Bab 5. Bukan Sahabat Lagi

1129 Words
Air mata sudah terasa kering, Zoey tidak mau menangis lagi. Dia mau pergi ke apotek karena dia harus membeli pil kontrasepsi. Jangan sampai dia hamil gara-gara malam panas yang telah dia lewatkan bersama dengan Charlie Jackson. Sumpah demi apa pun, dia tidak mau mengandung bayi dari pria yang tidak bertanggung jawab itu. Setiap kali mengingat malam yang telah dia lewati, dia mengutuk Charlie dari dalam hatinya. Dia merasa begitu sial bertemu dengan pria itu. Bahkan, penghianatan yang dilakukan oleh Rain tidak seberapa dibandingkan dengan kesialannya bertemu dengan Charlie Jackson. Dia tidak mau terlalu terpuruk dengan keadaan karena dia ingin segera mengurus perceraiannya dengan Rain. Dia juga ingin mencari ayahnya karena dia ingin tahu apakah ayahnya telah menemukan seorang pengacara atau tidak. Dia ingin langsung bercerai dan tidak mau melakukan negosiasi atau berkonsultasi dengan seorang pakar pernikahan. Yang ingin dia lakukan hanyalah bercerai meskipun dia sangat mencintai Rain tapi penghianatan yang dia lakukan tak dapat dia maafkan sama sekali. Ayah dan Ibunya tidak ada karena mereka sedang pergi. Zoey mencari makanan terlebih dahulu untuk mengisi perutnya yang lapar. Semenjak kejadian itu, dia tidak berselera makan sama sekali tapi sekarang dia ingin mengisi perutnya dan berhenti melakukan tindakan bodoh. Lagi pula apa yang telah terjadi dengannya tidak dapat diubah lagi. “Zoey, apa kau berada di rumah?” Seseorang mengetuk pintu rumahnya dan dia adalah orang yang baru saja menghianati Zoey. “Zoey, aku datang karena mengkhawatirkan dirimu!” Sandra kembali memanggil sambil mengetuk pintu rumahnya lagi. Zoey diam saja, dia tidak merespon. Jujur dia sangat ingin memukul wajah Sandra tapi dia sedang malas berdebat dan dia pun sedang mengisi tenaganya. “Aku tahu kau berada di rumah, Zoey. Aku mohon keluarlah karena aku ingin berbicara denganmu!” Zoey masih tidak memperdulikan dirinya. Dia sibuk mengunyah makanan. Jika Sandra tidak pergi juga setelah dia selesai makan maka jangan salahkan dirinya karena dia akan memukul wanita itu sebagai balasan apa yang telah Sandra lakukan padanya. “Zoey,” Sandra masih saja memanggil. Baiklah, kesabarannya sudah habis. Zoey meletakkan sendok ke atas meja dengan begitu kasar. Dia pun beranjak dan melangkah keluar. Kepalan tangan ditekuk. Sandra yang menginginkan hal ini padahal dia tidak mau mencari keributan. “Zoey, aku mohon keluarlah. Aku akan menjelaskan padamu jika bukan aku yang menggoda Rain!” Dia sengaja datang supaya Zoey percaya jika bukan dia yang memulai. Dia akan memfitnah Rain sehingga Zoey semakin membenci suaminya. Sebelum melihat mereka berdua hancur dan sebelum melihat Zoey dan Rain bercerai maka dia tidak akan berhenti. Salahkan Zoey yang memiliki segalanya. Dia terlalu sempurna, memiliki orang tua yang begitu menyayangi dan mendukungnya. Dia juga memiliki suami tampan yang kaya raya, sedangkan dirinya? Dia tidak memiliki apa pun dan dia tidak memiliki keluarga harmonis yang mendukung dirinya. Sejak kecil dia tidak pernah disayang. Dia selalu melakukan segalanya sendirian dan dia selalu berjuang keras untuk mendapatkan apa yang dia inginkan sedangkan Zoey bisa mendapatkan semua itu dengan mudahnya. Mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil dan dialah yang telah membuat kepala Zoey terluka sehingga Zoey harus menderita penyakit epilepsi tapi tidak sekalipun Zoey mengingat apa yang dia lakukan karena Zoey telah memaafkan dirinya. Kedua orang tua Zoey juga bersikap begitu baik pada dirinya tapi iri hati yang begitu besar membuat Sandra sangat ingin menghancurkan Zoey. “Zoey,” Sandra kembali memanggil dan pada saat itu pintu rumah terbuka. Dia sangat senang karena Zoey masih mau keluar untuk menemui dirinya. “Zoey, bagaimana dengan keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” Dia hendak mendekati Zoey. Namun, Zoey berteriak padanya, “Berhenti di sana, Sandra. Tidak perlu pura-pura peduli padaku sedangkan kau menusuk aku dari belakang!” Dia tak menyangka Sandra begitu tidak tahu malu karena dia masih berani datang untuk menemui dirinya. “Sudah aku katakan padamu, Zoey. Rain yang tiba-tiba datang untuk menggoda aku. Dia jijik melihat keadaanmu ketika penyakitmu kambuh oleh karena itulah dia mengajak aku untuk menghabiskan malam bersama. Aku sudah menolaknya tapi dia memaksa aku!” “Tidak perlu mengucapkan perkataan dusta, Sandra. Aku bukanlah orang bodoh yang dapat kau tipu dengan mudah. Sebaiknya kau pergi selagi aku masih memiliki kesabaran karena jika sampai kesabaranku habis maka jangan salahkan aku karena aku akan memukul wajahmu!” “Please, Zoey. Percayalah denganku!” “Sudah aku katakan pergi!” Zoey berteriak padanya. “Semua gara-gara, Rain. Percayalah padaku!" Pembelaan diri yang tidak diperlukan oleh Zoey dan kekesalan yang tak dapat lagi dia tahan membuat Zoey lepas kendali sehingga sebuah pukulan mendarat di wajah Sandra. Sandra sangat terkejut ketika tamparan itu dia dapatkan. Dia memandangi Zoey dengan tatapan tak percaya. Dia tidak menduga Zoey akan melakukan hal itu. “Kenapa kau memukul aku, Zoey?” Sandra tampak kecewa dan sedih. “Jika kau masih tidak bisa aku ajak bicara maka percayalah aku akan memberikan pukulan yang lainnya, Sandra. Aku tidak peduli dengan perselingkuhan yang kalian lakukan dan kau boleh memiliki Rain karena aku dan dirinya sebentar lagi akan berpisah!" "Percayalah, bukan aku yang memulai!" "Cukup. Aku tidak memerlukan pembelaan dirimu karena nyatanya kau menikmatinya," Kini Zoey yang terlihat kecewa. "Kau adalah sahabat baikku, Sandra. Aku mempercayai dirimu bahkan aku tidak pernah memiliki pikiran jahat tentang dirimu. Sekalipun kau yang telah membuat aku mengidap penyakit yang tidak aku inginkan ini, tapi tidak pernah ada dendam di dalam hatiku padamu. Bagiku kau adalah sahabat terbaik yang aku miliki tapi apa?" Zoey melangkah mundur dan berpaling. "Mulai sekarang kau bukan sahabatku lagi jadi pergilah. Aku tidak mau lagi bertemu denganmu dan kau tidak perlu repot-repot menjelaskan apa yang telah terjadi karena kami berdua akan segera bercerai. Rain jadi milikmu sekarang, pergi temui dia dan ambillah!" Zoey memutar langkah, hendak masuk ke dalam. "Tidak, Zoey. Tolong jangan mengakhiri persahabatan di antara kita berdua!" Sandra menahan tangannya. Kesabaran Zoey benar-benar sudah habis. "Sudah aku bilang pergi!" Entah mendapatkan keberanian dari mana, Zoey berbalik lalu memukul Sandra. "Aku tidak ingin melakukan hal ini tapi kau benar-benar menguji kesabaranku!" Dia kembali memukul. Sandra berteriak sambil melangkah mundur. Tangannya dipegang oleh Zoey sehingga Zoey bisa menarik setiap kali dia ingin memukul Sandra. "Hentikan, Zoey. Hentikan!" Sandra berteriak. Zoey tidak memberikan kesempatan padanya untuk melawan karena dia memukul tanpa henti. "Aku sudah menahan diri tapi kau tetap cari gara-gara denganku!" Dia terus memukul. "Akh, sakit!" Sandra berteriak kesakitan, Darah segar pun sudah mengalir dari hidungnya. "Hentikan, Hu..... Hu.. Sakit, Zoey!" Sandra menutupi wajahnya yang babak belur akibat dipukul oleh Zoey. Zoey terengah-engah, rasanya sedikit puas dapat melakukan hal itu. Tangan Sandra dilepaskan, Zoey melangkah mundur sambil menyeka keringatnya. "Pergi. Aku tidak sudi melihat wajahmu dan mulai sekarang, kita bukan sahabat lagi!" Zoey masuk ke dalam dan menutup pintu dengan keras. "Kau keterlaluan, Zoey!" Teriak Sandra tidak terima. Wajahnya sangat sakit. Padahal dia hanya ingin berpura-pura peduli tapi Zoey justru memukulnya sampai seperti itu. Awas saja, dia tidak akan berhenti mengganggu kebahagiaan Zoey.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD