Aku terduduk di ruang kantor Dion dengan tatapan kosong. Situasi tadi sudah aku bayangkan sebelumnya beribu kali. Situasi dimana Rey mengetahui hubunganku dengan Dion. Namun rasa gugup dan tegang tak langsung sirna, meskipun aku sudah mempersiapkan mental untuk keadaan ini. Tatapan tajam sekaligus terkejut dari mata Rey seketika membuat hati ini terasa sakit. Sorot kesedihan di matanya juga ikut mengiris hatiku. Akan tetapi ini memang pilihan yang aku buat secara sadar. Karena itu, aku harus kuat menanggung konsekuensinya sekalipun berujung pada kesakitan.
Dion meletakan secangkir teh manis hangat di meja untukku. "Di minum, Lis," ucapnya sambil duduk disampingku.
"Makasi, Dion." Aku menyeruput teh manis itu, lalu meletakannya kembali ke atas meja. Kehangatan teh yang ku cicipi tadi cukup membuat tubuh dan hatiku terasa hangat. Dion memang selalu tau apa yang ku butuhkan.
"Mungkin dia gak akan ganggu kamu lagi setelah tau hubungan kita," ucap Dion.
Aku tersenyum datar. "Semoga saja," ujarku. Sejujurnya aku meragu. Rey bukan pribadi yang mudah menyerah. Banyak tahun telah berlalu sejak kami berpisah. Namun Rey tetap saja belum menyerah padaku. Pria itu masih tetap menginginkanku kembali menjadi miliknya.
Namun setidaknya sekarang aku bisa menggunakan Dion sebagai alasan agar dia tidak bisa mendekatiku. Dion pun pasti tidak akan membiarkan Rey menghampiriku. Setidaknya sekarang aku memiliki seseorang yang bisa melindungiku.
Rey memang belum tentu akan mundur dengan kehadiran Dion. Namun bila aku benar-benar menunjukan kalau perasaanku telah hilang sepenuhnya, mungkin saja dia akan mundur. Bila aku bisa menampilkan bahwa Dion telah mengisi hatiku, mungkin Rey akan benar-benar menyerah.
"Kalau Rey dan Sherly undang kita ke pernikahan mereka, apa kamu mau datang?" tanya Dion.
"Entahlah. Aku masih bingung." Aku meragu hatiku akan kuat menginjakan kaki ke sana. Melihat Rey mengenakan setelan jas yang aku buat dan bersanding di pelaminan dengan wanita lain, sungguh pemandangan yang menyakitkan.
Aku tidak ingin tertangkap rapuh di mata Rey. Aku tak ingin pria itu mendapat gambaran jika aku lemah tanpanya. Aku hanya ingin hatiku dan Dion saja yang tau bagaimana kerasnya bertahan di dalam situasi ini. Aku tak ingin sok kuat, lalu akhirnya menangis di pojok ruangan.
"Sebaiknya kamu datang, Lis. Aku akan menemanimu." Dion menggenggam tanganku dengan erat. Seolah ia ingin meyakinkan dan menguatkanku.
"Aku meragu bisa kuat berdiri di sana, Dion. Bagaimana jika Rey justru melihatku menangis? Semuanya akan kacau."
"Jika itu terjadi, aku akan memelukmu dan mengahalangi pandangannya ke arahmu. Ada aku, Lis." Dion tersenyum dan menatapku dengan lekat.
"Tapi untuk apa aku datang ke sana? Tugasku sebagai designer udah kelar. Aku gak punya kepentingan buat ke sana." Aku masih terus berusaha menolak ide gila Dion.
"Sebagai undangan, Lis. Jika diundang, seharusnya kamu datang. Kalo tidak, mantan kamu itu bakalan mikir kalo kamu masih belum move on. Seandainya pun kalo kamu tumbang di sana, aku bakalan kuatin kamu. Kan kamu gak sendirian, Lis."
Mungkin benar apa yang dikatakan Dion. Jika aku bersikap seperti pengecut, mungkin Rey akan berprasangka kalau aku masih menyimpan rasa. Semua usaha untuk menutupi perasaaanku, akan terasa sia-sia. Aku akan tampak seperti pecundang yang belum bisa mengikhlaskan mantan kekasihnya menikah. Tidak, aku tak ingin tampil seperti itu.
"Gimana?" tanya Dion lagi.
"Baiklah. Mungkin apa yang kamu bilang itu benar. Aku harus hadir dan menampilkan kalau aku baik-baik aja meski dia menikah."
"Tenanglah... ada aku di samping kamu."
Aku menatap Dion dengan lekat. Keberadaan lelaki ini sungguh seperti sebuah anugerah. Mungkin tak akan ada lagi pria seperti Dion yang mau menerimaku sebagai kekasihnya meski hati ini masih dimiliki pria lain. Aku bersyukur dia ada dan tetap bertahan di sisiku.
"Terima kasih, ya. Aku beruntung memiliki kamu," ucapku.
Dion lalu merangkul dan membelai kepalaku. Rasanya hangat dan aman. Namun semakin hangat pelukan itu, rasa bersalah semakin menggelitik hati ini. Seandainya aku bisa membalas ketulusan ini dengan sedikit rasa cinta, mungkin bisa meringankan perasaan bersalah ini.
"Gak perlu berterima kasih. Aku udah cukup bahagia dengan keberadaan kamu yang ada dipelukanku saat ini," bisik Dion.
***
Seharian aku sibuk di ruang jahit bersama Tina. Banyak pesanan klien yang dikejar tenggat waktu. Aku mulai panik hingga seharian duduk di samping tukang jahit memperhatikan mereka bekerja. Setidaknya aku bisa memacu mereka untuk bekerja secepat dan seteliti mungkin. Aku tak akan melakukan ini, jika tenggat waktu kami masih longgar.
Klien VVIP butik ini sebagian besar tak bisa dibujuk untuk memberi kelonggaran waktu. Jika terlambat. mereka akan membuat keributan untuk meminta pesanan mereka selesai detik itu juga. Tak jarang mereka mengancam akan menyebarkan rumor buruk tentang butik ini, jika permintaan mereka tak diikuti. Pada awalnya aku mau gila mengikuti kemauan mereka. Namun pengalaman membuatku terbiasa dan lebih tahan banting.
"Pak... ini jahitannya kurang rapi. Tolong diperbaiki." Aku menegur sopan Pak Tarno, penjahit yang sudah berusia empat puluh tahun itu.
"Baik, Bu." jawabnya.
"Bu Mirna... ini ukuran pinggangnya kebesaran. Gak sesuai ukuran. Coba ibu periksa dan perbaiki lagi."
"Baik, Bu."
Aku menghela nafas melihat situasi ini. Begitu banyak yang harus diperbaiki, padahal waktu sudah mendesak. "Bu Mirna dan Pak Tarno... kalian jangan pulang sebelum itu diperbaiki ya. Kalo gak... gaunnya gak bakalan kelar sebelum tenggat waktu. Aku minta tolong ya," pintaku dengan sopan.
"Iya tenang aja, Bu. Bapak akan selesaikan. Ibu bisa pulang dan istirahat. Biar Bu Tina aja yang mengawasi kami," ujar Pak Tarno.
"Bener, Bu. Ibu udah lembur selama seminggu ini. Kami takut Ibu sakit," timpal Bu Mirna.
"Lis..." tiba-tiba Dion muncul di ruang jahit dan memanggilku.
"Kenapa? Tumben ke sini." Dion tak pernah menghampiriku di ruang jahit. Biasanya ia akan menemuiku jika sudah di ruang kerja.
"Sherly Zanna ada di lobi. Dia nyariin kamu," jawab Dion.
Aku bingung. Setauku hari ini tak ada janji temu dengan wanita itu. "Dia mau ngapain? Dia gak bilang mau ke sini ke aku kok."
"Entahlah. Cuma ada baiknya kamu temui dia."
"Baiklah."
Aku menuruti saran Dion dan segera menghampiri calon istri dari mantan kekasihku itu. Setelah sampai di lobi, aku melihat Sherly sedang duduk dan memainkan ponselnya. Seperti biasa, wanita itu mengenakan busana mahal dan terkesan elegan. Dagunya terangkat penuh dengan ekspresi wajah penuh keangkuhan. Aku duduk di depannya dan mencoba untuk tersenyum ramah.
"Hai Nona Sherly... tumben datang tanpa pemberitahuan," ucapku setengah menyindir.
"Gue pikir lo gak sesibuk itu hingga harus bikin janji sebelum ketemu," jawab Sherly sambil memasukan ponsel ke dalam tasnya.
Aku mencoba tetap mempertahankan senyumku, meski rasanya ingin meninggalkan gadis ini sekarang juga. "Jadi ada perlu apa?" tanyaku.
"Gak ada perlu apa-apa. Gue cuma mau kasih undangan nikah." Sherly meletakan selembar undangan ke atas meja.
Aku menatap kertas itu selama beberapa saat. Ada rasa sesak dan sakit ketika melihat nama Rey dan Sherly di halaman depan undangan itu. Undangan itu membuat semua terasa nyata. Rey memang calon suami Sherly. Dia memang bukan milikku dan tak akan pernah menjadi milikku. Undangan itu membuatku kembali tersadar jarak yang terbentang antara kami.
Undangan itu membuat standar yang jelas wanita seperti apa yang pantas untuk berada di samping Rey. Sherly merupakan wanita cantik, berpendidikan baik, berasal dari keluarga terpandang, dan memiliki kekayaan yang setara dengan keluarga Rey. Aku bisa memahami mengapa aku ditolak orang tua Rey dan justru Sherly yang diterima. Dari semua aspek, aku kalah jauh dengan wanita ini. Nama Sherly memang jauh lebih pantas tertera di undangan itu daripada namaku.
"Hey... kok lo ngelamun sih?" tanya Sherly heran.
Aku langsung tersadar dan segera mengambil undangan itu. Aku mencoba kembali tersenyum, meski pikiranku masih kalut. "Hmm... enggak kok. Makasih ya undangannya. Nanti gue bakalan dateng bareng Dion," jawabku.
"Dion? Siapa dia? Cowok lo?" tanya Sherly.
Aku mengangguk. "Dia juga pemilik butik ini," ucapku.
"Wah lumayan lah. Buat cewek kayak lo bisa dapet pemilik butik," ujar Sherly dengan nada sinis.
Rasanya aku ingin menarik kasar mulut wanita itu dan mendorong tubuhnya keluar dari butik ini. Namun aku berusaha menahan emosi dan mencoba untuk bersabar. Bagaimanapun juga Sherly pelanggan VVIP butik ini, terlebih lagi dia juga calon istri Rey. Aku tak ingin terlibat keributan dengannya, apalagi dalam waktu ini.
"Baiklah. Gue cabut. Gue gak mau tau, lo harus datang ke nikahan gue!" tegas Sherly.
"Gue pasti datang kok. Tenang aja," ucapku dengan senyum datar.
"Baguslah," balas Sherly. Wanita itu tersenyum sinis sesuai gaya biasanya, lalu mengambil tas, dan bersiap untuk pergi.
"Yaudah. See you di nikahan gue."
Sherly lalu segera keluar dan pergi meninggalkan butik. Sementara aku menatap kertas undangan itu selama beberapa menit.
***
Aku menatap kertas undangan itu selama beberapa saat di kursi kerjaku. Aku termenung dengan tatapan mata tak lepas dari guratan nama yang ada di kertas itu. Mataku masih tertuju pada ke dua nama yang bersanding di undangan itu.
Pemandangan yang menyakitkan untuk mata ini saksikan. Namun juga membuatku kembali tersadar. Aku memang bukanlah masa depan Rey. Nama Sherly tak akan pernah berubah menjadi namaku sampai kapanpun.
Aku bukan iri. Aku hanya ingin kembali menyadarkan pikiran dan hatiku. Membuat rasa sakit ini tertancap jelas di dalam memoriku, sehingga tak akan pernah lagi berharap.
Setelah setengah jam berlalu, aku memasukan kembali undangan itu ke amplop. Kemudian aku membawanya sambil pergi menuju ruangan Dion. Aku melihat Dion sedang sibuk melihat-lihat contoh bahan kain di atas meja kerjanya. Namun Dion langsung menghentikan aktivitas kerjanya setelah melihat kesibukanku. Dion memang seperti itu. Selalu mengutamakanku daripada apapun kegiatan dan kesibukannya.
"Kenapa, Lis?" tanya Dion dengan senyum khasnya.
Aku duduk di kursi, lalu menyodorkan kertas undangan ke Dion. "Sherly tadi nganter ini. Undangan pernikahannya."
Dion mengambil undangan itu, lalu membukanya. "Wah ternyata diundang juga. Jadi gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Lisa balik.
"Kamu mau dateng gak?"
Aku terdiam selama beberapa saat dengan kepala tertunduk. Dion tentu bisa melihat keraguan dan kebimbangan yang teramat jelas dari raut wajahku. Aku memang tak bakat menutupi isi hatiku, apalagi bila di depan Dion.
Dion langsung menghampiriku, duduk di sebelahku, lalu menggenggam tanganku. Tatapan matanya begitu lekat menenangkanku. Kemudian aku dirangkulnya dengan lembut. "Tenang. Kan ada aku. Kamu gak perlu ragu dateng ke pernikahan itu," bisik Dion lembut.
Perlahan air mataku turun. Kalimat menyentuh itu seakan menghancurkan topeng kepura-puraanku yang bersandiwara tegar. Seketika aku menangis tersedu di dalam pelukan Dion. Mengeluarkan semua kesakitan dan luka hatiku di dalam rangkulannya. Aku seakan sedang merintih lewat air mata.
Aku memang terluka, sedih, kecewa, marah, dan sakit. Pada keadaan yang seolah tak mengijinkan aku untuk bahagia. Pada semesta yang seolah mendatangkan masa lalu hanya untuk membuatku terluka. Pada situasi yang menjebakku pada kesakitan yang begitu dalam. Aku tak dibiarkan untuk kabur atau bersembunyi pada keadaan ini. Seakan aku tak dibiarkan untuk lari dari hadapan Rey.
Aku tak bisa lari dari pernikahan itu. Aku tak mungkin tidak datang ke sana. Aku tau itu. Dion memang benar. Aku tak mungkin menjadi pecundang dan menunjukan bila aku tak merelakan pernikahan itu terjadi. Aku harus menampakan wajahku di sana, meskipun aku akan penuh kesakitan karena luka hati tak tertahankan.
Aku tak tau seberapa kuatnya aku hingga bisa melihat Rey, pria yang masih ku sayangi akan bersanding dengan wanita lain. Aku tak tau seberapa tahannya telingaku melihat Rey akan mengucapkan janji komitmen sehidup semati dengan wanita lain. Aku tak tau seberapa ketahananku menanggung rasa sakit itu. Aku hanya tau, aku pasti akan penuh kesakitan.
Namun ucapan Dion benar-benar menyentuh hatiku. Janji pria itu untuk mendampingiku benar-benar menguatkanku. Aku tau pasti Dion tidak akan membiarkanku runtuh di sana. Dia akan menahanku jika aku lemah. Dia pasti akan memelukku dan menghapus air mataku bila aku tak kuat menanggung kesakitannya.
"Makasih ya. Makasih kamu ada buatku. Makasih kamu nguatin aku. Aku bener-bener beruntung punya kamu," ucapku dengan linangan air mata.
Dion melepaskan rangkulan tangannya. Pria itu menghapus air mataku dengan jemari tangannya. Dengan lembut Dion berkata, "Aku yang makasih kamu ngebiarin aku ada di samping kamu. Kita datang ke pesta pernikahan itu ya."
Aku mengangguk setuju, meski air mata kembali berlinang membasahi pipiku. "Iya. Kita datang ke sana."
CONTINUED