Menjadi Sekretaris

1206 Words
“Bangun Abigail! Ini kantor bukan rumah kamu sendiri!” Suara seorang lelaki mengagetkan Abigail. Gadis itu mengucek matanya dan menguap. Pandangannya memicing ke arah depan. Nampak sesosok tegap berdiri di hadapannya dengan jas abu gelap. Tatapan mereka bertemu dan Abigail tergagap. Dia? “Aku ada di mana?” “Aku? Sadari lokasi dan waktu dengan baik, Abigail Lawrence.” Lelaki muda itu melangkah menjauh memasuki ruangan besar di seberang mejanya. Meja kantor? Komputer? Ada apa ini? Pippp! Suara sambungan line memecah kebingungan Abigail. Meski ragu, dia memilih untuk mengangkatnya. “Saya minta schedule hari ini.” Sambungan terputus, tapi dari suara yang dia dengar, Abigail yakin lelaki itu yang meminta. Dia mengedarkan pandangannya. Suasana kantor, meja kerja, pakaian, orang-orang yang berlalu lalang ini, semuanya seakan tak asing. Abigail menemukan sebuah jurnal dan membukanya. 8 Mei 2021 Ada deretan jadwal yang tertulis rapi. Abigail bingung tetapi memutuskan beranjak sebelum mendapat teguran lagi. Ia melangkahkan kakinya yang beralaskan heels tujuh sentimeter perlahan menuju ruangan besar di seberangnya. Tok! Tok! “Masuk!” Abigail menghela nafas panjang, berusaha meredakan jantungnya yang berdegup tak teratur dan membuka lebar pintu kaca buram itu. VERNON LUCAS DAVIDSON – C.E.O Abigail membulatkan mata ketika membaca papan kayu yang bertuliskan pemilik ruangan tersebut. Vernon? 2021? Apa aku— “Kenapa kau hanya diam? Sudah bosan jadi sekretaris saya?” “Aku—eh sa-saya tidak bermaksud seperti itu Sir. Ini schedule hari ini …." Abigail menekan dalam semua keingintahuan dan segala pikiran-pikiran yang saat ini berputar. Dia hanya ingin ini semua berjalan cepat dan dia kembali ke mejanya untuk memikirkan ini semua. “Terimakasih. Saya akan berangkat dengan Dean, personal asisten saya. Kau tetap di sini saja. Dan saya harap kau tidak mengulang untuk tidur di jam kerja. Kau boleh pergi.” Abigail mengangguk hormat dan melangkah mundur. Setelah berada di balik pintu, ia bergegas duduk kembali dan mengamati semua yang ada di atas mejanya. “Tidak salah lagi. Ini semua bab awal dari sketsaku! Ada apa ini? Kenapa aku bisa merasakan ini semua?” Mata Abigail merebak, siap meneteskan air matanya. Dia menutup wajahnya dan bertumpu di atas meja. Dia berpikir buruk, bagaimana jika dia tak bisa kembali. “Abigail.” Suara berat Vernon membuyarkan lamunannya. Abigail mendongak, sisa-sisa air mata memenuhi wajahnya. Dihapusnya kasar agar tidak ada yang curiga. “Ya Sir. Saya tidak tidur kok. Ha-hanya tadi ada debu. Ya, ada debu jadi kelilipan.” Abigail berusaha tertawa senatural mungkin. Vernon menatap tanpa ekspresi namun juga tidak melepas pandangannya. Abigail kikuk dan hanya bisa menunduk. “Kau boleh pulang. Saya ajukan izin sakit untukmu. Tidak ada penolakan.” Vernon melangkah menjauh diikuti oleh Dean untuk melakukan rapat. Abigail tak punya pilihan lain. Dia butuh memahami ini semua. Segera ia membereskan semua perlengkapannya, mencoba memasukkan semua barang yang familier termasuk handphone yang ada di atas meja. Untung saja Abigail masih mengingat setiap detail sketsanya dulu, ‘Abigail’ adalah seorang sekretaris yang bisa dibilang sukses di sini. Dia punya mobil dan unit apartemen sendiri. Setelah dia yakin, Abigail melangkah ke arah basemen. Selama dia berjalan, semua sketsa dan pemandangan di depan matanya saat ini berputar. Dia bisa melihat dengan jelas semuanya. “Tenang Abigail. Kau di sini dan di sana punya nama yang sama. Kau tidak perlu takut. Kau hanya perlu ikuti semua sketch ini. Ini semua tidak nyata, calm down!” Abigail mati-matian menenangkan gejolak batinnya sendiri. Ini tidak nyata, ini hanya sketsa, dua kalimat itu yang selalu dia tanamkan sampai akhirnya dia bisa mengendarai mobil dan pergi ke arah apartemennya. Abigail hanya berjalan dan melakukan kegiatannya seperti robot. Seakan semuanya berjalan mulus seperti apa yang sudah selesai dia sketsakan. Masuk ke unit nya, dengan begitu