Furqan

2133 Words
Chapter five Suara pintu diketuk, hari masih sangat pagi. Ayah dan Bunda tengah meracik semur ayam pelengkap mie ayam jualan bapak. Aku yang baru selesai mandi, cepat-cepat berpakaian. Pasti Bunda tidak dengar kalau ada yang datang. Jadi, aku bergegas ke bagian depan rumah, membukakan pintu untuk tamu kami. Itu Bude Tutik, teman Bunda sejak muda dulu. “Eh, Bude.” Aku menyalami Bude Tutik seraya menyapanya. “Oalah, Zanna ada di rumah toh! Lagi main rupanya?” tanyanya dengan senyum bermekaran bak bunga. Bude tutik tak mengatakan hal menyakitkan, namun hatiku terluka setiap kali dia bertanya. “Suamimu mana, Zan? Enggak ikut pulang?” Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil. “Eh, denger-denger dia pengusaha kaya raya ya? Wah, beruntungnya kamu Zanna dapat cowok kaya! Eh-eh, coba tanyakan dia, ada lowongan enggak buat si Sapri, anak bude, bandel banget dia sampai sekarang Cuma molor aja kerjanya di rumah, tanyain ya tolong!” “I-iya Bude..” jawabku sekenanya. Bunda rupanya mendengar celotehan bude Tutik dari dapur, perempuan bersuara halus itu menghampiri kami. “Eh, mbak Tutik. Ada apa nih? Duduk sini duduk!” ajak Bunda. “Lho, masih belum rapi-rapi sih? Kan ada pengajian jam delapan!” ujarnya heboh. “Astagfirllah, iya saya lupa. Ya sudah tunggu sebentar, saya tinggal ganti baju aja kok!” “Bentar-bentar, itu anak kamu udah hamil rupanya?” Bunda tersenyum dan mengangguk. “Iya, makanya dia di sini, biar ada bundanya katanya.” “Oalah udah mau punya cucu ya kamu! Pasti seneng banget tuh menantu kamu itu!” Bunda mengiyakan. “Bunda, Zanna bantu ayah dulu ya!” “Iya, Nak!” Bude tutik terus saja mencecar bunda dengan pertanyaan lain. “Eh, ngapain sih masih repot jualan mie ayam! Minta aja modal sama mantumu! Dia kan kaya! Minta modal buat bikin usaha apa kek gitu!” “Duh, Mbak ini lho, saya kapan ganti bajunya, udah telat lho!” “Oia, ya sudah sana! Cepetan ya! Bentar lagi ibu yang lain lewat nih, biar bareng!” “Iya, bentar ya!” Percakapan mereka terdengar dengan jelas hingga ke dapur yang ada di area paling belakang. Aku menunduk saat membantu ayah merajang daun bawang sebagai topping mie ayam jualannya. Tanpa terasa rintik-rintik duka menentes dari sudut mataku. Aku sekuat mungkin menahan isakan tangis, menggigit bibirku dengan kuat agar tak ada suara yang keluar dari sana. Cepat-cepat kuseka airmata yang meleleh sebelum menetes ke atas talenan yang kugunakan untuk merajang daun bawang. “Ya Allah, Ya Allah.” Hanya NamaNya yang aku sebut, aku tahu Dia ingin aku lebih kuat lagi. Ini bukan akhir dari segalanya, bukan! Aku tahu, aku hanya harus melewati semuanya dengan memupuk kesabaran yang terus tumbuh tak terbatas di atas lahan luas dihatiku ini. “Kenapa, Nak?” tanya Ayah. Rupanya dia mendengar aku menyebut nama Allah meski suaraku amat pelan. “Enggak apa-apa, Yah.” “Kenapa? Mual? Istirahat saja! Biar Ayah yang kerjakan ini.” “Ah, Ayah! Zanna baru aja bangun, masa suruh tidur lagi!” “Ibu hamil muda memang begitu, maunya malas-malasan karena memang badannya lagi enggak enak, apalagi kalau mual mulai datang. Bundamu juga dulu gitu. Ayah sampai bingung harus beliin apa buat Bunda, karena Bundamu itu sama sekali enggak mau makan. Mual katanya. Belum lagi kalau malam, ini nih pinggangnya, harus Ayah