Kalau ingin Selingkuh, Datang Padaku

1223 Words
Evan mengecup Valen dan Valen menyambutnya dengan kecupan yang panas. Valen ingin menghibur pria yang sudah mulai merebut hatinya ini. Dua bibir bertemu. Dua lidah saling taut. Mereka berdua mulai merasakan perasaan bergelora dalam hati mereka berdua. Tapi kemudian Evan membuka matanya, menyadari kalau dia berada di dalam kamarnya. Kamar tidurnya bersama Jojo selama ini, dan bisa saja Jojo akan kembali ke kamar ini dan menemukan dia bersama Valen seperti ini. Karena itu, Evan langsung menarik wajahnya dari wajah Valen. Dia masih bisa melihat kekecewaan di mata Valen karena tindakannya ini. "Panjang ceritanya. Terima kasih," kata Evan. "Aku tidak tahu harus berbuat apa." Valen memeluk Evan lagi. Ia ingin Evan tahu bahwa ia selalu ada untuk Evan. "Kamu bisa cerita padaku. Cerita semua masalahmu. Aku akan siap menjadi pendengarmu. Aku tidak ingin kamu mengalami nasib seperti seseorang yang dulu aku sayangi." Evan menarik wajahnya dari wajah Valen. Dia menatap penuh selidik ke arah Valen. Apa dia kekasihmu? Apa kekasihmu pernah mengalami nasib yang sama sepertiku?" Valen menggeleng. "No. Kamu adalah kekasih pertamaku..." Mata Vallen melotot. Dia merasa keceplosan karena sebenarnya dia dan Evan belum resmi menjadi sepasang kekasih. Karena itu dia sangat malu menyadari kalau dari mulutnya terucap kalau Evan itu adalah kekasih pertamanya. "Maksudku kamu adalah pria pertama yang dekat denganku tapi yang mau aku ceritakan itu adalah orang lain." "Siapa?" tanya Evan penasaran. "Ayahku. Dia pernah mengalami masalah sepertimu. Dia dihancurkan dan dikecewakan oleh istrinya sendiri. Oleh mamaku sendiri. Mamaku selingkuh darinya selama bertahun-tahun dan aku melihat kehancurannya, sama seperti aku lihat pada dirimu. Karena itu, aku tidak mau apa yang terjadi pada ayahku, akan terjadi pada dirimu. Kamu sudah berada di tahap seperti di tahap ayahku sebelum mengalami kehancuran total." "Apa yang terjadi?" Saat ini Evan sudah lupa akan ketakutannya tadi. Ketakutan kalau Jojo akan kembali datang dan memergoki dia dengan Valen di dalam kamar ini. Cerita Valen tentang ayahnya Valen membuat Evan penasaran. "Ayahku hancur sama seperti kamu. Matanya seperti kamu. Mata yang putus asa dan saat itu, walaupun dia sangat menyayangi aku dan juga kakakku, tapi kemudian di puncak emosinya, dia melakukan sebuah keputusan yang sangat bodoh!" "Apa yang dia lakukan?" "Dia bunuh diri setelah menulis dalam sebuah buku tulis, kalau dia tidak bisa lagi hidup seperti itu. Di situ dia tulis, setiap saat dia melihat perselingkuhan istrinya di depan matanya. Setiap saat dia seperti mendengar suara erangan istri di bawah tubuh seorang pria dan dia tidak bisa membuang semua pikiran itu dari kepalanya." Mata Evan membulat. "Itu yang aku alami sekarang. Aku tidak bisa membuang semua bayangan itu. Seakan-akan aku melihat istriku bersetubuh dengan seorang pria, mendengar erangan kenikmatannya, mendengar dia bersukaria di atas penderitaanku." "Kata-katamu hampir mirip dengan kata-kata ayahku. Itu juga yang dikatakannya. Dia juga bilang kalau hampir tidak ada satu menit pun dalam hidupnya yang bisa dia lewati dengan tenang tanpa suara cekikikan dan juga suara erangan penuh nafsu dari istrinya dan selingkuhannya itu." "Itu juga yang aku rasa sekarang. Apa yang dialami ayahmu ternyata juga aku alami." "Ayahku adalah sosok yang setia pada ibuku. Setia pada Tuhan. Dia bahkan tidak pernah terpikirkan untuk selingkuh selama umur pernikahannya. Bahkan dia tidak melakukan itu saat ibuku sudah lebih dulu selingkuh darinya. Karena itulah, akhirnya dia berbuat bodoh." "Apa maksudmu?" "Ayahku selalu curhat pada pamanku, adik lelakinya tentang masalah yang dihadapi ayahku itu. Dan pamanku mengusulkan kepada ayahku untuk membalas perbuatan ibuku. Menurut pamanku, ini perlu dilakukan untuk menekan rasa stress yang ayahku alami." Evan terdiam mendengar kata-kata Valen ini. "Tapi sayangnya, ayahku tidak pernah melakukan itu. Dia cuma memendam perasaannya. Dia tidak pernah membalas perbuatan ibuku sambil dia berusaha untuk mempertahankan pernikahannya. Tapi, dia mengalami kehancuran mental yang kemudian, membawanya pada keputusan untuk bunuh diri." "Hah!" "Yah. Dia bunuh diri pada suatu malam setelah dia mencium kening aku dan kakakku." "Maafkan aku. Aku tidak menyangka kalau Ayahmu akan berbuat seperti itu." Evan memegang tangan Valen. "Setelah peristiwa itu, pamanku bilang kepadaku, kalau saja ayahku mau mengikuti sarannya untuk ayahku membalas perbuatan ibuku, maka setidaknya sakit hatinya tidak akan pecah seperti itu. Sehingga setidaknya dia tidak akan mengambil keputusan untuk bunuh diri." "Itulah pikiran-pikiran yang ditanamkan iblis kepadaku beberapa minggu ini. Pikiran yang sama yang membuat ayahmu bunuh diri." "Aku tahu." Valen mulai menangis. "Aku tahu yang kamu alami. Karly pernah curhat kepadaku saat di sekolah." "Karly curhat apa?" "Karly bilang kalau dia pernah memergoki kamu hampir bunuh diri dengan pisau yang sudah berada di tanganmu dan hampir kamu tancapkan ke dadamu. Iya kan?" Evan mengangguk. "Dan pemikiran itu masih aku rasakan." "Karena itulah aku berusaha untuk menjadi guru privatnya Karly supaya aku bisa mendekatimu. Bisa memberi peluang kepadamu untuk membalas perbuatan istrimu. Kamu bisa menjadikan aku sebagai sarana untuk kamu balas dendam kepada istrimu. Karena itulah aku relakan diriku padamu." Valen menatap Evan. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Ada banyak pikiran dan perasaan yang berkecamuk di benak mereka. Kini Evan tahu mengapa Valen merelakan dirinya, merelakan keperawanannya untuknya. Ternyata itu karena peristiwa bunuh diri yang dialami ayahnya Valen. "Sesudah ayahku tewas bunuh diri dan mendengar kata-kata dari pamanku itu, aku jadi sangat menyesal. Saat itu aku berpikir, kalau saja aku tahu apa yang berkecamuk di benak Ayahku, maka aku akan mencarikan wanita lain untuk Ayahku, untuk membalas perbuatan ibuku supaya Ayahku tidak bunuh diri. Tapi apa yang terjadi pada Ayahku sudah terjadi, aku tidak bisa merubahnya lagi." "Karena itu saat aku mendapatkan kesempatan lain, saat aku bertemu dengan orang yang bernasib sama dengan ayahku maka aku melakukannya," lanjut Valen "Maksudmu?" Valen balas memegang tangan Evan. "Saat aku mendengar curhatan-curhatan dari Karly tentang rumah tanggamu, tentang perselingkuhan yang dilakukan istrimu, tentang upaya bunuh diri yang kamu lakukan, maka aku kembali teringat akan penyesalanku di masa lalu yang membiarkan Ayahku meninggal." Valen mencengkram tangan Evan. "Aku merasa diberikan kesempatan baru untuk menyelamatkan jiwa seorang lelaki. Seorang yang baik yang tidak seharusnya mati bunuh diri." "Setelah dulu aku gagal menyelamatkan ayahku maka aku bertekad untuk menyelamatkan kamu," lanjut Valen. Evan menatap Valen. Dia menelan salivanya, menyelami kata-kata Valen ini. "Karena itulah aku maju. Aku bersikap agresif dan relakan diriku untuk selingkuh denganmu. Aku rela menjadi sugar baby-mu." Evan menghela nafas. "Itu aku lakukan dengan semangat untuk menyelamatkan kamu. Supaya kamu tidak pernah berniat untuk bunuh diri, karena aku tidak mau apa yang terjadi pada Ayahku akan terjadi padamu." "Tapi aku aku masih mencintai... " "Aku tahu, Evan. Aku tahu kalau kamu masih mencintai istrimu. Aku juga tahu kalau kamu sangat mencintai keluargamu, mencintai anak-anakmu. Karena itu, kamu tidak perlu bertanggungjawab padaku. Kamu tidak perlu menikahi aku. Aku tidak akan menuntut apa-apa padamu. Aku cuma ingin menyediakan diriku, menjadikan tubuhku sebagai sarana bagimu untuk balas dendam kepada istrimu yang kejam itu!" Evan menghela nafas beberapa kali. Dia masih merasa agak bingung dengan kata-kata Valen ini. Bukan tidak mengerti. Tapi dia tidak menyangka dengan pemikiran Valen ini. "Aku siap menjadi sugar baby-mu. Tapi, kalaupun kamu ingin suatu hubungan tanpa status, maka aku bersedia. Aku siap setiap saat untukmu. Jadi, kalau kamu ingin selingkuh, datang padaku. Aku tidak mau kamu bernasib seperti ayahku." "Ehm... " "Jadi, kalau tiba-tiba kamu berniat untuk bunuh diri, please jangan lakukan itu! Jangan seperti ayahku. Balas selingkuh supaya hatimu lega. Aku siap setiap saat untukmu." Evan terdiam dia semakin bingung dan walaupun Valen bilang kalau Valen tidak menuntut apa-apa tetapi saat ini Evan harus memutuskan sesuatu apakah akan menjadikan Valen sebagai sugar baby-nya atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD