Empat Puluh Lima

1229 Words

"Ruangan mu besar juga." Mata Marsha menelisik penjuru ruangan Andrean. Semua di d******i dengan warna abu-abu dan putih. "Mewah semua. Berapa harga termurah di sini?" Tanya Marsha, iseng. Ia tahu orang seperti Andrean kemungkinan kecil tidak memakai barang murah. Kalau pakai pun, pasti karena kepepet. Suudzon aja dulu. Andrean mengerutkan dahinya, berpikir. Jujur ia tidak tahu berapa harga semua ini. Bisanya pakai saja, yang penting telah di ubah sesuai keinginan saja. Itu pun hanya warnanya saja. "Semua Andrew yang urus." "Jadi, tidak tahu?" Tidak heran, sudah pasti asal suruh orang aja. Mana mungkin langsung menangani sendiri. Andrean menggeleng kecil. "Tidak." ia lalu berjalan menuju sofa. Meletakkan makanan yang Marsha bawa di atas meja depan sofa tersebut. "Duduklah, Marsha," lanj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD