"Hallo, Intan!" Hamka mengulang panggilannya, begitu tidak mendapat tanggapan dari seberang, sedangkan durasi masih berjalan. "Maaf, Hamka. Tadi ... nggak sengaja kepencet, padahal awalnya cuma mau balas pesan kamu," sahut Intan dengan suara nyaris terdengar bergetar karena panik. Hamka merasakannya, meskipun tahu saat ini Intan sudah bersusah payah untuk menetralkan suaranya. "Nggak apa-apa, aku malah senang kamu nelpon aku," sahut Hamka, mengulas senyuman yang benar-benar seperti yang ia ucapkan, hatinya entah kenapa menjadi sedikit lega. Saat ini ia sudah memarkirkan kendaraan ya di tepian sebuah bukit. Di bawah sana, pemandangan lampu-lampu kota begitu indah. Namun, berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Untung saja, Intan menelpon, sehingga rasa engap dalam dadanya bisa berk

