Pena Unik
Langkah pelan diiringi suara beradu dari sepasang pantofel berkilat mendekatinya. Tatapan tajam nan dingin menahan gerak tubuhnya. Tidak ada ketakutan yang dirasakan Abigail. Justru kelamnya netra biru pekat itu seolah membuat lututnya melemah dan siap ambruk kapan saja.
Abigail tidak berkutik. Vernon membebaskan aura alpha yang dominan. Semakin mendekat dan lengan kokoh itu meraih pinggang Abigail secara seduktif, hembusan nafas diiringi bisikan meremangkan setiap helai halus di titik paling sensitifnya. Gadis itu menutup mata, dia pasrah.
Dan Vernon semakin memiringkan wajahnya hingga mengikis jarak di antara mereka—
Bip … bip … bip!
“Aissshhhh! Membuyarkan inspirasiku!” Seorang gadis, mematikan layar komputernya yang masih menampilkan hasil gambarnya dan melempar ponselnya sembarangan. Bukannya mati, justru dering panggilan masuk dengan keras memaksanya untuk bangkit.
“Apaa!”
“Hei sleeping beauty, yang aku yakini kalau kau baru bangun dari dunia khayalan cerita! Mana setoranmu? Sudah jam berapa nih? Mau bikin aku lembur melihat hasil ilustrasimu yang berantakan itu?”
Yang ditelepon dengan santainya melirik jam di atas bar ponselnya. Jam lima sore.
“Izin double up ya? Aku block writter. Mau bikin sketsa kasar dulu sembari jalan-jalan. Cari inspirasi!”
“Tidak ada! Alasan saja ya? Jangan bikin editor naik darah, Penulis Tercinta. Senin depan harus sampai bab 15! Dan ini hari jumat jadi—"
Tutt!
“Berisik ah! Baru sekali minta double up saja sudah nye nye nye nye!” Tanpa beban, dia melempar ponselnya sambil mencibir.
Gadis itu melepas kacamata dan membanting tubuhnya ke ranjang. Abigail Lawrence, adalah nama gadis itu. Bukan nama sebenarnya, dia lebih sering dipanggil Abigail, nama panggilan yang sejak kecil melekat pada dirinya, menurut pengakuannya sendiri.
Sama seperti nama tokoh di atas? Memang. Dia adalah seorang ilustrator yang punya nama besar dalam sebuah platform manga. Banyak cerita dengan genre romance sudah dia terbitkan dan rata-rata sangat digemari, sama halnya dengan judul yang sedang dia kerjakan saat ini.
Tapi Abigail mulai bosan. Dia ingin keluar dari zona nyaman. Maka dari itulah dia membuat sebuah cerita baru yang lain daripada yang lain dengan menggunakan namanya sendiri sebagai tokoh. Sayangnya tak selalu berjalan mulus. Baru seperempat jalan dia sudah buntu dan mulai mendapat teror dari sang editor.
“Huh, gerah sekali hari ini, mandi dulu. Terus cuci mata ke bazar kota. Siapa tahu ketemu pria seperti Vernon. Hahahahaha.” Cekikikan Abigail terdengar meski langkahnya menjauh ke arah kamar mandi.
15 menit berlalu, Abigail baru saja selesai mandi dan memilih pakaian. Kali ini ia memilih baggy jeans dan sebuah knit crop top. Setelah mengikat ponytail rambut coklatnya serta membubuhkan sedikit make up, dia siap menuju ke lokasi bazar.
Bazar Vintage, tema acara kota kali ini. Jejeran penjual aksesori bertema ‘jadul’ memenuhi setiap sudut kosong yang tersedia. Memanjakan pencinta koleksi lama dan anak muda yang berburu pernak-pernik penunjang penampilan di akun sosial media mereka. Berdampingan dengan beberapa penjaja makanan ringan hingga berat yang siap mengembalikan energi para pengunjung.
Abigail menikmati suasana oranye kuning temaram sepanjang jalur bazar, sesekali berhenti untuk mengamati semua barang yang menarik perhatiannya.
Langkahnya terhenti di salah satu ujung tenda yang agak tertutup. Berhiaskan kain bertema boho yang menutupi kain tenda berwarna mustard. Beberapa ukiran dan kepangan makrame mempercantik pintu masuk tenda dan seperti menghipnotisnya untuk membukanya.
“Selamat datang gadis muda. Kau butuh inspirasi baru?”
Sejenak, Abigail menatap sang penjual dari atas sampai bawah dengan bingung.
“A-ah tidak. Aku menyukai tenda milikmu ini, Bibi.”
“Tidak perlu menutupinya Abigail. Saya punya solusi untukmu.”
Abigail terkesiap. Bulu kuduknya meremang. 'Dari mana bibi ini tahu namaku?' batinnya bertanya-tanya.
“Ada namamu tertulis di atas tas yang kau bawa.” Bibi paruh baya itu tersenyum. Bukannya tenang, Abigail justru semakin waspada namun juga tidak bisa melepas kekagumannya hingga dia diam saja.
Abigail melangkah dengan hati-hati, gerai itu menjual alat-alat melukis. Kuas berbagai ukuran dengan gagang yang penuh ukiran, cat warna dengan merek yang tak pernah dia lihat, pigura antik berbagai jenis diperhatikannya satu persatu. Ketika dia mendekati rak yang berisi peralatan menggambar, matanya menatap sebuah pena berwarna coklat dengan ukiran berbentuk wanita. Tangan gadis itu meraihnya, matanya tak berkedip menatap kagum betapa halus pena itu.
“Kau suka pena itu, Abigail?”
“Berapa harganya, Bi? Cantik sekali. Pasti mahal.”
“Pilihanmu sangat tepat. Pena itu hanya ada satu dan kamu yang menemukannya di antara sekian banyak pena lain. Saya akan memberikannya gratis untukmu.”
Abigail menoleh. Tatapannya bertemu dengan senyum misterius bibi tersebut. “Tapi ….”
“Jangan menolaknya Abigail,” Wanita itu mendekat dan meraih pena pilihan Abigail, “Saya hanya minta, jaga baik-baik. Dia akan menjadi jalan keluar untuk masalahmu saat ini.”
Bibi itu berbalik dan membawa sebuah kantong kertas dan menyerahkannya kepada Abigail. Gadis itu ingin menolaknya, tapi tatapan wanita paruh baya itu membuatnya tak berkutik.
“Hanya beberapa buku polos dan tinta warna. Semua benda ini berkesinambungan. Mereka bisa saja membuat apa yang kamu kerjakan menjadi nyata rasanya. Kau boleh pulang, Sayang. Jaga dirimu baik-baik.”
Abigail melangkah pelan keluar dari tenda diiringi oleh bibi penjual hingga pintu tenda. Dia memeluk erat kantong kertas itu sambil melangkah. Dia merasa ingin cepat menuliskan ide-ide yang muncul mendadak. Ketika dia ingin berbalik untuk mengucapkan terima kasih, ia tak menemukan tenda kuning mustard itu.
“Kayaknya aku tidak jalan jauh dan aku masih yakin tenda itu ada di sana.” Abigail bergumam pelan. Gadis itu melangkah kembali untuk memastikan namun nihil.
Saya akan datang jika saya ingin, Abigail.
Embusan angin seakan membisikkan sebuah kalimat melintasi indra pendengaran Abigail. Gadis itu refleks menoleh, namun hanya riuh deretan penjual dalam bazar yang ia tangkap. Membuatnya penasaran setengah mati.
“Apa yang akan terjadi denganku Bi?” Abigail mengamati beberapa buku gambar polos bersampul coklat, puluhan botol kecil berisi tinta warna-warni dan sebuah pena yang ia hamparkan di kursi taman sebelah bazaar, “ini semua alat yang aku pakai juga untuk mengerjakan ilustrasi. Siapa Bibi itu?”
Drtt drtt!
Getaran ponsel yang selama ini ia hiraukan kali ini mengusik lamunannya. Melihat nama yang terpampang, Nea mengangkatnya.
“Ke mana sih kau, Abigail? Aku belum selesai ngomong ya dari tadi! Aku tidak mau tahu, harus ada draft yang kau kirim minimal 3 halaman!”
Telepon kemudian diputus sepihak. Abigail menghela nafas panjang. Ia memasukkan lagi alat-alat itu dan mulai melangkah untuk mencari taksi. Abigail berjalan menuju gerbang taman dan menyeberang jalan. Sebuah taxi biru melintas, Abigail memutuskan untuk langsung menghentikannya.
Rasanya waktu seperti sangat cepat berlalu, jam menunjukkan angka 20.24 dari layar ponselnya ketika Abigail memasuki pintu apartemennya.
Ya, kesuksesan Abigail membuatnya memilih untuk membeli sebuah unit apartemen di tengah suasana tenang pinggiran kota. Alasan butuh tempat penuh inspirasi membuatnya mendapat izin dengan mudah dari kedua orang tuanya.
Abigail meletakkan paperbag di atas meja kerjanya. Lalu melepas pakaian dan memilih membersihkan diri. Entah mengapa ia sangat ingin mencoba alat-alat yang sudah ia dapatkan tadi.
Dengan piyama ungu muda favoritnya, Abigail menghempaskan tubuhnya menduduki kursi bulat di area meja kerja. Tangannya meraih paperbag dan menumpahkan semuanya di atas meja. Jam malam adalah jam favoritnya untuk mengerjakan semua sketsa cerita selama ini. Ditemani embusan angin, atau kadang-kadang rintik hujan dari jendela besar di sisi kanannya, menembus pemandangan kota dari lantai tujuh.
“Dari mana ini harus dimulai? Bab terakhir sepertinya Vernon mengejar-ngejar Abigail. Atau dia yang kabur?”
Abigail kadang merasa geli saat menyebut nama tokoh utama yakni namanya sendiri. Ketika ditanya, alasannya pun selalu sama yaitu ia ingin lebih menghayati alur baru yang dia ciptakan.
Abigail mulai membuka buku gambar baru dan meraih palet yang akan ia isi dengan berbagai macam warna. Lalu ia merogoh paper bag untuk mengambil pena unik yang ia dapatkan di bazar.
“So, are you real? Atau aku yang gampang terpengaruh sama promosi? Begini lah yang bikin pengeluaran melonjak. Kebanyakan pengeluaran! Eh tapi ini kan tadi tidak bayar? Yaudahlah ya.” Abigail bergumam sendiri. Kebiasaan yang sangat sulit dihilangkan. Itu juga alasan mengapa Abigail membeli apartemen, sering diolok gila oleh ibunya sendiri.
Abigail mulai menggores sketsa, meski pena yang digunakan sangat berbeda, namun justru hasil yang keluar jauh lebih terlihat nyata. Nea tidak terlalu menyadarinya, keheningan di sekelilingnya, aura ketenangan luar bisa seakan menghipnotisnya.
Tubuhnya dikelilingi awan biru muda tipis, membuatnya bersinar dengan temaram lampu meja. Abigail tak bisa melihatnya, ia sangat fokus dalam mengerjakan tugasnya.
23.59.58
23.59.59
00.00.00
Gelap melingkupi Abigail, genggaman pena itu terlepas, bergelinding ke bawah dan memancarkan cahaya menyilaukan.