Lisa keluar dari mobil dengan dibantu oleh Dion yang memegang tangannya. Lisa lalu berjalan memasuki gereja tempat pemberkatan pernikahan Rey. Dion menarik tangan Lisa, lalu menaruh ke lengannya. Lisa tersenyum penuh syukur melihat kekasihnya itu berjalan di sampingnya.
Lisa tiba-tiba menghentikan langkah kakinya ketika melihat orang tua Rey berdiri di depan pintu gereja untuk menyapa para tamu. "Kamu kenapa?" tanya Dion.
"Ada orang tua Rey di sana." Lisa menunjuk ke arah orang tua Rey.
"Terus kenapa? Kamu takut?"
"Ehm..." Lisa masih mengingat jelas bagaimana ucapan dan perlakuan kasar yang diterimanya dari Ibu mantan kekasihnya itu. Dahulu Lisa pernah dihina, bahkan disiram air secara kasar di depan umum. Memori itu meninggalkan bekas di dalam hatinya.
Lisa masih takut pada wanita itu, meski sekarang ia bukanlah seorang remaja lemah lagi. Mungkin karna wanita itu memang memiliki pesona menyeramkan di matanya. Pesona itu terlalu jelas dalam ingatannya hingga membuatnya masih gentar sampai sekarang.
Dion pasti melihat ketakutan dari raut wajah Lisa. Pria itu seakan mengerti bahwa Lisa butuh dikuatkan. Dion lalu menggenggam tangan Lisa dengan erat dan menatapnya dengan lekat. "Tenang... ada aku disini," bisik Dion.
Lisa mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Ia menarik nafas dan menghembuskannya, lalu setelah dirasa tenang, Lisa mulai kembali melangkah. Ia merangkul lengan Dion dengan erat setiap kali perasaan tegang menyerang.
Lisa benar-benar bersyukur Dion berada disampingnya saat ini. Tanpa Dion mungkin ia akan memilih membalikan badan dan meninggalkan tempat itu sekarang juga. Kehadiran Dion membuatnya mampu memberanikan diri untuk menghadapi ketakutan.
Ketika telah sampai di depan pintu masuk, Grace, Mamanya Rey langsung menatap matanya. Wanita itu memicingkan matanya, lalu menunjukan raut ketidak sukaan akan kehadiran Lisa di sana. Grace menatapnya penuh dengan kebencian. Seolah ia adalah musuh yang tak diharapkan untuk datang.
Namun meskipun kehadirannya tidak disambut dengan ramah, Lisa mencoba tersenyum untuk menyapa orang tua Rey itu. "Pagi, Tante." Lisa menyapa dengan sopan, meski tidak ada senyuman di wajah Grace ketika melihatnya.
"Ngapain kamu di sini?! Kamu mau gagalin pernikahan anak saya ya?!" seru Grace, Mamanya Rey.
Lisa menarik nafasnya, mencoba menahan emosi yang kini mulai memuncak di hatinya. Ini kali pertama mereka bertemu setelah bertahun-tahun. Namun kalimat pertama yang ia terima bukanlah sebuah kalimat sapaan, tapi tuduhan tak berdasar dengan nada penuh kebencian. Lisa benar-benar tak habis pikir bagaimana mungkin otak wanita itu hanya berisi hal-hal jahat saja.
"Enggak kok, Tante. Aku diundang sama Rey dan Sherly, makanya datang," jawab Lisa. Ia mencoba setenang mungkin ketika menjawab. Ia tak ingin membuat keributan di pernikahan orang lain.
Grace menaikan sebelah alisnya. Wanita itu memicingkan matanya dengan tatapan penuh curiga. "Oh ya? Kamu kenal Sherly dari mana? Gak mungkin gadis miskin kayak kamu kenal Sherly," sindir Grace dengan tatapan curiga. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Lisa ucapkan.
"Gaun pernikahan Rey dan Sherly, saya yang design kok Tante. Jadi wajar saya kenal Sherly dan diundang ke sini," jawab Lisa dengan senyum.
Mata Grace terbelalak tak percaya. Wanita itu tampak benar-benar terkejut. "Kamu yang design?! Kok mereka milih designer kampungan sih! Bener-bener sulit dipercaya!" seru Grace dengan raut wajah penuh emosi.
Lisa bisa menebak alasan dibalik kemarahan Grace. Wanita itu pasti menganggap kemampuannya rendahan untuk menangani busana pernikahan anaknya. Terlebih lagi pernah ada kisah antara dirinya dengan Rey. Bagi Grace pasti terasa tak masuk akal bila dirinya yang menjadi designer anaknya itu.
"Saya designer professional kok, Tante. Bukan abal-abal," balas Lisa.
Lisa sengaja mempertegas professionalitas pekerjaannya. Itu bukan sesuatu yang bisa diremehkan oleh wanita itu sesukanya. Ia dipercayai oleh Sherly karna kemampuan designnya, bukan karena faktor belas kasihan. Lisa benar-benar tak suka dengan bagaimana Mamanya Rey itu menatapnya saat ini.
"Persetan! Aku tak peduli kamu jadi apa sekarang. Yang jelas jangan kacaukan pernikahan ini!" Grace menatap tajam ke arah Lisa dan mengacungkan jari telunjuknya dengan tegas.
Dion berdiri di depan Lisa. Dion mulai tidak tahan melihat gadis yang disayanginya diperlakukan kasar. "Dia pacar saya! Jadi gak mungkin dia masih punya hubungan dengan anak anda, apalagi mengacaukan pernikahan ini. Kita tamu di sini. Bersikaplah yang terhormat sesuai dengan status sosial ekonomi anda," tegas Dion dengan nada dan tatapan yang tajam.
William, suami Grace, mulai menarik tangan istrinya itu untuk mundur ke belakang. "Kalian bisa masuk. Maafkan sikap istri saya. Silahkan pilih tempat duduk yang nyaman di dalam," ucap William dengan senyum datar.
Lisa berjalan memasuki gereja setelah Dion menarik tangannya. Lisa merasa beruntung ada Dion saat ini. Rasanya menenangkan ada seorang pria yang berdiri di depannya untuk melindunginya. Ada perasaan haru ketika melihat Dion membalas ucapan kasar Mamanya Rey. Ini kali pertama seorang pria menjadi benteng pelindungnya. Bahkan Rey saja belum pernah melakukan apa yang sedang Dion lakukan saat ini.
***
Grace menghempaskan tangan william dengan kasar. Wanita itu tak menyukai ditahan oleh suaminya, padahal ia ingin menghardik Lisa dengan kasar. Ia masih belum puas melampiaskan emosinya.
"Aku harus mengusir anak itu William! Sebelum Rey melihat dia!"
"Apa kamu pikir Rey tidak tau anak itu akan datang? Rey tentu tau Grace! Anak itu sendiri bilang kalo dia designer busana pernikahan ini!" balas William.
Grace semakin geram penuh emosional. Ia menghentakkan kakinya dengan raut wajah kesal. "Harusnya kamu jangan biarkan anak itu jadi designernya! Kamu gimana sih!"
William mengerutkan keningnya dengan tatapan heran. "Lho, kamu kan Ibunya! Seharusnya itu tugas kamu! Gimana sih! Malah lempar-lempar ke aku."
"Cih! Aku yang urus perusahaan, aku juga yang harus urusin pernikahan ini?! Enak aja! Pokoknya kalo Rey sampai goyah buat nikah karna kehadiran wanita itu... kamu yang aku salahin! Bagaimanapun juga pernikahan ini harus terjadi. Harus!"
William hanya menghela nafas kesal melihat tingkah laku istrinya itu.
***
Lisa duduk sambil memandang dekorasi gereja yang indah. Banyak ornamen mawar putih dengan hiasan kain putih di setiap sudut kursi. Di altar juga terdapat buket bunga tulip putih yang indah terpajang di sana. Lisa bisa merasakan jika pernikahan ini disiapkan dengan baik meski dalam waktu yang singkat.
Lisa bisa melihat beberapa teman SMA-nya ada di sana. Mereka tampak berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Mungkin keberadaannya memang terasa aneh bagi orang-orang yang mengetahui kisahnya dengan Rey. Bohong jika Lisa bilang ia tidak gugup duduk di ruangan ini. Namun keberadaan Dion yang duduk disampingnya membuat hatinya bisa sedikit tenang.
"Woy!"
Lisa menoleh ke arah sumber teriakan itu. Senyum langsung mengembang ketika ia menemukan Hyena dan Andrew ada dihadapannya.
"Jadi ini cowok lo?" Hyena memicingkan matanya ke arah Dion.
"Mereka siapa?" bisik Dion.
"Hyen... Ndrew... kenalin, dia Dion. Dion, mereka Andrew dan Hyena, sahabat-sahabat aku," ucap Lisa.
Dion langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Hai. Gue Dion... pacar Lisa."
"Jadi Rey kalah sama sama dia? Hahaha," canda Andrew. Hyena langsung menyikut pinggang Andrew dan memberinya kode untuk diam.
"Lo hutang cerita sama gue," tegas Hyena.
"Iya... iya. Mending kalian duduk deh. Gak pegel tuh kaki?" ujar Lisa.
Hyena dan Andrew pun lalu duduk di kursi yang ada didepan Lisa. Namun Hyena tiba-tiba berbalik badan. "Lis... itu Reginald. Lo masih inget gak?" Hyena menunjuk ke arah seorang remaja yang sedang duduk di kursi depan.
"Inget kok." Lisa tersenyum melihat Reginald, adiknya Rey. Anak itu sudah bertambah tinggi layaknya seorang remaja. Parasnya pun sekarang semakin tampan. Reginald bukan lagi bocah kecil yang menggemaskan dalam ingatannya. Sekarang dia telah menjadi seorang remaja tampan yang pasti digemari banyak anak perempuan di sekolahnya.
Namun tiba-tiba Reginald menoleh ke belakang dan tatapan matanya bertemu dengan Lisa. Selama beberapa detik, Reginald menatap wajah Lisa dengan kening berkerut. Kemudian Reginald tampak mulai berjalan menghampiri Lisa. "Kamu Kak Lisa ya?" tanya Reginald.
Lisa mengangguk sambil tersenyum. "Hai Ginald. Apa kabar?"
"Wah Kak Lisa! Aku kangen! Kak Lisa kok gak pernah nemuin aku sih. Ngilang gitu aja. Pamit kek ke aku," keluh Reginald.
Lisa tertawa melihat reaksi Reginald. "Maafin Kakak ya. Soalnya waktu itu gak sempet buat pamitan. Gimana sekolah kamu?" tanya Lisa.
"Kalo itu mah gak perlu ditanya. Aku masih selalu juara satu. Kakak sekarang jomblo?" tanya Reginald.
Dion langsung melirik ke arah Lisa. "Dia siapa?"
"Ginald, kenalin ini pacar Kakak. Dion, ini Adiknya Rey. Dulu aku pernah jadi guru lesnya dia," tutur Lisa.
"Hai..." Dion mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman. Namun Reginald tak bergeming dan hanya menatap dingin tangan Dion. Mendapat kesan penolakan, Dion lalu langsung menarik tangannya.
"Dia pacar Kakak? Kok gak lebih ganteng dari Abang aku sih? Sama Bang Rey aja kalah, apalagi kalo dibandingin sama aku. Kalah jauh," sindir Reginald dengan tatapan sinis.
Hyena diam-diam tertawa cekikikan dari kursi depan, hingga Andrew menegurnya untuk diam. Dion pun tampak mulai terpancing emosinya hingga Lisa harus menenangkan dengan menggenggam tangannya. "Ginald... yang sopan ngomong sama orang dewasa," tegur Lisa.
"Aku bukan anak-anak lagi, Kak. Aku sudah cukup dewasa," ucap Reginald sambil membusungkan dadanya.
"Baiklah. Kamu sebaiknya duduk deh. Kayaknya acara bakalan dimulai." Lisa berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum suasana bertambah panas.
"Iya sih. Yaudah sampai jumpa lagi Kak. Jangan sombong kalo aku nanti ajak ketemuan," pesan Reginald.
"Oke." Lisa melambaikan tangan dan tersenyum lega ketika Reginald pergi kembali ke tempatnya.
"Dia anaknya emang songong begitu ya?" tanya Dion dengan wajah kesal.
Lisa mempererat genggaman tangannya, berusaha meredakan emosi Dion. "Dia masih bocah, yang. Jangan diambil hati ucapannya."
"Baiklah," ucap Dion dengan wajah masih sedikit kesal.
Beberapa menit kemudian kesibukan mulai mulai tampak di aula gereja itu. Pak Pendeta juga mulai duduk di kursinya. Beberapa kamera terlihat mulai bersiap untuk mengambil foto serta video. Sepertinya acara pemberkatan pernikahan memang akan dimulai. Lisa lalu menarik nafas dan mencoba menenangkan dirinya. Ia tau sebentar lagi akan menghadapi moment terberat didalam hidupnya.
Seperti dugaannya, Rey mulai berjalan memasuki Gereja dengan ke dua orang tuanya yang berjalan dibelakang untuk mengiringinya. Lisa tampak mengalihkan pandangannya ketika matanya bertemu tatap dengan mata Rey. Ia tak ingin melihat tatapan mata tak biasa dari Rey yang akan membuat hatinya goyah.
Kini Rey berdiri di depan Altar dan menanti calon mempelainya masuk ke gereja. Lisa akhirnya mulai melirik Rey yang sedang berdiri di depan. Pria itu ternyata masih menatapnya dengan sorot mata penuh kesedihan. Lisa berusaha menahan air matanya. Ia berusaha tak menampakan kesakitan hatinya. Ia memendam sekuat tenaga, meski rasa sakitnya tak tertahan.
Melihat Rey berdiri di Altar Pernikahan mengenakan setelan busana rancangannya dan sedang menanti wanita calon pengantinnya, sungguh menyesakan d**a. Sekalipun ia sudah membayangkan adegan ini puluhan kali dan menyiapkan mental untuk menghadapinya, ternyata tetap saja ini memukul hebat hatinya. Rasa sakitnya begitu nyata hingga Lisa ingin menangis dan merintih.
Namun Lisa harus kuat. Ini pilihan yang diambilnya. Konsekuensi yang harus dihadapinya. Ia tak mungkin mundur dan menarik keputusannya. Lisa merasa ini memang yang terbaik, baginya dan mungkin bagi Rey. Tidak semua yang ia inginkan harus selalu menjadi miliknya. Terkadang hidup memang mengajarkan untuk merelakan.
Beberapa menit kemudian, tampak Sherly mulai memasuki gereja dengan didampingi oleh Ayahnya. Sherly tampak cantik dengan gaun yang dibuat Lisa. Terlihat raut kebahagiaan pada wanita itu. Lisa mencoba untuk tersenyum, meskipun hatinya terasa sakit. Ketika Ayah Sherly menyerahkan tangan anaknya ke Rey, Lisa mengalihkan pandangannya. Ia harus kembali menahan air matanya.
Dion menggenggam tangannya. Pria itu juga meletakan tangan di bahunya. Lisa tau Dion pasti bisa melihat dan merasakan kegusaran hatinya. Karena itu, ia mencoba untuk tersenyum meskipun pasti akan terlihat datar. Lisa tak ingin membuat pria disampingnya ini semakin merasa cemas. Lisa kembali mencoba mengarahkan pandangannya ke adegan menyakitkan yang tersaji dihadapannya. Ia memaksa matanya untuk terbuka lebar untuk menyaksikan Rey mengucapkan janji sucinya.
Namun sebelum pemimpin ibadah memulai acara pemberkatan nikah, tiba-tiba Rey melepaskan tangan Sherly dan membalikan badannya ke arah jemaat. Mata Rey tepat menatap Lisa dengan tajam dan penuh keyakinan. Detik itu Lisa merasa gugup. Ia merasa Rey akan melakukan sesuatu yang tak sepatutnya dilakukan.
"Mohon maaf semuanya. Sebelum acara pemberkatan nikah ini berlangsung, saya ingin mengumumkan sesuatu," seru Rey.
Sherly tampak terkejut dengan perubahan perilaku yang tiba-tiba dari pasangannya itu. Sherly menarik lengan Rey dan berbisik dengan tatapan penuh emosi. "Apa yang kamu lakukan sih?! Jangan bertindak gila! Mari lakukan sesuai rencana!"
Namun Rey mengibaskan tangan Sherly dan kembali menatap ke arah jemaat. "Saya... ingin membatalkan pernikahan ini. Saya tidak ingin menyesal karena melakukan pernikahan yang tidak saya inginkan. Sebagai bentuk pertanggung jawaban karena keluarga saya mungkin akan menanggung malu karena keputusan ini, maka saya juga mengumumkan kalau keluar dari daftar ahli waris keluarga Hutomo. Saya akan melepas semuanya dan menjalani kehidupan tanpa bergantung pada keluarga. Karena itu... saya minta maaf pada keluarga saya, keluarga Sherly, dan jemaat serta undangan yang datang hari ini."
Rey membungkukan badannya sebagai permintaan maaf. Kemudian Rey berlalu pergi meninggalkan Sherly sendirian di depan Altar Gereja. Rey melangkah pergi dan mengabaikan semua wajah yang tampak terkejut dengan keputusannya. Termasuk mengabaikan Lisa yang terlihat syok dengan adegan yang tak pernah ia perkirakan.
CONTINUED