Dion mengetuk pintu ruang kantor Lisa, lalu langsung berjalan masuk tanpa menunggu persetujuan dari pemiliknya, seperti kebiasaannya. Ia tersenyum senang melihat Lisa masih duduk di sana. "Makan yuk," ajak Dion.
Namun Lisa justru menggelengkan kepalanya. "Masih banyak yang harus aku selesaikan Dion."
Dion menghela nafas. Seperti sebuah kebiasaan, Lisa selalu menolak ajakan makan malamnya. "Tinggalin aja. Besok masih bisa dilanjutin. Aku mau makan malam sama kamu," pinta Dion dengan wajah memelas.
"Aku udah niat mau lembur hari ini. Aku bahkan bawa bekal makan malam." Lisa menunjukan kotak makan malam yang ia simpan di dalam laci. Kemudian tersenyum singkat, lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Aku juga udah niat ajak kamu makan malam bareng. Lagian kamu seminggu ini sibuk banget. Aku yang punya butik aja nyantai. Ayolah... kita keluar." Dion menarik pelan tangan Lisa dan merengek seperti anak kecil.
Lisa menghela nafas. Ia akhirnya luluh. Dion jarang merengek bak bocah di hadapannya. Itu artinya Dion benar-benar ingin ia temani. Sebenarnya masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Namun Lisa memilih meninggalkannya sebentar, lalu menemani Dion makan malam. Ia berniat melanjutkan pengerjaan design-nya selepas makan ketika berada di rumah. "Baiklah. Ayo kita makan."
"Yes!" seru Dion dengan wajah senang.
"Emang kita mau makan dimana?" tanya Lisa sambil mengambil tasnya. Kemudian memasukan kertas-kertas design-nya ke dalam kertas.
"Ke restoran kesukaan aku." Dion menggenggam tangan Lisa dan mengajaknya berjalan berdampingan.
"Makan steak?"
"Kenapa? Kamu gak suka?"
"Enggak kok. Sejak kapan aku pilih-pilih makanan," jawab Lisa dengan senyum.
Lisa bukanlah pribadi yang tumbuh dalam kemewahan. Ia tidak berada di situasi dimana bisa memilih makanan sesukanya tanpa mempedulikan harga. Latar belakangnya yang dahulu hanyalah seorang anak pembantu membuat ia memiliki sifat tak suka memilih-milih makanan. Lisa juga bukan tipe orang yang suka menyisakan makanan. Ia lebih memilih mengambil sedikit, lalu menambah lagi. Daripada mengambil berlebih, lalu tak menghabiskannya.
Dion tentu tau tentang kebiasaan Lisa ini. Bertahun-tahun mereka bersama, Dion sangat hapal pola Lisa makan dan memilih makanan. Lisa bahkan selalu membungkus makanan jika memang masih tersisa banyak. Lisa akan makan ketika pulang, atau ia akan panaskan untuk dimakan esok hari.
"Yaudah... next kita makan di restoran pilihan kamu ya," usul Dion. Setidaknya Dion ingin Lisa menyantap hidangan yang benar-benar disukainya, bukan hanya yang dipilihkan untuknya.
"Baiklah," jawab Lisa sambil tersenyum.
Mereka akhirnya berjalan keluar butik. Lisa yang berjalan di belakang Dion, langsung ditarik oleh kekasihnya itu untuk berjalan berdampingan. Tangannya digenggam erat sambil terus melangkah.
Lisa memukul lengan Dion. Ia tersipu malu melihat aksi nekat kekasihnya itu. Mereka masih di butik. Banyak pegawai yang menatap ke arah mereka. Tak sedikit yang bahkan sambil berbisik dengan tatapan mata yang terkejut.
"Dion!" bisik Lisa sambil melepaskan genggaman tangan kekasihnya itu.
Namun Dion tetap menggenggam erat tangannya tanpa mempedulikan wajah risih Lisa. Dion justru tersenyum sambil menatap mata Lisa. Seolah ia ingin menunjukan kepada semua orang jika Lisa telah menjadi miliknya.
Lisa hanya bisa menghela nafas dan pasrah digenggam tangannya oleh Dion. Ia hanya bisa tersipu malu menerima sorot perhatian yang tak biasa didapatnya. Lisa bukan tipe orang yang senang menunjukan kehidupan pribadinya di tempat kerja. Sebisa mungkin ia menutup rapat dan tak menampilkannya secara terbuka.
Dion membukakan pintu mobil untuk Lisa. Mendapat perlakuan tak biasa, Lisa menatap heran ke arah Dion. "Ini dalam rangka apa?" tanya Lisa.
Dion tak pernah membukakan pintu untuknya. Lisa juga merasa tak perlu dibantu hanya untuk hal sesederhana itu. Melihat perubahan sikap Dion yang mendadak tentu saja membuat Lisa terkejut.
"Kan kamu pacar aku. Jadi sekali-kali aku bukain pintu. Apa mau sekalian aku gendong?" goda Dion.
"Gendong? Emang aku anak bayi apa hahaha." Lisa geleng-geleng kepala sambil tertawa geli. Kemudian masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Dion.
Setelah menutup pintu, Dion segera masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesinnya. "Kita berangkat," seru Dion sambil mulai mengendarai mobilnya.
***
"Gimana steak-nya? Enak?" tanya Dion.
Lisa menghela nafas dan terdiam beberapa saat. Melihat itu, Dion langsung panik dan duduk tegak menatap Lisa. "Kenapa? Gak enak ya? Kamu mau kita ganti restoran?" tanya Dion.
Lisa menggelengkan kepalanya. "Ini enak. Cuma kamu ngapain booking satu restoran cuma buat kita. Terus ini apa-apaan." Lisa menunjuk kearah pemain biola yang sedang memainkan lantunan musik romantis dan berdiri tepat disamping mereka.
"Kan biar Dinner-nya berasa romantis gitu. Kayak di film-film," jawab Dion sambil tertawa cekikikan.
"Tapi gak gini juga Dion! Ini alay tau gak!" protes Lisa.
Lisa bukannya tidak suka mendapat perlakuan istimewa. Namun ini sudah terlalu berlebihan untuknya. Terlalu membuang-buang uang. Lisa sebenarnya tak suka melihat Dion mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Dion menyewa satu restoran, padahal mereka hanya butuh satu meja. Menyewa pemain biola hanya untuk menciptakan suasana romantis, sungguh sebuah pemborosan. Buket bunga dan lilin sebenarnya sudah cukup untuknya.
Dion tersenyum geli, lalu akhirnya memberi kode agar pemain biola itu menghentikan permainan musiknya. "Aku pikir kamu suka suasana romantis," ucap Dion.
"Suka sih suka. Cuma gak gini juga. Lagian kamu buang-buang uang tau gak. Ngapain sih booking satu restoran." Lisa kembali geleng-geleng kepala.
"Gak papa lah sekali-sekali. Lagipula kamu dan aku udah menghasilkan uang yang cukup banyak di butik. Gak papa lah kita nikmatin kerja keras kita sesekali."
"Mending uangnya dipake holiday, daripada buat beginian."
"Jadi kamu mau holiday bareng?! Ide bagus tuh! Kapan? Next week aja gimana?" Dion tampak antusias membayangkan liburan bersama kekasihnya itu.
"Dion... kita gak mungkin liburan dalam waktu dekat. Kamu gak inget aku harus nyelesaiin order-an klien banyak banget. Belum lagi pesenan Sherly Zanna. Dia mau nikah dua minggu lagi. Aku hampir gila nyelesaiin itu," keluh Lisa.
"Iya juga sih," ucap Dion dengan wajah kecewa.
"Dua bulan lagi kita mungkin bisa liburan. Sekarang fokus ke pekerjaan aja dulu."
"Oh ya... aku mau kasih kamu sesuatu." Dion memberi kode ke pelayan restoran.
"Apaan lagi nih. Jangan yang aneh-aneh ah," ucap Lisa.
"Enggak kok. Aku udah nyiapin ini dari lama." Beberapa detik kemudian tampak seorang pelayan membawa sebuah kotak hitam berpita merah dan memberikannya ke Dion.
"Ini buat kamu," ucap Dion sambil memberikan kotak itu ke Lisa.
Lisa menerimanya dengan kening berkerut. Kotak itu berukuran sedang dan dikemas dengan cantik. Ia segera menarik pita merah itu dan membuka kotaknya. Lisa tampak terkejut ketika mendapati sebuah gaun putih ada didalam kotak itu. "Ini beli atau kamu yang buat?" tanya Lisa dengan mata terbelalak.
"Buatan aku dong. Ini aku buat gaun spesial untuk wanita yang spesial," ujar Dion dengan senyum manis.
Lisa menarik gaun itu keluar dari kotaknya. Ia cukup kagum dengan detail design yang dibuat oleh Dion. Panjang gaun itu hingga mata kaki. Namun Gaun itu tetap dapat menampilkan lekukan tubuh wanita hingga terkesan elegan. Design kemben pada atasannya membuat pundak dan lehernya dapat terekspos dengan cantik. Lisa menganggumi hiasan swaroski yang tertempel di gaun itu dan membuatnya semakin berkilap, Lisa yakin akan menjadi pusat perhatian, jika ia mengenakannya ke pesta. "Wah! Ini bagus banget!" seru Lisa dengan tatapan yang tak lepas dari gaun itu.
"Kamu suka?" tanya Dion.
"Suka banget! Makasih ya," ucap Lisa dengan tersenyum.
Ini kali pertama Lisa mendapat gaun yang dirancang spesial untuknya. Biasanya selalu dirinya yang merancang dan membuatkan gaun spesial untuk orang lain. Pekerjaannya membuat ia terlalu malas untuk meminta designer lain merancang pakaian untuknya. Lisa biasanya lebih memilih membeli gaun yang sudah siap pakai.
Lisa bisa saja minta Dion untuk merancangkan gaun untuknya sejak dulu. Namun ia tak sampai hati meminta hal itu. Lisa tau bagaimana sibuknya Dion sebagai pemilik butik sekaligus seorang designer. Setiap harinya selalu disibukan dengan permintaan klien dan rencana pengembangan bisnis. Lisa tak mungkin meminta Dion untuk membuat pakaian spesial untuknya. Karena itu, ia cukup terharu melihat gaun putih di tangannya saat ini. Gaun yang dibuat spesial oleh Dion untuknya.
Lisa masih terus menatap Gaun itu selama beberapa saat. Terlihat jelas kekaguman dan rasa haru dari sorot matanya. Setelah puas menatapnya, Lisa melipat gaun itu dan meletakannya kembali dengan penuh kehati-hatian ke dalam kotak. "Ini keren. Aku suka gaunnya," ucap Lisa lagi.
"Kamu bisa pakai itu di pernikahan Sherly Zanna," ujar Dion sambil menatap Lisa. Dion tampak senang melihat Lisa begitu menyukai gaun hasil karya tangannya itu.
Namun tiba-tiba Lisa terdiam beberapa saat. "Kamu bikin gaun ini khusus untuk acara itu?" tanya Lisa. Raut wajah Lisa tiba-tiba berubah menjadi sedih.
Dion menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku emang udah lama pengen bikinin kamu gaun. Cuma aku pikir, gaun itu akan lebih baik kamu pakai di acara nikahan mantan kamu itu. Aku mau ke sana bareng pacar aku yang cantik. Semakin cantik karena kamu pake baju dari aku."
"Maaf ya. Perasaan aku ke Rey pasti bikin kamu cemas. Maafin aku," ucap Lisa dengan kepala tertunduk sedih.
Lisa menyadari jika dirinya telah membuat posisi Dion menjadi sulit. Lisa tau Dion begitu tulus menyayanginya. Pria itu sejak dulu menginginkannya. Betapa keras usaha Dion untuk membuatnya jatuh hati. Lisa tau berapa lama dan betapa konsistennya Dion memperjuangkannya. Namun ia justru dengan tega meminta Dion menjadi kekasihnya hanya untuk kepentingannya.
Dengan tega ia meminta Dion berada disampingnya, meski hatinya bukan untuk pria itu. Lisa meminta Dion melindungi dirinya dari Rey, tanpa menjanjikan perasaan yang tulus untuk pria itu sebagai imbalan. Lisa menggunakan Dion untuk menghapus perasaannya dan mengusir Rey dari hidupnya. Lisa menyadari betapa keterlaluan dirinya. Membuat Dion berada dalam posisi yang sulit dan juga menyakitkan.
Namun Dion langsung menggenggam tangan Lisa dan menatapnya lekat. "Enggak kok. Aku justru bersyukur kamu kasih aku kesempatan. Aku yakin bisa bikin kamu bahagia dan sayang sama aku. Aku sayang kamu."
"Aku bener-bener berharap... suatu hari nanti bisa bales ucapan itu dengan tulus. Rasanya aku akan tampak berbohong kalo ngucapin sayang ke kamu sekarang. Maafin aku," ucap Lisa dengan tatapan sedih.
Lisa tak bisa pura-pura berbohong. Jika dipaksakan mengatakan kata cinta, pasti ucapan itu akan terdengar tidak tulus. Bualan itu justru akan semakin menyakiti Dion. Ia akan tampak semakin jahat bila membohongi Dion dengan kata-kata cinta palsu.
"It's ok." Dion menggenggam tangan Lisa lebih erat lagi untuk meyakinkannya.
"Terima kasih. Aku beruntung memilikimu," jawab Lisa.
Dion sudah merasa cukup beruntung bisa menjadi kekasih Lisa, meskipun belum mendapatkan balasan rasa yang sama. Kesempatan ini berhasil ia dapatkan setelah penantian bertahun-tahun. Dion akan mengerahkan semua usahanya untuk membuat Lisa berpaling dan melihat kesungguhan hatinya.
***
Rey Hutomo
Aku bakalan ke butik sore ini buat fitting. Sherly gak bisa ikut, karna lagi meeting. See you.
Lisa menatap chat yang baru saja masuk ke ponselnya. Selama beberapa saat ia terdiam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya. Ia masih harus menghadapi Rey hingga pesta pernikahannya benar-benar berlangsung. Namun saat ini ia tak lagi sendiri. Ada Dion yang hatinya sekarang harus dijaga.
Lisa lalu pergi menuju ruangan Dion. Ia mengetuk pelan pintu ruangan kekasihnya, sekaligus atasannya itu. "Masuk," seru Dion dari dalam ruangan. Lisa langsung masuk dan segera menghampiri Dion yang tampak sibuk di meja kerjanya.
"Kenapa, Lis?"
Lisa tampak ragu selama beberapa detik. Namun ia membulatkan tekadnya untuk melanjutkan ucapannya. "Nanti sore Rey bakalan datang sendirian tanpa Sherly. Dia mau fitting," ucap Lisa dengan nada penuh kehati-hatian.
"Kamu ke sini cuma mau bilang itu aja?" Dion tersenyum. Pria itu seakan tau maksud hati Lisa.
"Iya. Harus lapor pacar dong kalo mau ketemu mantan." Lisa tertawa geli mengucapkan kalimat yang tak biasa diucapkannya itu ke Dion. Lisa terbiasa memperlakukan Dion layaknya seorang sahabat dan atasan selama bertahun-tahun. Menyebut pria itu dengan sebutan pacar, masih membuat Lisa merinding kegelian. Rasanya masih aneh, meski ini bukan hari pertama mereka sebagai kekasih.
Dion tersenyum senang, lalu menatap Lisa. "Aku pikir kamu mau minta ditemenin. Ternyata cuma ngelapor doang."
"Kalo mau temenin juga gak papa sih. Aku gak masalah."
Lisa tak ingin melarang Dion bertemu dengan Rey. Lisa takut kekasihnya itu mengira ia hanya ingin berduaan dengan Rey. Setidaknya Lisa ingin menjaga perasaan Dion.
"Aku percaya kamu bisa handle dia. Cuma mungkin aku bakalan temui dia setelah sesi fitting selesai," jawab Dion dengan raut wajah penuh ketenangan.
Meskipun Dion tak menunjukan tanda-tanda cemburu pada ekspresi wajahnya, tapi Lisa merasakan nada bicara kekasihnya itu penuh penekanan dan maksud tersembunyi. Lisa menatap Dion dengan sedikit memicingkan matanya, lalu berkata, "Kamu mau ngapain?"
"Mau kasih tau kalo aku itu pacar kamu," jawab Dion sambil mengedipkan mata. Kemudian tertawa cekikikan.
"Oh... aku pikir apaan. Yaudah." Lisa menghela nafas lega.
"Emang kamu mikir apaan?"
"Aku mikir kamu mungkin bakalan berantem sama Rey." Lisa tertawa sambil geleng-geleng kepala. Padahal ia tau Dion bukan tipe pria yang suka menggunakan kekerasan dalam menghadapi masalah. Namun karena ini tentang Rey, Lisa meragukan kekasihnya itu mampu mengendalikan emosinya.
"Enggaklah. Aku mungkin bakalan mempertegas batasan antara kamu dan dia. Cuma gak pake berantem, apalagi main fisik. Yah bagaimanapun dia lagi jadi klien kita. Kamu tenang aja."
"Syukurlah..." Lisa tersenyum lega. Jawaban bijak Dion menghapus rasa khawatirnya. Ia hanya tak ingin Dion dan Rey saling baku hantam hanya karena dirinya.
"Jam berapa dia datang?"
"Jam lima sore. Oh ya, kayaknya aku harus cek dulu deh setelan jas punya Rey. Takutnya masih ada cacat yang kemarin luput diperiksa."
"Oke."
Kemudian Lisa keluar dari ruang kerja Dion dan pergi menuju ruangan penyimpanan busana. Ia harus benar-benar memastikan busana itu sempurna. Setidaknya ini persembahan terakhir dan semoga terbaik untuk mantan kekasihnya itu.
***
Lisa melirik jam dinding. Waktu kini telah menunjukan Pukul 05.00. Lisa tau Rey tak pernah terlambat, sehingga ia telah menyiapkan setelan jas di ruang fitting dengan rapi. Beberapa detik kemudian, pintu utama butiknya terbuka. Seperti dugaannya, Rey memang datang tepat waktu. Mantan kekasihnya itu berjalan menghampirinya yang sedang berdiri di ruang tamu. Pria itu berjalan dengan tatapan mata yang begitu lekat ke arahnya.
"Hai..." sapa Rey.
Kata sapaan itu terdengar tak biasa bagi Lisa. Rey seakan sedang ingin mendekatinya dan menyentuh hatinya. Lisa lalu membalas sapaan Rey itu dengan senyuman singkat. Kemudian ia langsung bertanya, "Mau langsung fitting aja gak? Takutnya kamu buru-buru."
"Sebenerya aku santai... tapi kalo kamu pengen ini cepet selesai, ya udah oke. Ayo segera fitting."
Lisa terdiam ketika melihat sorot kesedihan ditatapan Rey. Lisa menangkap jika mantan kekasihnya itu sebenarnya ingin mengajaknya berbincang. Karena suasana terkesan menjadi canggung, Lisa buru-buru segera bersikap biasa kembali. Ia tak ingin Rey bisa melihat kedalaman isi hatinya lewat ekspresi wajahnya.
Bohong jika ia bilang tidak merasakan apapun saat ini. Hatinya masih terasa gugup dan sakit secara bersamaan. Langkah kakinya terasa berat untuk menghantarkan Rey melihat busana pernikahan buatannya. Namun ia tak bisa membiarkan Rey menyaksikan semua perasaan itu.
Lisa lalu segera berjalan menuju ruang fitting dengan Rey yang berjalan mengikutinya dari belakang. Setelah sampai, Lisa langsung memberi kode ke Tina untuk menunjukan setelan jas Rey. "Ini jas kamu. Silahkan dicoba. Kalau ada yang kurang pas atau kurang rapi, silahkan kasih tau ke aku."
"Oke." Rey lalu menerima setelan jasnya dan segera pergi ke ruang ganti.
Lisa lalu duduk di kursi sambil menunggu Rey berganti baju. Ia mengambil majalah yang tergeletak di atas meja dan membacanya sambil menunggu Rey keluar dari ruang ganti. Sebenarnya ia tak terlalu tertarik membaca majalah. Ia hanya ingin menutupi isi hati dan ketidak nyamanan yang sedang dirasakannya saat ini. Setidaknya ia bisa bersembunyi di balik lembaran kertas majalah, meski hanya sebentar.
Setelah beberapa menit berlalu, Rey telah selesai berganti dan telah berdiri di hadapan Lisa. Ia menutup majalahnya dan mulai memperhatikan busana rancangannya yang kini telah dipakai Rey. Design jas buatannya terasa menempel sempurna di tubuh Rey. Ia memang tak salah memilih warna putih untuk bahan jas dan celana buat Rey. Warna itu terasa memukau di badan Rey. Tepian bewarna merah marun di kerah jasnya membuat setelan busana itu akan terasa serasi dengan gaun pernikahan Sherly
"Gimana? Udah oke atau masih ada yang kurang?" tanya Lisa.
"Menurut kamu gimana?" tanya Rey balik.
Lisa mengerutkan keningnya. Pertanyaan Rey terasa aneh baginya. "Lho kok aku? Kan kamu yang mau nikah dan make bajunya. Bukan aku. Pendapat aku gak penting di sini," tegas Lisa.
"Buat aku... itu penting." Rey menatap Lisa dengan lekat.
Detik ini nafas Lisa kembali terasa sesak. Ia merasa sulit bernafas dan hatinya mulai terasa sakit. Rey berdiri dihadapannya dengan begitu tampan dan gagahnya dengan sepasang mata yang tak henti menatapnya. Namun situasi yang tercipta diantara mereka tak pernah bersahabat untuk menjadi sepasang kekasih.
"Hai..." Dion tiba-tiba muncul di ruangan fitting dan menghampiri mereka. Lisa pun mencoba menyapa Dion dengan senyuman, meskipun terasa seperti dipaksakan.
Lisa menarik nafas dengan kemunculan Dion yang mendadak. Ia bisa merasakan suasana berubah menjadi tegang, meski Dion menyapa dengan wajah penuh keramahan.
"Rey ya? Gimana jas-nya?" tanya Dion.
"Lo siapa?" tanya Rey. Rey mengerutkan keningnya. Ini memang kali pertama Rey melihat Dion, sehingga wajar Rey merasa aneh dengan kehadirannya.
Dion tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman. "Gue, Dion. Atasan sekaligus pacarnya Lisa."
Lisa menahan nafas ketika merasakan ketegangan yang terjadi diantara Rey dan Dion. Lisa bisa melihat Rey begitu terkejut dan menatap Dion dengan pandangan tak percaya. Ia memang tak menceritakan tentang Dion dan statusnya yang sekarang sudah memiliki kekasih. Lisa merasa tak perlu memberitahukan kabar terbaru dirinya pada mantan kekasihnya itu.
"Kamu udah punya pacar?" Rey menatap Lisa dengan wajah penuh keterkejutan. Rey tanpa sadar tidak membalas ajakan jabat tangan dari Dion.
Dion menarik tangannya ketika menyadari Rey enggan untuk bersalaman dengannya. Dion lalu menatap Lisa dengan senyuman. Ia menganggukan kepalanya sebagai kode agar Lisa memberitahukan status hubungan mereka secara lantang ke Rey.
Lisa akhirnya menganggukan kepalanya. "Iya... aku udah punya pacar. Kenalkan ini Dion, dia pacar aku. Pacar sekaligus sahabat dan atasanku."
Namun Rey terdiam selama beberapa saat. Ucapan Lisa tadi tampaknya telah memukul hebat hati Rey, hingga membuat pria itu tak mampu berkata-kata. Seketika suasana menjadi hening sekaligus semakin mencekam.
"Gue tau kok lo mantannya Lisa. Dia udah cerita semuanya," ucap Dion. Namun Rey masih membisu dengan tatapan kosong. Rey terlihat masih mengelola rasa syoknya akan situasi ini.
"Gue seneng lo bikin baju nikah di butik gue. Kami pengen kasih yang terbaik, apalagi lo temennya Lisa. Gue berharap design jas ini gak mengecewakan lo," ucap Dion dengan senyum ramah.
"Gue bukan temennya Lisa," ucap Rey tiba-tiba.
Dion menaikan sebelah alisnya dan menatap sinis ke arah Rey. "Jadi kalian musuhan?"
"Gak juga. Kami gak berteman, tapi juga bukan berarti musuhan," jawab Rey dengan tatapan tajam.
Dion kembali tersenyum. "Oh gitu. Cuma yang pasti gak akan lebih dari teman."
"Entahlah..." ucap Rey.
Lisa merasa suasana semakin tak nyaman. Jika ini terus berlanjut, ia takut akan terjadi pertengkaran diantara Rey dan Dion. "Kayaknya acara fitting-nya udah kelar deh. Kamu bisa lepasin jasnya dan balik, Rey. Aku masih harus ngurusin klien yang lain bareng Dion."
Rey menghela nafas. Ia memang tak lagi memiliki alasan untuk terus bertahan di ruangan itu. "Baiklah." Rey lalu berbalik dan pergi ke ruang ganti pakaian.
Setelah Rey pergi, Dion lalu merangkul Lisa dengan erat. "You did well, Lis," bisik Dion.
Namun Lisa hanya tertunduk dengan bibir yang masih membisu. Matanya memerah karna menahan tangis. Lisa hanya mengangguk mendengar pujian dari Dion. Kalimat itu seakan mengapresiasi usahanya sepanjang waktu tadi untuk bisa kuat menghadapi Rey. Dion seolah memahami betapa berat hatinya untuk bisa tersenyum menemui Rey. Betapa sulit hatinya untuk memberikan busana rancangan terbaiknya untuk pernikahan Rey, mantan kekasihnya yang masih belum bisa ia lupakan.
CONTINUED