usap-usap sampai Bundamu tidur.” Ayah bicara tentang indahnya kenangan bersama Bunda saat beliau mengandungku, kenangan indah. Ayah tak bicara hal buruk, tapi kata-kata ayah membuat aku terluka. Pasti menyenangkan menjalani kehamilan dengan suami di dekatku. Seperti Bunda yang memiliki ayah di sisinya. Ya Allah, hatiku lagi-lagi terluka. Belum lagi kering luka yang lama, sudah banyak luka baru menggores hatiku yang demikian rapuh. Ayah terus berkisah tentang Bunda, bagaimana Bunda saat itu ngidam hal aneh, Bunda ingin es jeruk malam-malam, kemudian Bunda ingin pergi ke laut, Bunda ingin rujak buatan ayah. Ayah terus saja bicara seraya mengaduk semur ayamnya yang hampir matang. “Malah waktu melahirkan itu yang paling Ayah ingat! Bundamu itu, kasian sekali. Badannya sampai basah karena keringat menahan sakit kontraksi, waktu itu Ayah bacakan sholawat di telinga Bunda kamu. Ayah enggak tega, ingin rasanya menggantikan bunda merasakan sakit tak terkira itu, yang katanya seperti sakit seribu jadi satu.” Ayah terus saja bercerita. ‘Lalu, bagaimana dengan Zanna Ayah? Apakah suami Zanna akan seperti Ayah? Berada di sisi Zanna saat ngidam, saat melahirkan? Apakah dia akan bersholawat di telinga Zanna?’ batinku nelangsa. “Tapi, pas kamu lahir, wah lega sekali rasanya. Ayah luar biasa senang, beryukur tiada henti.” Aku tahu, ayah sedang berkisah hal yang paling menyenangkan bagi Ayah. Tapi, bisakah Ayah sudahi saja kisah itu? Itu terdengar pahit ditelingaku, Ayah. Bisakah Ayah berhenti bicara? Ayah, aku mohon. Aku tak kuat lagi mendengar cerita Ayah, tanpa sadar aku menjatuhkan pisau yang aku pegang. Airmataku sudah tak terbendung. “Ayah, Zanna ke kamar dulu.” Lirihku tanpa menoleh ke arah Ayah. Aku tahu, beliau pasti terkejut karena aku tiba-tiba pergi. Maafkan putrimu ini, Ayah. Zanna tak bisa mendengar kisah indah Ayah dan Bunda lagi. Karena Zanna tersiksa mengetahui kenyataan bahwa Zanna tak akan merasakan semua yang Bunda alami. Sungguh, sudah kulakukan sebisaku untuk menahan laju airmata ini, tapi tetap saja, derasnya arus itu tetap tumpah tak terbendung. Tetap saja mentalku tergerus semakin hari semakin habis hingga aku khawatir kian tak bersisa dan kewarasan aku hilang suatu hari ini. Bagaimana akan aku besarkan anak ini jika aku kalah dengan kepedihan ini. Terdengar suara Ayah memanggilku diluar kamar, aku pura-pura tertidur saat Ayah masuk ke dalam untuk mengecek suhu badanku lewat telapak tangannya yang di tempelkan ke dahiku. Aku diam tak bergerak dengan mata terpejam, maaf Ayah tapi aku enggak membuka mata ini sehingga nanti engkau bertanya ini dan itu, maka airmataku akan kembali meleleh. Biar saja airmata ini mengalir deras saat aku sendiri, asal jangan saat aku berada di depan Ayah dan Bunda. Cukup hatiku saja yang sakit, tapi Bunda dan Ayah jangan. Maaf, Yah.. aku sungguh tak ingin berbagi terlalu banyak luka denganmu. Pukul sepuluh, sudah cukup lama aku berbaring dan hanya diam, akhirnya aku putuskan untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat duha. Beruntung, ayah tak ada dibelakang, jadi aku tak perlu mendapat pertanyaan dan pernyataan penuh perhatian darinya, sungguh semakin diperhatikan, aku akan semakin cengeng nantinya. Kutunaikan sholat sunat dua rakaat itu, alhamdulillah, ada angin sejuk