Pukul setengah tujuh malam, mereka telah sampai di sebuah bangunan tinggi yang menjulang ke langit. Bangunan yang berdiri di tempat sangat strategis dengan beberapa toko di sekitarnya. Ada toko baju, kue, kafe dan sebagainya. Andrean tidak banyak bicara. Ia membantu sopir membawa barang bawaan Marsha dan anak-anak tentunya. Ia tahu, tempat yang ia masuki ini adalah sebuah apartemen. Marsha meneka tombol lift dengan angka 17. "Ini apartemen milikmu?" Marsha menggelengkan kepalanya."Ini apartemen milik Marcel. Dulu waktu aku hamil sampai sebelum kembali ke Jakarta aku di sini." "Bersama Mar ... cel?" Tanya Andrean, ada keraguan di hati bertanya tentang ini. "Terkadang. Kadang Marcel di sini kadang juga tidur di tempat kerjanya. Dia ada cabang restoran juga di sini." "Mama buruan. Aku

