Cinta Terbelah Dua

1718 Words
Chapter four Mas Axel mengizikanku tinggal dirumah Bunda, sementara rumah kami dia tempati bersama Clarissa, istri keduanya yang mungkin memiliki selaput darah sempurna. Masih saja kusesali pandangan Mas Axel yang begitu sempit. Bukankah selaput dara bisa robek karena hal-hal lain? Atau tentang kenyataan bahwa tidak semua wanita mengeluarkan darah dari kewanitaannya saat malam pertama. Hal itu berkembang menjadi pikiran buruk bahwa mungkin saja Mas Axel hanya mencari-cari alasan klise demi menikah lagi. Tapi, dengan segera pikiran buruk itu berlalu pergi. Tergantikan dengan prasangka baik pada Zat yang Maha segalanya. Bahwa, jalan hidup ini adalah yang terbaik bagiku. Satu bulan setelah hari menyakitkan itu berlalu, aku mulai merasakan hal aneh. Tiba-tiba aku diserang mual yang tak berkesudahan. Nafsu makan bahkan hilang. Cairan di lambung selalu memaksa keluar bilamana tubuh ini diterpa cahaya matahari. Bunda membawaku ke Klinik terdekat. Dan perkataan sang Dokter membuat Bunda menutup mulut dengan tangan. Dokter menanyakan kapan siklus haid terakhirku. Dan memeriksa tekanan darah serta meraba perut. Kemudian menyimpulkan bahwa aku tengah mengandung. “Putri ibu baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Dia seperti ini karena mengalami morning sickness.” Dokter wanita yang nampak berusia empat puluh tahunan itu kini sibuk mencatat resep. Bunda melirik ke arahku. Wajahnya menampilkan tanda-tanda akan menangis. Aku dengan cepat mengenggam tangannya dan tersenyum. Bunda, janganlah menangis lagi. Biarlah hatiku saja yang sakit, aku takkan membaginya kepadamu. Saat itu, entah apa yang menyelusup dalam benakku. Sepulangnya dari Klinik, aku hanya menghabiskan waktu di kamar, banyak hal bisa aku kerjakan untuk mengalihkan sakit luka ini. Biasanya membaca buku menjadi pilihan terbaik. Hal itu terulang di hari-hari berikutnya. Aku menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada Mas Axel, menyampaikan perihal kabar bahagia ini. ‘Mas aku hamil.’ Isi pesanku. Dan Mas Axel hanya membalas singkat saja. Memintaku untuk menjaga kehamilanku, dia tidak bahagia. Dan dua pekan setelahnya, aku mendapat kabar balik bahwa mbak Clarissa juga mengandung calon buah hati Mas Axel. Benar-benar aku tak tahu harus bahagia atau bersedih. Mulanya aku berharap Mas Axel akan sedikit memperhatikan aku tatkala dia mendengar kabar gembira dariku. Tapi, di sebrang sana, wanita lain Mas Axel juga rupanya mengandung calon buah hatinya. Bukan hanya cinta untukku yang terbelah dua, ternyata cinta untuk calon bayiku juga sudah terbelah dua bahkan jauh sebelum dia lahir ke dunia ini. Berat rasanya menjalani kehamilan tanpa sosok suami di sisiku. Belum lagi seakan ada aliran listrik menyengat hatiku ketika aku memeriksakan kehamilanku ke dokter, hampir semua calon ibu yang datang kesana ditemani suami meski hanya menunggu di parkiran saja. Zanna, aku sebut namaku berulang kali, meyakinkan diri ini bahwa aku selalu punya ribuan cara untuk bersabar dan tetap bertahan di kondisi sulit. *** Suatu hari, saat kehamilanku memasuki trimester akhir. Aku bingung tatkala mengecek saldo rekening. Belum ada transferan dari Mas Axel yang masuk kesana. Siang harinya, Nila --mertuaku—mendatangiku dengan membawa kabar buruk. Beliau bercerita bahwa Mas Axel tertipu sebuah perusahaan investasi. Bahkan kini, beberapa kolektor mengincar rumah kediaman kedua orang tuanya yang digunakkan sebagai jaminan saat mengajukan kredit usaha dengan nominal fantastis. Ini, adalah kali pertama Ibu mertuaku menemui menantunya ini setelah pernikahan kedua putranya. Dan apa? Kesempatan langka ini dia pakai untuk membawa kabar buruk. Wanita tua itu memelukku dengan isak tangis yang tak terbendung. Aku tak sanggup berkomentar barang sedikitpun. Sudah berkali-kali aku tertampar kenyataan yang amatlah perih, bukan saja melukai diriku tapi juga menorehkan luka yang lebih besar di hati Bunda dan Ayah. Sejauh ini putri mereka terjembab dalam kesedihan. Pilu sudah pasti menjadi makanan sehari-hari mereka melihatku hamil tanpa suami yang melindungi dari dekat. Hanya biaya hidup saja yang terus datang padaku lewat transferan, bukan dia sendiri yang datang memberikannya padaku sambil basa-basi menanyakan keadaan aku. Aku hanya ikut terisak, Ibu Mertua yang biasanya tampil anggun dan glamour itu nampak sangat kusut dengan wajahnya yang sembab. Dia kini terlihat tua, tak seperti dulu nampak selalu muda karena berbagai perawatan dari klinik mahal dan juga mengkonsumi vitamin dari dokter pribadinya. Ternyata roda dunia yang sering kali disebut oleh para puitis itu nyata adanya. Terpampang jelas di depan mataku, pantas saja Mas Axel tak pernah mengirimkan uang lagi, ternyata dia tengah dalam kesulitan. Sungguh, meski dia melukai aku sampai sedalam ini. Namun, aku tak pernah ingin dia berada dalam kesusahan. Mencoba terus berbesar hati, berusaha memperbanyak lagi ruang hati untuk kata sabar, banyak pendapat bahwa kesabaran itu ada batasnya. Tapi, kesabaran milikku nyatanya lebih luas dari semesta. “Bersabarlah, Bu. Mas Axel pasti punya solusi atas masalah ini. Dia adalah pria cerdas yang tak akan membiarkan orang-orang yang dia sayangi menderita.” Semoga ucapanku dapat sedikit mendamaikan hatinya saat ini. Saat itu, tak kulewatkan waktu itu begitu saja. Kuceritakan pada Ibu Mertuaku bahwa kini aku tengah mengandung cucunya. Wanita itu kembali menangis, bahkan tubuhnya hampir merosot dari sofa ruang tamu kami. Bunda yang datang membawa makanan kecil menatapku, Bunda buru-buru meraih tubuh Ibu mertuaku. Menyandarkannya, memberinya air hangat. Sepertinya ada sebuah hal lain yang mengusik hatinya saat itu. Benar saja, setelah lebih tenang Ibu kembali bercerita, kali ini tentang Maduku, Clarissa. Wanita berhijab panjang itu ternyata tak sebaik sangkaan Ibu mertua. Dia wanita yang gemar berbelanja barang yang tak berguna, mentraktir teman-temannya makan di restoran mahal dengan kartu kredit. Bukan hanya itu, dia bahkan baru saja bertengkar hebat dengan Mas Axel karena keinginannya untuk memiliki sebuah mobil baru tak bisa dikabulkan oleh Mas Axel. “Ya Allah..” lirihku saat mendengar rentetan kata dari bibir Ibu suamiku itu. “Begitulah, Ibu minta maaf Zanna.. ini semua salah Ibu..” “Jangan berkata begitu Bu. Tidak ada yang salah.. ini memang sudah skenario Allah Bu, untuk kita. Semoga segalanya cepat berlalu.” “Kenapa kamu begini, Zanna?” Pertanyaan itu membuatku heran. “Apa maksud Ibu?” “Kamu tak pernah mendendam meski sejahat apapun kami, Ibu yang paling amat merasa bersalah dalam kondisi ini. Semuanya gara-gara Ibu, pasti Clarissa itu wanita yang membawa sial buat hidup Zanna.” “Ya Allah, Ibu, Zanna minta Ibu jangan bicara seperti itu. Tidak ada manusia yang membawa kesialan bagi manusia lain. Ini hanya tentang jalan yang sedang berkelok saja, Bu. Percayalah, semuanya akan membaik jika sudah waktunya.” “Entalah, Ibu sudah tua. Tak ada hal lain yang Ibu inginkan sekarang, hanya ingin melihat Axel bahagia dengan keluarganya. Itu saja.” Wanita tua itu menyeka wajahnhya dengan tisu. “Jadi, apa yang Mas Axel kerjakan sekarang, Bu?” tanyaku pada Ibu mertuaku itu. “Entahlah, Ibu bahkan tak bisa bertemu dengannya. Sungguh Ibu tak sampai hati melihat wajahnya. Mendengar kabar beritanya saja hati Ibu sudah amat terluka.” Aku mengusap punggung tangannya yang terpangku. “Semuanya akan baik-baik saja, Bu. Zanna yakin itu.” Ibu mertuaku menghelas nafas. “Bagaimana dengan kamu? Bagaimana kamu membiayai kehidupan kamu dan calon anak kamu?” tanya Ibu mertuaku cemas. “Jangan khawatirkan Zanna, Bu. Ada orang tua Zanna yang dengan senang hati merawat kami.” “Sungguh, di sini Ibu yang sangat menyesal, ini semua salah Ibu.” “Sudahlah, Ibu. Menyalahkan diri sendiri tak akan menyelesaikan apapun, Bu. Kita berdoa saja semoga semuanya kembali seperti semula.” “Baiklah, kalau begitu Ibu pamit ya!” “Oh, iya sebentar Zanna panggil Bunda dulu.” “Jangan!” “Lho, kenapa Bu?” tanyaku kaget. “Ibu terlalu malu untuk melihat wajah orang tua kamu lagi.” “Jangan bicara begitu, Bu.” “Sudah, Zanna. Sampaikan saja salamku untuk Ibu kamu ya!” “Yasudah, biar Zanna antar ke depan kalau begitu.” *** “Lho, kemana tamu kita?” tanya Bunda sekembalinya beliau dari dapur. Tampaknya dia baru saja menyiangi bayam, karena ada daun bayam yang menempel di daster panjangnya. “Sudah pulang, Bun.” “Padahal Bunda sudah masak banyak nih, mau ajak beliau makan bareng.” Aku mengulas senyum menanggapi kata-kata sederhana bunda, dalam hati aku bersyukur memiliki bunda yang begitu tulus dan baik hati pada siapapun. “Masih ada lain waktu Bunda, beliau bilang dia malu untuk bertemu bunda lagi, jadi pamit dan kasih salam saja untuk Bunda lewat Zanna.” “Malu?” Aku mengangguk, sekali lagi aku terluka. Hubungan aku, Mas Axel dan kedua orang tua kami jadi seperti ini sekarang. Bukan seperti ini yang aku harapkan dulu. Tapi, sudahlah aku bahkan lelah untuk sekedar bersedih. Bunda menghela nafas. “Iya juga, bunda kalau jadi beliau juga pasti malu Zanna, bunda takut ini adalah azab untuk Axel. Karena dia selalu menyakiti kamu.” “Ah, Bunda! Jangan bicara begitu!” “Bunda masih enggak habis pikir sama kelakuan suami kamu itu, Nak. Bagaimana orang secerdas dia bisa tidak paham soal selaput dara atau darah perawan yang enggak selalu ada di setiap malam pertama.” Keluh Bunda. Aku terdiam, Bunda tahu bahwa dia mungkin tak seharunya membahas hal itu lagi, itu terlihat dari bagaimana caranya dengan cepat mengubah topik pembicaraan itu. “Makan yuk! Bunda masak sayur bayam sama ayam goreng!” ujarnya. Aku tersenyum. “Sambelnya ada Bun?” “Ada dong, ayo makan!” “Ayah, belum pulang ya Bun?” “Nanti jugua pulang kalau mie ayamnya sudah habis.” “Iya Bunda, semoga mie ayam ayah laris.” “Amin!” timpal Bunda mengamini. “Maafin Zanna ya Bunda. Zanna janji, setela melahirkan nanti, Zanna mau cari kerja. Buat balikin semua uang Ayah dan Bunda yang Zanna pakai buat makan.” “Kamu ini itu-itu saja yang dibicarakan! Apa enggak ada topik lain? Sudah, jangan mikirin apa-apa, makan saja yang banyak biar cucu ibu dalam perut itu tumbuh besar dan sehat.” “Iya Bunda,” sahutku, jujur aku sangat tak enak pada Bunda. Aku sudah mereka besarkan dengan susah payah, sampai aku berhasil lulus kuliah. Kemudian, sebelum sempat membalas jasa Bunda dan Ayah, aku menikah dengan Mas Axel. Memang kasih orang tua takkan pernah terbalas oleh apapun, hanya saja.. aku memang belum pernah melakukan apapun untuk mereka, belum pernah membahagiakan mereka. Menorehkan luka dalam saat aku kembali setelah beberapa minggu menikah, dan kini kembali menyusahkan mereka karena aku sudah tak pernah lagi dikirimi nafkah oleh Mas Axel. Apakah aku akan terus membuat mereka susah seumur hidupku? Semoga saja tidak. Semoga saja, setelah aku melahirkan buah hatiku ini. Aku bisa mendapat pekerjaan yang layak dengan bayaran yang layak pula. Setidaknya, aku bisa menghidupi anakku meski kami memang akan tetap tinggal bersama Bunda dan Ayah. Tapi, paling tidak aku bisa sedikit meringankan beban mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD