Zoey berusaha menenangkan dirinya setelah masuk ke dalam rumah. Tangannya terasa sakit karena dia terlalu banyak memukul Sandra. Tapi rasanya sangat puas. Jujur dia tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu.
Kemarahannya pada Sandra memang sudah tak dapat dia bendung. Lagi pula salah Sandra sendiri yang tidak juga mengerti padahal dia sudah memintanya untuk tidak banyak bicara.
Rasa sakit hati benar-benar bisa mengubah seseorang dan dia menjadi lepas kendali. Dia yakin Sandra tidak akan datang lagi tapi jika dia berani melakukannya dia pasti akan memukulnya lagi.
Sandra pergi dengan wajah babak belur. Dia benar-benar kesal dengan apa yang Zoey lakukan tapi tujuannya sudah tercapai karena sebentar lagi Zoey dan Rain akan berpisah. Dia akan menantikan kabar baik lainnya dan dia akan selalu mengganggu Zoey supaya dia tak bisa mendapatkan kebahagiaan.
Zoey mengintip dari balik jendela. Dia sangat lega pengkhianat itu telah pergi. Dia bergegas mengambil obatnya karena dia tidak mau penyakitnya kambuh akibat amarah yang meluap-luap.
“Penghianat. Kau benar-benar pengkhianat, Sandra,” setelah meminum obatnya, dia justru tak dapat menahan kekecewaannya terhadap sahabat yang benar-benar dia anggap begitu baik.
Padahal dia sudah tidak mau menangis lagi tapi gara-gara kedatangan Sandra membuatnya tak bisa menahan air mata. Zoey menghapusnya dengan kasar. Dia tahu tidak saja harus menghadapi Sandra tapi dia juga harus menghadapi Rain yang begitu dia benci.
Pria itu sudah tak ada lagi di dalam hatinya. Cinta yang dia miliki untuk pria itu sudah mati. Dia tahu dia tidak bisa menghindarinya sekalipun dia tidak ingin bertemu dengan Rain tapi untuk mengakhiri hubungan mereka, sudah pasti dia tak akan bisa menghindar.
Setelah merasa lebih tenang, Zoey memutuskan untuk pergi. Dia tidak boleh lupa dengan tujuan awal untuk membeli pil kontrasepsi. Zoey langsung pergi ke apotek. Dia memakai sebuah masker wajah supaya tidak ada yang mengenali dirinya tapi ketika obat itu sudah berada di tangan, Zoey sangat terkejut sebab seseorang memegangi tangannya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Zoey?” Suara yang sangat tidak asing. Zoey berpaling, dia sangat terkejut mendapat Rain sudah berada di sisinya.
“Lepaskan, Ini bukan urusanmu!” Zoey berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Rain.
“Jawab aku, apa yang kau lakukan disini dan obat apa yang kau beli?” Rain berniat mengambil obat yang ada di dalam genggaman tangan Zoey.
“Itu bukan urusan, Rian. Lepaskan tanganku dan jangan campuri apa yang sedang aku lakukan!” Zoey berusaha menarik tangannya karena dia tidak mau Rain mengetahui ibat apa yang sedang dia beli saat ini.
“Aku masih suamimu, Zoey. Apa pun yang kau lakukan sudah pasti adalah urusanku. Perlihatkan padaku obat apa yang ada di dalam genggaman tanganmu ini!” Rain berusaha membuka lipatan tangan Zoey.
“Sudah aku katakan tidak ada urusannya denganmu, lepaskan!” Sekuat apa pun dia mencoba melawan tapi tenaga laki-laki bukanlah tandingan bagi seorang perempuan. Dengan mudahnya Rain berhasil mengambil obat dari genggaman tangannya.
Rain melihat itu dan sangat terkejut sebab yang dibeli oleh Zoey adalah pil kontrasepsi. Rain memandangi obat itu lalu dia memandangi Zoey.
“Kenapa kau membeli obat seperti ini, Zoey?” Tidak mungkin penyakit epilepsi yang diderita bisa di atasi dengan pil seperti itu.
“Aku tidak memiliki kewajiban menjawab pertanyaanmu jadi kembalikan itu padaku!”
"Tentu kau memiliki kewajiban karena aku ini adalah suamimu jadi jawab pertanyaanku baik-baik, untuk apa kau membeli pil kontrasepsi?!” Rain terlihat marah. Tidak mungkin Zoey membeli obat itu tanpa maksud dan tujuan.
Zoey menggigit bibirnya dengan kuat. Rain telah mengkhianati dirinya. Dia rasa tidak ada yang perlu dia sembunyikan dari pria itu. Lagi pula, Bukankah dia ingin hubungan mereka berdua berakhir?
Saat Rain mengetahui dia telah tidur dengan pria asing di malam pernikahan mereka, apakah Rain masih mau mempertahankan pernikahan mereka berdua? Dia berani bertaruh, pria itu tidak mungkin akan mau melakukannya.
“Jawab, Zoey!” Rain sedikit berteriak dengan emosi yang meluap di dalam hati.
“Aku membelinya karena aku tidak mau hamil dari anak pria yang baru saja tidur denganku!” Zoey pun berteriak.
“Apa?” Perkataan Zoey tentu saja mengejutkan dirinya.
“Apa kau pikir hanya kau saja yang bisa berkhianat, Rain?” Zoey langsung merebut obat dari genggaman tangan Rain.
“Aku pun melakukannya di malam pernikahan kita. Aku menjebak seorang laki-laki lalu aku tidur dengannya untuk membalas rasa sakit hatiku padamu!”
“Apa kau bilang?” kedua tangan Rain telah mengepal dengan erat.
“Aku rasa kau tidak tuli, Rain. Di malam pernikahan kita, aku telah tidur dengan seorang laki-laki oleh karena itu hubungan kita berdua tidak bisa dipertahankan lagi. Aku tetap menginginkan perceraian jadi segeralah kau urus dan aku akan meminta ayahku untuk mempersiapkan semuanya karena aku ingin kita bercerai secepatnya!”
“Tidak semudah itu, Zoey. Walaupun kau menghianati aku tapi aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja karena aku tidak ingin reputasi keluargaku tercoreng.”
"Kaulah yang berkhianat!" Zoey kembali berteriak. Dia tidak peduli orang-orang melihat mereka.
"Zoey, aku tahu aku salah tapi kita harus memikirkan reputasi keluarga kita," Rain berusaha menenangkan.
“Aku tidak peduli dengan reputasimu. Kau yang mengkhianati aku terlebih dahulu. Aku akan meminta ayahku mempersiapkan semuanya dan aku akan meminta ayahku menghentikan semua bantuan dana yang dia berikan pada perusahaanmu. Kita akan lihat, seberapa lama perusahaanmu dapat bertahan!”
“Jangan lakukan hal itu, Zoey!” Dia menikah dengan Zoey karena Zoey adalah satu-satunya pewaris tunggal dari perusahaan yang dimiliki oleh ayahnya.
Dia juga mendapatkan bantuan yang begitu besar dari ayah Zoey dan jika sampai mereka berdua berpisah, maka dia tidak akan mendapatkan bantuan lagi dari ayah Zoey.
“Kaulah yang memulainya terlebih dahulu jadi terima saja apa yang telah kau mulai. Siapkan saja dirimu karena aku benar-benar akan meminta ayahku untuk menghentikan segala bantuan untuk perusahaanmu!” Zoey melangkah pergi, meninggalkan dirinya.
“Kita belum selesai!” Rain meraih tangannya. Namun, Zoey menepisnya dan berteriak padanya.
“Jangan menyentuh aku dengan tangan kotormu itu, Rain!”
“Zoey, kita bicarakan baik-baik dan aku tidak ingin bercerai denganmu!”
“Keputusanku sudah bulat dan kau tidak bisa menghentikan apa yang aku inginkan. Aku pun tidak ingin melakukan negosiasi denganmu jadi jangan salahkan aku melakukan hal ini!” Zoey kembali melangkah pergi, menuju kasir karena dia harus membayar obatnya.
“Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan dirimu, Zoey!”
“Aku tidak peduli denganmu!” Zoey meninggalkan apotek itu karena dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia akan segera mencari ayahnya dan mengutarakan keinginannya.
Rain begitu marah. Dia harus menghentikan Zoey, jika tidak dia benar-benar akan hancur tapi sebelum dia melangkah pergi tiba-tiba saja seorang pria menghampiri dirinya.
Pria asing itu justru menawarkan sesuatu yang begitu menggiurkan pada Rain.