saja mandi, ke dapur dan berakhir di atas ranjang seperti sekarang. Hanya satu yang dia ragu, memainkan ponsel. Abigail berguling, mengamati ‘ponsel’ yang tergeletak di sampingnya. “Ini bisa dipakai apa tidak ya? Aku coba saja lah, lagian ponsel canggih begini belum pernah aku pakai di dunia nyata.” Abigail membuka situs pencarian. Tidak ada yang istimewa. Lalu dia pindah ke bagian file. Matanya memicing ketika melihat nama file yang terpampang paling atas. AbigailVernonFix.docx Apa ini? Pikir Abigail. Ada namanya dan Vernon. Apakah …. Benar! Abigail buru-buru bangkit. Dia tersenyum. Ini adalah sketsa dari bab awal kisah yang dia lukis. “Berarti aku hanya perlu jalani semuanya mirip kayak sketsa ini. Di sini gambaran terakhir adalah aku tidur. Dan apa yang akan terjadi besok bisa aku lihat lebih dulu. Aaahhh ya sudahlah. Hanya perlu sampai kolom terakhir dan tuinngg! Gue balik! Hahahahaha.” Abigail tertawa, dia memilih untuk tidur meskipun hari masih terang. Jika saat dia bangun nanti sudah berganti hari, maka apa yang dia duga benar, begitu pikirnya. Akhirnya Abigail menutup mata, tanpa tahu apakah hari-hari berikutnya akan sama seperti yang dia duga. *** Bip … bip … bip! Abigail membuka mata perlahan. Mengerjapkan mata di tengah kegelapan. Brukk Bugg “Aww!” Suara berisik pagi ini berasal Abigail Nea yang mencoba bangun dan berjalan menuju jendela. Saat dia membuka gorden dan semburat cahaya pagi menerpa wajahnya, dia baru sadar kalau belum pulang. Pemandangan yang tidak pernah dia lihat jika di dunia nyata. Suasana kota Las Vegas yang sangat macet di pagi hari dari atas apartemen mewah di pusat kota. Setelah berdiam diri selama beberapa menit, Abigail memutuskan untuk segera siap-siap dan berangkat bekerja lagi. Bertemu boss tampan yang selalu ia harapkan nyata di hidupnya. Mengendarai mobil yang sama dan jalan seperti dilaluinya kemarin, Abigail sampai di kantor dengan selamat. Sepanjang perjalanan menuju lantai atas Vernon, seluruh karyawan menyapanya dengan wajah super manis. “Cari perhatian kah?” dengkusnya dalam hati. Menurutnya, mereka adalah ciri-ciri teman kerja yang cari perhatian saja! Coba, kalau dia bukan sekretaris Vernon, apa mereka masih ingin menyapanya? Bahkan menawarkan sarapan, tsk! Sesampainya di lantai khusus CEO, Abigail berjalan cepat menuju ruangannya. Kesan pertama yangdia temui adalah karangan bunga sebesar dirinya dan boneka teddy bear yang menyerupainya. "Woahh!" Dengan semangat dan bahagia, Abigail berjalan cepat yang terkesan melompat-lompat menuju benda itu. “Dari siapa nih?” tanyanya sambil mencari-cari kartu nama di karangan bunga tersebut. Nihil, tidak ada satupun. “Secret admirer kah?” Tak ingin memusingkan hal itu, Abigail memilih untuk memeluk boneka tersebut dengan erat. “Emm, Bearly? Aku kasih namamu Bearly aja ya? Mau kan?” tanyanya kepada benda mati tersebut. “Suka?” Teguran dari arah belakang Abigail tersebut membuatnya tersentak. Dengan wajah tidak enak dipandang, dia terbengong-bengong menatap sang pelaku. “S-sir Dean?” tanyanya bergumam dan secara perlahan melepaskan pelukannya pada Bearly. “Dia … untukmu," ujar Dean menunjuk Bearly. “Sudah sehat? Kata Mr. Vernon, kemarin, kau sakit.” Bukannya menjawab, Abigail hanya mematung. Matanya melebar terkejut, mulutnya mendadak lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Abigail berdehem keras, ia menepuk pipinya beberapa kali. “Dean? Perhatian? Mustahil,” lirihnya kemudian. Lantas, Abigail menggelengkan kepalanya kuat, berusaha hal itu dapat menghilangkan kejadian baru saja terjadi. Tetapi, saat ia melihat wajah khawatir yang dilayangkan Dean, membuatnya sontak terduduk di lantai. Ia memegangi kepalanya yang spontan pusing. “Tokoh yang dibuat sebagai manusia super dingin menjadi … perhatian?” Seperti ada lem yang merekat kuat di kedua matanya, Abigail sama sekali tidak bisa membukanya. Dia merasakan tubuhnya terbang diiringi alunan musik yang begitu asing di telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD