Perlahan-lahan, Abigail membuka kedua kelopak matanya dan hal pertama yang dia dapati adalah atap-atap kamarnya yang dihiasi oleh kupu-kupu. Sejenak, dia diam. Berusaha mencerna apa yang tengah terjadi.
“Apa di depan Dean tadi, aku pingsan ya?” tanyanya pada diri sendiri.
Bip … bipp!
“ABIGAIL, BURUAN MANDI. MALAS SEKALI ELAH, HARI INI KAN ADA KONFERENSI PERS TENTANG PELUNCURAN BAB KOMIK BARUMU.”
Suara teriakan itu, begitu tidak asing di telinganya. “Konferensi? Memang, Vernon ngajak aku ya—HAH?”
Sontak, Abigail langsung terbangun dari tidurnya, dia segera keluar dari kamar dan mencari sumber suara.
Di sana ada dua editornya, tengah memasak sarapan dan dari baunya, itu adalah lauk kesukaannya.
“Rerga? Sindi?!”
Yang diteriaki hanya menoleh singkat.
“Cih, tidak malu sama Rerga! Kau kenapa keluar pakai lingerie gitu sih, Abigail? Stupid!” Sindi, wanita yang tempo hari menerornya segera memelototi Abigail kesal. “Ganti pakaian!”
Rerga, editor utamanya yang tengah menyeduh kopi hitam tersebut melirik Abigail singkat dan berkata, “kau jadi frustasi mencari inspirasi buat next bab? Tapi, bab yang kau kirim tadi malam, oke juga kok.”
“Setuju! Satu-satunya bab pemecah rekor yang sudah dibaca dua juta kali dalam semalam,” timpal Sindi kemudian.
Sedangkan Abigail, hanya menatap mereka kebingungan. “Hah, bab apa? Aku saja belum gambar,” sanggahnya cepat.
Melihat tatapan kebingungan Rerga dan Sindi membuat Abigail semakin cemas.
Apakah yang dia lalui benar-benar tergambar tanpa scriptnya?
Tak ingin menduga-duga, Abigail segera berlari cepat menuju kamarnya dan membuka komputernya diikuti oleh kedua editornya itu.
Dengan mulut menganga tak percaya, Abigail menggulir layar menggunakan mouse dan membaca setiap adegan demi adegan yang sangat tidak asing.
Yang di mana, dia bangun tidur di ruangannya, membacakan jadwal Vernon, istirahat di rumahnya, dan pingsan karena terkejut mendapati perhatian dari Dean.
“Kau benar-benar bikin Dean berubah ya, Abi? Di sinopsis awalnya, Dean itu manusia es yang enggak bisa dicairkan. Eh, sekarang kau buat dia luluh sama tokoh utama ceweknya,” kata Sindi bernada bertanya-tanya.
Abigail hanya diam, ia bingung untuk mencerna semuanya Dia kira, semua yang dia lakukan di sana tidak akan terekam dan terpublikasikan seperti ini.
Oke, mari kita menjaga sikap~
“Tapi, bagian ‘Abigail pingsan di sini tuh tidak like banget deh, mukanya jelek jadi ya banyak dihujat.” Sindi menunjuk adegan di mana Abigail jatuh pingsan dengan wajah super jelek.
Abigail asli hanya menggembungkan kedua pipinya kesal dan memilih beranjak. “Is, biarin sih! Btw, kenapa kalian ke sini? Rame banget, seperti mau ke pasar malam saja!”
Sindi melipat kedua tangannya di depan d**a dengan wajah sinis. “Aku udah bilang kan? ‘Siap-siap mau ke konferensi pers’ Nea!”
Abigail segera beranjak dan tidak lupa memasukkan pena serta peralatan sketsa yang d beli ke dalam tasnya.
***
Selama satu jam setengah, Abigail dan didampingi oleh kedua editornya yaitu Sindi dan Rerga menghadiri sebuah konferensi pers yang bertujuan untuk mempromosikan bab pada komiknya yang akan diluncurkan versi cetaknya pada satu minggu dari sekarang.
Semua pihak berlomba-lomba mencari perhatian dari para penggemar manga yang dibuat oleh Abigail, sebab, sejak tahun lalu manga yang dibuat oleh Abigail selalu booming dan menjadi trend oleh anak remaja bahkan orang dewasa. Semua menjadi penggemar Lion dan bercita-cita mendapatkan kekasih sepertinya.
Abigail memejamkan matanya erat lalu bersandar pada sofa empuk di ruangan tunggu. Merasa lelah setelah mulutnya tidak berhenti berbicara.
“Walau hari ini ada kegiatan, kau tidak bisa libur, Abi. Besok itu jadwal publish bab baru lagi. Jadi aku harap, hari ini kau gambar sketsanya supaya tidak drawing block besok!” perintah Sindi mengingatkan. “Jangan lupa, cuci rambutmu itu agar warnanya berubah.”
“Hmm.” Abigail menatap rambutnya yang sudah berubah warna atas permintaan Sindi. Ia penggila warna hitam, dan saat ini rambutnya diwarnai menjadi ungu.
Setelah itu, Sindi pamit keluar untuk memberikan sebuah pidato penutup sedangkan Rerga sudah sampai di alam mimpinya.
Seperti ada sesuatu yang mengganjal, Abigail membuka matanya dengan segera. Dia mengobrak-abrik tasnya untuk mencari sesuatu.
Satu pertanyaan yang tengah hinggap di pikirannya. Bagaimana caranya agar ia dapat kembali ke dunia Vernon lagi?
Karena, Abigail ingin memastikan sesuatu.
Tetapi, yang ia cari tidak ada, isi tasnya sudah berceceran di meja kaca di ruangan itu.
“Kok tidak ada? Perasaan aku sudah masukkan benda-benda itu ke dalam tas deh,” katanya dengan panik.
Sepertinya, pergerakan Abigail membuat Rerga terbangun. Pria yang seusia dengan Abigail itu segera menyadarkan diri dan bertanya, “mencari apa?”
“Pena.”
“Pena? Pena apa?”
Abigail menoleh ke arahnya. “Pena antik yang dibentuk seperti tubuh wanita,” katanya kemudian.
“Ini?” Rerga mengambil sebuah pena dengan ciri-ciri diberikan Abigail dari balik laci.
Abigail langsung lega melihat itu. “Iya, astaga! Kenapa kau sembunyikan sih?” kesalnya.
“Kerjaan Sindi. Ia tidak ingin reporter tahu kalau kau punya pena begini terus ada artikel tentang jimat yang berada di dalam pena," jelas Rerga.
Abigail hanya menggelengkan kepalanya kecil dan segera mengambil pena dan peralatan lainnya. “Ini namanya Woly, ingat itu Rerga.”
Ah, Abigail jadi teringat dengan Bearly.
Tak ingin berbicara dengan Rerga lagi, Abigail segera menggambarkan bab selanjutnya.
Bab pembuka yang dibuat olehnya adalah Vernon tengah mengajak Abigail dinner di tempat romantis agar saat memasuki dunia komik yang dibuatnya, Abigail langsung makan.
Baru membuat beberapa adegan, Abigail langsung memejamkan mata dan merapalkan beberapa mantra buatannya.
“Bim salabim, ayo masuk! Aku mau ketemu Vernon!!!”
Dapat Abigail rasakan, sinar menyilaukan matanya yang tengah terpejam saat ini. Dia menunggu beberapa saat sebelum memutuskan membuka matanya.
“AISH,” teriaknya kemudian ketika mendapati wajah bengong Rerga yang tepat di depan wajahnya.
“Kau ngapain baca mantra? Masuk ke mana deh?”
Abigail mendorong wajah Rerga menggunakan jari telunjuknya, dia menarik napas dalam-dalam. Percobaan pertamanya gagal, dia kembali melakukan seperti tadi dan mengucapkan mantra, saat membuka mata, tetap saja.
Melihat wajah Rerga dan juga Sindi yang terbengong-bengong menatapnya.
“Kenapa sih?” tanya Sindi kebingungan.
“Jangan ganggu!” ketus Abigail malas.
“Huft. Sekali lagi, please, percobaan terakhir,” ujar Abigail kemudian.
Dia menaruh tangan kanannya di depan d**a dengan pena tersebut di dalam genggamannya dan tangan kirinya menutupi matanya.
“Vernon Lucas Davidson … aku mau menyampaikan sesuatu, please, ayo bicara,” pinta Abigail dengan penuh harap, pikiran dan hatinya saat ini hanya berfokus kepada Vernon.
Merasa tidak merasakan apapun, Abigail menghembuskan napas dengan kesal. “Huh.”
Saat dirinya ingin merebahkan kepalanya di atas meja yang terletak di depannya, tetapi Abigail langsung terjatuh tertelungkup dengan keras.
“Akh!”
Abigail mengusap dahinya yang terasa bengkak, dia masih menunduk dan memejamkan mata. Bersiap untuk menerima omelan dari Sindi yang pasti mengatakan dirinya sangat ceroboh.
Tetapi, sudah beberapa menit dia tidak mendengar apapun, Abigail membuka mata. Dia melihat sepasang sepatu hitam berkilat yang berdiri di depannya.
Perlahan, Abigail mendongak, kedua matanya melebar. “ASTAGA.”
“Apa yang mau kau sampaikan kepada saya, Nea?”
Dan di sana, Vernon menatap Abigail tanpa ekspresi.