mengisi relung hatiku. Ini jauh lebih baik daripada harus menangisi keadaanku terus menerus. Rumah begitu sunyi, sepertinya Ayah sudah pergi bersama gerobak, teman sejati andalannya mengais rizki dari Illahi. Bunda juga rupanya belum kembali dari pengajian. Aku mencoba mencari kesibukan, aku mulai menyapu halaman depan menggunakan sapu lidi yang biasa ibu pakai. Baru berapa langkah saja aku menyapu halaman, seseorang terdengar menyapaku. “Eh, Zanna.. kamu di rumah!” suara yang tak asing bagiku. Aku menoleh ke asal suara. “Assalamu’alaikum..” sapa suara itu lagi. “Wa’alaikumsalam, Mas Furqan.” Sahutku tanpa menatap matanya. “Kapan datang?” “Ehm, sudah lumayan lama..” jawabku singkat. “Kenapa enggak ngabarin aku, terus suami kamu mana? Aku mau nyapa beliau!” “Dia, tidak ikut.” “Lho, kenapa?” “Dia kan kerja!” “Oh, aku pikir kalian cerai.” “Astagfirllah, Mas Furqan, jangan bicara sembarangan!” tegurku agak tersinggung. “Eh, maaf Zanna, bukan begitu maksudku!” Mas Furqan melihat dan memperhatikan aku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, ku sembunyikan kaki telanjang tanpa kaos kakiku di bawah ujung gamis yang aku pakai. “Maaf, aku masuk dulu, Mas Furqan!” “Eh tunggu!” Mas Furqan meraih tanganku. Aku dengan cepat menghentakkan tangannya agar melepaskan tanganku. “Eh, maaf.. lagian kamu kenapa sih, buru-buru banget! Mau kemana?” “Ya, aku mau masuk,” “Zanna, jangan gitu dong! Kita kan temen dari kecil, jadi jangan hanya karena kamu sudah menikah kemudian kamu jadi menjauh dari aku! Apa silaturahmi itu bisa putus gitu aja hanya karena kamu sudah menikah?” tanya Mas Furqan, aku tak sengaja menatap mata bening miliknya. Benar, Mas Furqan memang teman baikku sejak kecil. Kami seringkali berangkat atau pulang sekolah bersama. Sampai di bangku kuliah, kami masih berteman baik, sampai akhirnya aku dipinang oleh Mas Axel, senior yang aku kagumi di kampus yang sama. Saat itu, Mas Furqan sempat menghilang untuk beberapa waktu, di hari pernikahan aku dan Mas Axel pun dia tak hadir meski telah kami undang. Kemudian hal yang membuat aku menjauh darinya saat aku telah menikah adalah karena aku tahu bahwa Mas Furqan menyimpan rasa untukku. Aku merasa bersalah karena melukai hatinya, tak dapat membalas cintanya, karena aku memang tak pernah menaruh hati padanya. Ternyata itulah alasan mengapa dia tak memenuhi undangan kami, kendatipun aku sungguh mengharapkan kehadirannya di pesta pernikahan aku itu, dia benar-benar tak datang. Sejak itu, aku secara tak sadar mulai menghindari Mas Furqan, meskipun aku tahu, tak ada kesalahan apapun yang telah dia buat kepadaku. Hanya saja, aku tak ingin hubungan pertemanan aku dan Mas Furqan nantinya memicu sebuah masalah untuk aku dan suamiku, Mas Guntara. Ah, aku lupa, sekarang ini.. meski tanpa Mas Furqan. Keluarga kecilku ternyata tetaplah bermasalah. Bukan hubungan pertemanan kami yang aku takuti yang menjadi penyebabnya, tapi hal lain. “Zanna? Kok bengong!” “Eh, maaf Mas, anu, kalau Mas sendiri ada apa kesini? Aku dengar Mas Furqan bekerja di luar kota?” tanyaku berusaha mencari topik agar tak canggung. “Nah, kamu orang pertama yang aku kabari hari ini, aku mulai sekarang, hari ini banget! Mulai hari ini, aku dipindahtugaskan ke kantor pusat di Jakarta.” Ujarnya diakhiri ulasan senyum. “Wah, alhamdulillah kalau gitu, jadi Mas bisa selalu deket dengan Ibu.” Ucapku bersyukur seraya menyebut Ibu, Ibu Mas Furqan yang juga aku panggil Ibu sejak dulu. Mas Furqan juga memanggil Bundaku dengan sebutan yang sama, begitulah dekatnya kita di masa lalu. Tentu saja, banyak orang menyayangkan kenapa kami tidak menjadi sepasang kekasih kala itu, karena kami terlihat sangat cocok bersama, Mas Furqan yang tampan dan cerdas kebanggaan Ibunya yang seorang orang tua tunggal, dan aku Zanna yang katanya santun dan berwajah manis. Itu kata orang-orang kampung dan teman-teman kami. Tapi, ya begitulah, sayangnya aku justru menganggumi orang lain, alih-alih memberikan hatiku untuk Mas Furqan. Begitulah suasana canggung itu bermula. “Iya, aku jadi bisa tinggal sama Ibu. Dan kebetulan juga, kamu sekarang lagi di sini. Apa, kamu enggak betah tinggal di rumah baru kamu, Zanna?” “Be-betah aja kok, aku cuma lagi rindu Bunda dan Ayah aja.” Jawabku berdusta. “Oh gitu! Eh iya! Bunda mana? Aku mau nyapa beliau dulu.” “Wah, Bunda lagi pengajian tuh tadi.” “Ehm gitu, sama Ibu aku?” Aku menggeleng karena aku tidak tahu. “Biasanya kan mereka selalu bareng.” “Tadi sih, Bude tutik yang kesini jemput Ibu.” “Oh, gitu. Ya sudah, terusin nyapunya, nanti biar aku datang lagi untuk nyapa Bunda dan Ayah. Bo-leh kan?” “Hem? Ya tentu saja boleh, masa ketemu Bunda dan Ayah saja enggak boleh!” “Hehe, iya Dyandra.. kalau gitu aku pulang dulu ya! Oh iya, sebentar!” Mas Furqan nampak bergegas ke mobil yang terparkir tak jauh dari rumahku. Dia kembali dengan sebuah kresek putih besar. “Ini, tolong diterima..” “Eh, apa ini Mas? Aduh, jangan repot-repot! Biar saja, untuk Ibu.” “Enggak repot, untuk Ibu sudah ada. Ayo, enggak baik nolak pemberian temen.” “I-iya deh, Zanna terima ya Mas, makasih banyak!” “Ya sudah, aku pamit ya! Yang bersih nyapunya! Nanti brewokan kamu!” Mas Furqan berhasil membuat aku tertawa kecil karena lelucon kuno itu. Mas furqan melambai sebelum masuk ke dalam mobil, dan dengan segera, mobil berwarna silver itu menjauh dari pandanganku yang masih berdiri dengan kantong plastik di tangan kanan dan sapu lidi di tangan kiriku. “Mas Furqan memang selalu baik, sejak dulu.” Gumamku. “Siapa yang baik?” suara Bunda mengejutkanku. “Eh, Bunda.. kaget! Sejak kapan Bunda berdiri disitu?” “Baru aja dateng! Itu apa? Di tangan kamu?” “Oh, iya ini katanya buat Bunda.” “Dari?” Aku menggaruk telingaku yang berbalut hijab. “Dari siapa?” “Dari Mas Furqan, Bunda.” “Furqan? Furqan temen kamu itu?” “Iya , Bunda, furqan mana lagi.” Aku tersenyum seraya melanjutkan menyapu halaman setelah Bunda menerima pemberian Mas Furqan itu. Tapi, wanita itu tertegun di sana. Dia nampak melamun seraya memegangi kantong itu. Ah, aku tak ingin berusaha menerka apa yang tengah dia pikirkan, tapi Bunda memang sangat menyukai furqan sejakn dulu. Saat Furqan menjemputku untuk berangkat ke kampus bersama, laki-laki ramah itu biasa bercakap-cakap ringan bersama Bunda di dapur sementara menunggu aku selesai bersiap-siap. Ada saja candaan Mas Furqan yang membuat Bunda tergelak, tertawa riang dan kemudian menepuk-nepuk bahu Mas Furqan karena Bunda tak bisa berhenti tertawa berkat leluconnya yang selalu ada saja dan fresh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD