yang sudah merebut hatinya beberapa hari ini. Sosok seorang bapak yang betul-betul membuat dia jatuh cinta sedalam-dalamnya, karena itu saat ini dia semakin tidak sabar untuk menunggu saat dia mendatangi rumah Karly untuk menemui Evan. ** Sorenya, Valen tiba di rumah Evan. Ia masuk ke dalam rumah dan menemui Evan. "Selamat sore Pak Evan," sapa Valen. "Selamat sore Bu Valen," sapa Evan. "Apa motormu sudah dibawa ke rumahmu?" tanya Evan. "Sudah, pak" kata Valen. "Terima kasih," kata Valen. "Sama-sama," kata Evan. "Kenapa bu guru tidak naik motor saja?" tanya Evan. "Aku ingin diantar pulang oleh Anda," kata Valen sambil tersenyum. Tapi kemudian dia langsung menundukkan kepalanya malu-malu. Evan tersenyum. Ia senang dengan kata-kata Valen itu yang terdengar sudah lebih agresif. Senang tapi juga takut. "Haduh," batin Evan. "Baiklah," kata Evan. "Aku akan mengantarmu pulang." Setelah itu sambil tersenyum Valen mulai mengajari Karly. Setelah selesai mengajari Karly, Evan mengantar Valen pulang. Di sepanjang perjalanan, Evan dan Valen mengobrol tentang berbagai hal. Mereka berdua merasa semakin dekat. Valen mulai merasakan perasaan yang lebih dari sekedar persahabatan pada Evan. Ia mulai jatuh cinta pada Evan. Namun, Valen tahu bahwa Evan masih belum bisa melupakan Jojo. Ia tidak ingin memaksakan perasaannya pada Evan. Valen memutuskan untuk menunggu sampai Evan sendiri yang menyadari perasaannya. Tapi kadang-kadang terbersit niatnya untuk memaksakan sesuatu yang belum menjadi menjadi kenyataan. "Sebenarnya aku ingin mencari sepatu roda," kata Vallen membuka pembicaraan lagi setelah sekitar 1 menit mereka berdua sempat terdiam. "Benarkah? Untuk siapa?" "Untuk ponakanku. Dia akan ulang tahun jadi aku ingin memberikan sepatu roda itu sebagai hadiah ulang tahunnya." "Dia pasti akan sangat senang." Vallen menunggu dia berharap Evan akan mengantarnya ke mall supaya dia bisa membeli sepatu roda itu. Tapi ternyata Evan tidak melakukannya, karena mobil terus diarahkan ke rumah kosnya Valen. Vallen cuma bisa mengeluh dalam hatinya. Jurusnya supaya dia bisa dekat dengan Evan malam ini, tidak menjadi kenyataan. Ternyata Evan cuma mengantarnya ke rumahnya and that's it. Hanya itu saja. Karena itu dengan sedikit kecewa, Valen cuma berkata singkat, "hati-hati di jalan, Pak." Kemudian dia keluar dari mobilnya Evan dan langsung masuk ke dalam rumah kosnya tanpa melihat lagi ke belakang. Evan terdiam sambil menatap tubuh mungil dari gadis cantik bernama Valen yang saat ini berjalan ke dalam sebuah rumah. "Aku tahu kalau kamu ingin aku mengantarmu membeli sepatu roda itu, tetapi aku belum bisa. Aku memiliki istri. Aku memiliki keluarga. Aku tidak bisa lepas kontrol lagi seperti hari kemarin," desah Evan sambil menjalankan mobilnya. ** Sore ini, Valen sedang mengajar Karly di ruang tamu. Ia sedang menjelaskan materi matematika. Tiba-tiba, Valen mendengar suara pertengkaran dari dalam rumah. Ia menghentikan penjelasannya dan mendengarkan dengan seksama. "Aku sudah muak denganmu!" kata Jojo. "Kamu tidak pernah mendengarkanku!" "Aku sudah mencoba," kata Evan. "Tetapi, kau tidak pernah mau mengerti." "Aku sudah berusaha," kata Jojo. "Tetapi, kamu tidak pernah menghargaiku!" Valen merasa sedih mendengar pertengkaran itu. Ia tahu bahwa Evan dan Jojo sedang mengalami masalah. Valen meminta Bu Rum, pengasuhnya Karly untuk menjaga Karly dan membawa Karly ke taman depan supaya Karly tidak perlu mendengar pertengkaran itu. Kemudian, Valen masuk ke bagian ruang keluarga, dia ingin mendengar pertengkaran itu dengan lebih jelas. Valen berjalan ke arah ruang kerja Evan. Ia mengintip dari balik pintu. Evan dan Jojo sedang berdiri di depan meja kerja Evan. Mereka berdua terlihat marah. "Aku sudah tidak tahan lagi," kata Jojo. "Aku ingin bercerai!" Evan terdiam mendengar kata-kata Jojo. Ia terlihat terkejut dan sedih. "Apakah kamu benar-benar ingin bercerai?" tanya Evan. "Ya," kata Jojo. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi." Evan dan Jojo melanjutkan pertengkaran mereka. Valen mendengarkan dengan sedih. Valen tahu bahwa ia tidak boleh ikut campur dalam masalah rumah tangga Evan dan Jojo. Namun, ia tidak bisa tinggal diam melihat Evan diperlakukan seperti itu. Valen memutuskan untuk menemui Evan setelah pertengkaran itu berakhir dengan Jojo yang langsung keluar rumah dan langsung naik mobilnya. Melihat kepergian Jojo, Valen putuskan untuk masuk ke dalam. Ia ingin berbicara dengan Evan dan menawarkan bantuannya. Ternyata Evan tidak lagi berada di ruang kerja. Valen putuskan untuk mencari di kamarnya Evan. Valen menutup pintu kamar Evan dan menghampiri Evan yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Evan terlihat sedih dan putus asa. Ia menangis dengan tersedu-sedu. Valen duduk di samping Evan dan memeluknya. "Aku di sini," kata Valen. "Aku akan selalu ada untukmu." Evan memeluk Valen erat. Ia merasa sangat sedih dan kesepian. "Terima kasih," kata Evan. "Aku sangat membutuhkanmu." Valen mengelus rambut Evan. Ia ingin Evan merasa lebih baik. "Kau tidak sendirian," kata Valen. "Aku di sini untukmu." Evan menangis di pelukan Valen. Ia merasa sangat hancur setelah pertengkarannya dengan Jojo tadi. Valen membiarkan Evan menangis sepuasnya. Ia tahu bahwa Evan butuh waktu untuk mengekspresikan perasaannya. Setelah beberapa saat, Evan berhenti menangis. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Valen. "Aku tidak tahu harus berbuat apa," kata Evan. "Aku tidak bisa hidup tanpa Jojo." "Aku tahu," kata Valen. "Tetapi, kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu." "Aku mencintainya," kata Evan. "Aku tidak bisa melupakannya." "Aku mengerti," kata Valen. "Tetapi, kamu juga harus memikirkan masa depanmu." "Aku tidak tahu," kata Evan. "Aku sangat bingung." Valen tersenyum. "Aku akan membantumu," kata Valen. "Kita akan mencari jalan keluarnya bersama." Evan tersenyum getir. "Sejak awal banyak orang yang memintaku untuk memikirkan kembali keputusanku untuk menikahi Jojo. Tapi aku tidak melakukannya." "Siapa saja mereka itu?" tanya Valen penasaran. Evan tidak menjawab. Dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah Valen.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD