Revan menengadah, tergambar jelas di wajah tampannya itu gurat terkejut yang tak terlalu kentara. Bibir merah alami yang nampak menggoda sedikit terkatup rapat alias seketika mingkem. "Apa mungkin lo sama cewek itu saling bersekongkol di belakang gue?" "Sekongkol dalam maksud apaan?" Aurel tersenyum manis, berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan di mata Revan. Jari-jari lentik itu menyisir poni mangkuk miliknya itu ke belakang telinga, berlagak kecentilan di depan cowok yang sekarang memicingkan mata, penuh selidik. "Enggak!" Jangan-jangan nggak salah lagi, huh? Aurel menebak-nebak dalam hati. Duh, sepertinya tadi cewek feminim itu sempat berharap, deh? Namun, begitu melihat raut wajah Revan yang tidak bersahabat membuatnya cepat-cepat menarik prasangka kembali. Oh, tidak kalau ora

