Bab 37

1088 Words

Pelukan hangat dan rasa nyaman terasa begitu menenangkanku. Baik aku dan Arghani sama-sama menikmati kebersamaan ini. Kabur ke studio Arghani merupakan pilihan yang tidak aku sesali, meskipun semalaman ponsel kami berdua terus berdering yang berakhir kami abaikan, setidaknya dering ponsel yang saling bersahutan dapat menjadi backsound atas kegiatan kami. Pagi indah yang aku kira bisa membuatku bangun dan pulang segera, nayatanya hanya hayalan semata. Badanku rasanya sakit dan remuk luar biasa. Arghani benar-benar pejantan tangguh. Oke kalimatku rada ambigu memang. "Mau sarapan apa Di? Kita pesan delivery aja," tanya Arghani yang matanya masih terpejam dan tangannya memelukku erat. Betapa indahnya dunia jika bisa terus seperti ini. Ingin rasanya aku memberhentikan waktu. Entah bagaimana

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD