Cuaca Yang Terik
Sena adalah Aku, nama lengkapku Sena Sempana Legawa seorang staff bank swasta yang sehari-harinya bekerja sebagai teller cabang, akan tetapi jika rekan kerja bagian customer service (CS) maupun back office (BO) bahkan bagian kliring libur, otomatis Aku akan menggantikan pekerjaan mereka. Flying team itulah gambaran yang lebih tepat menujukkan pekerjaanku. Aku berusia 22 tahun lebih saat ini. Aku cantik, smart, badan proporsional, tinggi dengan pinggul seperti biola dan kulitku putih seputih porselen.
Adri, Louis Adri Giorgio adalah manajer bagian operasional yang membawahiku. Dia tampan, smart , dingin dan berwibawa. Usianya sudah matang yaitu 30 tahun.
Tanpa sepengetahuan Sena, Adri naksir gadis itu sejak pertama kali menjadi bawahannya. Tapi tidak ada yang tahu selama mereka bekerja sebagai atasan dan bawahan. Yah, saking pinternya si Adri ini menyembunyikan perasaannya. Bahkan sudah 2 tahun ini dia belum juga mengungkapkannya.
Tapi penugasan selama 2 minggu di Ciawi Bogor merubah semuanya. Mereka terjebak dengan percintaan panas yang tanpa henti dan larut dalam gelora nafsu membara.
Akankah mereka bisa bersatu atau malah sebaliknya. Inilah kisahku.
***
Drrt drrt drrt handphoneku pagi-pagi sudah bergetar. Aku masih sangat mengantuk. Nama Bos Adri muncul di layar handphoneku.
“Halo, assalamualaikum?” Aku mulai mergerjap-ngerjapkan mata tetapi masih malas untuk bangun.
“Waalaikumsalam, Sen. Hari ini datang ke kantor. Segera ya, ada tugas mendadak dari pusat!” titah suara dari seberang yang tak lain adalah Pak Adri bosku yang sekaligus membuatku sadar untuk segera bangun.
“Hmmm, bukannya ini hari libur ya Pak, kok suruh masuk sih!” rutukku uring-uringan sembari mengacak-acak rambutku.
“Iya, Aku tahu. Tapi ini urgen. Segera ya, kutunggu di kantor jam 7. Jangan terlambat!” titahnya lagi.
Aku menggeleng dan menggerutu, melihat jam dinding di kamarku sekilas. Masih ada 1,5 jam untukku bersiap-siap. Aku segera menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, sholat Shubuh, berhias dan sarapan, Aku pamit sama ibu dan adikku.
“Mbak berangkat kerja dulu ya. Lembur nih, ada tugas urgen mendadak dari pusat.” Aku berhenti di meja rias memperhatikan penampilanku.
“Iya Nduk, jangan ngebut ya. Hati-hati di jalan,” pesan Ibu penuh nasihat.
Setelah kucium tangan takzim punggung tangan ibuku dan pamit dengan adikku, gegas aku menuju ke motorku dan langsung melaju ke jalanan membelah kota Solo menuju kantorku. Perjalanan dari rumah sampai kantor biasanya 30 menit dengan menggunakan motor.
“Assalamualaikum, Aku datang,” sapaku saat memasuki kantor.
“Ayo, cepat-cepat. Sena, Kamu cari data dan file debitur sementara Mbak Retno mencari data dan file kreditur yang diminta pusat, katanya ada masalah,” titah Pak Adri bosku mendekatiku begitu melihatku sudah sampai.
“Sebenernya ada masalah apa sih Pak, ganggu tidur saja,” ketusku sambil menaruh tasku ke loker.
Aku menuju ke pintu lemari besi memulai pekerjaanku. Sebelumnya kita bertiga melakukan absensi pembukaan pintu dan absensi pengambilan file. Membuka pintu lemari besi secara dual custody. Aku bagian yang membuka kunci kombinasi dan Pak Adri bagian kuncinya. Setelah rangkaian kombinasi sudah tepat dan kunci sudah dimasukkan, pintu lemari besi bisa dibuka. Di dalamnya terdapat lemari besi yang ukurannya lebih kecil sebagai tempat penyimpanan uang, file nasabah dan file kreditur serta file-file lain yang harus disimpan di dalam untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan nasabah.
“Ini, pusat mengendus masalah kreditur kita. Seminggu yang lalu cabang kita sudah mencairkan loan 3M. Biasanya juga tidak ada masalah karena yang bersangkutan sudah menjadi nasabah lama dan lancar. Tapi, entah berita darimana, pusat mengira kreditur tersebut ada hubungannya dengan teroris. Takutnya, dana tersebut mengalir untuk kegiatan teroris. Makanya Kita harus crosscek semua file nasabah debitur sekaligus kreditur tersebut,” seloroh Pak Adri panjang kali lebar kali tinggi sembari memberiku secarik kertas.
“Oooo, ok ok Pak Adri. Siap laksanakan.” Aku segera memasuki pintu lemari besi.
“Jangan lupa, file atas nama 1 nasabah tersebut pasti lebih dari 1 file karena nasabah tersebut termasuk nasabah lama sekali. Tidak menutup kemungkinan terjadi double-double penginputan cif nasabah di sistem dengan nama, tanggal lahir dan nama ibu kandung yang sama pula. Tahu sendiri kita sudah berganti sistem berkali-kali. Sistem yang dulu tidak terlalu bagus. Kejadian seperti ini juga memudahkan kita untuk cek-ricek lebih detil mengenai profil nasabah. Kalau benar atas nama itu adalah orang yang sama segera lakukan pengkinian data. Huft! Semoga baik-baik saja tidak ada masalah,” cerocos Pak Adri penuh penekanan.
Ponsel Pak Adri berbunyi dan Beliau segera mengangkatnya. Beliau naik ke tangga untuk menuju ke atas. Sejenak Beliau berhenti di anak tangga ketiga.
“Nanti kalau sudah ketemu, berkasnya segera bawa ke ruanganku ya Sen,” titahnya lagi. Beliau melanjutkan kegiatannya tadi menuju ke atas.
“Baik Pak,” ujarku kemudian.
Tadi sebelum Aku datang, Pak Adri sudah membantuku melakukan cek ke sistem kantor terlebih dulu dan mencatat cif mana saja yang hendak aku temukan filenya. Catatan kecil hasil pencarian sistem itu tadi diberikan kepadaku. Setelah itu, aku membuka laci-laci file nasabah sesuai abjad dan tahun pembukaan rekening. Mbak Retno juga melakukan hal yang sama, bedanya dia mencari di file nasabah kreditur atas nama tersebut di lemari penyimpanan yang berbeda. Selang beberapa menit kami menemukan apa yang diperintahkan. Setelah menutup pintu lemari besi tempat menyimpan file nasabah, aku dan Mbak Retno menuju ke lantai 2. Aku segera menuju ke ruangan Pak Adri. Kuketuk pintu dan suara dari dalam memberi instruksi untukku segera masuk.
“Masuk!” titah Pak Adri dari dalam.
Kulihat beliau duduk di sofa dan sedang memeriksa file.
“Duduk sini dulu, sebentar ya,” ajaknya.
Aku duduk di sebelahnya sambil memangku beberapa file yang kubawa. Setelah urusan Pak Adri yang sebelumnya selesai, beliau menggeser duduknya dan lebih mendekat ke arahku.
“Parfummu ganti Sen?”
“Eeh?”
Aku tersipu malu. Sejak kapan Pak Adri memperhatikan parfum apa yang kupakai.
“Enggak juga Pak, saya kebetulan menyukai 2 aroma parfum jadi kadang pakai ini kadang pakai yang lain,” elakku kemudian.
Beliau hanya tersenyum simpul dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mulai mengecek file-file yang kubawa dan akhirnya memberi keputusan untuk segera melakukan pengkinian data karena data atas nama tersebut sudah dipastikan 100% orang yang sama. Beliau juga menjelaskan nanti bagian legal dan lending yang akan menindaklanjuti apa yang seharusnya dilakukan bank jika mengalami masalah ini. Alhamdulillah Aku jadi lega.
“Pengkinian data di sistemnya lakukan sekarang ya. Setelah selesai kamu boleh pulang Sen,” titahnya yang begitu melegakan.
“Oh ya, hmmm parfummu baunya enak. Beli di mana?” tanyanya lagi.
“Anu Pak, itu saya nitip teman. Kata temanku via jastip gitu. Bapak mau?” kilahku saat itu.
“Ooooo ok ok Sen. Enggak cuma memastikan saja.” Pak Adri berjalan menuju kursi putarnya.
“Saya permisi Pak, Pengkinian data nasabah segera saya kerjakan,” pamitku menuju ke meja CS di lantai 1.
Turun ke lantai 1 dan menuju meja customer service. Seminggu ini CS lagi cuti blockleave 7 hari, jadi aku yang menggantikan tugasnya. Segera kukerjakan pengkinian data ke sistem dan membuat surat permohonan penggabungan cif atas nama nasabah tersebut. Setelah selesai semua file debitur dan file kreditur dimasukkan lagi ke dalam lemari besi. Segera aku pamit ke Pak Adri untuk pulang.
Setelah diperbolehkan pulang, gegas aku menuju motorku dan mengendarainya pulang ke rumah. Cuacanya terik sekali. Jarang aku pulang di siang bolong seperti ini. Panas sekali.
Kemarau yang panjang, entahlah akhir-akhir ini cuaca sangat terik. Aku sangat tidak tahan. Di luar maupun di dalam rumah pun terasa tetap panas cetar membahana. Peluh membasahi wajah dan tubuhku. Gerah sekali rasanya.
“Tidakkah akan turun hujan walau cuma lima menit saja,” gumamku dengan suara lirih dan kesal.
Apakah hanya aku yang merasa seperti ini ataukah seluruh manusia yang tinggal di negeri Indonesia Ini. Negeri tropis yang memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Akan tetapi tahun ini, musim kemarau tersebut tidak berjalan seperti biasanya. Terasa berbulan-bulan lamanya melebihi jatah datangnya musim itu. Menyebalkan sekali, rutukku dalam hati.
“Huft,” umpatku lagi sambil mengelap peluhku menggunakan tisu.
Kulanjutkan perjalanan dengan motor beat biru bututku, motor perjuangan yang selalu menemaniku. Tiba di dekat pertigaan sebelum rumahku aku berhenti di gerobak jualan es teh jumbo di mana temanku bekerja sebagai karyawannya.
“Seperti biasa ya, es teh jumbo 3 gak pake lama,” titahku kepada temanku dan langsung dapat anggukan dan senyum manisnya.
“Siap dong, sat set das des, ini dah jadi. Apasih yang gak buat kamu,” jawab temanku penuh semangat dan sangat cekatan.
Kusodorkan selembar uang 10 ribuan buatnya dan kuterima 3 buah es teh jumbo dengan brand Ratu Teh. Es teh jumbo yang rasanya enak manis dan ada rasa agak sepet-sepetnya, ciri khas teh Solo yang melegenda. Dari sekian banyak es teh jumbo yang lagi marak di daerahku, brand Ratu Teh ini yang paling cocok di lidahku selain brand Ginastel. Selera orang pasti berbeda-beda dan inilah seleraku. Es teh ini harganya cuma 3 ribu rupiah per pcs. Murah kan.
“Kembaliannya gak usah, makasih ya. Aku balik dulu,” jelasku kemudian.
Kulajukan kembali motorku ke arah rumah yang enggak sampai 5 menit juga tiba. Motor langsung kuparkir di depan rumah di bawah pohon rambutan yang sebelahan dengan pohon srikaya, biar adem enggak kepanasan. Cepat-cepat kutaruh 3 es teh jumbo di atas meja makan.
“Es teh es teh, ambil saja langsung di meja ya, Kakak masuk ke kamar dulu, gerah banget seharian di luar,” teriakku seketika saat memasuki rumah menuju meja makan.
Setelah kuletakkan es teh tersebut gegas Aku masuk ke dalam kamar, tak lupa pula dengan membawa satu buah es teh di tanganku dan tanpa babibu langsung kuseruput es teh yang sangat menyegarkan tenggorokan ini, menyalakan kipas angin dan lanjut menuju ke kamar mandi. Mandi akan terasa sangat segar pastinya. Usai mandi langsung kutunaikan sholat Dzhuhur 4 rakaat.
“Waktunya rebahan, asyik bener dah.” Aku langsung menyetel radio dengan frekuensi kesukaan, Kiss FM, menikmati lagu-lagu galau sebagai teman tidur siangku. Beberapa menit kemudian Aku pun mulai terlelap.
Bunyi ponsel handphone menandakan ada panggilan masuk membuatku keluar dari alam mimpi. Mimpi apa ya tadi di siang bolong dan pastinya setelah bangun aku tidak ingat sama sekali mimpi itu.
“Assalamualaikum, ada apa? Gimana Pak? What? Ulangi? Serius?” Aku langsung merubah posisiku dari tidur menjadi duduk saking kagetnya.
Telepon itu dari Pak Adri. Tanpa ada jeda menungguku menjawab, suara dari seberang menyerbu tanpa ada titik dan koma dan langsung ditutup begitu saja. Yeah, betapa terkejutnya dan menyebalkannya ketika mendapat kabar agar esok hari, pagi-pagi sekali aku harus ke bandara, check in ke Jakarta untuk tugas kantor selama 2 minggu. Trainingnya sebenernya di Ciawi Bogor tapi ke Jakarta terlebih dulu pastinya. Perjalanan yang bakal melelahkan mulai esok hari dan aku harus segera memberitahu ibu dan adikku. Duh, mana uangku tinggal sedikit sekali, bisa berhemat gak ya selama di sana.
“Bu, besok ijin dari sekarang ya Bu, Aku ada training di Ciawi Bogor selama 2 minggu. Ibu baik-baik ya selama tak tinggal dan Kamu, Denis jaga Ibu selama tak tinggal ya. Kalau ada apa-apa segera kasih tahu Mbak ya, Okey.” Aku memeluk ibuku erat berharap mendapat kehangatan beliau.
“Iya, Nduk. Hati- hati dan jaga diri selama di sana. Jangan kuatirkan Ibu. Ada Denis, tenang saja,” kata ibuku.
“Siap, Mbak Sena. Tenang ada Denis di sini dan di sana, Denis ada di mana-mana,” jawabnya kocak.
Keesokan harinya kupeluk ibu dan adikku bergantian. Bakal kangen ini 2 minggu gak ketemu mereka. Sayang banget sama mereka karena hanya mereka berdua keluargaku di kota perantauan ini. Asliku sebenernya dari Semarang dan karena mutasiku ke kota ini, 2 orang yang sangat berharga ini Aku bawa. Kami tinggal di kontrakan kecil di kawasan perumahan.