Jakarta 12.30.
Setelah melalui berbagai drama selama persiapan, saat keberangkatan dan saat dikejar-kejar oleh waktu untuk segera check in dan boarding yang membuat nafasku ngos-ngosan sejak dari rumah menuju bandara Adi Soemarmo Solo. Akhirnya Aku tiba juga di ibukota Jakarta. Penerbangan dari kotaku Solo ke Jakarta sebenarnya hanya membutuhkan waktu 1 jam perjalanan saja. Namun kembali lagi ke drama, drama delay yang bikin semakin lama saat menunggu karena aku harus mengalami delay beberapa jam.
Aku berangkat sendirian saja karena kali ini yang ditugaskan dalam satu kantor cuma diriku seorang saja sedangkan untuk rekanku yang lain kemungkinan mendapatkan jatah training ini bergiliran dan bergantian dengan jadwalku ini. Tentunya perusahaan sudah memikirkan karena terbatasnya staff kantor maupun pengganti jika ada salah satu cuti atau mengikuti kegiatan seperti ini. Aku sebagai flying team yang biasanya menggantikan tugas para staff lain jika mereka cuti ataupun berkegiatan, sekarang giliranku digantikan dengan staff dari kantor cabang lain sehingga pekerjaan rutin cabang tempat Aku bekerja teratasi dan tidak menimbulkan komplain dari nasabah.
Aku berjalan keluar dari area kedatangan sambil tengok kanan dan kiri bermaksud mampir sejenak untuk mengisi perut. Tadi pagi belum sempat sarapan di rumah. Sengaja Aku mencari makanan cepat saji yang biasanya di tiap kota ada misalnya KFC, CFC, Texas Chicken atau tenan yang sejenisnya karena sudah pasti harga yang ditetapkan ditiap makanan yang dijual tenant tersebut akan sama. Misalnya berbeda pun tidak akan jauh selisih harganya. Maklum aku ini orang desa yang masuk ibukota seperti ini bisa dihitung jari dalam setahun, itupun hanya tugas kantor saja aku bisa ke kota ini. Jika acara pribadi tentunya aku tidak sanggup dengan biayanya. Oleh karena itu aku harus berhemat dan meminimalisir agar tidak tertipu harga dari penjual-penjual nakal seperti yang sering kita dengar di berita-berita televisi. Uang sakuku juga cuma pas-pas an, kalau acara seperti ini pihak perusahaan hanya membelikan tiket pulang pergi pesawat saja sedangkan untuk hal lain di luar itu sistemnya reimburse jadi aku harus menyediakan dana sendiri baru setelah kegiatan selesai reimburse diurus untuk mendapatkan ganti, itupun ada maximal yang diganti jadi aku harus pintar-pintar menyesuaikannya. Gajian juga masih lama sedangkan acaraku di kota besar ini terbilang sangat lama nantinya yaitu selama 2 minggu. Bisa dibayangkan kan, setengah bulan, bisa-bisa uangku habis sebelum waktunya pulang, mampus Aku. Aku berharap semoga pengeluaranku kali ini tidak melebihi anggaran.
Getar ponsel memecah pandanganku. Gegas aku meraih ponselku dan melihat nama yang tertera di layar “Pak Adri,” tanpa membuang waktu Aku langsung mengangkat panggilan telepon itu.
“Assalamualaikum, posisi di mana Sena?” tanya Pak Adri dari seberang.
“Waalaikumsalam Pak Adri, maaf ini Aku baru keluar dari bandara Soetta dan rencananya Aku mau cari sarapan dahulu Pak. Ada yang bisa aku bantu, Pak?” ujarku menjelaskan sambil tengok kanan kiri.
“Tunggu jangan ditutup, tepat lokasimu mana? Sharelok segera ya! Ini Aku udah sampai parkiran bandara Soetta. Diam di situ, jangan bergerak dan jangan cari sarapan dahulu. Nanti kita sarapan bareng saja,” tuturnya kemudian.
“Bapak ada di Jakarta juga ya. Oh ok ok Pak, Aku tunggu di sini ya. Aku tepatnya pas di depan outlet Indomaret bandara Pak. Aku sharelok sekarang ya Pak.” Jelasku sambil melihat sekeliling memastikan posisiku yang tepat dan jelas.
“Ok wait,” desaknya.
Suara telepon ditutup. Aku berdiri di tempat yang sama tanpa bergeser sedikitpun agar Pak Adri tidak kehilangan jejakku. Setelah menunggu beberapa menit, Aku melihat Pak Adri datang.
“Maaf menunggu,” katanya sambil membantuku membawa koperku.
“Bapak maaf kopernya biar saya bawa saja, pasti berat ini,” pintaku merasa gak enakan.
“Udah gak apa-apa, biar saya bawa. Ayo ikuti Aku,” tegasnya sambil mengambil alih koperku.
“Terimakasih banyak ya Pak. Udah dapat tumpangan gratis masih dibawain juga koperku,” celetukku sambil berusaha mensejajarkan langkahnya.
“Its ok.” Dia tersenyum, tampan sekali.
Kami berdua berjalan beriringan menuju parkiran mobil. Pintu penumpang depan dibukakan Pak Adri untukku dan beliau menuju bagasi belakang untuk menaruh koperku, kemudian menuju kursi pengemudi. Pajero sport putih kemudian berjalan membelah kota Jakarta.
“Bapak kapan sampai Jakarta, kok Aku gak tahu ya?” tanyaku saat mobil sudah berjalan.
“Tadi malam Aku udah di sini karena ada urusan dulu di kota ini. Oh ya, kita makan di cafe langgananku saja ya, tahan laparnya bentar lagi. Hehehe, Lokasinya gak terlalu jauh dari sini.” Jelasnya terus fokus menyetir.
“Baik Pak,” ujarku.
“Kalau lagi berdua seperti ini panggil nama Adri saja Sena, berasa sudah tua saja Aku ini,” elaknya sambil tertawa pelan.
Tidak terlalu lama tidak sampai setengah jam kami sudah memasuki cafe. Kami memilih duduk di pojokan karena sepertinya lokasinya enak dan tidak terlalu bising. Cafe ini lumayan ramai.
Pelayan datang dan menyodorkan 2 buku menu kepada kami. Setelah kami memesan beberapa menu, pelayan pergi meninggalkan kami untuk menyelesaikan pesanan.
“Kamu berapa lama trainingnya Sena, 2 minggu jugakah?” tanyanya.
“Hmmm iya Pak, oh maksud Mas Adri. Benar ya. Panggil itu saja njih Pak, eh Mas. Kalau nama sepertinya kok kayak tidak sopan begitu,” ujarku gelagapan merasa canggung dengan memanggilnya Mas sambil garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Mas Adri, hmmm tidak terlalu buruk. Boleh. Oke lah kalau begitu,” ujarnya senang.
Selang 15 menit akhirnya pesanan kami datang. Kami segera memakan pesanan kami tanpa mengobrol lagi. Berbagai menu lezat tersaji di atas meja. Menu-menu kesukaanku semua seperti seafood, ayam bakar, aneka sambal dan lalapan, jus alpukat serta es teh manis, tak lupa ada nasi uduk yang di atasnya ditaburi bawang merah goreng. Semua makanan yang tersaji rasanya enak sekali dan pas di lidahku. Kapan lagi menyantap makanan kayak gini, perbaikan gizi untukku dan sudah dipastikan semua ini nantinya pasti dibayarin Pak Adri. Hihihihi, girangku dalam hati. Hemat.
Setelah selesai, sesuai dugaanku semua menu yang kami santap dibayarin beliau. Kami berjalan ke parkiran dan masuk mobil. Selanjutnya mobil berjalan menuju ke Ciawi Bogor tempat kami nantinya mengikuti training selama 2 minggu penuh.
Selama perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan. Entahlah kantukku langsung datang, apa karena habis makan tadi atau karena kelelahan akibat rangkaian perjalanan sebelumnya. Hahaha memalukan. Biarlah, toh Beliau juga tidak menegurku. Mobil terus melaju. Agar tidak terlalu sunyi, Pak Adri menyalakan musik yang semakin membuatku terlelap.
“Cantik.”