9. Ambang Batas

2066 Words
Lisa menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memastikan riasan wajahnya telah sempurna. Hari ini terasa bersejarah karena ia akan menghadiri pernikahan Rey, mantan kekasihnya yang sukses membuat kehidupannya kacau akhir-akhir ini. Karena itu ia tidak ingin ada cela dalam penampilannya.   Lisa mengagumi design gaun yang dibuat oleh Dion untuknya. Gaun putih ini menempel sempurna di tubuhnya. Lisa lalu mengambil sebuah kalung dengan liontin merah kecil untuk menghiasi lehernya yang masih tampak kosong. Selama beberapa detik, ia menganggumi penampilannya.   Namun setelah itu, Lisa justru menatap pantulan dirinya dengan sorot kesedihan. Hari ini memang terasa spesial, tapi juga hari paling menyakitkan didalam hidupnya. Ia mengenakan gaun yang indah untuk pergi ke sebuah tempat yang terasa seperti neraka. Ia memasang eyeliner dan eyeshadow serapi mungkin di matanya, padahal sepasang mata itu akan melihat adegan yang akan mengiris hatinya.   Adegan dimana pria yang masih disayangi olehnya akan mengucapkan janji suci dengan wanita lain. Membayangkannya saja sudah terasa menyakitkan. Lisa buru-buru mengangkat kepalanya ketika ia merasa air matanya akan keluar. Ia tak ingin make up-nya luntur hanya karena menangis. Jika ia tak bisa menahan air mata sekarang, bagaimana mungkin ia bisa bertahan menyaksikan altar pernikahan milik Rey.   Tiba-tiba ponsel Lisa berdering. Ia segera menjawab panggilan masuk itu ketika mendapati ternyata Dion yang meneleponnya. "Halo..." sapa Lisa.   "Aku udah didepan rumah. Buruan keluar ya," ucap Dion.   "Oke." Setelah menutup telepon, aku segera mengambil tas, lalu keluar kamar.   Ketika hendak keluar rumah, aku berpapasan dengan Hyena di ruang tamu. Hyena sepertinya sedang menunggu Andrew untuk menjemputnya. Rey memang tak mungkin tidak mengundang Hyena, apalagi Andrew ke pernikahannya.   Dahulu Hyena pernah berpacaran dengan Rey ketika SMA. Andrew yang merupakan pacar Hyena sekarang juga adalah sahabat Rey. Karena itu mereka pasti datang ke pernikahan Rey nanti.    "Lo cantik banget, Lis! Parah!" seru Hyena dengan sorot mata penuh kekaguman.   "Makasih lho. Jarang-jarang lo muji gini hahaha. Nungguin Andrew?"   "Iya. Katanya udah deket, tapi sampe sekarang dia belum juga dateng. Huh!"   Lisa tersenyum melihat tingkah Hyena. Sejujurnya ia mengagumi Hyena dan Andrew. Mereka berhasil mempertahankan hubungan, meski banyak tahun telah berlalu sejak kelulusan SMA. "Gue duluan ya, Hyen," ucap Lisa.   "Lo pergi sendirian? Yakin gak mau bareng sama kita?" tanya Hyena dengan tatapan penuh kekhawatiran.   "Gue gak sendirian kok. Gue bareng sama cowok gue," jawab Lisa.   Hyena tampak terkejut dengan jawaban Lisa hingga matanya terbelalak "Lo punya pacar?! Kok gak cerita-cerita sih!" teriak Hyena.   Lisa menggigit bibirnya. Ia tersadar kesalahan yang telah dilakukannya. Ia lupa bercerita pada sahabatnya itu. Padahal mereka bertumbuh bersama sejak kecil dan jarang ada yang dirahasiakan diantara mereka. Wajar bila Hyena marah karena mengetahui ia lupa menceritakan tentang kekasih barunya.   "Lo aja sibuk. Gimana gue mau cerita. Udah ya, Hyen. Dia nungguin di depan soalnya. Kasian kalo gue kelamaan di sini." Lisa segera pergi meninggalkan Hyena sendirian tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya itu. Lisa sengaja mengabaikan teriakan Hyena yang memanggil namanya. Jika ia tetap di sana berlama-lama, Hyena akan memarahinya habis-habisan. Lebih baik ia kabur dan segera meninggalkan Hyena.    Lisa akhirnya keluar rumah. Ia langsung menemukan mobil Dion yang terparkir di depan rumah. Ia pun segera berjalan menghampiri mobil Dion dan masuk ke dalamnya.   "Kamu nunggu lama ya. Maaf ya," ucap Lisa sambil masuk ke dalam mobil. Kemudian Lisa memasang seat belt dan bersiap untuk berangkat.   "Gak lama kok," jawab Dion dengan senyuman. Dion lalu menatap Lisa dari atas kepala hingga ujung kaki. Pria itu tersenyum dengan tatapan penuh kekaguman ke arah Lisa. "Kamu cantik," puji Dion tulus.   Dion sangat jarang memuji penampilannya. Karena memang mereka jarang menghadiri pesta atau undangan pernikahan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di butik. Karena itu penampilan Lisa memang biasa saja. Layaknya penampilan seorang designer sedang bekerja.   Lisa membalas pujian Dion dengan senyuman. "Terima kasih. Kamu hari ini pake supir? Tumben."   "Iya. Aku pengen duduk di belakang dan temenin kamu," ucap Dion sambil menggenggam tangan Lisa.   Lisa tersenyum menerima perlakuan manis dari kekasihnya itu. Ia sangat tau isi hati Dion yang ingin menemani dan menguatkannya melalui hari ini. Karna itu, ia bersyukur karena Dion setia mendampingi dan bertahan disampingnya. "Makasi ya," ucap Lisa.   "Kok kamu gak puji aku ganteng sih?" protes Dion.   Lisa tertawa cekikikan. Dion bak seorang anak kecil yang haus akan pujian. "Kok kamu kayak butuh pengakuan begitu sih. Tumben banget," ucap Lisa sambil geleng-geleng kepala.   "Yah siapa lagi yang bakalan muji ganteng kalo bukan pacar sendiri." Dion tertawa geli dengan ucapannya sendiri.   Lisa kembali tertawa. "Baiklah. Kamu ganteng kok."   "Itu pujian ikhlas? Atau karna terpaksa?" tanya Dion sambil menaikan sebelah alisnya.   "Ikhlas dong. Kamu emang ganteng kok hari ini. Jas kamu bagus. Kamu juga tampan. Yah gak malu-maluin lah buat dibawa ke nikahan mantan," jawab Lisa.   "Oh jelas." Dion merapikan jasnya dengan raut wajah angkuh. Kemudian ia kembali tertawa geli karna tingkahnya sendiri.   Lisa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol kekasihnya itu.   ***   Rey terduduk di ruangan yang memang disiapkan untuk keluarga pengantin menunggu. Rey tampak tak acuh meski diruangan itu banyak orang yang hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Ada beberapa penata rias yang sedang sibuk menata make up dan rambut keluarganya. Orang tua serta adiknya juga terlihat sibuk memastikan penampilan mereka di depan kaca. Semua orang begitu sangat menyiapkan diri untuk menyambut hari spesial di dalam hidup Rey.   Namun berbeda dengan Rey. Ia benar-benar tampak tak peduli. Ia bahkan tak memastikan penampilannya di cermin. Bahkan ia menggaruk rambutnya dengan asal sehingga mulai tampak berantakan. Ia duduk sembarangan sehingga jas yang dikenakannya mulai kusut. Wajah Rey pun tidak menunjukan kegugupan sedikitpun selayaknya pria yang akan mengucapkan janji suci pernikahan.   "Rey, itu rambut kamu mulai berantakan! Mbak, rapiin lagi rambut anak saya." Grace memerintah penata rambut yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.   Namun Rey justru tersenyum sinis. "Gak perlu. Cukup begini aja. Lagipula ini bukan pernikahan yang aku inginkan. Setidaknya jangan ikut-ikutan mengatur penampilanku."   Nada bicara Rey tidak meninggi, tapi tetap terdengar kemarahan didalamnya. Rey duduk bersilang sambil memainkan game di ponselnya tanpa menatap wajah Grace yang saat ini sedang menatapnya penuh amarah. Rey tampak ingin berbuat sesukanya, tak ingin diatur, setidaknya dalam hal penampilan dan sikap tubuhnya.   Pernikahan ini bukan karna kemauannya. Tidak ada landasan cinta di dalamnya. Ini sebuah paksaan. Rey tak pernah punya kesempatan untuk menolak atau mengutarakan apa kemauannya. Seakan hidupnya itu bukanlah miliknya, tapi punya keluarganya.   Pernikahan adalah bisnis. Sebuah kalimat yang selalu digaungkan oleh keluarganya sejak dulu. Entah ketika sedang acara keluarga atau bahkan saat sedang ada diperbincangan makan malam keluarga. Kalimat itu bagai sebuah prinsip yang harus ia tancapkan di kedalaman otaknya. Bak sebuah prinsip keluarga yang tak bisa dibantah. Harus patuh apapun keadaannya.   Rey tak pernah dibiarkan untuk memilih. Tak pernah diijinkan memilih pasangan sendiri. Tak pernah diperbolehkan mengikuti hasrat hatinya. Kata cinta seakan sebuah omong kosong di dalam keluarganya. Cinta tak akan membawa manfaat apapun jika wanitanya tak sesuai dengan standar latar sosial ekonomi keluarganya. Sekalipun benar-benar muak, Rey tak punya pilihan selain mengikuti kemauan keluarganya.   Bukan karna Rey pengecut dan tak memiliki keinginan untuk hidup sesuai kehendaknya. Namun keluarganya akan melakukan seribu satu cara untuk membuatnya menuruti keinginan mereka. Rey paham betul apa yang mampu dilakukan oleh keluarganya, terutama Mamanya. Sudah begitu banyal hal yang ia alami. Apalagi perkara Lisa, wanita yang sesungguhnya ia cintai dan ingin dinikahinya.   Mamanya pernah membuat Lisa digosipkan dan di-bully satu sekolah dengan membongkar statusnya sebagai anak pembantu di media sosial. Mamanya bahkan mengancam Lisa untuk menjauhinya dengan berbagai cara. Mulai dari perkataan dan tindakan kasar, hingga mengirimkan preman untuk mencelakai Ibunya Lisa. Pada akhirnya Lisa tak kuat menghadapi tekanan Mamanya itu. Lisa pergi dan ketakutan untuk berada disampingnya, sampai sekarang.   Rey selalu dipaksa untuk menuruti kemauan keluarganya. Mungkin sikapnya sekarang sebagai bentuk pemberontakan dirinya.   "Turunkan kakimu Rey! Setidaknya ketika sedang berbicara dengan Mama!" seru Grace dengan raut wajah emosi. Grace merasa tidak dihargai oleh anaknya.   Rey kembali tertawa sinis. Ia masih dengan sikap acuhnya dan tak menatap mata Mamanya itu. "Terlalu banyak aturan didalam keluarga ini. Bahkan sikap dudukku saja Mama mau atur. Udahlah. Aku capek."   William, Papanya Rey, mulai menghampiri anaknya itu. William mulai ikut emosi melihat sikap Rey yang menurutnya sudah mulai kasar kepada orang tua. "Jaga mulutmu Rey! Sejak kapan kamu kurang ajar begini ke orang tua!" teriak William penuh amarah.   Rey meletakan ponselnya. Ia membenarkan posisi duduknya. Kemudian menatap mata ke dua orang tuanya dengan tajam. "Kalian keterlaluan. Kalian pengen aku selalu menuruti kalian. Seolah aku bukan manusia yang memiliki hati dan keinginan. Kalian selalu mengaturku dan memaksakan kepentingan kalian. Aku capek, Ma, Pa. Kalian gak bisa liat apa, kalo aku gak bahagia dengan jalan yang kalian tentukan!"   Grace tersenyum lalu geleng-geleng kepala. "Lagi-lagi kau mengucapkan kalimat omong kosong, Rey. Coba pikir, ada berapa banyak orang yang mengidamkan posisimu itu! Kamu bergelimang harta. Bahkan calon pengantinmu wanita yang super kaya. Terus kamu masih mengeluhkannya?!"   "Aku tidak berbicara tentang kekayaan, Ma! Aku berbicara tentang keinginan dan kebahagiaan. Sampai detik ini aku belum menjalani kehidupan yang sesuai dengan keinginanku. Semuanya tentang keinginan kalian. Dan aku gak bahagia!" teriak Rey seolah sedang menumpahkan emosi yang selama ini telah dipendamnya.   "Kami orang tuamu, Rey! Jangan membantah! Kurang ajar itu namanya!" seru William penuh emosi.   "Kalian selalu seperti itu! Memaksaku menuruti perintah! Aku punya hati, Ma, Pa! Aku ingin bahagia! Aku ingin menikah dengan wanita pilihanku. Bukan pilihan kalian!" Rey berteriak dengan wajah mulai memerah. Emosinya benar-benar memuncak.   "Kamu memang gak punya pilihan sebagai anak. Kamu hanya perlu menuruti kemauan orang tua. Tidak ada orang tua yang jahat, Rey! Sherly wanita yang baik untukmu! Dia kurang apa? Dia kaya, cantik, berpendidikan, attitude-nya juga bagus, dan terakhir... keberadaan bisnis kita. Keluarganya dan keluarga kita akan membentuk perusahaan baru. Kamu terlalu bodoh jika menganggap pernikahan ini sebuah petaka. Kamu tuh harusnya bersyukur, Rey!" Grace berbicara dengan tegas sambil menatap tajam mata anaknya.   Rey bangkit dari posisi duduknya. Sikapnya berdiri seolah sedang menantang ke dua orang tuanya. Tanpa takut, Rey menatap mata Mamanya. "Aku bukan barang bisnis kalian! Berhenti seolah-olah kalian melakukan ini untuk kebaikanku! Kalian hanya peduli tentang kepentingan bisnis, bukan aku! Kalian cuma ingin aku hadir di altar kan? Itu aja kan?! Oke... aku akan berdiri di sana. Itu akan jadi kali terakhir aku menuruti permintaan kalian!"   Rey langsung meninggalkan ruangan itu. Ia mengabaikan teriakan amarah ke dua orang tuanya. Ia mengabaikan teriakan panggilan namanya. Rey tetap berjalan dan berlalu pergi. Bukan untuk kabur dari pernikahan. Namun ia hanya ingin bernafas sebentar. Istirahat sejenak.   Berada dalam ruangan yang sama dengan orang tuanya memang selalu terasa sesak. Sangat jarang pertemuan mereka tak berujung dengan pertengkaran. Terkadang Rey seperti hari ini, lepas kendali dan meluapkan amarahnya.   Sangat sulit untuk bisa sabar menghadapi tekanan orang tuanya. Ia seolah seperti tahanan di dalam penjara orang tuanya. Tak diberikan kebebasan dan pilihan untuk menentukan jalan hidup.   Keinginannya selalu dianggap kebodohan. Cintanya selalu terdengar omong kosong bagi mereka. Rey selalu dianggap seperti anak kecil yang tak paham apa dan bagaimana itu hidup.   Rey benar-benar merasa sesak. Ia memilih duduk sejenak di bawah pohon. Menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah karna emosi. Merasakan angin yang menerpa wajahnya. Rey berusaha bernafas di tengah kesesakan yang ia alami.   Namun tiba-tiba ada yang menepuk lengannya. Rey membuka matanya dan menemukan Reginald, adiknya, ikut duduk di sampingnya. "Kenapa?" tanya Rey singkat.   "Lo beneran jadi nikah?" tanya Reginald.   Rey tersenyum. Adiknya itu sangat jarang menunjukan kepeduliannya. Mereka lebih sering bertengkar karna hal sepele, layaknya Abang dan Adik pada umumnya.   "Emang menurut lo gue bisa nolak?" tanya Rey balik.   Reginald berpikir sejenak. "Enggak sih. Cuma bukan berarti perkara mustahil. Kan yang nikah itu elo, bukan Papa dan Mama. Lo yang ucapin janji nikah pake mulut lo, bukan mulut orang lain. Sebenernya tergantung lo. Mau dipaksa atau gak."     Rey kembali tersenyum. Detik ini ia merasa adiknya itu sudah besar. Ia merasa tersentuh dengan nasehat yang diberikan Reginald padanya.   "Iya. Gue tau. Makasih ya, Bro. Lo udah peduliin gue," ucap Rey sambil nyengir.   "Dih siapa juga yang peduli. Gue cuma pusing ngeliat lo berantem mulu sama Papa dan Mama. Bisa tuli kuping gue ngedenger kalian saling teriak mulu. Heran."   "Emang kalo lo jadi gue gimana? Apa yang akan lo lakukan kalo diposisi gue." Rey penasaran dengan pendapat adiknya itu. Mereka tumbuh bersama dengan latar belakang yang sama. Reginald pun mengalami pola asuh yang sama. Apa yang sedang ia alami, tentu saja akan dialami oleh Reginald.   "Ehm... entahlah. Gue belum kepikiran nikah. Gue juga belum pernah pacaran. Mungkin karna gue takut ngalamin apa yang lo alami, makanya gue takut jatuh cinta," jawab Reginald dengan kepala tertunduk.   Rey menghela nafasnya. Ia tak menyangka bahwa adiknya itu mempunyai sudut pandang seperti itu. Ia tak menyangka jika Reginald justru takut mengenal cinta. Seketika Rey merasa bersalah pada adiknya itu.   "Maaf ya. Keluarga kita begini."   Reginald melirik aneh ke arah Rey. "Dih. Kenapa lo yang minta maap? Emang lo yang nyiptain keluarga ini apa?" Reginald geleng-geleng kepala.   "Yah. Gue cuma mau minta maap aja hahahaha."   Reginald lalu menatap mata Rey dengan lekat, kemudian berbisik, "Gue bener-bener berharap lo bisa bahagia."   Rey tersenyum. "Thanks, bro."         CONTINUED  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD