Tujuh Belas

1202 Words

Andrean kembali ke lantai atas rumah Marsha, ia kaget melihat Cio yang akan turun ke bawah. "Cio." "Papa." Cio berhambur ke pelukan Andrean. Minta di gendong. "Cio, oke?" "No, Papa. Cio takut," Sontak Andrean memeluk anaknya erat. "Ada yang ganggu, Cio?" Cio menggeleng. "Cio jangan takut, tidak akan ada orang yang ganggu Cio lagi. Percaya sama Papa." Andrean mengusap puncak kepala Cio. "Ini masih malam. Cio mau tidur lagi. Papa temenin." Cio diam sesaat. Kemudian mengangguk. Andrean membawa anaknya masuk kembali ke dalam kamar. Membaringkan anaknya di atas kasur begitu pun dengan dirinya. "Cio mikir apa?" tanya Andrean, pasalnya sang anak tidak mau menutup matanya tapi malah menatap dalam diam dirinya. Meski ia menutup mata, ia tahu kalau sedang di perhatikan. "Cio." Mata anak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD