Lisa membereskan mejanya setelah mendapat informasi dari Tina bahwa Rey telah datang dan sedang menunggunya di lobi. Ia menarik nafas dan berusaha menenangkan dirinya selama beberapa saat. Ia tak ingin lagi kelepasan emosi dan memperlihatkan perilaku tak biasa dihadapan para pekerja butiknya. Lisa tetap ingin memperlihatkan tampilan professional di dalam pekerjaannya.
Setelah merasa yakin, Lisa langsung menelepon Tina dan meminta pria itu untuk masuk ke ruangannya. Lisa meneguk segelas air yang ada di sebelahnya. Ia kembali mengatur nafas. Meyakinkan dirinya bahwa ia bisa tetap baik-baik saja meski wajah Rey sebentar lagi akan ada di hadapannya. Lisa ingin sebisa mungkin memiliki emosi yang stabil ketika menghadapi mantan kekasihnya itu.
"Tok... tok... tok..."
"Silahkan masuk," ucap Lisa setelah mendengar suara ketukan pintu.
Setelah itu Rey masuk ke ruangannya dengan senyuman manis. Lisa pun berusaha mengontrol ekspresi wajahnya dan bersikap tenang. "Silahkan duduk," ucap Lisa sambil menunjukan kursi yang ada di hadapannya.
"Thank you," ucap Rey.
"Sketsa jas dan celana kamu udah aku buat. Ini..." Lisa menyodorkan beberapa lembar kertas hasil design-nya.
Rey mengambilnya dan tampak menatapnya selama beberapa detik, lalu meletakan kertas itu di atas meja. "Kamu suka bunganya?" tanya Rey tiba-tiba.
"Ada yang perlu diubah dari design itu?" Lisa berusaha mengabaikan hal-hal yang tak berkaitan dengan pekerjaannya.
"Aku selalu akan suka apapun yang kamu buat," jawab Rey sambil menatap lekat mata Lisa.
"Oke. Kalo gitu aku usahain dua minggu lagi udah kelar. Kamu bisa fitting bareng Sherly. Kamu bisa pulang sekarang," pungkas Lisa.
Rey terdiam dengan kepala tertunduk. Lisa bisa melihat kesedihan dari sorot mata Rey. Namun ia sudah memutuskan untuk menghindari pria itu dan segala kerumitan perasaannya.
"Kamu bisa pulang sekarang," ucap Lisa.
Namun Rey masih tertunduk dengan mata yang kini mulai memerah. "Rasanya aku mau gila," ucap Rey dengan air mata yang mulai menetes pelan.
Lisa hanya terdiam dan berusaha menahan sesak yang kini dirasakan hatinya. Ia menghindari menatap wajah Rey yang begitu frustasi di hadapannya. Air mata Rey memang menyentuh hatinya. Namun Lisa tetap berpegang teguh dengan sikapnya. Ia tak akan goyah dan kembali pada pria itu.
"Aku disini berjuang sendirian. Kamu gak peduli dengan apa yang aku alami dan perasaanku. Kamu terus nolak aku dan gak mau liat betapa kerasnya perjuangan aku demi kamu. Rasanya aku mau gila di posisi ini. Capek, Lis... aku capek berjuang sendirian." Air mata Rey mulai mengalir deras dan matanya semakin memerah. Lisa bisa melihat betapa tertekannya Rey saat ini.
"Kamu tau gimana posisi aku di keluarga. Kamu tau gimana aku masih merindukan dan menginginkanmu. Kamu pasti tau... gak mudah menciptakan jalan supaya kita bisa bersama. Aku lebih pilih kamu daripada keinginan keluarga aku. Karena itu, kamu tau... aku pada akhirnya pasti gak akan menikahi Sherly dan kembali ke kamu. Aku berpura-pura mengikuti rencana keluargaku dan akhirnya aku berbalik. Ini bukan hal yang mudah, Lis. Penolakan dari kamu justru bikin perjuangan aku terasa lebih melelahkan," ucap Rey sambil menatap Lisa.
"Kamu bisa berhenti dan menyerah. Jika memang itu hal yang sulit, Rey. Aku gak pernah minta kamu terus berjuang. Karena aku tau... itu berat. Kamu harus pikirin masa depan. Jangan terus menoleh ke masa lalu kita. Semua itu hanya halusinasi yang gak akan pernah jadi kenyataan, Rey. Kamu gak akan pernah bisa ngelawan orang tua kamu. Pergilah... kejar masa depan kamu. Jangan terus terobsesi ke aku," ujar Lisa sambil berusaha menahan air matanya.
"Seandainya bisa... seandainya aku bisa tanpa kamu." Rey menghapus air matanya. Ia lalu bangkit berdiri dan mencoba tersenyum, meskipun terasa datar. "Aku pamit," ucap Rey sambil keluar dari Ruangan kantor Lisa.
Namun Lisa masih duduk termenung dengan air mata yang berusaha ia tahan. Lisa terdiam dalam rasa sakitnya. Ini kali pertama Rey menunjukan kerapuhan hatinya. Kali pertama Rey menampilkan kelelahan hatinya. Lisa tau, hatinya ikut terluka seiring air mata Rey yang tadi jatuh.
Namun rasa sesak yang terus bergejolak di dadanya, membuat Lisa tak bisa hanya terus diam dan tenggelam dalam kebimbangan hatinya. Ia bangkit berdiri dan bergegas menuju ruangan Dion. Lisa menerobos masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung berlari menghampiri Dion.
"Tolong aku..." ucap Lisa dengan air mata yang mulai menetes. Bak seorang anak kecil yang sedang merintih meminta pertolongan. Lisa muncul di hadapan Dion dengan isakan tangis.
"Kamu kenapa?" Dion tampak bingung dengan raut wajah Lisa yang penuh kesedihan.
"Bantu aku lupain, Rey. Rasanya sulit di posisi ini. Rasanya sulit untuk bertahan tidak melewati batas," bisik Lisa dengan air mata yang kini mulai tumpah. Rintihan kesakitan hatinya seolah tertuang dalam isakan tangisnya. Lisa menangis begitu tersedu hingga matanya mulai memerah.
Ini kali pertama, Lisa menangis begitu hebat di hadapan Dion. Pria itu bahkan menghampiri Lisa untuk merangkulnya dan menenangkan tangisannya. Namun bukannya reda, Lisa justru menangis semakin hebat hingga sesegukan. Selama beberapa saat, Lisa masih terus menangis dalam rangkulan Dion.
Setelah puas menumpahkan kesakitan hatinya, Lisa melepaskan rangkulan dan menatap mata Dion. "Kita pacaran aja," usul Lisa dengan mata yang masih memerah.
Dion tersenyum dan hanya mengangguk, lalu menghapus air mata Lisa. "Jangan nangis. Aku di sini dan gak akan ninggalin kamu," bisik Dion lembut.
"Kamu mau jadi pacar aku cuma untuk ngelupain pria lain?" tanya Lisa.
Lisa tak percaya dengan jawaban yang didengarnya. Ucapannya tadi hanyalah sebuah ajakan gilanya karna rasa frustasi di tengah situasi sulit yang di hadapinya. Namun melihat Dion justru menyetujuinya sungguh membuat Lisa sangat terkejut. Dion tentu tau bahwa ia sama sekali tidak mencintainya. Dion pasti tau bila ia hanya ingin memanfaatkannya untuk melupakan Rey. Karena itu Lisa tak habis pikir, bagaimana mungkin Dion menyetujui menjadi kekasihnya.
"Gak papa. Setidaknya aku punya kesempatan. Itu yang aku inginkan selama bertahun-tahun ini. Aku pasti akan hapus dia dari hati dan pikiran kamu," jawab Dion dengan senyuman.
Lisa lalu menghapus air matanya dan berusaha menenangkan dirinya. Ia berusaha mengembalikan akal sehatnya. Hanya karena hatinya sedang terluka... hanya karena ia ingin segera keluar dari situasi sulit ini.... hanya karena ia ingin segera melupakan Rey... semua alasan itu tak bisa menjadi pembenaran untuk dirinya mengorbankan Dion. Lisa tak sampai hati mempermainkan ketulusan Dion hanya untuk kepentingan pribadinya.
"Maafin aku, Dion. Aku harusnya gak ucapin permintaan gila itu. Aku tadi kacau. Lupain aja omongan aku barusan." Lisa hendak meninggalkan ruangan, tapi Dion langsung menahan tangannya.
"Gak papa, Lis. Aku mau jadi pacar kamu dan bantu lupain dia."
"Aku gak bisa manfaatin kamu. Ini gak adil. Anggap aja aku tadi lagi gila."
"Aku juga hampir gila terus nunggu kamu, Lis. Aku justru bahagia denger permintaan kamu tadi," ucap Dion sambil menarik Lisa kembali ke dalam pelukannya.
Dion membelai kepala Lisa dengan lembut dan berusaha menenangkannya. "Aku sayang kamu. Aku akan buat kamu juga punya perasaan yang sama ke aku."
Lisa hanya terdiam dengan tatapan kosong. Detik ini ia benar-benar tak memahami hati dan tubuhnya. Ia tak mengerti kenapa air mata ini kembali keluar karena pria bernama Rey. Ia tak mengerti kenapa tubuhnya berlari ke Dion dan mengajukan permintaan yang konyol. Ia juga tak memahami kenapa tubuhnya hanya diam di dalam pelukan Dion.
***
Rasanya aku ingin terus memejamkan mata dan terlelap dalam tidur. Jika bisa, aku ingin menghindari kerumitan yang tercipta kemarin dan terus terbuai dalam alam bawah sadar. Namun itu tak akan mungkin. Aku harus segera bangun dan berangkat ke butik.
Butik sekarang bukan hanya sekedar tempat bekerja, melainkan tempat perkara segala kerumitan terjadi. Rey tiba-tiba hadir di sana dan mengungkit semua rasa yang telah terkubur. Memicu rasa sakit di hatiku dengan wajahnya yang penuh air mata. Menampakan kesakitan dan rasa lelahnya memperjuangkanku.
Aku tak pernah meminta dia kembali dan berjuang. Dahulu memang aku masih mengharapkan keajaiban itu terjadi. Namun seiring waktu berlalu, aku hanya fokus pada diriku dan masa depanku. Aku tak menyangka kalau Rey ternyata masih terjebak pada kenangan masa lalu kami, sementara aku di sini selalu mencoba untuk bertahan dan tak menoleh ke belakang.
Bohong jika aku bilang tak tersentuh dengan kata cinta Rey dan usahanya untuk terus kembali padaku. Namun segalanya telah menjadi rumit dengan kehadiran Sherly dan rencana pernikahan mereka, belum lagi orang tua Rey yang pasti tak akan pernah menerimaku. Aku benar-benar hilang akal jika berani menerima ajakan kembali dari Rey.
Ada rasa sesak dan sakit ketika melihat tetesan air mata membasahi pipi Rey. Aku ikut merasakan perih ketika pria itu merintih kelelahan karena tekanan yang dihadapinya. Rey pria yang baik dan pantas mendapatkan yang terbaik. Aku mungkin tak akan pernah menjadi pasangan yang tepat untuknya. Segala sesuatunya akan bertambah menjadi rumit hanya karna aku berdiri di sebelahnya.
Mungkin melibatkan Dion memang langkah yang tepat, meskipun bukan hal yang baik. Aku menggunakan pria itu hanya untuk mengusir Rey pergi dari hati dan hidupku. Memang terasa jahat dan tak adil. Aku sempat mengurungkan ide gila itu. Namun melihat pria itu bahagia dan menganggap ini kesempatannya untuk dekat denganku... aku tersentuh.
Mungkin aku memang harus memberikan kesempatan pada pria itu, mengingat betapa lamanya ia menungguku untuk membuka hati. Dion tetap bertahan meskipun penolakan tegas sering ia dapatkan dariku. Jika Dion memang bisa menghempaskan Rey sepenuhnya dari tubuh dan hidupku, aku akan sangat berterima kasih.
Terus tidur dan membiarkan pikiran ini bergelut dengan kerumitan hidup memang tak akan menyelesaikan apapun. Sebaiknya aku bangun dan bersiap untuk bekerja. Hanya pekerjaan yang bisa membantuku mengalihan pikiran.
Setelah selesai bersiap, aku segera pergi ke meja makan. Biasanya Ibu telah menyiapkan sarapan untukku sebelum berangkat kerja. Namun ternyata aku hanya mendapati Hyena yang duduk di sana sendirian. "Ibu dimana, Hyen?" tanyaku sambil duduk di kursi.
"Pergi ke pasar. Dia suruh kamu makan roti bakar ini nih," jawab Hyena sambil mengunyah sepotong roti.
Aku masih tinggal di rumah Hyena. Karena keluarga Marvine menolak membiarkanku keluar dan pindah lagi. Orang tua Hyena akan berlibur selama satu tahun di luar negeri. Aku dan Ibu diminta untuk menemani Hyena di rumah. Lagipula Ibu terlihat betah dan nyaman tinggal di sini. Setidaknya ia tidak sendirian dan memiliki teman berbincang di rumah ini.
"Rey masih ngedeketin lo?" tanya Hyena tiba-tiba.
"Dia mau nikah. Gue lagi nyiapin busana kawinannya," jawabku singkat.
Hyena sontak langsung batuk karna terkejut dengan berita yang baru didengarnya. Hyena menatap tak percaya ke arahku. "Rey nikah?! Lo jadi designernya? Orang gila!"
Aku tersenyum sinis. Situasi ini memang gila. Pada awalnya pun aku sulit menerima takdir tak biasa ini. Namun lebih baik menyimpan kegundahan ini dan bersikap biasa dihadapan Hyena.
"Iya. Gue harus buat jas Rey dan Gaun calonnya."
"Jadi dia ngelepasin lo? Terus dia buat apa teror gue selama bertahun-tahun buat nanyain kabar lo, kalo pada akhirnya dia nikah sama orang lain?! Bener-bener cowok b**o. Untung gue dulu gak lama sama dia."
"Dua tahun itu gak lama, Hyen?" Aku geleng-geleng kepala.
"Yah gak selama lo lah. Sampe sekarang kisah lo sama Rey belum bener-bener tuntas kan?" Hyena menatap curiga ke arahku.
"Kata siapa? Gue sama Rey udah lama banget berakhir. Gue sampai lupa kapan tepatnya."
"Cih! Gaya lo. Padahal dalam hati masih merindu. Jadi lo gimana ngehadapin Rey? Kok lo bisa jadi designernya sih?"
"Calon bininya itu klien VVIP gue. Eh ternyata calonnya si Rey. Yaudah gitu. Bersikap professional aja."
"Kok gue gak yakin ya kalian bisa jaga batasan. Gue gak yakin Rey bener-bener udah lupain lo," ucap Hyena dengan kening berkerut.
"Dia udah mau nikah, Hyen. Itu artinya gue sama dia udah bener-bener gak ada apa-apa. Bulan depan dia nikahnya kok," tegasku.
"What?! Dia kok gak ngundang-ngundang gue? Dia hamilin anak orang kali, Lis. Makanya buru-buru nikah."
"Hush! Lo sembarangan banget ngomongnya ckckck."
"Yah abis gak masuk akal, Lis. Gak masuk logika gue."
"Yaudah doain aja yang terbaik buat dia. Yang penting dia bahagia."
"Kalo dia bahagianya sama lo gimana?" tanya Hyena dengan senyum usil.
Aku langsung menghabiskan s**u yang masih tersisa, lalu bangkit berdiri dan bersiap untuk berangkat. "Udah ah. Gue cabut. Males dengerin ucapan konyol lo."
"Titip salam buat Rey ya!" teriak Hyena.
Aku mendengar suara tawa ketika meninggalkan ruang makan. Sahabatku itu memang selalu sukses meledekku jika tentang Rey. Dia tidak tau betapa hati ini berusaha bertahan untuk tetap kuat menghadapi takdir yang membingungkan ini.
Namun wajar Hyena tak tau betapa kerasnya aku bertahan. Karna aku memang sengaja menutupinya. Segalanya akan bertambah lebih sulit jika makin banyak mata yang mengkhawatirkanku. Setidaknya... kini aku memiliki Dion.
***
Setelah memarkirkan mobil ku di depan butik, aku segera bergegas mengambil tas kerjaku, lalu menutup pintu mobil. Aku berjalan memasuki butik dengan perasaan sedikit canggung. Kali ini terasa berbeda. Ini hari pertama status single-ku berubah sejak aku mengajak sahabat sekaligus atasanku itu untuk berpacaran. Meski kami sudah kenal selama beberapa tahun, tapi hubungan kami tak pernah lebih dari sahabat. Aku tak pernah bersikap selayaknya seorang wanita terhadap pria kepada Dion.
Ketika langkah kakiku telah memasuki butik, mataku langsung mencari keberadaan Dion. Namun pria itu tak ada di lobi dan ruang tamu. Aku langsung menghampiri Tina dan berbisik, "Dion kemana?"
Tina tentu heran melihat tingkahku yang tak biasa ini. Aku mana pernah penasaran akan keberadaan Dion di butik.
"Pak Dion udah ada di ruangannya, Bu. Tadi Bapak udah dateng dari jam 7. Lebih pagi dari biasanya. Kenapa emangnya, Bu?" tanya Tina balik.
"Gak papa. Ya udah kamu bisa lanjut kerja." Aku tersenyum sambil menepuk pundak Tina. Kemudian berjalan masuk ke dalam ruanganku.
Aku menaruh tasku, mengambil cangkir dari dalam lemari, lalu membuat teh lemon seperti kebiasaanku setiap paginya. Namun ketika aku sedang meneguk teh itu, tiba-tiba pintu ruang kerjaku terbuka. Wajah Dion tiba-tiba muncul dari sela-sela pintu yang terbuka. Kemunculan Dion yang mendadak itu tentu membuatku kaget.
Sebenarnya Dion sering masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu. Namun untuk kali ini aku sulit untuk bersikap biasa saja. Mungkin karena ini hari pertama kami sebagai sepasang kekasih. Makanya aku merasakan kecanggungan yang luar biasa.
"Hai," sapa Dion dengan senyuman penuh makna.
Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman datar. Seketika aku bingung harus berkata apa. Aku tak pernah sehilang akal ini hanya untuk mencari topik obrolan dengan Dion.
"Nanti malam ada acara?" tanya Dion sambil duduk di hadapanku.
"Aku mau lembur. Kamu kan tau banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Kenapa?"
"Oh gitu. Yaudah. Tadinya aku mau ajak kamu makan malam, Lis. Cuma kalo kamu sibuk gak papa. Mungkin bisa lain waktu. Udah sarapan?"
Aku merasa Dion juga sedang canggung. Aku bisa menangkap kalau pria itu kebingungan harus bersikap seperti apa dengan perubahan status kami. "Aku udah sarapan. Kamu kok kayak orang lagi salting gitu sih?"
Dion tertawa sambil garuk-garuk kepala. "Iya nih. Aku bahagia banget, cuma sekaligus bingung harus apa. Mungkin karna terlalu bahagia, jadinya begini. Malah jadi aneh ya?"
Aku mengangguk dengan cepat. "Kamu gak pernah nanya pertanyaan sereceh itu. Makanya kesannya jadi aneh hahaha. Aku juga tadi sempet ngerasa canggung sih. Kita tetep kayak biasa aja kali ya. Gak usah belagak sok sok kayak anak ABG baru pacaran hahaha."
Dion tersenyum, lalu mengangguk. "Iya. Aku setuju. Nanti siang makan keluar yuk. Aku bosen makan di butik."
Aku sebenarnya lebih ingin makan di butik. Aku terlalu malas untuk naik mobil, menghabiskan tenaga dan waktu hanya untuk makan. Namun untuk kali ini, aku merasa harus menyenangkan hati Dion. Bagaimanapun juga dia telah menjadi kekasihku. Jika hanya dengan menemaninya makan siang bisa membuatnya bahagia, kenapa tidak.
"Baiklah. Kita makan siang bareng," jawabku.
"Yes!" Dion bersorak kegirangan.
Aku tersenyum melihat betapa senangnya Dion hanya karena pengorbanan kecilnya itu. "Emang kamu mau makan dimana?"
"Terserah. Asal makannya sama kamu."
Aku tertawa geli mendengar gombalan Dion itu. "Udah lah. Jangan alay-alay. Kita makan spageti atau pasta aja. Kamu cari restoran yang enak ya. Nanti chat aja kalo udah nemu mau di restoran mana. Sekarang aku mau kerja dulu. Gak enak sama yang lain kalo mereka liat kita kelamaan ngobrol."
"Baiklah sayang. See you nanti siang ya!" ucap Dion sambil mengedipkan mata.
Aku hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala memperhatikan tingkah Dion. Ini kali pertama aku mendengar sapaan sayang dari pria itu. Pria yang dahulunya hanyalah sahabat dan atasan ku, sekarang telah menjadi kekasihku.
CONTINUED