Zanna

1098 Words
Chapter three Meratapi hancurnya perasaan aku bukanlah hal yag tepat. Aku yakin ini adalah kerikil yang menjadi penguji kehidupan. Aku berusaha memupuk sabar dengan sekuat tenaga yang tersisa. Semakin mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Bahwa semua terjadi karena kehendaknya, bahwa selalu ada hikmah dibalik semua ini. Sempat terlintas niat untuk minta cerai saja. Namun rasa cintaku pada Mas Axel amatlah besar, semakin dia menyakitiku aku jutsru semakin mencintainya. Aku ingin dia menjadi laki-laki bahagia dengan segala keputusannya. Bisa jadi, kebahagiaan yang akan dia temui dengannya itu adalah sementara belaka. Bersamaku, akan menjadi kebahagiaan kekal untuknya. Aku mencintainya dengan hatiku, bukan karena paras atau harta dan tahta yang dia punya. Sebisa mungkin aku merengkuh hatiku sendiri, membawa diriku untuk sabar dan lapang d**a menerima keputusan Mas Axel yang akan meminang Clarissa. Mbak Clarissa adalah wanita yang dulu pernah dijodohkan dengannya. Ibunya memang sangat mengidamkan wanita itu untuk jadi menantunya. Banyak hal baik tentang mbak Clarissa yang terlontar dari bibir Ibu Mas Axel kala itu. Namun, Mas Axel berusaha meyakinkan Ibunya bahwa akulah wanita yang dia cari selama ini. Dikatakan oleh Ibunya bahwa Mbak Clarissa adalah wanita soleha, hijab panjangnya akan mendamaikan suasana hati Mas Axel dan juga menentramkan anak-anak yang kelak lahir dari rahimnya. Tak lupa Ibunya membubuhkan penyedap kata penguat niat untuk lebih memilih Clarissa dibanding aku, dikatakannya bahwa mbak Clarissa punya latar belakang keluarga yang baik dan yang pasti sepadan dengan Mas Axel. Tidak seperti aku, hanya gadis seorang pengusaha kecil-kecilan. Dapat menyelesaikan kuliah saja sudah untung, itupun dibantu oleh beasiswa prestasi yang aku dapat di semester kedua hingga akhir. Namun kala itu, Mas Axel tetap memilih aku. Sedangkan Ibunya mengalah, berusaha memahami putranya yang lebih memilih gadis tak berpunya seperti aku. Kini, setelah ribuan kalimat tak menyenangkan dia adukan pada Ibunya. Beliau jadi semakin gencar kembali menjodohkan Mas Axel dengan Clarissa. Aku terpuruk, terperosok sangat dalam ke lubang nestapa yang mereka buat. Aku ingin protes pada keadaan. Tapi aku terlalu diam dan sabar. Mas Axel tampak sibuk mempersiapkan semua hal untuk pernikahan keduanya yang hanya berselang beberapa minggu dari acara pernikahan kami. Ada belati berlumur racun menghujam jantungku. Sakitnya menjalar ke seluruh bagian tubuh dimana darah mengalir melalui pembuluh darah disana. Aku menahan diri untuk berkomentar mengenai ini karena aku tahu, pendapatku tidak akan mengubah apapun. Sekalipun aku mengamuk bak kerasukan, Mas Axel toh tetap tidak akan membatalkan pernikahan impian Ibu mertuaku itu. Aku berusaha tenang meski airmata terus saja meleleh tak kenal waktu dan tempat, berusaha pasrah karena aku masih punya Sang Maha yang menjadi tempat aku mendapatkan kekuatan. Hari pernikahan mereka tiba. Aku meminta izin pada Mas Axel untuk sementara tinggal bersama orang tuakku, dia langsung setuju tanpa mengucapkan pesan apapun. Bahkan salam hormat untuk kedua orang tuaku pun dia abaikan. Sesampainya dirumah, Bunda memelukku. Tangisnya pecah, ibu mana yang tak patah hatinya menyaksikan putrinya dimadu. “Zanna, putriku, minta cerai saja. Ibu tak sanggup melihatmu seperti ini, Nak,” ratap Bunda. Sakit ini datang lagi, tenggorokanku tercekat melihat Bunda terisak pilu. Bunda sekali lagi merengkuh tubuh kurus yang terguncang karena isakan tangis bunda. “Bunda, izinkan Zanna tinggal di kamar hangat Zanna lagi, dengan begitu mungkin seiring berjalannya waktu, Zanna bisa menerima kehadiran mbak Clarissa.” Membutuhkan segenap kekuatan saat pada akhirnya kalimat ini terlontar. “Ya Allah, Nak.” Bunda tak sanggup menahan deras laju air matanya. “Zanna baik-baik saja, Bun,” lirihku seraya menyeka air mata Bunda. “Zanna itu cantik, cerdas, masih banyak yang laki-laki yang menginginknmu walau Zanna sudah bukan gadis lagi sekalipun.” Bunda masih saja terisak. Jilbab yang dikenakannya basah karena berkali-kali digunakan untuk mengeringkan wajahnya yang berurai air mata. “Bunda, Allah sedang memberikan Zanna kesempatan untuk menjadi hebat. Menjadi wanita yang terpilih untuk membagi cintanya. Bukankah tak banyak wanita yang sanggup berada di posisi Zanna?” Seulas senyum kurangkai demi menyudahi kepedihan Bunda. “Tapi, Nak.” Bunda masih belum berhenti menangis. Aku mengenggam erat jemari Bunda. Dan mengangguk seraya membubuhkan senyum di bibir, meyakinkannya bahwa putrinya ‘baik-baik saja’. Atau lebih tepatnya sekuat tenaga mencoba terlihat ‘bak-baik saja’. Bunda membiarkan aku beristirahat di kamar yang belum lama ini aku tinggalkan untuk ikut Mas Axel pasca menikah. Suasananya tak ada yang berubah. “Halo Zanna, aku kembali..” sapaku ke bingkai yang tersandar di meja belajar. Foto aku semasa kecil. Aku meraih boneka beruang usang, memeluknya erat dan membaringkan tubuh perlahan di atas tempat tidur. Bibir ini mengulas senyum getir. Kenyataan bahwa ada seorang istri yang hanya disentuh sekali oleh suaminya sangatlah lucu. Sangat lucu hingga pantas untuk di tangisi. Aku tersenym pahit, sampai aku tertawa sambil berlinangan airmata. Aku sudah terlelap saat Bunda mengetuk pintu kamarku, mata ini mengerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu dalam kamar. “Zanna belum makan kan? Makan dulu yuk!” ajak Ibu. Aku bangkit duduk, melirik jam dinding. Pukul sembilan malam. Bunda membelai kepalaku yang masih mengenakan hijab. “Iya Bunda, Zanna juga belum sholat isya.” Mata bunda kembali berkaca-kaca. “Bunda, Zanna akan bilang ke bunda kalau Zanna sedih. Jadi, bunda jangan risaukan keadaan Zanna, ya! Zanna baik-baik saja.” Ujarku meski tak sepenuhnya jujur. Bunda berusaha sekuat tenaga melahan laju airmatanya. Memalingkan wajah dan menyeka pipinya dengan ujung jilbabnya. Air mata bunda sudah terlanjur jatuh. Aku tahu, yang paling terluka di sini adalah Bunda. Dia adalah yang paling tak bisa melihat aku sakit, apalagi sakit karena disakiti oleh orang yang sudah Bunda percaya. Aku tahu Bunda amat terluka. Maafkanlah Zanna, Bunda. Putrimu ini datang kembali ke pelukanmu membawa luka disekujur tubuhnya. “Bunda, Zanna enggak apa-apa.” Aku tersenyum menghibur Bunda. “Apa tidak sebaiknya cerai saja? Bunda benar-benar tidak terima kamu diperlakukan seperti ini, Nak.” “Bunda, bercerai memang tidak dilarang. Tapi Allah tidak suka!” “Nak, ini sudah lain cerita. Axel sudah keterlaluan!” “Apa batas keterlaluan dan tidak bu? Dia hanya sedang meraba untuk menemukan kebahagiaan. Biarkan saja, Zanna akan bersabar.” “Meraba untuk menemukan kebahagiaan? Dengan mengorbankan kamu?! Bunda tidak ridha, Nak!” “Bunda, Zanna akan menyerah saat Zanna sudah tak sanggup lagi.” Bunda terisak. “Bunda, kita jangan lagi berdebat soal ini. Ya bun?” "Entahlah, Nak." lirihnya Bunda memalingkan wajah lagi, bergegas berdiri setelah menyeka wajahnya dengan kerudung dan berkata bahwa makanan sudah siap di dapur. Aku menghela nafas panjang. “Maafkan Zanna Bunda..” lirihku. Tak lama kemudian Ayah mengetuk pintu kamar. Aku keluar setelah memastikan wajahku kering. “Nak, makan dulu!” ucapnya dengan suara beratnya. “Iya, Yah.” Ayah tak berkata apa-apa lagi, beliau hanya tersenyum tipis dan berlalu ke ruangan yang biasa kami gunakan untuk sholat berjamaah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD